He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 108



"Maaf sayang, bunda ga bantuin kamu packing barang," ucap Mrs. Soe di seberang telepon.


"Tak apa bunda, ada Malik yang bantuin, lagian ga banyak yang aku bawa. Kata Malik dia sudah mempersiapkan semua keperluanku di sana jadi tak usah terlalu banyak yang di bawa," terang Edel.


"Kapan bunda pulang?" suaranya tak dapat menyembunyikan rasa rindunya pada bundanya.


"Kita nyampe rumah sore kalau ga macet," jawabnya.


"Apa semuanya akan ikut ke sini?".


Edel bertanya tentang saudara-saudara Malik yang sedang berlibur dengan orangtua Edel.


"Putri Zeera yang akan ikut kita, yang lain harus pulang karena ada kerjaan yang ga bisa di tinggal," terangnya.


"Ehm."


"Ya udah, ada yang mau kamu titip beli ga? ayah udah ga sabar tuh pengen cepet pergi nyari oleh-oleh," ujar Mrs. Soe.


"Beliin apa aja, pie susu juga ya. Ya udah, hati-hati di sana, assalamualaikum," pamit Edel.


"wa'alaikumsalam," sahut Mrs. Soe mengakhiri panggilannya.


Edel menatap ke sekeliling, mencari sosok Malik tapi tak dia temukan. Dia berjalan menyusuri tiap ruangan juga tak kunjung terlihat sosoknya.


"Mbok ... , mbok ... ," panggil Edel.


"Ya, non. Ada apa?" tanyanya menghampiri Edel.


"Simbok liat Malik ga?".


"Oh, Den Malik lagi di kolam belakang Non," jawabnya.


"Ya ... , makasi ya," ucapnya.


Edel berjalan menuju kolam tempat biasa Mr. Soe duduk memberi pakan ikan.


"Malik, aku mencarimu kemana-mana," gerutu Edel lalu duduk di sebelahnya.


Malik tersenyum memandang istrinya, "Apa kau merindukanku?"


Edel bersandar di bahu Malik sambil memegang tangannya, rasanya dia selalu merindukan suaminya walaupun baru beberapa menit tak bertemu dengannya.


"Iya, aku merindukanmu," ungkapnya lalu mengangkat kepalanya dan memandang lekat suaminya.


Malik tersenyum mendengarnya, dia membelai wajah polos istrinya yang tanpa polesan make up apapun. Bibir pink mungil dan harum nafasnya telah menjadi candu buat Malik. Mereka meluapkan perasaan masing-masing di kursi depan kolam tanpa takut ada yang melihat, toh mereka sudah menjadi suami istri tidak masalah jika hanya berciuman di taman belakang rumah.


Edel melepaskan pagutannya setelah merasa kekurangan oksigen.


"Bunda akan pulang nanti sore dengan Putri Zeera, dan yang lain akan langsung pulang ke sana," kata Edel, dia baru teringat akan mengatakannya ketika bertemu Malik tapi malah lupa.


"Ehm, iya," jawab Malik singkat.


"Apa kau sudah tau?" tanya Edel merasa informasinya tidak penting.


"Aku sudah mendengarnya dari Mr. Husein tadi malam."


"Kenapa Mr. Husein bisa tau padahal bunda baru aja bilang barusan padaku," merasa kalah dari Mr. Husein.


Malik mengedikan bahunya dan tertawa melihat Edel.


"Dia pasti tahu jadwal semua orang di keluargaku, itu bukan hal aneh lagi honey. Itu termasuk pekerjaannya," terang Malik menyingkirkan helaian anak rambut dari pipinya yang merona.


"Malik," Edel mengalungkan tangannya di leher suaminya dan menatapnya.


"Honey, apa ada yang kamu pikirkan?" tanyanya penasaran karena tidak biasanya Edel manja seperti itu padanya apalagi merayunya.


"Aku tak tau bagaimana perasaanku saat ini, aku gugup sekali, aku senang sekaligus takut, cemas juga, khawatir dengan semuanya. Bagaimana jika rakyatmu tidak menyukaiku dan menolakku," ujar Edel


Malik tertawa, "Kau sudah menjadi istriku Edelweiss, kau adalah pilihan ku tepatnya Allah menakdirkanmu untuk menjadi pendampingku. Dalam masyarakat selalu ada pro dan kontra, selalu ada yang suka ataupun tidak suka, setuju atau tidak setuju. Kita hanya harus memberikan yang terbaik untuk mereka selama itu tidak menyalahi aturan yang telah di tetapkan, masalah mereka tidak suka tidak usah terlalu dipikirkan selama kita berbuat baik," terang Malik.


