
Edel sudah mulai bosan menunggu Malik yang tidak kunjung datang selama dua jam., dia sudah mondar-mandir di taman depan istana.
"Assalamu'alaikum, Yang Mulia Putri Edelweiss," sapa para pegawai yang hendak bekerja.
Edel hanya berusaha tersenyum pada mereka karena dia benar-benar sedang kesal, jangankan untuk tersenyum untuk menyadari berapa puluh pegawai yang telah menyapanya aja dia enggan.
"Maaf honey membuatmu menunggu," ujar Malik menghampiri Edel dengan tersenyum.
Ya ampun, dia sudah membuatku menunggu lama dan masih bisa tersenyum!. Gerutu Edel dalam hati.
Edel mengerucutkan bibirnya, "Katamu sebentar. Dua jam aku menunggumu!" gerutu Edel lirih, dia tak bisa berbicara keras takut terdengar orang lain selain Mr. Husein karena Mr. Husein sudah terbiasa dengan Edel yang terkadang marah pada pangerannya.
Malik yang tahu Edel bakalan lama cemberut seperti itu langsung mengeluarkan totebag kecilnya dan menyerahkannya pada Edel.
Bisa-bisanya dia mau merayuku dengan bungkusan kecil setelah membuatku menunggu lama!. pikir Edel.
"Apa ini?" tanyanya ketus mengambil totebag dan melihatnya. Edel mengeluarkan kotak makan kecil.
"Ayo, bukanya di mobil saja ... ," ujarnya. Edel memasukkan kembali kotak makannya ke dalam totebagnya dan mengikuti Malik menuju mobil mereka.
"Bukalah ... ," kata Malik setelah mereka berada di dalam mobil.
Edel membukanya, "Dari mana kamu mendapatkannya?".
Edel terkejut melihat isi kotak makan tersebut, Malik membawakan kue ape salah satu makanan khas Indonesia yang dia pinta tadi pagi.
"Darimana kamu dapet kue ini?" Edel berpikir jika tidak mungkin dia bisa membeli kue itu karena di negara A tentu tidak ada yang menjualnya kalau membeli langsung ke Indonesia itu sangat tidak mungkin.
"Aku membuatnya," jawab Malik bangga.
"Masa, aku tidak percaya kamu bisa membuatnya," ucap Edel memakan kue ape yang masih hangat.
"Aku dibantu koki istana, kami mencari resepnya dan menanyakan sedikit resep khusus pada Bundamu," Edel tersenyum mendengar penuturan Malik.
"Terimakasih," ucapnya tidak berhenti memakan kuenya. Malik senang kue ape yang dibuatnya sepertinya membuat Edel melupakan rasa kesal dan marah padanya.
"Jangan berpikir aku melupakan kejadian barusan," ujar Edel ketus melihat Malik yang tersenyum.
"Kejadian yang mana?" jawabnya polos.
"Kamu membuatku menunggu dua jam lebih!" ketus Edel.
"Oh, aku tak lupa. Makanlah lagi," bujuknya.
Kukira dia lupa. pikir Malik.
*
*
Edel mengantre di depan ruang pemeriksaan dokter kandungan seperti ibu hamil yang lain menunggu giliran konsultasi. Baginya lebih nyaman merasakan lamanya menunggu giliran daripada mendapat perlakuan khusus sebagai istri dari Malik yang seorang pangeran. Setidaknya dia bisa mengobrol dengan sesama ibu hamil lainnya tentang masa-masa kehamilan dan mendapatkan ilmu dari mereka.
"Sekarang saya selalu lebih bersemangat untuk konsultasi tidak seperti dulu yang merasa berat karena bosan menunggu giliran masuk," ujar salah seorang ibu hamil.
"Benar, saya pun begitu sejak Yang Mulia hamil dan ikut mengantre bersama kami menunggu giliran rasanya bosan saya hilang, semoga Yang Mulia selalu diberi kesehatan dengan calon bayinya" timpal yang lainnya tersenyum.
"Terimakasih. Kalian terlalu berlebihan, aku tidak melakukan apapun," ucap Edel tersipu malu.
"Kami hanya senang, anda ikut mengantri bersama kami," sahut mereka.
Setelah menunggu hampir satu jam, giliran Edel masuk ke ruang pemeriksaan dokter.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi yang Mulia," sapa dokter pada Edel.
Dokter melihat hasil USG Edel yang sebelumnya dilakukan.
"Ibu dan janinnya sehat, air ketubannya juga cukup. Tapi harus selalu diingat jangan terlalu kecapean dan makanlah yang teratur," kata dokter itu menasehati.
Edel mendengarkannya dengan seksama, akhir-akhir ini memang makannya tidak teratur walaupun mualnya sudah jauh berkurang.
"Baiklah, sampai bertemu lagi dibulan berikutnya," ucap dokter mengakhiri konsultasi mereka.
