He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 163



**Flashback on**


Perjalanan ke restoran mewah menghadiri pesta lunch yang di adakan oleh salah satu teman Malik, Mr. Erick. Hanya membutuhkan waktu 10 menit berkendara dari hotel tempat Malik dan Edel menginap. Malik tiba di restoran tepat pukul satu siang karena dia harus ke beberapa tempat dahulu dan juga melaksanakan shalat Dzuhur.


"Hai, sobat. Lama sekali," sapa Mr. Erick


"Hahaha... ya, bagaimana kabarmu?" Malik balas menyapa teman lamanya.


Mr. Erick adalah salah satu teman hangout Malik ketika berkuliah dulu di Oxford university. Mereka berbeda jurusan tapi terbilang cukup dekat karena Malik sangat menyukai lukisan karyanya dan membelinya dengan harga lumayan tinggi ketika pameran dulu.


"Good. Kenalkan ini kekasihku, Laura," ucapnya memperkenalkan seorang gadis berhijab yang sangat anggun di sebelahnya.


"Kami akan melangsungkan pernikahan kami di musim panas ini. Akan menjadi sangat membahagiakan buat kami jika kalian mau menyempatkan datang ke pernikahan kami nanti," lanjutnya.


"Akhirnya kau melepas masa lajangmu juga," ucap Malik ikut senang mendengar kabar dari temannya itu.


Pesta lunch yang diadakannya ternyata untuk mengenalkan tunangannya pada kerabat dan teman-temannya.


Edel mencicip beberapa macaron sementara Malik berbincang dengan beberapa pelukis dunia di sana.


Aku lapar sekali, tapi hanya bisa makan macaron. gerutunya dalam hati.


Edel tidak mungkin makan banyak di pesta itu walaupun tentu saja di sana begitu banyak makanan di sajikan. Dia harus selalu ingat jika kini dia istri dari seorang pangeran yang sebentar lagi menjadi putra mahkota. Akan sangat lucu jika ada pemberitaan tentangnya yang makan banyak di pesta walaupun pesta itu bersifat private hanya saja tangan-tangan jahil yang mengambil gambar dan mengunduhnya ke dunia Maya akan selalu ada dari kalangan manapun.


**Flashback off**


"Malik, aku lapar," ujar Edel dengan wajah memelas.


"Honey, aku merangkai kata-kata barusan membutuhkan 2 hari." Malik langsung terlihat cemberut.


"Aku mendengarnya Malik. Tapi aku lapar, bisakah kita makan dulu dan nanti kamu mengatakannya lagi padaku, orang lapar konsentrasinya akan berkurang," kata Edel beralasan, dia tahu Malik pasti menyiapkan ini jauh-jauh hari tapi rasa laparnya tidak membuatnya fokus pada perkataan Malik.


Malik menarik nafas panjangnya. Sia-sia persiapan dia beberapa hari ini.


"Honey, apa kamu benar-benar kelaparan. Bukankah tadi siang kita menghadiri lunch party?" tanya Malik setelah melihat jam di tangannya. Memang sudah bisa dibilang memasuki waktu makan malam.


"Aku hanya makan beberapa macaron," ungkapnya.


"Hanya macaron?" Malik ingin lebih memastikan yang baru saja didengarnya.


"Iya, tadi siang asi ku bocor dan harus segera mempumpingnya jadi aku hanya makan itu saja tidak sempat makan yang lain. Aku lupa seharusnya sebelum berangkat aku pumping dulu. Bahkan saat ini pun dadaku terasa sakit karena asi yang tidak diberikan pada baby boy," Edel menunjukan dadanya, dan terlihat lebih berisi.


"Mau aku bantu?" Malik langsung berinisiatif begitu melihatnya dan melupakan kekesalannya barusan.


Lucu sekali Pangeranku ini. Tadi dia kesal dan marah, lihat ini aja langsung reda. gumam Edel dalam hati.


Malik menghubungi Mr. Husein untuk mereservasi tempat di restoran terdekat.


"Ayo," ajak Malik.


"Kemana?"


"Maaf ya, aku menggagalkan semua usahamu. Aku senang diajak ke sini olehmu, aku juga senang kamu berusaha romantis seperti tadi, tapi aku benar-benar lapar," ucap Edel.


"Aku yang seharusnya minta maaf padamu karena tidak menyadari kalau kamu lapar."


Edel mendekati Malik dan memeluknya erat. "Tidak usah minta maaf, aku kelaparan karena kesalahanku yang tidak menikmati lunch tadi."


Malik menggoyang2 tubuh Edel dalam pelukannya. Gemas rasanya jika mendengar istrinya merasa bersalah seperti itu.


"Ayo," Malik melepas pelukannya berganti dengan menggandeng tangan Edel.


Begitu sampai di pelataran restoran, Edel langsung mendelik Malik.


"Steak?" ujarnya.


"Ya, steak. Kamu pasti ketagihan begitu mencicipi steak di sini. Steak di sini salah satu yang terbaik di dunia dan ingat Mr. Husein yang reservasi tempatnya buat kita. Jangan marah, kasian dia sudah sepuh," ucap Malik mengelus punggung Edel yang masih memandangnya.


Makanan apapun memang bukan masalah bagi Edel, namun dia pikir Malik akan membawanya ke restoran makanan Asia seperti Jumeirah di Etihad Towers yang menyediakan makanan dari Jepang, Malaysia, China, Singapore.


"Aku tidak menolaknya, hanya ku pikir kita tidak akan makan steak malam ini."


"Apa kita harus ganti restoran?" Malik mengernyitkan dahi nya.


"Tak usah, kasian Mr. Husein sudah sepuh dan ini sudah malam dan aku kelaparan," bisik Edel tepat di telinga Malik hingga si empunya sedikit menggeliat geli.


Steak, no problem. pikir Edel.


Marco Pierre White Dijalankan oleh koki selebriti Inggris menjadi salah satu yang termuda di zamannya untuk dianugerahi bintang 3 Michelin, restoran ini adalah tempat yang sempurna untuk karnivora yang menginginkan steak yang paling lezat. The Steakhouse and Grill berdiri sebagai salah satu tempat kuliner kelas atas di Abu Dhabi. Meskipun terutama berfokus pada berbagai spesialisasi steak, menu yang luas dan juga menawarkan makanan gastronomi seperti Kelly tiram, salmon Skotlandia dan sup kepiting Devon dan Alaska yang lezat.


Edel memakan semua makanan yang Malik pesankan untuknya tanpa mengeluh sedikitpun. Cita rasa yg sangat lezat di lidah membuatnya melupakan keinginannya makan malam dengan menu Asia.


"Benarkan aku bilang, kamu akan menyukainya," ucap Malik senang melihat istrinya makan lahap.


"Ya, terimakasih sudah mengajakku ke sini," jawab Edel.


Malam itu menjadi salah satu malam tak terlupakan bagi Edel. Dia merasa seperti masih pacaran saja dengan Malik karena hanya berdua dengannya.


Selesai makan malam, mereka tidak langsung kembali ke hotel tapi berjalan-jalan dahulu di pusat kota Abu Dhabi yang sepertinya tidak ada kata sepi. Kota yang tidak pernah istirahat itu banyak menawarkan keindahan dan wisata walaupun hari sudah mendekati tengah malam.


Mereka kembali dini hari, dengan senyuman yang memenuhi ruang hati mereka.


Akhirnya aku bisa merasakan liburan juga. pikir Edel.


*****


Terimakasih sudah mampir membaca. Jangan lupa like, komen, dan juga hadiah buat author biar tambah semangat up nya. 🥰🙏


Stay safe everyone.🤗