
"Kenapa gadis secantik anda terlihat sendirian diantara kerumunan orang banyak?" tanyanya lagi.
"Oh, temanku sedang ke toilet sebentar lagi juga dia datang," jawab Edel.
"My flower aku mencarimu kemana-mana, sedang apa kau sendirian di sini?" tanya seorang wanita menghampiri mereka.
Suaranya halus dan pelan tapi membuat Edel maupun Malik terkejut dan berbalik melihat siapa yang berbicara.
"Ehmm, Tante," sapa Edel, ia terkejut melihat kedatangan Mrs. Ommar dan tentu saja didampingi Mr. Ommar.
"Sayang, dari tadi kami mencarimu. Kenapa kau sendirian, mana temanmu?" tanya Mrs. Ommar.
Edel hanya tersenyum.
"Jam berapa penerbanganmu?" tanya Mr. Ommar.
"Saya mengambil penerbangan besok sore," sahut Edel, "teman saya masih ada urusan disini, sekarang dia sedang ke toilet tante," lanjutnya.
Malik benar-benar tidak dilihat dicuekkan. 😂
Mrs. Ommar merangkul edel, "Besok sebelum pergi, datanglah ke rumah kami. Ada titipan untuk ayah dan bundamu."
"Baik, Tante."
"Jangan lupa ya, kami sudah siapkan jauh-jauh hari lho," kata Mrs. Ommar mengingatkan kembali.
"Iya, Tante." Edel tersenyum, melirik Malik yang dari tadi diam memperhatikan mereka.
Mrs. dan Mr. Ommar pun menyadari lirikan Edel dan melihat ada Pangeran Malik bersama mereka.
"Prince Malik," sapa Mr. Ommar yang baru tersadar keberadaan Malik dan menepuk bahunya.
Prince, jadi dia Pangeran yang dimaksud Mita. gumam Edel dalam hati.
"Mr. Ommar," sapa Malik penuh hormat.
"Maafkan kami tidak melihatmu, hahahahha ... kami terlalu fokus pada anak kami," kata Mr. Ommar membela diri.
"Tak apa, Mr. Ommar," sahut Malik.
"Kami tidak tahu kamu menemani Edel, sangka kami tadi dia sendirian," goda Mrs. Ommar.
Malik tersenyum, wajah Edel merona merah mendengar Mrs. Ommar yang seperti sedang menggodanya.
Mr. Ommar melirik ke arah Edel dan Malik bergantian seakan menunggu jawaban.
"Dia adalah gadis yang baik, anak sahabatku," kata Mr. Ommar tiba-tiba dan melihat Pangeran Malik.
Malik mengangguk dan tersenyum penuh keyakinan.
Kenapa dia berkata seperti itu pada pria ini. batin Edel.
Edel tidak mengerti maksud Mr. Ommar berkata seperti itu pada pria yang baru saja dia temui. Bahkan namanya saja dia baru tahu.
"Sekarang aku mengerti perjumpaan kita pagi tadi," Mr. Ommar tersenyum.
*flashback on*
Mr. Ommar berjalan kembali ke mobilnya.
"Tuan, ada Pangeran Malik dan Mr. Husein," sekretaris Mr. Ommar menunjukkan tempat orang yang dimaksud.
Mr. Ommar menghampiri sebuah meja.
"Assalamualaikum, Prince Malik. Tak kusangka kita bertemu di sini," sapa Mr. Ommar tersenyum.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mr. Husein.
"Mr. Ommar," Malik membungkuk hormat.
"Saya senang melihat anak muda pagi-pagi sudah berada jauh dari kamarnya." Malik tersenyum.
"Jangan lupa nanti datanglah ke perayaan perusahaan kami."
"Baik," jawab Malik tersenyum.
*flashback off*
"Kami mendukung kalian," kata Mr. Ommar.
Edel semakin tidak mengerti.
Malik tersenyum senang, "Doakan saja Mr. Ommar."
Edel mengernyitkan alis, melirik Malik.
