
Selesai acara banyak yang ingin berfoto dengan Ibunda Ratu maupun Putri Syahara.
"Bolehkah saya mengambil foto dengan anda?" tanya seorang wanita setengah baya pada Edel.
"Ehmm ... ," Edel sedikit gugup.
"Tentu, mari saya ambilkan," sahut Putri Syahara pada wanita tadi, Putri Syahara mengangguk pada Edel.
"Yang Mulia Putri Syahara," memberi hormat padanya.
Ini bukan pertama kalinya dia berfoto dengan seorang yang baru ditemuinya. Terkadang dia berfoto dengan masyarakat ketika ia berkunjung ke salah satu sekolah atau ke acara-acara yang diadakan yayasannya.
Ternyata bukan hanya wanita tadi tapi yang lain pun antusias ingin berfoto dengannya. Tentu saja tidak hanya Edel tapi juga dengan Putri Syahara dan Ibunda Ratu.
Pukul sepuluh lebih mereka sudah dalam perjalanan pulang. Edel satu mobil dengan Putri Syahara, Ibunda Ratu masih harus menghadiri acara yang lain.
"Kamu mau langsung ke tempat Pangeran Malik atau ke istana dulu?" tanya Putri Syahara.
"Saya harus berganti pakaian dulu," sahut Edel.
"Dan tadi Ibu Ratu berpesan untuk menunggunya," lanjutnya.
"Baiklah," sahut Putri Syahara.
**
"Di mana?"
"Di tempat tidur" balas Edel.
"Benarkah?"
"Iya, 🤣🤣🤣"
"Kenapa tertawa?"
"Ga apa-apa"
"Lagi apa? coba kirimkan fotomu"
Edel memotret dirinya di depan cermin besar dengan full body, lalu mengirimkannya pada Malik.
"Wajahmu tidak terlihat"
"Kamu sudah tahu wajahku"
"Aku merindukanmu"
Edel senyum-senyum sendiri berkirim pesan dengan Malik.
tok.. tok..
Edel membukakan pintu, Putri Syahara bersama Pangeran Ammar sudah siap untuk pergi.
"Assalamualaikum," sapanya.
"Wa'alaikumsalam," sahut Edel menuntun pangeran Ammar masuk.
Pangeran kecil langsung berlari ke sebuah lemari kaca. Dia tertarik dengan banyaknya piala di sana.
"Ibunda Ratu akan bergabung dengan kita sebentar lagi," ujar Putri Syahara.
"Pangeran ayo kita buat origami," ajak Edel mencoba mengisi waktu lalu masuk ke ruang kerja Malik. Tadi malam dia sempat melihat kertas origami di sana.
Edel mengajarkan cara membuat origami pada Pangeran kecil Ammar, mereka membuat berbagai macam bentuk origami. Pangeran Ammar sangat senang akhirnya dapat membuat origami nya sendiri tanpa bantuan Edel ataupun mamanya, dia terus mengikuti Edel kemana pun dia melangkah.
"Sayang, Tante Edel mau ke toilet. Tidak boleh ikut, tunggu sini dengan mama," ujar Putri Syahara tertawa kecil melihat tingkah putra kesayangannya.
Kurang dari pukul satu mereka tiba di parkiran tempat pertandingan polo akan digelar. Malik datang menyapa mereka dan tentu saja wartawan pun siap dengan kameranya mengambil apapun adegan yang terlihat. Malik mencium tangan Ibunda Ratu dan Baginda Sultan yang turut hadir menyaksikan pembukaan pertandingan polo.
Malik menghampiri Edel betapa canggungnya dia mencium pipi kiri dan kanan Malik.
"Om," sapa Pangeran kecil Ammar pada Malik.
"Hai jagoan," sahut Malik menggendong Pangeran Ammar.
"Om, aku punya hadiah buatmu," ujar Pangeran Ammar.
"Ini dia ... ," dengan semangat memberikan origami burung bangau.
"Terimakasih jagoan, ini buatan mu?" tanya Malik.
"Tentu saja, tante cantik yang mengajariku membuatnya," ujarnya semangat.
"Tante cantik?" Malik mengernyitkan alis tebalnya.
"Edel yang mengajarinya," jawab Putri Syahara.
"Kamu sudah besar ternyata, sudah tahu mana yang cantik," goda Malik tersenyum pada ponakannya.
Malik berjalan sejajar dengan Edel, sesekali dia melirik wanita yang berjalan di sampingnya itu.
Mereka menuju tempat yang disediakan panitia untuk The Royal Family. Edel duduk bersama Putri Syahara dan tentu saja tak ketinggalan Pangeran kecil Ammar duduk diantaranya.
drrttt..... drrttt..... ponsel Edel bergetar, dilihatnya panggilan dari Mita.
"Maaf, aku harus menjawab teleponnya," Ia izin pamit pada Putri Syahara dan dijawab anggukan.
Edel melangkah sedikit menjauh dari mereka.
"Halo, assalamualaikum. Ada apa?" tanya Edel.
"Aku sudah kirim beberapa dokumen dan tolong ACC cepat ya, aku tunggu," pinta Mita.
