
Suara bisik-bisik terdengar di sekitar Maria. Ia mengedar dan mendapati beberapa wanita saling bergerombol menjerit kecil menatap pada satu arah.
"Aaron sangat tampan."
"Dia manis sekali."
"Dia satu-satunya orang Asia yang bisa membuatku tergila-gila."
"Aahh ... matanya begitu tajam dan seksi."
"Tapi dia sangat dingin. Sayang sekali."
Begitulah kira-kira kalimat yang Maria dengar sepanjang ia berjalan di koridor kampus. Entah siapa Aaron yang mereka maksud, Maria tak peduli dan terus melangkah kendati beberapa dari mereka meliriknya sekilas, seolah Maria adalah gadis paling aneh di sana.
Hey, mereka lah yang berlebihan. Meski tubuh Maria tidak setinggi gadis-gadis barat, ia tetap seksi dengan porsi yang pas. Pakaian Maria juga lebih mahal dari mereka. Jadi ia percaya diri saja. Toh, apa yang harus membuatnya menunduk meski itu pada senior sekalipun.
Maria tidak takut pada siapa pun. Anggap saja gadis-gadis itu iri padanya.
Bruk!
"Ya?!" hardik Maria.
Seseorang baru saja menabrak Maria. Gadis pirang berkacamata itu menunduk takut dan berkali-kali meminta maaf.
Maria tak menghiraukan, ia menepuk-nepuk kaus Gucci Branded-nya dengan jijik dan lekas berlalu meninggalkan segala gunjingan yang kini mengarah padanya.
"Dasar sombong. Memang sekaya apa orang tuanya? Sepertinya tidak lebih kaya dari Monica."
Monica, gadis itu tersenyum halus. Rautnya begitu lembut sebagai primadona kampus yang terkenal bersahaja. "Ayahku yang kaya, bukan aku."
"Tetap saja kau lebih kaya. Tapi kau tidak sesombong dia."
Maria mendengus memutar matanya malas. Ia menganggap segala desas-desus itu sebagai angin lalu.
Siang itu, selepas kelasnya selesai Maria pergi ke perpustakaan. Kalau bukan karena tugas ia ogah memasuki sarang para kutu buku itu.
Maria menghentak dan berhenti di ambang pintu. Banyak sekali rak tinggi yang memuat berbagai buku dengan macam-macam tema. Maria bingung, di mana ia harus mencari buku yang dosennya maksud.
"Aish, menyebalkan. Kenapa orang bisa membuat catatan sebanyak ini?"
Maria merengut dengan tangan bersilang di dada. Tepat ketika itu tiba-tiba saja seseorang berjalan melewatinya dari belakang. Bahu mereka sempat bersinggungan, namun sangat halus hingga hampir tak terasa.
Wangi.
Tanpa sadar mata Maria terpejam mencium aroma unik yang menyegarkan itu. Ah, siapa pun pemakainya sudah pasti dia orang yang sangat kaya. Ini pasti wewangian yang dibuat khusus oleh si pembuat parfum.
Saat Maria membuka mata ia langsung celingukan mencari pria yang melewatinya tadi. Tapi, ke mana pria itu? Yang mana, ya? Di sini ada banyak sekali pria. Ah, kenapa Maria harus menutup mata?
Maria berdecak keras, yang mana hal tersebut mengundang pelototan dari si penjaga perpustakaan. Ia meringis lalu segera beranjak meneruskan niatnya untuk mencari buku.
Lama ia menelusuri rak, namun tak kunjung mendapat apa yang dibutuhkan. Sialan, ini menyebalkan. Kenapa Rayan harus memasukkannya ke kampus luar negeri seperti ini. Selain karena tempatnya yang bagus, tak ada satu pun yang Maria sukai di sini.
Memang, awalnya kampus ini adalah impian Maria saat kecil. Tapi, kok sekarang beda lagi, ya? Entahlah, Maria tidak pernah konsisten mengenai keinginan.
Maria mau bertanya mengenai buku yang ia cari, tapi gengsi. Hampir semua orang yang ada di perpustakaan ini tak memiliki hubungan baik dengannya.
Apa sebaiknya ia tanya penjaga perpus?
"Oke, sepertinya aku memang harus putar balik. Melelahkan, merepotkan. Pokoknya setelah lulus aku mau diam seharian di rumah, belanja sambil tiduran, nonton, dan perawatan. Ah, sungguh cita-cita yang sempurna."
Maria kembali ke meja depan yang serupa meja resepsionis untuk bertanya.
"Miss," panggilnya pada seorang wanita.
