He'S A Prince

He'S A Prince
Liburan



"Ya bagus udah dingin, jadi bisa langsung Lo makan kalau panas juga tetep harus Lo tiup dulu nunggu dingin," jawab Mita.


Tapi Edel tidak mendengarkan temannya, dia malah sibuk memakan buburnya yang sudah setengah dingin. Memikirkan bagaimana jika semuanya hanya angannya saja, bagaimana jika Malik perhatian pada semua wanita, bagaimana jika ternyata benar hanya dia yang terlalu berharap lebih.


Berharap lebih?! batinnya. Siapa yang berharap lebih? benarkah?! benarkah aku mulai menyukainya?! tertegun dengan kalimat di pikirannya.


Sudah hampir dua minggu Edel berada di Semarang mengerjakan proyek barunya bersama Mita dan Alice.


"Badanku benar-benar sakit," Edel memijit tangan hingga bahu dan lehernya sendiri.


"Mungkin karena lo keseringan tidur di meja makanya badan Lo sakit," jawab Mita mengambil minuman dan memberikannya pada Edel.


"Oh ya besok kan libur ya, mau ke Bali ga? dari sini ke Bali kan Deket," bujuknya, "Lo setuju juga kan Lice," melirik Alice yang sibuk dengan ponselnya.


"Sorry, kayanya aku ga bisa ikut, anakku sakit jadi harus pulang. Paling senin pagi aku bisa balik lagi sini," lirih Alice kecewa.


"Anak Lo sakit? sakit apa?" tanya Edel kaget, "ya udah Lo bisa pulang sekarang, kasian anak Lo pasti kangen mamanya," menghampiri Alice.


"Beneran Bu saya bisa pulang sekarang?" tanyanya penuh harap.


"Tentu Lo bisa pulang, tar gue pesenin tiketnya. Lo beresin aja barang Lo sekarang, tar gue kirim email tiket Lo," kata Mita.


"Makasi ya," ucap Alice senang, usia Alice tidak jauh berbeda dengan Mita dan Edel tapi dia sudah menjadi seorang ibu dari dua anak kembarnya.


Keesokan harinya setelah solat duhur mereka berkemas memasukkan pakaian dan barang yang akan mereka bawa.


"Ayo cepat, kalau tidak kita akan terlambat," seloroh Mita membawa travel bag miliknya, "sopir dah nunggu di bawah," melihat pesan di ponselnya.


"Ok, come on!" seru Edel.


Akhirnya mereka bisa berlibur walaupun cuma dua hari, tapi baginya itu waktu yang sangat berharga. Dia senang Mita di sampingnya mengatur semua jadwalnya, dia pandai mencuri waktu ketika jadwal padat.


Tiga jam kemudian mereka sudah berada di bandara internasional I Gusti Ngurah Rai. Mungkin karena akhir pekan mereka merasa bandara lebih ramai dari pada biasanya. Mereka menghampiri sopir travel yang disediakan hotel tempat mereka akan menginap.


Mereka menginap di daerah Gianyar Bali. Suasananya sangat asri bagus untuk relaksasi setelah berminggu-minggu bekerja.


"Mantai yuk," ajak Mita yang sudah siap pakai kaos dan celana pendek.


"Gue sini aja, badan gue lelah banget," tolak Edel tiduran di lounger chair dengan selimut kain yang menutupi badannya.


"Lagian dari sini agak jauh kali ke pantai, pemandangan di sini bagus, ini pertama kalinya kita ke sini 'kan?" lanjutnya.


"Resort ini recommend dari Alice. Gampang lah tingal minta sopir nganterin," gumam Mita ikut tiduran di lounger chair sebelahnya.


"Mit, jika suatu hari Lo dah nikah Lo masih mau kerja atau ngabisin waktu Lo buat ngurus keluarga aja kaya bunda ma nyokap Lo?" pertanyaan yang sederhana tapi membuat sebagian wanita berpikir keras, menimbang dan memilih.


