His Purpose

His Purpose
62. Bad Offer



Maria mendengus. Menghujani dengan cinta, katanya. Bagaimana Maria melakukannya jika Gibran saja seperti acuh tak acuh padanya.


"Koko mau ke luar kota? Lagi? Ke mana?" tanya Maria beruntun.


Maria tidak tahu kapan tepatnya lelaki itu pulang dari kantor, padahal ini masih jam makan siang.


"Sudah makan?"


Alih-alih menjawab, Gibran justru melempar pertanyaan lain pada Maria.


'Kebiasaan,' desis Maria dalam hati.


"Belum," ketusnya.


"Makanlah dulu."


Gibran bangkit dari sofa tempatnya duduk bersama Maria, lalu beralih menuju kursi kerja dan menghempaskan tubuh di sana.


"Koko mau ke luar kota ke mana? Kenapa Koko sering sekali pergi, sih?"


"Pertemuan bisnis."


"Uang Koko sudah banyak, kenapa masih harus bekerja sekeras itu?"


Gibran menghela nafas, "Ini bukan hanya soal uang, tapi konsistensi."


"Kamu tidak akan mengerti," lanjutnya.


"Ya tapi kan aku juga mau ikut," rengut Maria.


"Koko terus pergi ke sana sini, dari satu tempat ke tempat lain. Sementara aku? Aku bahkan hampir tidak pernah menginjak aspal."


Maria mendesis kesal melihat Gibran yang nampak fokus pada sebuah map yang entah berisi apa, tanpa sekalipun memedulikan Maria.


Lihatlah, cinta dari mananya? Dia bahkan tak mendengarkanku. Koko hanya akan berisik saat ada maunya. Laura saja yang sok tahu.


"Aku ikut," ucap Maria lagi.


Masih tak ada tanggapan.


"Aku mau jalan-jalan."


"Pokoknya aku akan ikut. Biar kusuruh Laura menyiapkan semuanya." Maria bergegas bangkit berniat keluar dari ruang kerja Gibran.


Namun penolakan tegas dari Gibran membuatnya berhenti.


"Tidak bisa. Kamu di rumah saja."


Maria menatap Gibran dengan raut yang mulai geram. "Terus kenapa Koko memanggilku kemari dan memberitahuku tentang hal ini?"


"Kenapa sih Koko selalu suruh aku diam di rumah? Aku tu bosan tahu! Koko enak-enakan terbang keliling dunia dan mengurungku di sini seperti tahanan. Kalau tidak mau mengajak, setidaknya tidak perlu bilang-bilang. Biasanya juga begitu, kan? Koko tidak pernah memberitahuku sekalipun mau pergi."


Gibran menyimpan bolpoin-nya perlahan, lalu mendongak, memfokuskan matanya pada Maria yang berdiri di selimuti rasa kesal.


Kacamata baca masih bertengger di hidungnya, membuat Maria hampir terpeleset di tempat karena menurutnya Gibran terlalu berkarisma memakai itu.


Astaga, fokus Maria. Kamu kan sedang kesal.


"Ke-Kenapa malah menatapku? Jawab, kenapa aku tidak boleh ikut?" tanya Maria gugup.


"Kamu akan menjadi bebanku."


"A-Apa?"


"Kamu selalu menghilang, dan itu merepotkan."


Maria menganga, tapi kemudian ia tergagap. "A-Aku berjanji tidak akan merepotkan. Lagipula, kita kan bisa bawa Jill dan Dean untuk menemaniku jalan-jalan. Kalau bisa Laura juga ikut."


"Tidak bisa." Gibran kembali membaca berkas di meja.


"Koko ..."


"Aku janji tidak mengganggu pekerjaan Koko." Maria membujuk.


"Aku juga akan membantu Koko dalam bersiap. Bukankah lebih mudah jika aku ikut? Koko tidak akan kerepotan seandainya sedang terburu-buru."


"Aku selalu tepat waktu."


"Justru itu. Karena Koko selalu tepat waktu, akan lebih baik jika aku berada di sana menyiapkan segala keperluan Koko."


Maria membuang nafas, akhirnya ia memberikan penawaran yang tak disangka-sangka. Bisa dibilang itu refleks yang Maria sendiri tak menduganya. "Ya sudah, kita bercinta setiap malam."


Gerak tangan Gibran berhenti, pria itu terpaku dengan mata fokus pada kertas.


