
Sudah empat hari Malik pergi ke Afrika bersama Baginda Sultan, mendampingi beliau menghadiri pertemuan bilateral. Di hari ke empat Malik bertolak ke Abu Dhabi mewakili negaranya untuk ikut menghadiri acara perayaan yang digelar di sana.
"Yang Mulia, Yang Mulia Putri akan berangkat pukul 7 malam waktu negara A. Beliau akan tiba pukul 6 besok pagi waktu Abu Dhabi."
Malik mengangguk tanda mendengarkan, dia sedang membaca dokumen sembari berbaring santai di sofa. Seorang pangeran juga manusia yang perlu beristirahat dan bersantai walaupun tetap dibarengi dengan membaca beberapa dokumen negara.
Setelah Mr Husein keluar dari ruangannya, Malik mengambil ponselnya dan menghubungi istrinya.
"Assalamu'alaikum, Honey," sapa Malik begitu telepon tersambung.
"Iya, wa'alaikumsalam," jawab Edel.
"Apa kau yakin jika hasil tes kemarin negatif?"
Edel memberitahu kemarin jika hasil tes dia menunjukan negatif, dia tidak sedang hamil dan sedikit kecapean hingga jadwal menstruasinya sedikit kacau.
"Ya, dokter bilang begitu," sahutnya. "dan dokter juga bilang akan bagus kalau kita menundanya hingga baby boy berusia dua tahun. Ayolah Malik, aku juga sedang menggunakan kb jadi kecil kemungkinan aku hamil," jelas Edel.
"Honey, Ini pertama kalinya kita pergi meninggalkan baby boy bersama para pengasuhnya. Aku sedikit mencemaskannya," suara Malik berubah menjadi suara seorang ayah yang mencemaskan anaknya sendirian di rumah.
"Aku tahu, aku pun sama sepertimu. Malik, apa tidak apa-apa jika aku tidak mendampingimu?" tanya Edel.
"Honey, sepertinya itu hanya rasa cemas yang wajar. Dia akan baik-baik saja, lagian banyak yang menjaganya juga ibu dan kakakku juga pasti akan ikut menjaganya."
Malik langsung meyakinkan istrinya dan diri sendiri. Dia tidak mau rencana yang telah disusunnya selama beberapa hari ini gagal begitu saja karena kekhawatirannya pada anak semata wayang mereka.
"Kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran?" selidik Edel.
"Berubah pikiran, maksudnya?"
"Ya, tadi kamu bilang mengkhawatirkan baby boy dan menit berikutnya kamu bilang itu hal yang wajar," gerutu Edel.
"Hahahaha.. maksudku bukankah itu hal yang wajar jika kita cemas karena ini pertama kalinya kita meninggalkan baby boy untuk beberapa hari. Menurutku itu hal yang wajar, dia akan baik-baik saja, percayalah," kata Malik beralasan.
Edel tahu jika Malik pasti merencanakan sesuatu hingga dia berubah pikiran secepat itu.
"Malik, apa aku- baby boy ikut saja denganku ke sana?" Edel ingin mengorek sejauh suaminya itu dengan rencananya.
"Jangan!" seru Malik.
"Ehm, kenapa?!"
"Kenapa?!. Ini akan menjadi yang pertama kita berdua saja. Apa kau tidak merindukanku?" malik tidak dapat lagi menutupi rencananya.
"Dia akan baik-baik saja. Kasian dia jika harus ikut, aku tidak mau dia kecapean dan sakit badan seperti tempo hari."
Ayolah, Honey. Aku ingin berduaan denganmu. batin Malik.
"Kamu takut dia kecapean atau kamu takut jika rencanamu terganggu olehnya?!" selidik Edel lagi. Malik diam membisu.
Apa Edel punya Indra ke-enam. Kenapa dia selalu bisa menebak apa yang kupikirkan?!. batin Malik.
"Tentu saja aku mengkhawatirkan baby boy. Aku juga cemas dia harus diam di istana tidak ikut dengan kita, tapi mau bagaimana lagi. Dia harus belajar ditinggal agar nanti dia terbiasa, hanya beberapa hari saja, Honey."
"Iya, baiklah," Edel tersenyum mendengarkan penjelasan Malik. Dia tahu jika Malik hanya beralasan saja.
"Aku merindukanmu. Tidak sabar menantimu di sini, rasanya waktu berjalan sangat lama tanpamu, Honey."
Edel terkekeh, dia membayangkan bagaimana wajah suaminya ketika berkata sedang merindukannya.
Kau lucu sekali, seperti seorang anak yang menunggu orangtuanya pulang.
Terbersit saat dia dulu ditinggal orangtuanya keluar kota atau keluar negeri untuk perjalanan bisnisnya. Ada rasa sesak yang menyeruak dalam dadanya.
