
Maria berkali-kali melirik Gibran, setengah heran kenapa lelaki itu sangat diam pagi ini. Gibran memang pendiam aslinya, tapi tak pernah sediam sekarang. Rautnya juga aneh, tak jarang Maria mendapati lelaki itu menghindari tatapannya.
"Koko kenapa? Kok, wajahnya kuyu begitu?"
"Hm?" Gibran menoleh, hanya sebentar karena sedetik kemudian ia membuang muka, berlagak fokus dengan benda yang sedari tadi ia pegang. "Tidak apa-apa. Memangnya aku kenapa?"
Maria berdecak pelan, Gibran malah balik bertanya. Maria yakin ada sesuatu. Gerak-gerik Gibran sungguh mencurigakan. Dan lagi, sejak kapan Gibran gemar bermain rubik? Atau selama ini Maria yang tidak tahu?
"Koko tidak kerja?"
Yang Maria tahu Gibran juga memiliki cabang usaha di Jakarta. Setidaknya Gibran akan pergi pagi pulang sore, seperti yang kerap pria itu lakukan selama sebulan tinggal di sini.
Tapi, tumben sekali Gibran masih pakai kaos dan celana panjang biasa, padahal hari sudah cukup siang.
"Hari ini aku di rumah," jawab Gibran pendek.
Saat pertama Maria pulang ke Jakarta usia kandungannya masih 3 bulan, tak terasa sekarang sudah menginjak 4 bulan, bahkan hampir memasuki bulan kelima.
Jika sesuai rencana Gibran yang semula mengijinkannya tinggal di sini selama 3 bulan, seharusnya 6 bulan nanti mereka sudah pulang kembali ke mansion.
Gibran masih betah duduk di sofa yang menghadap langsung ke balkon. Maria tidak tahu pasti rautnya bagaimana. Tapi jelas sekali Gibran sedang mencari pengalihan dari sesuatu.
Maria tidak tahu kalau Gibran habis menangis semalaman di sampingnya. Lelaki itu berusaha menghindar lantaran malu dengan kondisi mata yang tak bisa dikatakan baik-baik saja.
Ternyata begini rasa dan efek yang ditimbulkan dari menangis. Gibran tidak tahu harus dengan apa ia mengempiskan matanya yang membengkak.
Maria menoleh pada Laura yang sedang berusaha memasukkan lengan baju. Gadis itu tengah membantunya berpakaian sehabis mandi. Karena kondisinya cukup menyulitkan, kemarin Gibran membeli dress-dress baru berpotongan lengan pendek dan longgar di bagian ketiak.
"Hati-hati, aduh."
"Ya ampun, kesenggol, ya? Maaf, Nyonya," ucap Laura merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Sudah selesai, kamu pergilah keluar."
"Tapi Nyonya belum sisir rambut."
"Aku akan meminta suamiku melakukannya."
"Ohh ..." Kini Laura menggaruk rambutnya sambil meringis. "Ya sudah, baik, Nyonya. Kalau begitu saya keluar. Anda mau dibawakan makanan?"
Maria berpikir sejenak. "Emm ... tidak perlu, nanti aku turun ke bawah saja."
"Oh, oke. Permisi, Nyonya."
"Hm." Maria mengangguk menanggapi kepergian Laura.
Ia lekas membawa sisir dan menghampiri Gibran di sofa. "Koko."
Maria mengernyit karena Gibran malah menunduk semakin dalam. Apa ia sefokus itu sampai harus menunduk sebegitunya menatap rubik?
"Koko sisirin rambutku, dong." Enggan berpikir lebih, Maria pun duduk bersila di bawah sofa tepat di depan Gibran.
Ia sudah meletakkan sisir di samping lelaki itu. Tak lama ia rasakan tangan Gibran menyentuh dan menyurai rambutnya dengan hati-hati. Perlakuannya begitu lembut seakan takut menggores kulit kepala Maria.
Tanpa Maria tahu Gibran tengah mati-matian menahan rasa sesaknya ketika tanpa sengaja ia mendapati bekas luka jahitan di kepala Maria. Garis kecil yang membentang panjang itu sudah terlihat samar. Akan tetapi efeknya mampu menghentak jantung Gibran hingga hampir lepas dari tempatnya.
Inilah hasil dari kebodohanmu dulu. Makinya dalam hati.
Gibran mengerjap mengalihkan sejenak pandangannya.
"Mau diikat atau digerai?" tanya Gibran serak.
"Terserah Koko saja, Koko mau melihatku bagaimana hari ini?"
