His Purpose

His Purpose
53. Rustling Gym



"Kembalikan semua ini ke perpustakaan." Maria menunjuk tumpukan buku di atas meja.


Laura yang baru selesai menata pakaian Maria di ruang wardrobe pun mendekat. Keningnya berkerut dalam. "Hanya segini, Nyonya?"


Maria berkacak pinggang, "Ya memang harus sebanyak apa?"


Laura menggaruk kening disertai ringisan, "Seingat saya Nyonya meminjam lebih banyak dari ini?" ucapnya tak yakin.


"Menurutmu? Aku lupa menyimpannya di mana. Sudahlah, kamu bawa saja yang ada."


"Apa Tuan tidak akan marah? Nanti ujungnya saya juga yang disalahkan."


"Kenapa harus kamu yang disalahkan? Yang menghilangkan buku itu aku, bukan kamu."


Laura merengut. Maria tidak tahu saja sifat Gibran bagaimana. Melihat dari cara pria itu memperlakukan Maria selama ini, rasanya tidak mungkin Gibran memarahi sang nyonya hanya karena masalah buku. Akan tetapi, pria tersebut pasti akan melampiaskannya pada semua pelayan dan menyalahkan mereka semua.


Astaga, Laura baru sadar ternyata Gibran selembut itu pada Maria. Lembut versi Gibran tentu berbeda dengan lembut versi pria lain. Sayangnya Maria tidak bisa melihat itu.


Tak punya alasan untuk menolak perintah, Laura pun mengambil buku-buku di atas meja dan mengembalikannya ke perpustakaan. Ia hanya berharap setelahnya tidak akan kena semprot Gibran.


***


"Tuan, Kakek Anda ..."


Gibran melirik tajam pada Nick yang seketika itu juga meralat ucapannya. "Maksud saya Tuan Romanjaya. Beberapa hari lalu Beliau sempat bertemu Nyonya di pasar."


"Tapi, sepertinya Nyonya tidak mengenalinya karena saat itu Tuan Roman sedang dalam penyamaran."


Gibran melepaskan tangannya dari tarikan pulldown yang sejak beberapa menit lalu digunakannya berolahraga. Ia bangkit, meraih handuk kecil untuk menyeka keringat yang bercucuran. Nafasnya sedikit berat saat membuka tutup botol dan menenggak minuman.


Pria itu sedikit membanting botol tersebut ke atas meja, lalu menumpukan kedua lengannya di sana. Matanya menatap lurus ke depan. Entah apa yang sedang Gibran pikirkan, terkadang Nick pun tak mampu menebaknya.


"Evan. Apa dia sudah menemukan tempat ini?"


"Bisa dipastikan belum, Tuan."


"Sepertinya ... Ayah Anda bekerjasama dengan pemerintah terkait guna memblokade pergerakan warga negara asing yang hendak berkunjung ke Indonesia, terutama daerah ini. Saya dengar beberapa di antaranya termasuk daftar hitam."


Gibran mendengus, sudut bibirnya terangkat sinis. Tangannya melempar handuk ke atas meja, lantas berbalik melanjutkan kembali olah raganya yang tertunda.


Sambil menaiki treadmill ia berkata, "Panggil Maria kemari."


Nick mengerjap, "Nyo-Nyonya? Untuk apa? Beliau tidak suka kegiatan seperti ini." ujarnya refleks.


Namun, sedetik kemudian ia bungkam mendapati lirikan mematikan dari Gibran. Nick pun keluar dan lekas mencari Maria sesuai perintah Gibran.


Rupanya wanita itu sedang berkeliaran di lobi. Mereka berpapasan di depan lift. Terang saja Nick langsung menyampaikan titah Gibran pada Maria.


Maria tampak berkedip sesaat. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan heran, bingung campur penasaran. "Aku?"


"Kenapa Koko memanggilku?"


Nick menunduk, "Maaf, tapi saya kurang tahu, Nyonya."


"Begitu. Ya sudah, terima kasih. Aku pergi dulu."


Nick mengangguk, "Sama-sama, Nyonya."


Maria pun memasuki lift dan melempar senyum singkat pada Nick tepat saat pintunya mulai menutup.


Sesampainya di lantai dua, Maria langsung menuju ruang gym tempat Gibran berada. Susah payah ia mendorong pintu kaca berat itu karena memanggil Gibran yang sedang membelakanginya merupakan tindakan yang sia-sia. Pria itu tak akan mendengar karena ruangannya kedap suara.


