
Waktu berjalan dengan cepat, sudah seminggu Deo ditinggal istrinya ke Indonesia. Deo selalu menghubungi Kate tapi tak pernah dia angkat, jadi terpaksa dia menghubungi asisten pribadinya menanyakan keadaan dan jadwal istrinya.
Pagi ini dia terbangun mencari istrinya diseluruh ruangan dan tersadar saat seorang pelayannya mengingatkan jika Kate masih dalam perjalanan bisnisnya. Begitu pun saat di meja makan dia merasa ada sesuatu yang hilang, mungkin karena Kate biasa melayaninya mengambilkan makanan untuknya. Hatinya merasa hampa.
Hari itu di kantor dia tidak bisa fokus bekerja. selalu teringat terakhir kali dia bertemu istrinya dan membuatnya jengkel. Ada rasa penyesalan dalam relung hatinya yang tidak mau dia akui.
Tidak seperti Deo yang biasanya bekerja sampai malam, dia sudah pulang sejak sore hari dan berdiam diri di kamarnya menatap tempat tidur yang bisa Kate tempati. Dia meraba tempat tidurnya mencari kehangatan istrinya yang mungkin masih tersisa di sana.
"Aku merindukanmu," lirihnya. Lama dia termenung, kemudian mengambil ponsel yang dia simpan di nakas dan menghubungi seseorang.
Siapkan tiket ke Indonesia untuk penerbangan yang paling awal, aku tak peduli walaupun itu dini hari.
Dia mengakhiri teleponnya dan berdiri berjalan ke arah kamar mandi.
***
Seminggu yang lalu,
"Lo ada janji ke butik hari ini," ujar Mita pada teman sekaligus boss nya.
"Temenin gw ya, rasanya gw selalu gemetar tiap liat baju pengantin," rengek Edel. Mita tersenyum melihat Edel yang mulai gugup dan menggigit bibirnya sendiri.
"Tentu saja tuan putri aku akan menemanimu. Ah waktu benar-benar akan mengambilmu dariku," ujarnya cemberut.
Alice telah mengosongkan jadwal Edel dan Mita untuk siang ini. Mereka berangkat ke butik untuk fitting baju Edel, di sana juga telah ada Mrs. Soe yang menunggu mereka.
"Assalamualaikum, bunda udah di sini?" tanya Edel melihat Mrs. Soe sedang berbicara dengan desainer terkenal yang mendesain baju pengantin Ede juga dengan dua orang wanita.
"Kate," panggil Edel. dia tak menyangka jika wanita yang sedang mengobrol dengan bundanya adalah Catherine Urdha. "kenapa kamu ada di sini? kamu tak memberitahuku jika mau datang," ujarnya masih kaget dengan kedatangan temannya.
"Hallo Edelweiss ... , hai aku Catherine Urdha," memperkenalkan diri pada Mita.
"Mita," sapanya singkat.
"Kenapa kamu bisa sama bunda?" Edel mengganti pertanyaannya.
"Kau akan tahu sebentar lagi," ujarnya.
"Baiklah, ayo ikuti aku," ajak desainer tersebut masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup luas, di sana sudah terdapat beberapa gaun dan kebaya yang terpajang di manekin.
Asisten Mita membawa sebuah kotak lumayan besar, dia memberikannya pada desainer tersebut.
Desainer itu membuka kotak yang dia terima lalu mengeluarkan sebuah kotak kaca dari dalam kotak kartonnya.
Cantik sekali, satu set singer Sunda yang di pesan oleh keluarga Malik untuk di pakai Edel di hari pernikahan mereka. singer itu terbuat dari emas putih dan platinum yang bertahtakan ratusan batu kristal dan batu Swarovski.
"Inilah alasanku ada di sini. Aku mengantarkan pesanan Malik untukmu, ini belum 100% jadi, karena harus menyesuaikan dengan desain baju pengantinmu juga pasti ada tambahan ide darimu dan desainer juga," terangnya.
"Kenapa Malik memesankan singer padamu, bukankah di sini juga ada," tanyanya penasaran.
"Dia tak ingin memberi yang biasa padamu, dia tak ingin pernikahan nya menjadi sesuatu yang biasa saja. Ingat dia seorang pangeran tentu pernikahannya akan menjadi pernikahan yang ditunggu oleh banyak orang dan apa yang kamu pakai akan tertulis di dalam sejarah negaranya," ungkap Mita.
Rasanya jantung Edel jumpalitan mendengar perkataan Mita, membayangkan pernikahannya menjadi salah satu pernikahan yang di tunggu abad ini membuatnya sulit mengungkapkan apa yang dia rasa saat ini, senang, gembira, gugup, tak percaya diri, ingin berteriak, bangga, haru, semua menjadi satu, nano-nano.
Edel mencoba kebayanya dan tentu saja singernya juga. Kate dan desainer bekerja sama menciptakan satu set pakaian pengantin Sunda yang sempurna, Kate menandai bagian-bagian yang akan dia tambahkan dan kurangi begitupun dengan desainer nya dia menandai baju yang dipakai Edel agar tampak sempurna dihari H nanti.