Gibran berpikir. "Diikat saja, ya? Biar tidak berhamburan rambutnya. Kamu pasti repot kalau digerai. Ikatnya pelan, kok."
Gibran pun mulai berusaha menata rambut Maria dan menyatukannya serapi mungkin. Tapi mungkin karena tangannya tidak ahli hasilnya tetap saja berantakan.
Berkali-kali Gibran berdecak tak puas dan mengulangi ikatannya.
Maria sudah terkikik tanpa suara sedari tadi. Gibran yang kesulitan seperti ini membuatnya geli sendiri.
"Masih lama?" tanyanya iseng.
"Sebentar lagi," sahut Gibran dengan suara terdengar sangat fokus.
Entah berapa banyak helaan nafas yang keluar dari mulut Gibran. Meski sudah berkonsentrasi, ada saja rambut Maria yang tergelincir dari ikatan.
"Aku tidak tahu di balik rambut yang indah ada kesulitan sebesar ini," gerutu Gibran pada akhirnya.
Maria tak bisa menahan tawa mendapati kekesalan Gibran. "Ya sudah gerai saja," usulnya.
Namun Gibran menggeleng dan tetap bersikeras mengikat rambut Maria.
"Coba ikatnya di bawah saja, jangan terlalu atas." Maria menyarankan.
Gibran pun menurut dan menurunkan sedikit jumputan rambut itu hingga sebatas leher. "Begini?"
"Iya."
Akhirnya Gibran bisa menghela nafas lega setelah berhasil mengikat rambut Maria dengan benar. Bibirnya menyungging senyum mengecup kepala Maria dari belakang. Ia rangkul pundak Maria dengan tangannya dan menumpukan kepala di puncak rambut wanita itu.
"Capek?" ejek Maria.
Gibran terkekeh. "Lebih capek dari olahraga," selorohnya membalas.
Maria tersenyum bersandar nyaman dalam rangkulan Gibran. Tak lama ia pun bertanya. "Koko kenapa nangis?"
Hening. Maria bisa merasakan tubuh Gibran yang menegang. Kemudian pria itu pun tertawa, namun terdengar hambar.
"Kata siapa aku menangis?"
Maria tak menjawab, tanpa diduga ia mendongak, hal yang membuat lidah Gibran kelu karena pada akhirnya mereka saling beradu tatap, yang mana hal tersebut memperlihatkan wajah Gibran yang sembab.
"Wajah Koko tak bisa berbohong," kata Maria. "Koko pikir aku tidak tahu sejak tadi Koko berusaha menghindariku? Pasti karena ini, kan?"
"Jujur saja, apa yang membuat seorang Gibran Wiranata menangis hingga menghasilkan wajah sembab seperti ini?"
"Jangan mengelak lagi. Koko itu jarang sekali menangis, lho. Bisa dibilang aku belum pernah melihat Koko benar-benar menangis. Apa yang terjadi?"
"Kita ini suami istri. Sudah sewajarnya saling berbagi. Koko jangan terus apa-apa disimpan sendiri. Aku sebagai istri jadi tidak enak karena merasa belum menjadi tempat ternyaman untuk suamiku bercerita."
"Jadi tolong, labuhkan segala keluh kesah Koko padaku, agar aku bisa tahu dan mengerti harus melakukan apa untuk mendalami suasana hati Koko yang sepertinya sedang tidak baik akhir-akhir ini."
Hening.
Gibran tak mampu menjawab, pun Maria enggan mengalah untuk mendesak. Lagi-lagi Gibran membuang muka berusaha menghindari tatapan Maria. Rautnya mulai meredup seiring jakunnya naik turun menelan ludah.
Tak lama kemudian mata Gibran memerah. Pada akhirnya pertahanan lelaki itu runtuh di depan Maria. Gibran menangis sesenggukan menundukkan kepalanya.
Maria yang sudah berbalik menatap sepenuhnya pada Gibran kontan meraih dan mendekapnya dengan satu tangan, mengusap surai hitam lelaki itu dengan tenang.
Mungkin ini air mata pertama yang Maria lihat dari Gibran. Sebelumnya Maria tak pernah menduga bahwa Gibran bisa menangis sehebat ini. Lelaki itu tampak rapuh dengan bahu meluruh.
Sosoknya yang ditakuti banyak orang kini hilang. Dia terlihat lemah, terluka dan penuh kesedihan.
Namun yang tidak Maria mengerti adalah permintaan maaf Gibran. Berkali-kali pria itu menggumamkan kata maaf yang entah ditujukannya pada siapa.
Pada Maria? Memangnya Gibran berbuat salah apa?