
Pangeran Malik berada di sebuah kapal di tengah laut sedang dalam pelatihan penyelamatan.
Ponselnya dalam keadaan silent, dia menggunakan Hand-held VHF radio atau Handy Talkie (HT) untuk berkomunikasi dengan tim nya juga menggunakan telepon satelit untuk berkomunikasi dengan tim yang berada di darat karena telepon seluler tentu saja akan susah mendapat signal di tengah laut.
Dia berjalan mengendap dan memberi perintah pada rekan satu timnya berpencar untuk menyelamatkan rekan mereka yang dalam penyekapan.
Telepon satelitnya berbunyi, dia mengangkat teleponnya dan langsung berlari ke arah helikopter. Entah apa yang dikatakan penelepon tersebut karena pangeran Malik langsung mengemudikan helikopternya setelah memberi perintah pada rekannya untuk mengambil alih lewat HT.
Pangeran Malik masih mengenakan seragam khususnya lengkap dengan rompi anti peluru saat menghampiri Baginda Sultan yang tengah menunggunya di pangkalan militer Negara A.
"Assalamu'alaikum, Yang Mulia," wajahnya sedikit pucat tegang ketika mendengar kakaknya pangeran Fatih kecelakaan.
Baginda Sultan hanya mengangguk lalu berjalan ke arah helikopter yang telah disiapkan, mereka akan langsung berangkat ke daerah Dy karena rombongan kerajaan yang terlibat kecelakaan langsung dilarikan ke rumah sakit terbaik di daerah Dy.
Mereka tidak banyak berbicara malah terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Bagaimana mungkin bisa terjadi kecelakaan pada pangeran mahkota mereka dengan salah satu mobil terbaik keluaran Rolls-Royce yang dilengkapi dengan keamanan tercanggih, pikir mereka.
Setibanya di rumah sakit, mereka menuju ke arah yang ditunjukan oleh salah seorang pengawal yang selamat.
"Bagaimana kejadiannya?" Baginda tak dapat lagi menahan pertanyaan yang selama ini dipendamnya, suaranya sedikit bergetar terdengar jelas rasa khawatir dan kesal juga bingung bercampur menjadi satu.
"Maafkan kami Yang Mulia Baginda, dua ban mobil Yang Mulia Pangeran meledak secara bersamaan. Dugaan kami, ban tersebut di tembak oleh seseorang dari dua atap rooftop gedung yang berbeda sepertinya mereka penembak jitu bayaran. Kami masih melakukan penyelidikan menyeluruh," terangnya.
Mereka telah sampai di depan ruang operasi, direktur utama rumah sakit menghampiri mereka dengan wajah yang sulit dijelaskan.
"Assalamu'alaikum, Yang mulia Baginda Sultan dan Yang Mulia pangeran Malik. Kami mohon ampun Yang mulia, kami tidak bisa menyelamatkan Yang Mulia Putri Grizelle," terdengar rasa takut dari suaranya.
Baginda Sultan berdiri mematung dipegang oleh pangeran Malik, kejadian ini sungguh di luar dugaan mereka.
Pangeran Malik membopong Baginda Sultan untuk duduk di kursi yang berada di depan ruang operasi. Pangeran Fatih sedang menjalani beberapa operasi.
Putri Syahara terlihat setengah berlari dengan Mr. Fredrik menghampiri mereka. Raut wajahnya terlihat sendu, Ia telah mendengar jika Putri Grizelle telah meninggal karena kecelakaan tersebut.
"Kami belum memberitahu Yang Mulia Ibunda dan Yang Mulia Putri Edelweiss," ujarnya kepada Malik, "Kami langsung ke sini begitu mendengar kabarnya."
Pangeran Malik mengangguk, dia melihat jam yang melingkar di lengannya. Pangeran Malik telah berganti pakaian begitu tiba di rumah sakit, "Aku akan menghubunginya,"
Dia meminta izin pada Baginda Sultan dan berjalan agak menjauh. Cukup lama Ia hanya memandangi ponselnya, Bagaimana aku mengatakan kabar duka ini. Bagaimana jika dia terkejut dan terjadi sesuatu dengannya dan kandungannya, bagaimana jika ia menyalahkan dirinya sendiri karena kejadian ini, gumam Malik dalam hati.
Malik memutuskan akan menghubungi asisten Ibunda Ratu dahulu, menanyakan kabar ibunya dan menanyakan apakah istrinya telah diberitahu perihal kabar duka tersebut.
Pangeran Malik menghampiri Putri Syahara setelah selesai menghubungi asisten Ibunda Ratu dan berbicara sedikit dengan ibunya.
"Bagaimana, mereka sudah menyampaikan nya?" tanyanya.
"Edel pingsan karena shock begitu mendengarnya, sekarang dalam perawatan dokter dan Ibunda Ratu menemaninya."
"Pergilah, biar aku yang menemani Baginda Sultan dan mengurus semuanya di sini. Edel sangat membutuhkanmu sekarang, jangan sampai dia menyalahkan diri sendiri karena kejadian ini," titahnya bijak.