Sadar dengan apa yang dikatakannya, Maria langsung membekap mulut merutuki kesalahan yang baru saja terjadi. Astaga, kenapa mulutnya harus selancang itu? Apa dia sedang bertengkar dengan otak?


"A-Anu, maksudku ... Bu-Bukan, bukan seperti itu. Itu ... Anu ..."


"Deal," cetus Gibran tiba-tiba.


"Kita seminggu di sana," tambahnya.


Maria melotot, mulutnya membuka lebar mendengar persetujuan Gibran. Matilah ia. Baru Maria mau berharap Gibran tak menangkap jelas ucapannya, lelaki itu sudah mendahului dengan pengesahan sepihak.


"Ko-Koko salah dengar. Itu ... maksudku—"


"Kamu tidak bisa meralat ucapan. Belajarlah konsisten," potong Gibran, dingin.


Maria menjerit kecil dengan bibir mengatup rapat. Ia menggigiti kuku merasa resah dan menyesal, kenapa harus mengatakan hal bodoh seperti tadi.


Kalau sudah seperti ini, mustahil ia bisa meralat ucapannya.


***


"Sial, sial, sial! Kenapa aku bisa sebodoh itu? Astaga ... bagaimana ini ..."


Maria terus berjalan bolak-balik di kamar, mulutnya tak berhenti merutuk dengan kening berkerut dalam. Laura yang tengah menyiapkan baju hanya melirik sekilas.


"Nyonya tidak sadar, ya? Nyonya memang kerap berubah bodoh di hadapan Tuan," ujar Laura malas.


"Apa kau bilang? Aku bodoh?" Maria tak terima.


"Lha, Nyonya sendiri mengakuinya tadi," timpal Laura sambil lalu.


"Kau-" Maria tak melanjutkan ucapannya. Ia memilih memikirkan nasibnya yang terancam selama seminggu ke depan.


Bercinta setiap malam? Astaga, apa Maria sudah gila?


Bukannya jalan-jalan, ia malah akan terkurung di kamar karena sibuk mengistirahatkan tubuh. Mengingat stamina Gibran yang seolah tak ada habisnya ketika berhubungan intim, Maria yakin ia tak akan punya waktu untuk healing seperti rencana awal.


"Aishh ... ini sama saja namanya bohong."


Jejak beberapa hari lalu saja masih terasa, bagaimana nanti ia harus melayani Gibran setiap hari?


"Oh, astaga ..." Maria menjambak rambut dengan raut hampir menangis.


Ia duduk di pinggir ranjang dengan lesu dan lemas. Tatapannya kosong menatap karpet bulu merah muda yang menggelitik telapak kakinya.


Omong-omong ia sudah pindah lagi ke kamar lantai tiga, tepat dua hari lalu kamarnya sudah selesai direnovasi. Dan sekarang ia semakin dekat dengan Gibran karena kamar mereka ada di lantai yang sama.


Menyadari hal itu membuat Maria menjerit tertahan, kakinya menghentak geregetan.


"Nyonya, apa saya perlu menyiapkan lingerie?"


Bukan apa-apa, Laura tahu Maria selalu tidur mengenakan itu meski luarnya dilapisi jubah lagi.


Maria berpikir sesaat. Lingerie adalah pakaian tidur ternyaman baginya. Tapi, mengingat ia akan bersama Gibran di sana, sepertinya itu bukanlah pilihan yang baik.


"Tidak perlu. Bawakan gaun biasa saja," titah Maria.


Namun ia tidak tahu Laura tetaplah Laura. Gadis itu tidak selalu menjadi penurut apalagi menyangkut hal seperti ini.


Sore harinya helikopter Gibran yang akan membawa mereka ke Bandara mendarat di halaman belakang. Jill, Dean, juga Laura turut serta menemani Maria.


Bukan kepalang noraknya, Laura membuat Maria meringis berkali-kali melihat tingkah gadis itu yang memalukan.


"Koko, ini Bandara mana?" tanya Maria saat mereka hendak menaiki jet pribadi milik Gibran.


Gibran tak menjawab, begitu pula Nick yang setia bungkam saat ditatap olehnya.


Maria menghela nafas. Lagi-lagi ia merasa Gibran memang merahasiakan hal ini darinya.


Maria duduk terpisah dengan Laura maupun 2 pengawalnya. Ia dan Gibran berada dalam satu ruangan khusus yang terdiri dari living area serta bed berukuran sedang.


Seketika tubuhnya mendadak panas dingin. Gibran tak akan menyerangnya di sini, bukan?