
"Apa kamu masih bersama temanmu?"
Edel mengirimkan pesan, setelah sampai di kamar. Rasanya kamar terasa sepi sekali tanpa Malik dan pangeran Ammar. Edel melihat pemandangan dari balkon kamarnya. Anginnya lumayan membuat mata mengantuk tapi dia tidak ingin tidur siang, dia ingin menunggu kekasihnya pulang.
drrtt..drrttt... sebuah pesan masuk,
"Aku masih di Club' 55, dah pulang? cepat sekali, ku kira sampai sore," balasan dari Malik.
Edel mengetik pesan balasan,
"Masih lama?" balasnya.
"kamu mau gabung? di sini ada Queenzha juga dan Catherine."
"Ok, aku ke sana."
Dia berjalan menghampiri Mrs. Soe dan Putri Syahara yang sedang mengobrol sambil menonton tv.
"Bunda, aku mau nyusul Malik ke Club'55," katanya meminta izin.
"Ya, have fun," sahut Mrs. Soe.
***
Entah kebetulan atau tidak Club'55 berada di lantai 55 tower 2 Marina bay Sands. Edel berjalan sendiri, banyak pasangan yang ditemuinya sepanjang perjalanan. Dia tersenyum ketika melihat mereka bergandengan tangan atau saling merangkul.
drrtt.. drrtt... sebuah panggilan masuk. dia tersenyum,
"Ya, aku masih jalan. mungkin bentar lagi sampai," kata Edel.
"Mau aku jemput?" tanyanya di seberang telepon.
"Tidak, biar aku sendiri saja. tak apa."
"Ok, aku tunggu."
"Ya." jawab Edel singkat lalu mengakhiri panggilannya.
Pintu masuk Club' 55 sudah terlihat dia berjalan bersemangat akan menemui kekasihnya. Namun seorang wanita memegang paper cup coffe ukuran sedang menghadangnya di depan pintu masuk Club'.
"Hai, kamu di sini," sapa Edel berusaha tersenyum, dia melihat kelopak matanya sayu seakan dia tidak tidur semalaman.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Edel melihatnya tersenyum tidak senang.
"Menjauhkan dari Pangeran Malik, Kamu pasti tahu jika aku menyukainya dan aku lebih mengenalnya daripadamu!".
"Pangeran Malik tidak pernah sebegitu perhatian dan dekat dengan seorang wanita kecuali denganku sebelum kamu datang di antara kami, dasar wanita genit!" ucapnya dengan murka.
"Permisi, aku mau lewat. Sepertinya kamu sedang tidak berpikiran jernih saat ini," jawab Edel melewati gadis itu hendak masuk ke dalam Club', dia tidak ingin waktunya sia-sia dengan meladeninya. Tapi tangannya dicengkram olehnya dengan keras lalu dihempaskannya kuat-kuat hingga Edel berbalik membelakangi pintu masuk.
"Apa yang kamu lakukan?!" seru Edel memegang pergelangan tangannya yang merah bekas cengkraman.
"Tak akan ku biarkan kau merebutnya dariku!" ujarnya, "tak ada seorang pun yang bisa mendekatinya kecuali aku, tak akan ku biarkan kau mendekatinya!" murkanya.
"Hei, Aku tidak pernah merebutnya dari siapapun! kau salah faham!" jelas Edel.
drrtt.. drrttt.. ponsel Edel bergetar, dia melihat ponselnya dan terlihat panggilan masuk dari Malik. Edel hendak mengangkatnya tapi ponselnya direbut dan dilempar oleh wanita itu.
"Kau!" kata Edel memandang tajam pada wanita itu, rasa kesalnya sudah tak tertahan lagi tapi Edel mencoba menenangkan diri walaupun itu susah.
Tiba-tiba dia memegang tangan Edel, dan berteriak.
"Tolong lepaskan aku, kamu salah faham padaku, kumohon," rengeknya sedikit menangis,
"Apa yang kamu lakukan?!" kata Edel tak mengerti kenapa wanita itu tiba-tiba merengek seperti itu. lalu dia melakukan hal diluar perkiraan Edel, dia menyiramkan espressonya pada wajahnya sendiri.
"Aawwhhh ... Panas, maafkan aku ... maafkan aku ... !" teriaknya merengek.
"Apa yang kamu lakukan, kamu tak apa?" kata edel panik membantunya bangun karena dia terjatuh ketika dia menyiramkan expreso nya ke wajahnya sendiri, tanpa sadar dia memegang paper cup bekas espressonya.
"Maafkan aku, jangan sakiti aku ... !" hanya kalimat itu yang keluar darinya, dia memegang wajahnya yang memerah kena espressonya yang masih panas.
"Apa yang terjadi, kamu baik-baik saja?" tanya Malik menghampiri mereka berdua membantu wanita itu berdiri.
"Maafkan aku, jangan sakiti aku... tolong aku, dia menyiramkan minumannya ke wajahku!" rengeknya membuat Edel mengernyitkan alisnya.
"Apa yang kamu lakukan Edelweiss, aku tidak percaya kamu melakukan semua itu!" tuduh Malik ketus melihat Edel memegang paper cupnya.
