He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 84



Malik sudah tahu kebiasaan Edel ketika bangun, shalat dan mengaji lalu menunggu waktu subuh. Dia melihat di ponselnya menunjukan pukul 6 waktu negara A berarti di Jakarta masih pukul empat subuh.


"Halo Assalamualaikum," suara gadis yang sangat dirindukannya terdengar di seberang telepon.


"Wa'alaikumsalam, udah selese ngajinya?" tanya Malik, dia tidak ingin mengganggu Edel jika dia sedang mengaji.


"Udah, kenapa?" tanyanya balik.


"Engak, Maaf kemarin aku tidak sempat menghubungimu. Semalam aku ketiduran," ujarnya beralasan.


Ponsel Malik bergetar di telinga, Edel meminta beralih ke video call.


"Kau merindukanku?" tanyanya.


"Entahlah," jawab Edel tersenyum, dia melihat Malik menggunakan t-shirt yang basah dengan keringat. "Apa kamu lagi berolahraga?".


"Iya, seminggu ini aku sering merasa gampang lelah mungkin aku kurang berolahraga. Jadwalku padat sekali," ungkapnya


"Apa kau sakit?" suara gadis itu terdengar sangat khawatir.


"Tidak, aku tidak sakit hanya gampang lelah aja," jawabnya.


"Malik, semalam aku mengirimimu beberapa model kebaya dan gaun untuk pernikahan kita nanti. Aku ingin memakai adat Sunda di ijab kobulnya, apa kamu keberatan?" tanya Edel.


"Tidak, aku tidak keberatan. Tadi aku melihat sekilas, apa itu semacam tiara atau mahkota yang di pakai pengantin di kepalanya?" tanya Malik.


"Ya, itu di sebut singer Sunda. Itu biasa dipakai pengantin Sunda, kamu bisa mencari tahu di internet jika ingin tahu lebih banyak soal singer Sunda," jawab Edel cepat, dia tidak ingin menjelaskan lebih perinci soal singer Sunda karena dia sendiri hanya sebatas tahu namanya saja.


"Baiklah," sahut Malik sambil terus berjalan santai di treadmillnya.


"Besok aku ke butik, mau lihat-lihat dan sharing soal kebaya buat nanti. nanti kalau udah fix perancangnya siapa, aku akan kasih tahu," kata Edel berharap jarak mereka dekat hingga Ia bisa menemaninya ke butik.


"Maaf, aku belum bisa menemanimu, aku ingin sekali menemanimu tapi itu tidak mungkin untuk Minggu ini," Malik merasa bersalah tidak bisa menemani kekasihnya mempersiapkan pernikahan mereka di sana. Jarak bukanlah suatu masalah baginya tapi jadwalnya yang sangat padat untuk seminggu ke depan.


"Tak apa," jawab Edel singkat, dia sangat faham kesibukan Malik seperti apa.


"Assalamualaikum, Yang Mulia," Malik berbalik melihat Mr. Husein telah berdiri di pintu menunggunya.


"Maaf honey," ucapnya.


"Ya, aku tau," Edel tahu dari suaranya pasti Mr. Husein yang memanggil Malik.


"Jangan cemberut begitu honey, berikan aku senyumanku," Malik melihat edel yang menunduk.


"Aku tidak cemberut, ya udah aku mau solat dulu. Adzannya dh selese, keburu abis nih waktunya. Waktu subuh cuma bentar!" ketusnya.


Malik tersenyum karena dia bilang tidak cemberut tapi dari suara dan raut mukanya terlihat kesal.


Gemas sekali, pikir Malik.


Malik menghampiri Mr. Husein setelah dia selesai menelepon kekasihnya.


"Aku ingin menemui kakakku, Putri Syahara," ujarnya meminta Mr. Husein menjadwalkannya.


"Baik Yang Mulia," sahutnya membungkuk mempersilahkan Malik berjalan di depan.


***


Keesokan harinya Mrs. Soe dan putrinya janjian di depan butik dari perancang Indonesia ternama yang berada di kawasan Jakarta Selatan. Mereka berencana melihat dan sharing tentang kebaya pernikahan.