"Hmm ..." Wanita itu bergumam panjang. Kacamata berantai menggantung di hidungnya.
Wanita baya itu membuang nafas. "Lagi-lagi. Ini karena kamu sangat jarang kemari, jadi tidak tahu penempatan bagian-bagian buku di mana. Sekali-kali cari sendiri. Sudah sana."
"Ayolah, Miss ..." rengek Maria.
"Pekerjaanku banyak."
Bruk!
Seseorang menaruh buku di atas meja. Banyak sekali.
"Tolong catat," ujar seseorang datar.
Maria menoleh dan menemukan seorang pria tinggi dengan wajah oriental yang memukau. Ia sampai tergemap hingga tanpa sadar menganga saking terpesona.
"Aaron? Kau meminjam sebanyak ini lagi?" Si penjaga perpus menurunkan sedikit kacamata dan melirik naik turun tumpukan buku di hadapannya.
Pria bernama Aaron itu tak menjawab. Wajahnya setia tak beriak tanpa emosi.
Sebentar, wangi ini? Ini wangi langka dan unik yang sempat Maria cium tadi. Jadi pria ini pemiliknya?
Astaga, sudah ia duga orangnya sangat tampan. Lebih tampan dari perkiraan. Tapi kacamata tebal di matanya begitu mengganggu. Maria gatal ingin mencopotnya.
"Hah, baiklah. Kali ini tolong dikembalikan, ya? Kamu memang selalu mengganti buku-buku yang hilang itu dengan uang. Tapi akan lebih baik jika kamu mengembalikannya secara lengkap."
"Hm."
Selesai mencatat, Aaron mengambil semua buku-bukunya lalu berlalu dari sana. Mata Maria tak berhenti mengikuti kepergian pria itu sampai menghilang di pintu.
Ya Tuhan, tampan sekali. Aku harus memilikinya.
Sejak saat itu, Maria bertekat dalam hati untuk mendapatkan pria dingin si pemilik parfum unik.
***
Hari-hari berlalu penuh bunga bagi Maria. Kini ia memiliki tujuan untuk tetap masuk kuliah dan pergi ke kampus. Ia ingin bertemu lagi dengan Aaron.
Pria pemilik harum mahal itu, Maria melihatnya setiap hari. Dia senang membaca buku di mana pun, terutama perpustakaan.
Suatu ketika Maria menghampirinya di sana. Ia berpura-pura kesulitan mengerjakan tugas dan meminta bantuan Aaron untuk mengerjakannya. Tahap pertama yang sempurna.
Aaron bersedia membantunya. Pria itu bicara banyak meski hanya sekedar menjelaskan materi. Tapi Maria senang. Asal itu suara Aaron, Maria bersedia mendengarnya sampai larut sekali pun.
Hari-hari berikutnya pun sama, Maria berupaya mendekati senior dingin itu hingga mereka sering terlihat bersama karena Maria yang kerap mengikuti Aaron ke mana-mana.
Mulanya Aaron memang sulit dan tak menanggapi kehadirannya. Hingga 2 tahun berlalu pria itu barulah bisa menerima kehadiran Maria di sekitarnya.
"Ayolah, Senior ... jadilah pacarku. Sebentar pun tak apa-apa. Ya~?"
Aaron menoleh menatap Maria. Itu adalah tatapan pertama yang paling intens dari Aaron untuk Maria.
"Ya ... kita pacaran, ya ...? Please ... aku malu kalau kau tidak menerimaku. Orang-orang akan semakin mengataiku nanti."
Aaron tak menjawab. Ia hanya diam saja, mulutnya hening seperti biasa.
Maria mencebik, ia hampir meninggalkan Aaron karena merasa sudah kehilangan muka. Kakinya menghentak kesal hendak beranjak dari sana, sebelum tiba-tiba saja pria itu menarik wajahnya untuk menoleh, lalu ...
Cup.
Aaron melabuhkan bibirnya di atas bibir Maria, membuat gadis itu terdiam mematung dengan mata tak mampu berkedip. Pergerakan pelan bibir Aaron yang menghisap dan menyesap pelan membuat Maria tanpa sadar ikut melayang. Ia turut memejamkan mata meresapi setiap belaian yang Aaron berikan di bibirnya.
Salju pertama turun di New York, pun ciuman pertama Maria dapatkan dari Aaron setelah 2 tahun lamanya ia mengejar cinta lelaki itu.
Di bawah pohon tak berdaun, di taman yang sebelumnya ditimpa musim gugur, Maria resmi mendapatkan Aaron sebagai kekasihnya.