"Ok," jawab Edel singkat.
"Gw liat foto Lo di media online. baik-baik ya di sana, jangan lupa gw tunggu ya. Assalamualaikum" pamitnya.
"Wa'alaikumsalam" sahut Edel mengakhiri panggilan nya.
Edel kembali ke tempat duduknya dan membuka tab nya.
"Tante Lagi apa?" tanya Pangeran kecil Ammar melihat Edel menatap tabnya.
"Lagi membaca sayang," sahut Edel.
"Cerita apa? aku suka cerita tentang binatang," ujarnya.
"Cerita tentang pekerjaan," sahut Edel menunjukan tab nya.
"Punyaku ada gambarnya, punya Tante ga ada?" tanya Pangeran Ammar penasaran.
"Oh iya ga ada ya. Nanti Tante kasih lihat yang ada gambarnya, mau?" tanya Edel.
"Nanti kita baca bersama ya," pintanya.
"Ok," jawab Edel tersenyum.
Putri Syahara tersenyum melihat kedekatan putranya dengan calon adik ipar nya. Dia sangat senang dan bersyukur akan itu.
Pertandingan sudah dimulai. Sebenarnya Edel kurang mengerti aturan bermain polo, karena ini pertama kalinya Edel menyaksikan pertandingan tersebut.
"Itu Pangeran Malik," tunjuk Putri Syahara menunjukannya pada Edel.
Pangeran Malik memakai seragam polonya menunggangi kuda memegang pemukul atau mallet. Dia menunggang kuda mengejar bola kecil yang sedang bergelinding di lapangan yang bahkan tidak terlihat oleh Edel.
Edel kembali menatap layar tabnya, memeriksa dokumen yang sedang ditunggu Mita. Putri Syahara memperhatikannya sejak tadi.
"Apa kamu pernah melihat pertandingan polo sebelumnya?" tanyanya.
"Belum, ini pertama kalinya aku menyaksikannya," sahut Edel, Putri Syahara tersenyum.
"Kamu bisa menunggangi kuda?" tanyanya lagi.
"Tidak terlalu, ayahku dulu sering membawaku dan mengajariku menungganginya namun itu sudah lama sekali," terang Edel.
"Kamu bisa belajar pada Pangeran Malik. Dia seorang yang profesional," kata Putri Syahara bangga pada adik nya.
Ya, aku melihatnya. gumam Edel dalam hati bangga dengan kekasihnya.
Edel dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya dan mengirim balik dokumen yang Mita pinta. Ia melihat Malik memukul bola melewati gawang. Riuh tepuk tangan terdengar disemua sudut lapangan.
Team polo Malik menang, Edel berdiri bertepuk tangan tersenyum senang begitu pun dengan Putri Syahara dan keluarga kerajaan yang lain. Dilihatnya Malik turun dari kuda bersalaman dengan teman satu teamnya berjalan ke arah pinggir lapangan menyalami beberapa orang. Mungkin pelatihnya, pikir Edel. Lalu...
Seseorang berlari menghampiri Malik dan memeluknya. Edel melambatkan tepuk tangannya dan menjatuhkan tangannya memandang kekasihnya dipeluk wanita lain. Hatinya seakan tergores pisau yang sangat tajam. Riuh tepuk tangan tiba-tiba tak terdengar lagi. Untuk beberapa saat dia terdiam mematung, tersadar oleh sentuhan tangan Ibunda Ratu.
"Nak," panggilnya.
"Ah, iya Bu," sahut Edel tersadar berbalik melihat Ibunda Ratu.
Ibunda Ratu tahu bahkan semua orang yang memperhatikan Malik di lapangan itu tahu seorang wanita berlari memeluk Pangeran Malik.
"Kamu baik-baik aja? Ibu melihat tadi kamu termenung," tanyanya.
"Iya, aku baik aja ko Bu," kata Edel tersenyum berbohong tentang apa yang dirasakannya.
Putri Syahara mengajak Edel ke pinggir lapangan tempat Malik dan teman-temannya sedang berkumpul menerima ucapan selamat.
"Ayo kita temui Pangeranmu" ajak Putri Syahara. Edel menuntun pangeran kecil Ammar menuju pinggir lapangan.
Malik berlari menghampiri mereka mendapat pelukan dari Putri Syahara kakaknya. Dia melihat Edel tersenyum lemah.
"Halo Assalamualaikum Yang Mulia Putri Syahara," sapa seorang wanita menghampiri mereka.
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka melihat wanita yang menyapa.
"Azmy," ujar Putri Syahara kaget dengan kedatangannya.
Oh, jadi Azmy lagi. gumam Edel dalam hati. dia ingat wanita yang berlari memeluk Malik. Edel tersenyum manis namun goresan sakit itu masih terasa nyata di hatinya.
"Terimakasih kamu sudah datang melihatku bertanding" ucap Malik merangkul Edel tiba-tiba membuat nya kaget dan saling berpandangan dengannya.
"Iya, aku bangga padamu," sahut Edel tersenyum membelai pipi Malik mesra menutupi rasa sakitnya.