"Jangan terlalu khawatir, aku tau mereka menyukaimu. Aku melihatnya di banyak media mereka mendukung kita," lanjutnya mengecup bibir istrinya.


Pukul enam lebih rombongan yang tengah berlibur telah kembali ke rumah, riuh canda tawa anak bungsu Putri Zeera bercerita pada Malik tentang perjalanan liburan mereka dari pulau Dewata.


Edel melihatnya dan tertawa kecil teringat Malik dulu juga pernah ikut dan mengajaknya menari bersama Barong.


"Aku juga naik gajah om, gajahnya beeesaaarrr sekali," tangannya membuat lengkungan besar ikut menjelaskan apa yang ia ceritakan.


"Benarkah? kenapa kalian tidak mengajak om. Padahal om juga ingin naik gajah yang besar," sahut Malik pura-pura merengek.


"Kata mommy om harus menemani Tante di rumah," melirik Edel.


"Ya, Tante takut jika ditinggal sendiri. Makanya om temani," ujarnya menirukan gaya obrolan anak-anak.


"Lain kali ajak aja tantenya om, kasian jika ditinggal!" tegasnya seakan dia kesal karena Malik tidak mengajak Edel berlibur.


Edel yang melihat raut kesal Almeda tertawa terbahak, dia senang anak kecil itu membelanya karena om nya tidak mengajaknya berlibur.


"Terimakasih telah mengajak kami menginap di sini," ucap Putri Zeera pada Mrs. Soe.


"Tentu saja kalian harus menginap di sini jika berkunjung ke Jakarta," sahut Mrs. Soe tersenyum.


Putri Zeera senang melihat putri kecilnya sangat dekat dengan adik lelakinya dan istrinya, anak pertamanya Pangeran Nathan ikut dengan Putri Syahara kembali ke negara A, dia merindukan kakek neneknya sedangkan suaminya telah kembali ke Swiss karena harus menjalankan kewajibannya dan akan pulang ke negara A sehari sebelum perayaan.


"Apa kau menyukai baju yang ku kasih padamu waktu itu?" bisiknya pada Edel.


"Ah, aku lupa. Maaf belum ku buka hadiah darimu," kata Edel jujur.


"Hahaha.. tak usah minta maaf, pakailah malam ini aku yakin kau akan menyukainya," ujarnya dan Edel mengangguk setuju.


***


Edel mencari hadiah dari Putri Zeera diantara kumpulan dan tumpukan hadiah pernikahannya.


"Kau sedang mencari apa?" tanya Malik melihat istrinya yang sibuk membuka-buka totebag hadiah.


"Hadiah dari Putri Zeera, barusan dia bertanya apa aku menyukai hadiahnya. Ya ku jawab aku belum melihatnya," ujar Edel.


Malik tersenyum betapa polos istrinya dan membantunya mencari.


"Kotaknya berwarna hijau zamrud, dalam totebag berwarna coklat," terang Edel.


Malik mencari dan matanya tertuju pada satu totebag coklat di atas kotak hadiah berwarna putih tulang. Malik mengambilnya dan memberikannya pada Edel.


"Apa yang ini?" tanyanya.


"Oh ya, syukurlah sepertinya memang yang itu. Dalamnya baju dan dia menyuruhku memakainya malam ini," ujar Edel berjalan menjauh darinya.


"Kau mau kemana?".


"Ke toilet, aku kebelet. Buka saja dia bilang kau pasti menyukainya jika aku memakainya," ujar Edel.


Malik berpikir lalu segera membuka hadiah dari kakaknya dan benar seperti dugaannya, hadiah dari Putri Zeera adalah lingerie berwarna hitam yang tembus pandang.


"Bisa runtuh pertahanan ku selama ini," gumamnya mengangkat baju lingerie dari dalam kotak.


"Sudah kau buka?" tanya Edel dari pintu kamar mandi.


Malik dengan cepat segera mengembalikan lingerie itu ke dalam kotak hadiahnya, dia tidak ingin Edel melihat atau bahkan memakai nya untuk saat ini. Belum saatnya, pikir Malik.


"Kenapa, ada apa?" tanya Edel mendekati suaminya. "Kau sudah membukanya,"


"Ehm ... , belum," jawabnya berbohong.


"Honey, besok saja kita lihat. Aku sudah mengantuk, ayo tidur," ajaknya merangkul Edel ke tempat tidur.


Edel memandang Malik heran. "Baiklah," ucapnya kemudian. Dia tau jika Malik menyembunyikan sesuatu, itu terlihat dari tingkahnya.


*****


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


Stay safe everyone ... . 🥰