
Sudah tengah malam, angin berhembus terasa lebih dingin dari biasanya. Mereka telah sampai di sebuah lapangan istana, sudah ada helikopter yang sedang menunggu mereka yang akan membawanya ke bandara.
Seorang pria berbadan tegap menghampiri mereka dan berbicara sesaat pada Malik, lalu memberinya hormat.
"Ayo naik, mulai sekarang aku akan menjadi pilotmu," ujar Malik menarik lembut tangan Edel agar naik.
"Pakai pilot yang sudah terlatih aja, lebih aman," sahut Edel sedikit berteriak, Malik menghentikan langkahnya menghadap Edel.
"Apa kamu lupa atau tidak percaya padaku, aku lulusan Academy dan sudah mempunyai sertifikat kelulusan untuk mengemudikan helikopter," tegas Malik.
"Oh iya maaf, ayo naik di sini dingin," ajak Edel tak ingin berdebat.
Malik membantu Edel memasangkan sabuk pengaman dan tak lupa memberinya jaket tambahan. Mr. Husein dan seorang yang tadi menghampiri Malik duduk di kursi belakang mereka.
"Ini pertama kalinya aku naik helikopter," kata Edel saat helikopter mulai naik.
"Ya dan aku satu-satunya yang akan menjadi pilotmu, kamu harus ingat itu," tegas Malik, disambut tawa Edel.
Sekarang dia sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Mr. Husein dan lebih nyaman dengan keberadaannya setidaknya sebelum mereka menikah.
Edel lebih antusias melihat pemandangan kota di malam hari, terlihat banyak lampu seperti kunang-kunang di kegelapan sangat indah.
"Pemandangannya sungguh indah, terimakasih," ucap Edel tersenyum melirik Malik.
"Berakhir pekanlah di sini, aku akan mengajakmu berkeliling di udara," pinta Malik.
"Ga mau, kamu aja yang ke sana!" jawab Edel ketus.
Kurang dari sepuluh menit mereka telah sampai di bandara Negara A. Malik menuntun Edel memasuki pesawat yang akan membawanya pulang ke Indonesia.
"Tidurlah, aku akan membangunkanmu jika sudah sampai," kata Malik lembut menyelimuti Edel yang berbaring di sofa.
"Kamu tidur di mana?" tanyanya.
"Haruskah aku tidur di sebelahmu?" candanya tersenyum.
"Dasar mesum," ketus Edel.
"Kau mengatai seorang Pangeran mesum?"
Edel tidak menjawabnya. Dia terlalu lelah dan mengantuk untuk bercanda dengan Malik. Dia tersenyum memandang kekasihnya yang telah tertidur di hadapannya. Malik mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya dan menyimpannya di atas meja.
Malik mengangkat kepala Edel yang tertidur lalu duduk di tempat bantal yang semula dipakai Edel untuk tidur. Malik menidurkan Edel di pahanya, dia pun merebahkan kepalanya ke punggung sofa dan tertidur. Tangannya menggenggam tangan kekasihnya.
Drrrtt..... drrtttt..... sebuah ponsel bergetar di atas meja depan mereka. Edel mengambil ponsel tersebut dan menerima panggilan teleponnya.
"Ya, assalamualaikum," sapanya, nafasnya yang baru bangun tidur terdengar di seberang telepon.
Lama Edel menunggu tapi tak ada jawaban dari seberang telepon. Dia membuka matanya yang masih ingin terpejam melihat layar ponselnya. Nama di layar cukup membuatnya menghilangkan kantuknya.
Dia memandang layar ponsel Malik. Ya, ponsel Maliklah yang berbunyi. Edel memandang Malik yang tertidur di sebelahnya.
"Malik bangunlah, Malik ... ," seru Edel menggoyangkan bahu Malik.
"Ada apa honey, sudah sampaikah?" tanyanya mencoba membuka matanya.
"Maaf aku tidak sengaja menerima panggilanmu," sambil menyerahkan ponselnya. Panggilannya masih tersambung.
"Terimalah mungkin urgent di jam segini!" titah Edel ketus. Lalu bangkit dan berjalan menjauh.
Malik melihat layar ponselnya.
Kenapa dia menghubungiku jam segini, haruskah aku menerimanya. batin Malik.
"Halo assalamualaikum, ada apa?" tanya Malik, suara tegasnya cukup membuat yang di seberang tahu kalau dia tidak ingin diganggu.
"Maaf, aku hanya ingin membangunkanmu untuk shalat malam," suara lembut wanita di seberang telepon.
"Oh iya makasi, aku sudah bangun. Maaf aku masih ada urusan," lalu mengakhiri panggilannya sepihak.
Malik bangun dan mencari keberadaan Edel. Menanyakannya pada Mr. Husein.