"Oh astaga, berat sekali. Kenapa tidak diganti dengan yang lebih ringan saja?" tanyanya entah pada siapa.


Kakinya berayun mendekati Gibran yang tengah berlari di atas treadmill. Ia berdiri di samping guna menarik atensi Gibran. Pria itu meliriknya sekilas.


Really?


Gibran menghentikan aktivitasnya dengan mematikan alat tersebut. Lantas ia turun dan berjalan ke arah sofa bulat kecil tanpa sandaran yang terletak di ujung ruang, tepatnya di samping sebuah alat yang tidak Maria ketahui namanya.


Pria itu duduk di sana, menumpukan sikutnya di atas lutut.


Maria menelan ludah berusaha menghilangkan pikiran tak senonohnya akibat melihat penampilan Gibran yang luar biasa seksi. Astaga, bisa-bisanya pria itu hanya mengenakan celana tanpa atasan. Entah berapa kali Maria disuguhkan pemandangan seperti ini dari Gibran, dan ia masih saja belum terbiasa.


"Siang nanti aku ada meeting." ucap Gibran serta-merta.


Kontan mata Maria langsung membulat menatap pria itu. Apa Gibran masih waras? Atau ia memang salah dengar? Gibran menyuruhnya kemari untuk membahas meeting? Hell, apa hubungannya dengan Maria?


"Ap-Apa?" Maria memastikan.


"Ke kota. Kau mau ikut?" tanya Gibran.


Sesaat Maria berkedip, "Ke ... ke kota?"


"Hm," angguk Gibran.


"K-Koko ngajak aku?"


Sekali lagi pria itu mengangguk.


"Se-Serius?" Maria masih tidak percaya sehingga ia ingin bertanya terus.


Kali ini Gibran tak menjawab. Pria itu menghela nafas seraya bangkit dan berjalan melewati Maria, menghampiri salah satu alat olah raga dan bersiap melanjutkan kegiatannya.


"Kalau kau tidak mau tidak masalah," ujarnya cuek.


"Mau!" Buru-buru Maria menyergah.


Setengah berlari ia mendekati Gibran. Senyumnya mengembang lebar saat menduduki pulldown di samping lelaki itu. Matanya berbinar memerhatikan Gibran yang sedang berbaring mengangkat barbel.


"Koko serius mau ngajak aku?"


"Itu berarti aku boleh jalan-jalan?"


"Hanya hari ini," ucap Gibran.


Maria meringis, "Baiklah, tidak masalah ..." ujarnya pasrah.


Yang penting hari ini ia tidak bosan di rumah terus.


Dengan bibir sedikit mengerucut, Maria mengamati alat yang didudukinya. Maria menengadah melihat pegangan memanjang di atas kepala. Iseng-iseng ia menaikkan tangan untuk menariknya. Namun tanpa diduga alat itu ternyata sangat berat hingga Maria hampir tertarik.


Refleks ia menjerit kecil karena terkejut. Hal tersebut berhasil menarik perhatian Gibran yang kini mulai melepas barbelnya lalu menghampiri Maria. Wanita itu sibuk mengusap tangannya dengan wajah merengut.


Gibran berdecak. "Kau tidak bisa sembarangan menariknya."


Raut Maria semakin kecut, "Aku tidak pernah menggunakannya. Wajar kalau tidak tahu," ketusnya.


Gibran menghela nafas. Kendati begitu, tubuhnya berpindah ke belakang Maria, mengambil tangan wanita itu untuk kemudian ia tuntun meraih pegangan di atas.


Jantung Maria berdenyut kontan. Panas tubuh Gibran yang menerpa area belakangnya membuat Maria seakan tengah lari maraton. Keringat mendadak bercucuran seolah ia telah lama berolahraga.


Padahal, beberapa detik lalu badannya masih sejuk.


Perlahan-lahan Gibran membantunya menarik pegangan itu ke bawah dengan hati-hati. Alih-alih memperhatikan gerakannya, Maria justru terfokus pada lengan kekar Gibran yang lembab dan mengkilap.


Astaga, kalau dijilat pasti asin.


Maria menggeleng. "Apaan sih," ujarnya refleks.


Gibran mengernyit samar. Ia memperhatikan keanehan Maria dari atas kepala wanita itu tanpa suara. Namun saat itulah matanya menangkap pemandangan dress Maria yang menyingkap hingga menampilkan hampir seluruh pahanya.


Kenapa wanita itu harus duduk serampangan?