Mrs. Soe dan Mita melihat Edel dan terharu.
"Tak ku sangka anak gadisku dia sudah besar dan akan segera menikah," ungkap Mrs Soe menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya.
Mita hanya tersenyum dan memeluk Mrs. Soe seperti memeluk ibunya sendiri.
"Kau akan menginap dimana?" tanya Edel pada Kate.
"Aku menginap di sekitar sini di Rizt Carlton."
"Menginap saja di rumahku," ajak edel. "Apa kau akan lama di sini?".
"Aku akan lama, mungkin sampai beberapa hari setelah selesai acara pernikahanmu. Sekalian berlibur," ujarnya.
"Ayo aku antar kamu mengambil barangmu, ikut aku ke rumahku." pinta Edel. dia senang Kate berada di Indonesia secara tidak langsung menemaninya.
"Baiklah kalau kau memaksa," ungkap Kate tertawa kecil.
Mita dan Mrs. Soe duluan pulang dan Edel menemani Kate mengambil semua barangnya di hotel dan akan menginap di rumah Edel. Mereka menggunakan mobil Edel.
"Kenapa kau tidak bersama Deo?" tanya Edel tanpa maksud apapun.
"Tidak, dia sedang sibuk," lirihnya teringat terakhir kali perdebatan mereka. Ada raut sendu terlihat di wajahnya, dia memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela mobil agar Edel tak melihat ada setitik air mata yang hendak lolos dari matanya.
Selepas magrib, Edel dan Kate telah sampai di sebuah rumah kawasan elite Jakarta. Tak banyak barang yang di bawa Kate hanya satu buah koper dan travel bag.
"Assalamualaikum," salam Edel dan Kate ketika masuk ke rumah mereka.
"Wa'alaikumsalam, selamat datang di rumah sederhana kami Kate," ucap Mrs. Soe memeluk anak sahabatnya.
"Terimakasih telah mengizinkanku tinggal di sini Mrs. Soe," Kate merasa pulang ke rumah sendiri karena hangatnya penerimaan keluarga Soe padanya.
"Ayo, pergilah bersihkan diri kalian dulu, setelah itu kita makan malam," titah Mr. Soe.
Edel menunjukan kamar yang akan di tempati Kate bukan yang di sebelah kamarnya tapi terhalang satu kamar dari kamar Edel.
Kate masuk ke dalam kamarnya, kamar yang lumayan luas dan sangat bersih pikirnya. Di keluarkannya ponselnya, tidak ada pesan apapun dari Deo.
Apa dia marah padaku, harusnya aku yang marah padanya!. batin kate.
*
*
Mereka makan bersama, Kate teringat Deo ketika melihat Mrs. Soe menyiapkan makanan untuk suaminya.
Apa dia masih sibuk kerja, apa dia sudah makan, apa dia makan di rumah. Ah kenapa aku memikirkan manusia kutub itu!. pikirnya.
Selesai makan Edel mengajaknya masuk ke kamarnya dan bercerita banyak hal. Edel melihat kesedihan yang berusaha ditutupi Kate oleh senyumnya.
"Aku sedang tidak dalam hubungan yang bagus dengan Deo," akhirnya kate bercerita pada Edel.
"Ko bisa, ada apa?, ceritalah aku akan mendengarkanmu," ujar Edel.
Kate menceritakan semua kejadian saat dia ke kantor Deo dan bertemu Letisya, tentu saja dia tak menceritakan soal perjanjian pranikahnya pada Edel.
"Sabar ya, kau tahu aku pernah tidak menerima panggilan Malik selama dua Minggu. Aku membiarkannya, tak membaca pesannya apalagi membalasnya, tak menerima teleponnya."
Kate kaget mendengarnya, "Apa kau tidak merindukannya?"
"Ya terkadang tapi aku sangat kesal saat itu, aku harus menghilangkan rasa kesalku dulu. kalau aku rindu, aku akan bertanya tentang jadwal Malik pada Mr. Husein dan terkadang juga Mr. Husein atau keluarganya mengirimkan foto dan video kegiatan Malik. Mereka tetap mendukungku dengan keputusanku, mungkin karena mereka sadar saat itu memang Malik yang salah," ungkap Edel.
Kate memikirkan perkataan Edel. mungkin dia akan melakukan hal yang sama untuk memberi pelajaran pada Deo, ya setidaknya dia juga bisa menghubungi Andrea jika ingin mengetahui jadwal suaminya.
"Terimakasih telah mendengarkanku," ucap Kate tersenyum, rasanya plong ketika kau sudah menceritakan masalah yang membuatmu tertekan atau sedih. Tentunya harus bercerita pada seorang yang tepat atau kau bisa bercerita pada Tuhan Yang Maha mendengarkan Yang Maha pembulak-balik hati.