"Apa anda lihat tunanganku?" tanyanya, dia sedikit panik tidak mau ada salah faham.
"Tidak Yang Mulia," jawab Mr. Husein.
Edel keluar dari toilet dan kembali ke ruangan tadi lalu mengambil mukena di dalam tas khususnya. Dia mulai shalat malam.
Malik semakin panik mencari di seluruh ruangan tapi tidak kunjung menemukan kekasihnya, bahkan di toilet pun Edel tidak ada.
"Mungkin dia sudah kembali ke ruangan tadi Yang Mulia," kata Mr. Husein.
"Ah, iya mungkin benar. Sebaiknya aku kembali," gumamnya setengah berlari. Rasa kantuknya hilang karena panik mencari Edel.
Saat tiba di ruangan, ingin rasanya dia berlari memeluk Edel yang sedang shalat tahajud. Dia menahannya dan duduk di samping Edel yang sedang shalat, menunggu nya.
"Aku mencarimu kemana-mana," gumamnya saat Edel selesai salam.
Edel menatap manik mata Malik dalam. Lalu membuang mukanya ke sembarang tempat, berdiri mengambil ponselnya dan membuka aplikasi Alquran. Edel tidak menjawab atau berkata apapun pada Malik, dia mulai membaca Alquran.
Malik sadar apa yang terjadi, telepon tadi mungkin membuat Edel salah faham atas dirinya.
"Bisakah kita bicara sebentar," tanyanya.
Edel melirik Malik.
"Tentu," jawabnya menunduk lalu terdiam.
"Aku takut mungkin kamu sedikit salah faham dengan yang barusan menghubungiku," gumamnya.
"Dia membangunkanku untuk mengingatkanku shalat malam, ini pertama kalinya dia melakukan hal itu," lanjutnya, Edel masih terdiam.
"Apa kamu marah?" tanyanya melihat kekasihnya hanya terdiam menunduk tidak melihatnya.
"Apa aku punya hak untuk marah padamu karena hal seperti itu?" sontak Edel, Malik tersenyum mendengar suara Edel yang mulai kesal.
Malik menarik Edel dalam pelukannya. memeluknya erat.
"Dia hanya adik temanku, aku ga tahu dia menganggap ku apa tapi aku hanya menganggapnya seperti itu. Percayalah padaku, aku hanya mencintaimu," sahutnya.
"Aku mengerti jika kamu kesal atau bahkan marah padaku, tapi percayalah padaku. Kamu memiliki hak penuh untuk marah karena hal seperti itu karena itu berarti kamu cemburu dan mencintaiku juga," lanjutnya.
"Aku.. aku bersyukur menemukanmu, aku mencarimu ke seluruh ruangan tapi tidak menemukanmu," semakin mengeratkan pelukan.
"Jangan pergi tiba-tiba lagi seperti tadi, jangan meninggalkanku seperti tadi," keluh Malik.
Edel tersenyum mendengar semua pengakuan Malik, dia membalas pelukan Malik.
"Aku hanya ke kamar mandi, aku tidak sengaja mengangkat panggilan itu. Aku kira itu ponselku, jadi aku angkat. Aku bilang halo tapi tidak kunjung dijawab jadi aku lihat siapa yang menelepon malam-malam begini, ternyata dia wanita yang dirumorkan denganmu," Edel menarik nafas panjang dan membuangnya. Dia melepaskan pelukannya.
"Aku pikir ada hal penting yang urgent sehingga dia menghubungimu di jam setengah tiga malam makanya aku membangunkanmu," lanjutnya.
"Lalu kenapa kamu meninggalkan ku?" tanya Malik parau.
"Aku ingin ke toilet juga sekalian ambil wudhu," jawabnya.
Malik tersenyum dan memeluknya lagi.
"Aku sungguh takut kamu pergi," kata Malik setelah berapa lama melepaskan pelukannya.
"Aku ga mungkin keluar dari pesawat!" tegas Edel mengerutkan kening.
"Maaf Yang Mulia, sebentar lagi kita sampai," ujar Mr. Malik di pintu ruangan. Malik hanya tersenyum pada Mr. Husein.
"Aku rasa aku akan shalat subuh di tengah perjalanan, di rest area," ujar Edel melirik jam tangan yang melingkar di tangan Malik.
"aku akan menemanimu, aku akan pulang nanti sore," ujar Malik memandang wajah Edel.
Edel melipat mukenanya dan memasukan ke dalam tas travel kecil.
Sampai di bandara sudah ada yang menunggu mereka, utusan dari kedutaan Negara A.
"Siapa dia?" bisik Edel pada Malik.
"Pegawai Kedutaan Negara A di sini," jawabnya.
"Ah aku lupa dengan siapa aku sekarang!" gumamnya.