"Malik, aku akan melanjutkan pekerjaanku. Aku akan menghubungimu ketika sudah mau berangkat nanti."
"Iya, aku mencintaimu," ucap Malik.
"Aku juga."
Edel menutup matanya. Sekarang dia tahu bagaimana perasaan bundanya ketika dia harus menemani ayahnya perjalanan bisnis. Sekarang dia mengerti kenapa bundanya sering sekali menghubunginya ketika mereka ditinggal untuk perjalanan bisnisnya.
Semua orangtua pasti akan merasakan khawatir dengan anaknya yang terpaksa harus ditinggal karena tuntutan pekerjaan.
***
Pukul 7 waktu negara A, Edel sudah bersiap naik pesawat jet khusus yang akan membawanya langsung ke Abu Dhabi.
Sebelumnya dia sudah berpamitan dengan Ibunda Ratu dan Putri Syahara lewat telepon, memberitahu mereka jika akan berangkat dan meninggalkan baby boy. Ya walaupun sebenarnya itu tak perlu dilakukan tapi dia pikir dia harus berpamitan pada mereka untuk menitipkan anaknya secara tidak langsung selama dia dan Malik melaksanakan tugas mereka.
"Yang Mulia," ucap Mrs. Harold yang diperintahkan untuk menemani Edel karena asisten yang biasa bersama Edel diperintahkan untuk menjaga istana tempat baby boy berada sekaligus diperintahkan untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk acara pengangkatan putra mahkota nanti.
Edel akan menempuh perjalanan udara selama 5 jam. Ia menghabiskan waktunya dengan membaca beberapa buku yang sengaja dia bawa. Bukan karena hal itu saja, dia ingin mengalihkan pikirannya dari anak semata wayangnya yang dia tinggalkan di rumah.
"Yang Mulia, sebaiknya anda beristirahat. Kita akan sampai pukul 6 pagi waktu Abu Dhabi," kata Mrs. Harold.
"Iya," jawab Edel menutup buku yang sedang dia baca dan menyimpannya di meja sampingnya.
Ya, sebaiknya aku tidur. pikirnya.
"Yang Mulia," Mrs. Harold kembali dengan membawa beberapa selimut untuk Edel.
Edel mengambil satu selimut dan menyelimuti kakinya sampai dada. Mencoba menutup matanya walaupun susah, ingatannya selalu terbayang bagaimana keadaan anaknya, apakah dia bisa tertidur tanpa dicium dulu olehnya, apakah dia terbangun dan mencarinya untuk menyusu. Pikiran itu yang selalu hinggap di pikirannya padahal baru beberapa jam saja dia meninggalkan negara A.
"Yang Mulia, sudah mau sampai," Mrs. Harold membangunkan Edel yang baru saja tertidur pulas setelah dia melaksanakan shalat subuh.
Edel mengejapkan matanya melihat Mrs. Harold berada di sampingnya, membangunkannya. Kepalanya sedikit pusing, baru saja dia bisa tertidur dan sudah dibangunkan kembali oleh asisten sekertarisnya itu.
"Tolong bawakan aku air," pinta Edel. Tenggorokannya terasa kering mungkin karena tidak bisa tidur pulas.
"Baik, Yang Mulia."
Setengah jam lebih sedikit kemudian, pesawat yang ditumpangi Edel telah mendarat di Bandara Internasional Abu Dhabi (AUH).
Edel keluar dari pesawat dan langsung di sambut oleh Malik dan duta besar negara A untuk Uni Emirate Arab yang menyempatkan diri menjemput tamu istimewanya.
Malik membawa Edel masuk ke dalam mobil yang telah disediakan pihak kedutaan setelah berbincang sebentar dengan beberapa pejabat dan duta besar yang ikut menyambut kedatangannya.
"Kau pasti kelelahan, tidurlah," ucap Malik yang melihat lelah di wajah istrinya.
Malik merangkul Edel agar dia bisa tidur dalam dekapannya.
"Apa kamu tidak tidur di pesawat?" tanya Malik.
"Tidak, aku tidak bisa tidur. Aku merasa lelah sekali," lirihnya setengah berbisik agar tidak terdengar oleh Mr. Husein dan driver yang berada di depan mereka.
Malik semakin mengeratkan rangkulannya. Menumpahkan rasa rindu yang telah dipendamnya selama beberapa hari ini.
Melihat wajah Edel yang mulai tertidur di dalam dekapannya sungguh menggemaskan, andai saja bukan sedang di dalam mobil dan tidak ada Mr. Husein juga asistennya yang sedang mengemudi berada di sana mungkin Malik sudah menciumi wajah istrinya.
❤️*****🤍
Terimakasih sudah mampir membaca. Stay safe everyone. 🤗
Selamat tahun baru 2022 untukmu.🥰