
Selesai mengganti korset Maria pun lekas kembali bergabung bersama Gibran juga Tuan Shimamura yang ternyata sudah sampai ke sayap timur. Maria mengetahui itu atas arahan dari kepala pelayan.
Bersama Laura ia berjalan menghampiri kedua lelaki yang kini tengah berbincang menghadap kolam dengan besar entah berapa puluh meter. Keindahan diperlengkap oleh adanya pohon-pohon palem juga penghijauan buatan yang menambah asri suasana.
"Sayang sekali putri saya menolak ikut kemari. Tampaknya dia cukup kecewa dengan berita pernikahan Anda." Tuan Shimamura tertawa kecil.
Sementara itu, Maria langsung berhenti di tempat saat tanpa sengaja mendengar kalimat itu. Jaraknya masih beberapa meter dari Gibran. Laura yang juga ikut berhenti seketika menatap Maria bingung.
Ia pun bertanya, "Ada apa, Nyonya? Kenapa berhenti?"
Maria terdiam. Mungkin Laura tidak mengerti kalimat Bahasa Inggris yang dilontarkan Tuan Shimamura barusan. Tapi, Maria jelas merasa penasaran dengan maksud kalimat itu.
"Tidak ada. Mari lanjutkan." Maria kembali berjalan menghampiri Gibran dan Tuan Shimamura.
Ia membungkuk dan tersenyum sebagai etiket sapaan juga rasa hormatnya terhadap konglomerat Jepang itu. Baru-baru ini ia ketahui Tuan Shimamura merupakan founder perusahaan otomotif yang cukup ternama di Jepang.
"Sudah?"
"Hem?" Maria berkedip bingung menatap Gibran.
"Kami akan berkuda. Kau mau ikut?"
Maria diam sejenak. Ia melirik Tuan Shimamura yang seketika mengangguk melempar senyum begitu mata mereka bertemu pandang. Kemudian ia kembali pada Gibran yang masih menatapnya menunggu jawaban.
Ia juga baru sadar Gibran dan Mr. Shimamura sudah berganti pakaian. Astaga, kemana saja fokusnya sejak tadi?
"Koko ... mau berkuda?"
"Ya."
Maria mengangguk mengerti. "Ya sudah. Aku ikut. Tapi tidak apa-apa kan kalau aku tidak berganti pakaian?" Ia mencondongkan tubuh guna berbisik pada Gibran. "Aku malas balik lagi, ya. Jarak dari sini ke kamar itu sangat jauh. Kenapa Koko gak bilang dari tadi, sih?"
Berbeda dari keluhannya barusan, Maria mengumbar senyum manis saat kembali menjauhkan tubuh. Ia mengusap pelan lengan atas Gibran sembari berkata. "Ayo. Aku tidak sabar melihat kalian beradu di pacuan. Pasti akan sangat keren," ucapnya dalam Bahasa Inggris.
"Terutama Koko," Maria mengedipkan satu matanya pada Gibran. Membuat pria itu mendengus samar seraya melengos.
Ketiganya lantas menuju pacuan kuda yang berada di bagian selatan Mansion. Rupanya masih banyak yang belum Maria ketahui mengenai seluk beluk rumah ini sebagai istri Gibran. Termasuk rumah kaca yang sempat dilewatinya, juga sebuah walkway dengan susunan yang indah dan mengarah entah ke mana.
Yang Maria sukai dari rumah Gibran adalah keasrian dan penghijauannya yang masih dipertahankan. Ia paling senang jika sudah menginjak rumput hijau yang terawat itu, apalagi saat rumputnya masih berembun. Kakinya akan terasa dingin jika memijak langsung tanpa alas.
Mereka sampai di pacuan kuda. Maria mengamati sekitar bersama Laura di pinggir lapangan. Gibran dan Tuan Shimamura tengah bersiap mengambil kudanya masing-masing.
Tempatnya cukup luas untuk ukuran milik pribadi dan menyatu dengan kediaman. Maria jadi berpikir apa Gibran tidak kena tegur pemerintah karena memiliki tanah terlalu luas?
Astaga, pemikiran konyol macam apa itu?
Atensinya terenggut oleh kedatangan dua pria dari arah sebuah pintu yang Maria duga terhubung dengan kandang kuda. Gibran menuntun kuda berwarna coklat kehitaman. Sementara Tuan Shimamura berwarna coklat terang.