"Hahhahahaa... tentu kami akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian."
"Terima kasih Mr. Ommar," jawab Malik membungkuk hormat tersenyum melirik Edel.
"Tapi, Om...." gumam Edel.
"Tidak kenapa, tidak usah malu kami mengerti," kata Mrs. Ommar tersenyum.
"Baiklah, kami tidak akan mengganggu kalian lagi untuk sekarang," gumam Mr. Ommar.
"Jagalah My flower Baik-baik," pinta Mr. Ommar pada Malik.
"Baik, Mr. Ommar," jawab Malik senang.
"Jangan lupa besok pagi kami tunggu. Ayah dan bundamu pasti senang menerimanya," Mrs Ommar mengingatkan Edel. Dia mengangguk pelan.
Mr. dan Mrs. Ommar pun meninggalkan mereka.
mita ko lama amat ya ke toilet, apa dia nyasar, gerutu batin Edel.
Edel kesal karena mungkin dia telah membuat Mr. dan Mrs. Ommar salah faham. Dia melirik Malik tajam.
"My Flower, nama yang cantik," puji Malik.
"Terima kasih," jawab Edel semakin kesal.
"Oya, aku Malik Ibrahim panggil saja Malik,"
memperkenalkan diri, Edel hanya mengangguk
"Sorry lama," kata Mita menghampiri Edel tanpa menyadari kehadiran Malik.
Mita melirik Malik, menutup mulutnya terkejut.
"Pa-pangeran Malik!" seru Mita.
Malik tersenyum.
"Ah ..., aku lupa tadi janji mau telepon mamaku." Dengan cepat berbalik meninggalkan mereka.
"Mit ... Mita ...," panggil Edel.
Mita malah mempercepat langkahnya.
Edel berbalik mendelik ke arah Malik, "Sebenarnya ada perlu apa Anda mendekati saya?" tanya Edel sedikit kesal.
"Mendekati?" Malik tersenyum.
"Maksudku ada perlu apa anda menemui saya?"
"Tidak ada," jawabnya singkat.
"Trus?" lanjut edel.
"Trus?" Malik mengulang.
"Iya terus kenapa Anda masih berada di sini mendekati saya klo tidak ada perlu apa-apa?"
"Saya rasa saya bebas berada di manapun saya mau," Malik tersenyum.
"Arrgghh." Edel mengepal tangannya gemas dan meninggalkan Malik.
"Mita mana sih?" gumam Edel.
Dia mencari hampir kesemua sudut ruang, tapi tidak berhasil menemukan temannya. Bahkan dihubungi pun tidak diangkat. Edel mulai khawatir terjadi apa-apa dengan temannya.
Bahkan sampai acara selesai pun Edel tak kunjung menemuinya. Edel menunggu di resepsionis hotel, berharap bertemu temannya.
"Sayang."
Sebuah suara memanggilnya
"Om, Tante."
"Apa om dan Tante lihat temanku?"
"Dari tadi aku tidak bisa menemukannya, bahkan telepon pun tidak diangkat," lirih Edel tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Tadi dia pamit pulang duluan pada kami, kami kira dia telah pamit padamu," jawab Mrs. Ommar.
Mrs. ommar mendekatinya, memeluknya menenangkan gadis yang sedang kalut itu.
"Tidak biasanya dia seperti itu," gumam Edel.
"Mr. Ommar."
Mereka berbalik mencari suara yang memanggil.
"Pangeran Fatih," sapa Mr. Ommar.
"Selamat, kami permisi pulang. Sekali lagi selamat dan sukses selalu. Terima kasih jamuannya," lanjutnya.
Pangeran Fatih pun meninggalkan mereka keluar hotel dengan rombongannya, termasuk pangeran Malik. Sedangkan sultan sudah pulang terlebih dahulu sebelum acara selesai.
Tak berapa lama kemudian terlihat pangeran Malik kembali menghampiri mereka.
"Mr. Ommar, saya mau meminta izin mengantarkannya pulang."