Putri Syahara dan Pangeran Malik juga Mr. Fredrik berbicara pada Baginda Sultan dan Baginda setuju Pangeran Malik pulang ke istana menemani Ibunda ratu juga istrinya. Bagaimanapun harus ada perwakilan anggota kerajaan untuk mengurus keperluan di istana karena Jenazah Putri Grizelle akan dibawa ke istana untuk disemayamkan di sana.
*
*
Begitu tiba di istana, Malik langsung menuju ke kamarnya. Dia melihat Ibunda Ratu sedang duduk di samping istrinya yang masih terpejam dan telah dipasangkan infus di lengannya.
"Wa'alaikumsalam, Bagaimana keadaan di sana?" tanyanya dengan nada khawatir.
Melihat pangerannya hanya menunduk, Ia pun kembali melihat Edel yang masih belum sadarkan diri. Dia pun berdiri dan berjalan ke arah ruang kerja Malik diikuti oleh putra bungsunya.
"Pangeranku, Ini semua adalah takdir Allah yang tidak bisa kita lawan. Ya, kecelakaan ataupun maut itu adalah rahasia Allah yang tidak bisa kita lawan. Secanggih apapun keamanan yang kita pakai tidak dapat dibandingkan dengan ketentuannya jika Dia sudah berkehendak." ucapnya dengan raut sendu menyelimutinya.
Malik mendengarkan nasihat Ibunya dengan wajah yang penuh khawatir, khawatir dengan keadaan istrinya juga anak yang dikandungnya, khawatir dengan kakaknya yang tengah berjuang di meja operasi juga khawatir dengan keadaan orangtuanya dan yang pasti ini akan menimbulkan sedikit gelombang di Istana.
"Apa kabar ini telah keluar?" tanya Ibunda Ratu, dia telah tahu tapi ingin mendengar langsung dari Putra bungsunya.
"Iya, kita tidak dapat menahannya apalagi menyembunyikannya. Tapi kabar meninggalnya Putri Grizelle belum diumumkan, mereka hanya tahu salah seorang keluarga kita menjadi korbannya. Pihak istana masih menimbang alasan kenapa putri Grizelle menggantikan Edel ke sana, ini akan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat," terang Malik.
"Maaf Yang Mulia, Putri Edelweiss telah siuman," kata dokter dari pintu ruang kerja Malik.
Malik langsung berjalan setengah berlari keluar dari ruang kerjanya diikuti Ibunda Ratu. Malik melihat Edel terbaring lemas di tempat tidur mereka dengan wajah sendu memandangnya.
"Bagaimana kabarmu, honey," tanyanya duduk di samping istrinya dan memegang tangannya.
"Maafkan aku," hanya itu yang Edel ucapkan.
Malik memeluk istrinya dan langsung saja air mata yang selama ini tertahan berhamburan keluar. Edel menangis di pelukan Malik.
Ibunda ratu membelai rambut menantunya, dia tahu apa yang tengah dirasakan Edel.
Setelah cukup lama menangis dalam pelukan Malik, Edel mulai merasa mendapatkan sedikit kekuatannya kembali.
"Bagaimana kabar mereka?" tanyanya begitu mereka melepaskan pelukannya.
"Beristirahatlah dahulu, Putri Syahara telah berada di sana untuk mengurus semuanya. Tenangkan lah dirimu dulu, kami sungguh tidak mau terjadi sesuatu yang buruk kepadamu," titah Malik, dia bingung harus bagaimana memberitahukan pada istrinya jika Putri Grizelle telah meninggal.
Ibunda Ratu berusaha tersenyum menyemangati menantunya. Mereka telah sepakat tidak akan memberitahu dulu perihal putri Grizelle sebelum keadaan Edel membaik setidaknya keadaannya harus siap mendengar semuanya.
Ponsel Malik bergetar, dilihatnya pada layar ketua tim yang menyelidiki kecelakaan Pangeran Mahkota yang menghubunginya.
"Maaf, aku harus menerimanya," kata Malik meminta izin pada istrinya dan ibunya lalu berjalan keluar kamarnya, dia tak ingin obrolannya didengar oleh mereka.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Yang Mulia, kami telah menemukan hotel tempat mereka melakukan aksinya. Kami sedang mengejar pelaku penembakan itu. Maafkan kami jika kami menduga yang mereka incar bukanlah Yang Mulia Putra Mahkota ataupun Putri Grizelle tapi mereka mengincar Yang Mulia Putri Edelweiss," Malik mengusap wajahnya.
Ternyata dugaannya benar yang mereka incar adalah Edel karena hanya orang-orang terdekat yang berhubungan dengan putri Grizelle dan Edel saja yang tahu tentang pergantian ini juga pihak penyelenggara, kecuali ada pihak penyelenggara yang terlibat dalam kejadian ini untuk mematahkan dugaan tersebut.
"Terus selidiki kecelakaan ini sampai tuntas dan tangkap pelakunya secepatnya," titah Malik tegas. "dugaan tentang salah sasaran tolong dirahasiakan jangan sampai ada yang tahu sebelum semuanya tuntas!".
"Baik yang mulia, assalamu'alaikum," pamit ketua tim penyidik.
Malik terdiam mematung, Siapa yang mengincar nyawa Edel. Sungguh sangat berani orang yang berurusan dengan keluarga kerajaan, pikirnya.
*****
Maaf kalau kurang menegangkan, banyak typo juga kalimat yang rancu 🙏.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