Hari ini mereka menyelesaikan cek up nya dengan cepat karena Malik harus berangkat ke beberapa daerah selain jadwal kunjungannya juga sebagian jadwalnya untuk menggantikan sang kakak yang masih belum juga sadarkan diri dari komanya.
Sesuai rencana awal, setelah selesai cek up Edel mereka menengok Pangeran Fatih.
Malik telah berada di ruang VVIP khusus keluarga kerajaan dengan menggunakan baju steril berwarna biru khusus untuk pengunjung, dia ditemani oleh dokter dan Mr. Husein sedangkan Edel menunggu diluar ruangan.
"Bagaimana kondisi Pangeran, dokter?" tanya Malik pada dokter khusus yang menangani kakaknya.
Dokter menghela nafas beratnya, "Yang Mulia, Kondisinya masih sama tidak jauh berbeda dengan kemarin. Berikanlah support padanya agar dia bisa melewati semuanya dan bangun dari tidur panjangnya," ucap dokter.
Malik duduk di sebelah tempat tidur pasien sambil memegang tangan kakaknya, hatinya sangat sakit mengingat kejadian yang menimpa kakaknya namun rasa itu ditutupinya dengan sempurna.
"Maafkan aku," ucapnya.
Dokter dan Mr. Husein merasa haru melihat Malik selalu meminta maaf pada kakaknya yang tengah berbaring berjuang dalam sakitnya.
"Mr. Husein, saya pamit undur diri. Jika membutuhkan sesuatu segera hubungi saya," ucapnya berpamitan, dia ingin memberi ruang pada Malik untuk bercengkrama dengan kakaknya.
Mr. Husein tetap diam berdiri menemani Malik.
"Maafkan aku, Kau selalu membantuku keluar dari semua masalahku tapi maafkan aku tidak bisa membantumu berjuang melawan sakitmu. Kakak, pelakunya sudah ditangkap, maafkan aku membutuhkan waktu lama untuk menangkapnya. Dia adalah ibunya temanku, Shahmeer. Kau tahu bagaimana sakitnya aku mengetahui semua itu, rasanya seperti langit jatuh di kepalaku. Bangunlah, agar kau bisa melihatnya dihukum seberat-beratnya."
Malik meneteskan air matanya, "Aku mohon, bangunlah ... ," ucapnya dengan badan tegapnya yang bergetar.
"Bangunlah, aku akan menemanimu memancing kapanpun kau memintaku menemanimu setelah kau siuman. Bangunlah ... , ku mohon bangunlah," air mata Malik mengalir ke hidungnya dan menetes di tangan pangeran Fatih.
Malik menangis sesegukan tidak memperdulikan Mr. Husein yang memandangnya penuh haru melihat betapa sayangnya pangerannya pada kakaknya pangeran Fatih.
"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dan istrimu," kata Malik menyeka air matanya yang terus mengalir dengan sapu tangan yang diberikan oleh Mr. Husein.
Lebih dari sepuluh menit Malik terdiam memandang kakaknya tanpa berkata apapun, dia berusaha menenangkan hati dan pikirannya yang hancur melihat sang kakak terbaring tak berdaya.
"Aku akan kembali menjengukmu lagi dan ketika itu terjadi ku mohon kau harus sudah bangun dari tidurmu. Kami semua menunggumu di Istana, bahkan Putri Zeera pun akan datang bersama kedua anaknya untuk menengokmu," ucap Malik yang tidak mau melepaskan genggamannya.
"Ayah dan ibu akan datang nanti sore, berilah kejutan pada mereka. Mereka pasti akan senang jika mereka datang dan kau telah bangun dari tidurmu, Ibunda sangat mengkhawatirkanmu walaupun itu tak dia nampakan tapi beliau pasti sellau memikirkanmu yang tidak mau bangun juga!".
"Kau selalu bilang padaku agar aku menjadi anak yang baik agar kedua orangtua kita tidak khawatir. jadi, bangunlah agar mereka tidak mengkhawatirkan mu lagi."
"Aku pamit sekarang, aku menyayangimu," ucap Malik berpamitan mencium tangan kakaknya berharap dia mendengarkan semua yang dia katakan.
Malik berdiri dan berjalan keluar kamar diiringi oleh Mr. Husein. Edel melihat wajah Malik yang sendu setelah bertemu dengan kakaknya, dia menghampiri suaminya dan memeluknya.
Edel memeluk dan mengusap, menepuk-nepuk punggung suaminya memberikan kekuatan padanya. Edel melepaskan pelukannya memandang suaminya lalu tersenyum mengangguk.
Mereka tak berbicara satu kata pun, namun dengan perlakuan seperti itu lebih cukup untuk menguatkan pasangannya.
*****
Terimakasih telah mampir membaca. 🙏
Stay safe everyone. 🥰