"Tumben Lo nanya soal begitu, emang udah ada yang ngajak Lo nikah?" tanya Mita penasaran.


"Jawab aja Napa sih! pengen aja gue nanya, buat referensi!" gerutu Edel.


"Kalau gue, gue mau kerja aja, tapi tar kalau gw dah hamil punya anak mungkin akan berubah," jelasnya menyeruput minuman di sampingnya.


"Belom sih, cuma ya pengen tau aja dari sudut pandang Lo," malu-malu.


"Udah magrib, solat dulu yuk," melihat jam tangan Hermesnya.


Karena terlalu lelah, makanan diantarkan ke kamar mereka.


"Gue udah booking hotel buat kita besok, besok kita pindah ke hotel pinggir pantai," kata Mita," semangatlah, katanya mau mantai," melihat temannya hanya tiduran di luxury badnya.


"Sini juga ga pa-pa ko. Gue cuma kecapean aja kayanya, badan gue lemes," lirihnya.


"Lo ga sakit kan? gue dah pesen spa buat besok pagi sebelum cek out," ujar Mita.


"Atur aja terserah Lo, gue nurut aja," kata Edel memejamkan mata.


"Besok gue punya surprise buat Lo," Mita tersenyum melihat ponselnya. "Lo pasti ga kan nyangka ga kan bisa nebak surprise dari gue dan bisa di pastikan Lo akan seneng," kata Mita.


Mita terlalu fokus menatap layar ponselnya hingga tak sadar telah ditinggal tidur temannya.


"Yee ..., dia malah tidur, dari tadi dia bikin gue ngomong sendiri," menghampiri Edel menyelimutinya, tersenyum.


Esok harinya sesuai yang dijadwalkan mereka menikmati spa di resort tempat mereka menginap. Mereka sangat menikmatinya, memanjakan diri setelah bekerja tiap hari yang terkadang harus berada di dua sampai tiga kota dalam sehari, mengecek proyek di bawah sinar matahari, membuat laporan, dokumen sampai dini hari membuat badannya sangat lelah adalah keharusan buat mereka agar tubuh mereka tidak down dan kembali segar.


Pukul sebelas mereka cek out dari resort.


"Jalan dulu yu nyari makan," lebih semangat setelah badan mereka lebih rileks.


"Woke," sahut Mita.


Mereka diantar oleh driver travel yang siap mengantar mereka kemanapun mereka mau.


Mereka makan siang di restoran daerah Kuta, begitu banyak pengunjung karena week end.


"Ada telpon, gw angkat dulu ya," izin Mita nunjukin ponselnya.


"Ok," jawab Edel singkat, meskipun dia sadar mana mungkin ada panggilan toh ponsel yang Mita pegang mati.


Ah mungkin barusan memang ada panggilan tapi sudah terputus karena tidak kunjung diangkat. batin Edel.


Edel asik berselancar di ponselnya, "Kenapa beberapa hari ini dia ga ada kabar ya," gumamnya lirih. Tanpa menyadari telah ada seorang pria di hadapannya yang dia kira Mita saking fokusnya.


"Tar abis makan anter gue cari oleh-oleh ya sebelum ke hotel," pinta Edel. Pria muda di depannya tersenyum melihat Edel yang sibuk dengan ponselnya dan berdehem, tapi Edel tetap fokus pada ponselnya tidak menghiraukannya.


"Permisi," sahut pelayan mulai meletakkan beberapa hidangan di meja.


Saat pelayan mengantarkan makanan pesanannya barulah Edel meletakkan ponselnya di meja dan melihat hidangan yang di sajikan, tetapi keburu terkejut melihat seseorang yang berada di depannya.


"Assalamu'alaikum, hai," kata pria itu sambil melambaikan tangannya di depan Edel yang masih terdiam terpaku melihatnya, "segitu terkejutkah kamu melihatku atau kamu terpesona melihat wajahku hingga terdiam seperti itu?" tanyanya.