He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 103



H -2


Malik juga kakak-kakaknya sudah berada di Indonesia pada hari Edel melangsungkan siraman, langsung menuju hotel tempat acara akan digelar. Mereka akan menginap di sana, sedangkan Baginda Sultan dan Ibunda Ratu akan datang pada malam hari sebelum hari H.


Pagi ini keluarga Soe sudah bersiap menuju hotel untuk persiapan besok. Edel berharap akan bertemu Malik hari ini karena dia tahu jika kekasihnya sudah berada di hotel, tapi sayang itu hanya harapan saja karena tentu saja mereka tidak akan diperbolehkan bertemu sebelum akad pernikahan selesai.


"Apa kamu gugup?" tanya Queenzha memasukan baju yang akan dibawanya ke hotel.


"Of course, aku gugup sekali padahal acaranya besok," ungkap Edel.


"Itu normal sayang, kamu akan menjadi aneh jika tak merasa gugup saat akan menikah," ujar Mrs. Soe mengemas perlengkapannya.


Pukul 10.00 WIB, keluarga Soe meninggalkan rumah mereka menuju hotel. Edel satu mobil dengan Queenzha dikemudikan oleh Darren, dia tiba di Indonesia kemarin sore dan langsung ke Bandung menyusul keluarganya.


Baju pernikahan Edel sudah ada di kamar hotel begitu pula dengan siger khususnya yang langsung dibuat oleh Kate, baju Malik juga telah dikirim ke kamarnya.


Darren melihat artikel online tentang kakaknya, dia tertawa terbahak membuat Mrs. Soe dan suaminya melihat ke arahnya.


"Eh, eh ... , enak bener ketawanya. Ngetawain apa sayang, bagi-bagi dong?" Mrs. Soe mendekati Darren dan duduk di sebelahnya.


"Ini bunda, aku lagi liat artikel tentang pernikahan kak Edel, komentarnya lucu-lucu," Darren tak henti tertawa.


"Coba bunda liat," Darren menunjukan komentar artikel yang Ia baca pada Mrs. Soe.


OMG, prince charming akan menikahi mojang Priangan.


Edel pasti telah menyelamatkan galaxy dikehidupan sebelumnya, dia mendapatkan jackpot 😱😱😱


Pangeran yang aku pinta sama Allah tiap tahajud berjodoh dengannya 😭


Aktris internasional, Miss Universe pun lewat, Edelweiss tetap yang dia pilih. 😂


Mrs. Soe ikut tak dapat menahan tawa dan ikut tertawa dengan anak bungsunya. Dia merasa bangga dengan Edel yang akan berjodoh dengan seorang pangeran seperti Malik yang digilai banyak wanita di seluruh dunia.


Mr. Soe melihat istri dan anaknya tertawa hanya diam. Perasaannya sedang gundah tak tentu, besok Ia harus melepas putri kesayangannya pada pria yang dipilihnya untuk menjadi pasangan hidupnya.


Ingin rasanya dia memutar waktu kembali ke masa anak-anak nya kecil dulu, tapi itu tak mungkin bisa terjadi. Dia merasa belum cukup waktu bersama mereka, melihat pertumbuhan mereka dari anak-anak yang begitu cepat dewasa.


"Sudahlah sayang jangan sedih, ayah harus terlihat bahagia. Bagaimana jika Edel melihatmu bersedih seperti ini, dia juga pasti akan ikut sedih," bujuk Mrs. Soe.


"Rasanya waktu begitu cepat berlalu," hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Mr. Soe, dia tak sanggup meneruskan perkataannya, dadanya terlalu sesak menahan tangis. Hatinya sungguh berbanding terbalik dengan perawakannya.


"Ayolah ayah, masih ada aku yang akan menemani kalian," ujar Darren memeluk ayahnya.


"Menemani bagaimana, beberapa Minggu lagi kau pun akan pergi meninggalkan kami, berkuliah lagi di Eropa," jawab Mr. Soe.


"Tenang saja itu bisa di atur, aku bisa pulang dua atau sebulan sekali pun bisa," ujarnya lagi.


"Enak saja, memangnya jarak Jerman dan Indonesia itu dekat?!" ketus Mr. Soe.


"Sekarang ada pesawat ayah cuma sehari perjalanan pesawat juga sampai, sama aja seperti Jakarta ke Jawa timur pakai mobil," tak mau kalah dari ayahnya.


"Ongkos nya yang tak sama," gerutu Mr. Soe.


"Hahaha.. kalian ayah dan anak sangat lucu sekali berdebat soal ongkos pesawat. Udahlah sayang jangan cemberut begitu, Darren hanya ingin membujukmu agar tak sedih lagi. Lagian nih, kan masih ada aku yang akan selalu menemanimu," ungkap Mrs. Soe membelai punggung suaminya.


***


"Kaka, apa kau melihat ponselku?" tanyanya pada putri Zeera, dia telah kembali dari Swiss untuk menemani adiknya menikah.