Di belakangnya, Nick dan asisten Tuan Shimamura yang baru-baru ini Maria ketahui bernama Son mengikuti di belakang.
Cepat-cepat Maria turun dari tribun dan berlari menghampiri Gibran yang hendak menaiki kuda. Ia mengukir senyum lebar kala tangannya meraih pundak lelaki itu, membuat Gibran mau tak mau berbalik karena tarikan yang terkesan tiba-tiba.
Gibran berdehem pelan. Pandangannya beralih dengan tidak nyaman. Terlebih saat menyadari dirinya menjadi pusat perhatian. Terutama Tuan Shimamura yang kini nampak tersenyum maklum.
Gibran menyipit memberi isyarat agar Maria segera melepaskannya. Namun, Maria seakan tak peduli dan malah lebih gencar menunjukkan ... kemesraan?
Ada apa sebenarnya dengan wanita itu?
"Koko. Fighting!" seru Maria mengepalkan kedua tangannya. Ia menepuk-nepuk pundak Gibran yang terbalut kaus polo berwarna navy.
Gibran mengangguk kaku. Langkahnya terhela melewati Maria. Maria kembali menghentikan niatnya yang hendak menaiki kuda. Wanita itu lagi-lagi mendekat, dan kali ini berhasil membuat tubuh Gibran membeku.
Dengan senyum cerahnya Maria meraih topi pelindung di tangan Gibran.
"Menunduklah," ucapnya.
Gibran yang masih tidak mengerti dan coba mencerna sikap Maria, hanya bisa terdiam.
"Koko ..."
"Ya?" Ia baru menyahut saat Maria mencolek-colek bahunya dengan telunjuk.
"Menunduk."
Gibran menurut. Lelaki itu menunduk dengan sedikit mencondongkan punggung. Maria terlalu pendek untuk bisa mencapai kepalanya.
"Selesai!" Maria berseru senang saat ia berhasil memasangkan helm pelindung itu di kepala Gibran.
Sementara Gibran, ia terpaku tanpa alasan. Sikap Maria jelas membuatnya kebingungan.
Suara kekehan tiba-tiba terdengar di tengah mereka. Tuan Shimamura menatap keduanya penuh arti. "Kalian pasangan muda yang romantis. Nyonya Wiranata, semangatmu sedikit mengingatkanku pada mendiang Keiko. Istriku juga sama periangnya seperti dirimu."
Maria membekap mulut seolah tak percaya, "Astaga ... benarkah? Maafkan saya kalau begitu. Saya minta maaf karena telah membuat Anda merasa sedih." Ia menunduk beberapa kali dengan raut tak nyaman.
Tanpa diduga Tuan Shimamura justru melempar tawa renyah yang terdengar ramah. Memang rata-rata orang Jepang selalu menjaga suaranya supaya tidak nyaring.
"Saya justru senang karena bisa menyaksikan pemandangan yang langka dari Tuan Muda Wiranata yang Anda sendiri tahu Beliau adalah orang yang sangat tertutup terhadap publik."
"Sekarang saya bisa mengerti mengapa Anda belum berniat memperkenalkan istri Anda ke khalayak umum." Tuan Shimamura beralih menatap Gibran. Matanya menyipit hingga hampir menghilang saat ia tertawa.
"Lihatlah senyumnya yang menawan itu. Anda pasti begitu khawatir para pria akan mengerumuninya layaknya predator. Nyonya Wiranata memang memiliki pesona yang luar biasa. Anda jelas harus berhati-hati. Jika tidak ingat umur, mungkin saya juga akan tertarik menjadikannya sebagai istri. Hahaha ..."
Gibran terdiam tanpa ekspresi. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan. Sedangkan Maria mati-matian menahan senyum garing atas lontaran Tuan Shimamura mengenai dirinya dan Gibran.
Sayang sekali pria itu tidak tahu bagaimana hubungan yang sebenarnya terjalin antara ia dan juga Gibran.
Sebetulnya, ada setitik rasa bersalah Maria terhadap Gibran yang ia pupuk sejak awal pernikahan. Dan Maria berjanji akan memperbaiki apa pun yang mungkin saja tanpa sengaja telah ia hancurkan.
Benar. Maria tidak tahu apakah Gibran memiliki kekasih atau tidak saat menikahi dirinya.