"Aku tidak ... ," ucapnya melihat paper cup di tangannya.
"Jauhkan dia dariku Pangeran, aku takut dia akan menyakitiku lagi," ujarnya meraung kesakitan.
"Tenanglah aku akan membantumu," kata Malik menenangkan wanita tadi, Edel melihatnya, rasanya sakit sekali, seperti tertusuk sesuatu yang sangat tajam.
Keributan yang dibuat mereka menjadi tontonan pengunjung Club'55. Shahmeer berlari menghampiri mereka.
"Kamu tidak apa?"
"Kakak tolong aku, dia menyiramkan kopinya ke wajahku, panas sekali. bawa aku kakak, aku takut," rengeknya.
Kopi? pikir Malik. Dia tertegun mendengar kata kopi, dia tahu Edel tidak minum kopi jenis apapun.
"Maafkan aku membuat keributan seperti ini, maafkan aku .. ," ucap Edel berbalik setengah berlari menjauh dari mereka. Pikirannya kacau, bingung, sedih, kesal.
Dia tak percaya apa yang didengarnya, Malik tidak mempercayainya, bahkan dia tidak bertanya keadaannya, dia tidak bertanya kejadian sebenarnya.
Edel masuk ke Chairman Suite, langsung masuk ke kamarnya, dia mengunci pintunya dan masuk ke kamar mandi mengguyur badannya dengan air ... dia menangis ... rasanya sakit sekali ketika orang yang dicintainya tidak mempercayainya. dia menangis di bawah guyuran shower berharap rasa sakitnya terbawa air mengalir.
***
Malik membantu Shahmeer menolong Azmy yang masih meraung kesakitan karena wajahnya memerah tersiram cairan espresso panas. Pihak Club'55 segera memanggilkan ambulan dan meminta maaf pada pengunjung atas ketidaknyamanannya terjadi kejadian seperti tadi.
Ponsel Edel dibawa oleh pihak Club'55 dan menyerahkannya pada Ronald. Dia memeriksa ponselnya dan menyadari itu ponsel Edel lalu memberikannya pada Malik.
"Ini ponsel Edel, sebaiknya kamu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. mungkin ini hanya salah faham," ucapnya karena dia tahu dari Queenzha jika Edel bukan seorang yang akan menyakiti orang lain dan Edel bukan pecinta kopi, selain itu dia juga tahu banyak tentang wanita dan tipe seperti apa Edelweiss.
Malik memegang ponsel kekasihnya, dia memandangnya. Tidak seharusnya aku menuduhnya dengan membentaknya, seharusnya aku mendengarkannya dulu. Batin Malik menyesal.
Dia menghampiri pegawai Club'55 dan meminta mereka menunjukan CCTV depan pintu, dia ingin tahu dengan jelas bagaimana kejadian sebenarnya. Timbul penyesalan yang amat sangat dalam hati Malik, dia melihat ponsel Edel, "Maafkan aku," gumamnya.
Malik menghampiri teman-temannya.
"Bro, sepertinya aku ... ," dia tidak melanjutkannya hanya memperlihatkan mereka ponsel Edel.
"Berbicaralah dengannya mungkin ini salah faham. Aku tahu dia seperti apa, dia bukan seorang yang akan melakukan hal rendah seperti itu," kata Queenzha. Malik mengangguk tersenyum padanya.
"Terimakasih telah percaya pada kekasihku," ucapnya lirih, hati dan pikirannya masih dipenuhi rasa penyesalan.
Malik masuk ke dalam kamar, melihat Mrs. Soe dan Mr. Soe sedang mengobrol riang dan tertawa dengan keluarga kecil kakaknya Putri Syahara.
"Assalamu'alaikum," kata Malik mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka.
"Mana Edel?" tanya Mrs. Soe.
"Edel?" kata Malik. "Apa dia tidak ada di sini, dia belum pulang?" tanyanya hati-hati.
"Apa maksudmu?" tanya putri Syahara, "Bukankah dia menyusulmu ke sana?!".
"Ah, iya ... , tapi tadi dia pulang duluan," sahut Malik lalu bergegas ke kamar Edel dan mencoba membuka pintunya tapi pintunya terkunci dari dalam.
"Honey, kamu di dalam?" tanya Malik mengetuk pintu kamar Edel.
Pintunya lalu terbuka, "Ada apa?" tanyanya tersenyum menutupi sakitnya, dia melihat orangtuanya dan keluarga Malik berkumpul di depan pintu kamar nya.
"Kenapa kalian berada di depan kamarku?" tanyanya lagi.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Mrs. Soe pada Edel.
"Ya, aku baik," kata Edel tersenyum.
"Bunda ga tahu kamu berada di kamar, kenapa pintunya kamu kunci?" tanya Mrs. Soe lagi.
"Oh, aku tadi hanya memakai sleeveless dan shortpants, jadi aku menguncinya," terang Edel menyembunyikan lengannya kebelakang badannya.
Dia sungguh wanita luar biasa, dapat menyembunyikan kesalnya di depan orang-orang dengan sempurna. pikir Malik.