"Tadi aku lihat diambil Syahara, coba tanya dia," jawabnya.


"Kaka, apa kamu mengambil ponselku?" Malik mendekati putri Syahara yang sedang mengajak main pangeran kecil Ammar dan kedua ponakannya dari putri Zeera.


"Ya, ada padaku. Besok baru akan aku kembalikan," ujarnya tanpa menoleh melihat Malik.


"Tenang saja, mereka tidak akan tersesat walaupun tidak kau kasih tahu dimana kamarmu. Nanti akan aku suruh mereka langsung datang ke sini," jawabnya datar.


"Kenapa?".


"Aku tahu kamu pasti akan menghubungi salah satu teman Edel untuk melihatnya atau mendengar suara Edel. Ingat kita harus menghormati adat budaya sini yang tidak memperbolehkan calon pengantin saling berhubungan sehari sebelum pernikahan, sabarlah sampai besok. Kalau kamu mau melihat Edel, kau bisa menonton tv. Semua Chanel menayangkan berita tentang kalian," jawab Putri Zeera mendukung pernyataan adiknya Putri Syahara.


"Syahara, apa Ibu sudah berangkat?" lanjutnya.


"Belum, Beliau akan berangkat sekitar pukul empat atau lima sore. Kenapa?".


"Tidak, aku hanya bertanya. Aku merindukan mereka," ungkapnya.


"Apa kalian akan berada di sini terus, di kamarku?" tanya Malik ketus.


"Iya, kami memang berencana akan berada di kamarmu sampai Ibu dan ayah datang. Kenapa, kau tak suka jika kami berada di sini?" jawab Putri Syahara.


"Teman-temanku akan datang sebentar lagi," sahut Malik mencari alasan.


"Tak masalah, kami sudah kenal mereka. Lagian aku sudah lama tak bertemu mereka pasti akan seru jika kami bergabung dengan kalian,".


Malik mengernyitkan dahi nya. Aku tak bisa menang jika berdebat dengan kalian, batinnya kesal.


Malik melihat jam di pergelangan tangannya. "Baru pukul dua," gumamnya yang hanya bisa didengar sendiri. "Aku ingin istirahat sebentar, bangunkan aku jika sudah waktu asar," pintanya dijawab anggukan oleh kakaknya.


***


"Apa hanya ada kita berempat, kemana Shahmeer?" tanya Mike.


"Dia akan datang besok pagi, dia terlalu sibuk mengurus perusahaan ayahnya."


"Ku kira dia tak akan pernah menuruti permintaan ayahnya, ternyata sekarang dia begitu penurut pada ayahnya," Ronald menertawakan Shahmeer.


"Dia sudah dewasa dan harus mengambil sikap, dia penerus satu-satunya dikeluarganya," ujar Farhan membelanya.


"Ya kau benar," timpal Deo.


"Mana istrimu?" tanya Ronald.


"Dia sibuk mengurus pernikahan temannya. ada sesuatu yang di pesan kerajaan padanya untuk pernikahan Malik, jadi dia lumayan sibuk. Pasti istriku sedang dengan kekasihmu dan Edel," terus mengetik tanpa menoleh pada temannya.


"Benarkah? aku belum bertemu Queenzha. pantas saja dia tidak mengangkat teleponnya saat kuhubungi tadi," gerutu Ronald.


"Ya, wanita jika sudah berkumpul tak akan mau diganggu!" timpal Deo memasukan ponselnya ke saku celananya.


"Ayo, sebaiknya kita segera ke kamar Malik. Pesta bujang akan segera di gelar," seru Farhan mengacungkan jarinya senang.


"Kau yakin kita mengadakan pesta hanya di kamarnya?" tanya Mike.


"Permintaan khusus dari putri Syahara, kita tak bisa membawanya ke club'. Lagian aku baru berada di kota ini jadi belum hafal club' yang bagus di mana," ujar Deo.


"Itu sih gampang, kau tinggal tanya ke pihak hotel mereka pasti akan membantu kita," jawab Mike.


Mereka berempat masuk ke lift menuju kamar Malik. Putri Syahara benar-benar menjaga Malik agar tidak keluar untuk mengadakan pesta bujangnya. Dia takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada adiknya sebelum hari pernikahannya, dia ingat beberapa Minggu lalu ada yang ingin menyerang Edel dan dihentikan oleh para pengawalnya tentu tanpa Edel sadari.


Dibagian bumi lain, seorang wanita paruh baya melihat rangkaian prosesi siraman yang ditayangkan di salah satu chanel TV di negaranya. Tangannya mengepal dengan kuat lalu mengambil gelas di meja sampingnya dan membantingnya ke arah tv, gelas itu pecah berserakan.


"Tak akan kubiarkan kau bahagia dasar gadis ******!!!" teriak wanita paruh baya tadi.


*****


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


stay safe everyone ... . 🥰