Edel mengobrol santai dengan perancang tersebut, dia bercerita tentang kebaya impiannya yang ingin dia pakai saat menikah nanti. kemudian perancang tersebut membuat sketsa kasarnya dan Edel setuju akan rancangannya.


"Terima kasih bunda," ucapnya saat sudah masuk ke dalam mobil. "Terimakasih sudah mengajakku ke sini."


"Tentu sayang, Bunda akan selalu memberikan yang terbaik untukmu," kata Mrs. Soe penuh haru memeluk anak perempuannya.


Bagi seorang ibu adalah kebahagiaan tersendiri ketika ikut mempersiapkan semua yang di butuhkan oleh anaknya. Apalagi ketika mempersiapkan untuk pernikahan anaknya tentu Ia sangat bahagia dan bersemangat.


"Mita sudah menunggu di tempat makan dekat kantor," kata Edel melihat pesan di ponselnya dan secara tidak langsung mengajak Mrs. Soe untuk makan.


Jalanan Jakarta memang bikin naik darah. Yang harusnya bisa di tempuh hanya 15 menit, ini hampir satu jam baru sampe tempat tujuan.


"Bunda ga suka ke daerah sini, selalu macet!" gerutu Mrs. Soe keluar dari mobil, Edel hanya tersenyum mendengarnya.


"Assalamualaikum, halo cantik. Pasti kesal nunggu lama banget ya," sapa Mrs. Soe.


"Aku baru dateng ko Tante," jawab Mita tersenyum.


"Bagaimana kabar Ibumu cantik?" tanya Mrs Soe.


"Alhamdulillah baik, beliau lagi rajin ikut kelas zumba."


"Zumba?"


"Iya Tante, nyampe seminggu bisa 2 kali," ungkapnya.


"Kalau gitu nanti Tante telepon aja, Tante mau ikutan juga kalo Deket. hehehe," ujar Mrs. Soe.


Mereka makan bersama, bercerita tentang banyak hal, Mrs. Soe adalah seorang ibu yang tidak menutup mata pada kemajuan zaman. Dia mampu berbaur dengan siapapun, enak di ajak bicara dan tidak menggurui ketika memberi nasehat, Ibu yang perfek.


***


Sore ini pusat kota negara A diguyur hujan lumayan deras, tapi pertemuan para petinggi kerajaan negara A masih berjalan khidmat tidak terganggu olehnya.


Malik dan kakaknya Pangeran Fatih setia menemani sang ayah yang sedang memberikan pidatonya pada yang hadir di sana.


Hampir pukul 8 waktu negara A ketika mereka selesai acara, Malik menggunakan mobilnya di temani Mr. Husein. Hujan masih belum reda dan mungkin tak akan reda sampai besok pagi, dia menikmati pemandangan rintik hujan diantara temaram lampu jalanan.


Derai hujan selalu membawanya pada kenangan yang dulu. Kenangan saat pertama kali dia memperhatikan seorang gadis yang tersenyum sangat mempesona, yang memberinya payung ketika hujan turun, dan saat itu juga jantung Malik berdebar dan merasakan dia menyukai gadis itu, gadis yang memberinya payung, gadis yang selalu dia rindukan yang akan menjadi istrinya beberapa bulan lagi.


Kenangan itu bukan tentang hujannya, tapi tentang gadis yang memberinya payung saat hujan.


Malik mengeluarkan ponselnya, dan mengetikan pesan.


Disini hujan membuatku sangat merindukanmu.


Dia tersenyum dan kembali melihat ke luar jendela.


"Mr. Husein, bisakah anda menjadwalkan ku ke Indonesia secepatnya?"


"Tentu Yang Mulia," sahutnya hormat, Mr. Husein tersenyum mengerti.


*****


Terima kasih sudah membaca 🥰🥰, jangan lupa like dan komen juga jadikan novelku salah satu bacaan favoritmu ❤️.


kasih rate juga ya ⭐⭐⭐⭐⭐ 😉🙏


Tetap sehat semuanya ... .