He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 177



Hari penobatan pun telah tiba, Semua masyarakat negara A berbondong-bondong menuju istana, mereka ingin menyaksikan acara suksesi putra mahkota negaranya.


Jalanan menuju istana telah di padati oleh masyarakat. Wartawan dari seluruh mancanegara pun berdatangan ingin mengabadikan momen suksesi.


Prosesi adat suksesi yang telah dilaksanakan selama beberapa hari ini akan berakhir hari ini dengan penobatan pangeran Malik menjadi putra mahkota, pewaris tahta pertama kerajaan negara A.


Upacara itu di gelar di istana utama disaksikan oleh tetua istana, kerabat kerajaan, pejabat negara dan perwakilan negara sahabat.


Malik tampak mempesona dengan mahkota Putra Mahkota yang telah dia kenakan. Baginda Sultan negara A pun telah mengganti pedang miliknya menjadi pedang putra mahkota.


Edel selalu berada di samping Malik menemaninya disetiap prosesi adat tersebut.


Mr. Soe yang melihatnya meneteskan air mata haru, tidak percaya jika putri kecilnya menjadi putri mahkota di negara orang. Berbeda dengan Mrs. Soe, dia tampak lebih bisa mengatur emosinya.


Acara besar itu tentu saja disiarkan langsung di beberapa stasiun televisi lokal maupun internasional.


Shahmeer dan teman-temannya menyaksikan acara itu di rumah Ronald, bahkan ayahnya Ronald, Mr. Witton pun ada di sana ikut menyaksikannya.


Shahmeer memandang Mr. Witton dengan penuh tanya dan di balas dengan anggukan olehnya. Senyum pun mengembang di bibir Shahmeer.


Sejak dia tahu ibunya berhasil kabur dari penjara dengan cara membawa pengganti yang telah disiapkan oleh kekasihnya, Shahmeer tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia selalu ketakutan jika ibunya datang dan membalas dendam pada Edel.


Shahmeer baru bisa sedikit tenang ketika Mr. Witton mengangguk padanya yang menandakan jika dia ikut menjaga wanita pujaan hatinya.


Shahmeer yakin jika Mr. Witton ikut andil dalam penjagaan acara kerajaan hari ini, khususnya menjaga Edel maka dia tak perlu terlalu khawatir. Sejujurnya dia kurang percaya akan keamanan dari pihak kerajaan sejak Kecelakaan mendiang pangeran Fatih terjadi.


Dalam benaknya masih penuh dengan pertanyaan, bagaimana bisa mereka membobol pertahanan keamanan putra mahkota mereka dengan begitu mudah.


Kini dia bisa sedikit tersenyum tenang. karena salah satu pengawal yang mengawal Edel adalah orang kepercayaan Mr. Witton.


***


Edel berdiri di samping Malik menerima ucapan selamat dari semua tamu yang hadir di istana hari ini.


Edel merasakan kakinya yang mulai kesemutan, acara itu lebih melelahkan daripada acara pernikahannya dulu. Rangkaian prosesinya lebih banyak hingga membutuhkan waktu seharian.


"Kapan acara ini selesai," keluhnya lirih.


"Ada apa, Honey?" bisik Malik.


Edel tersenyum sambil menggeleng. Dia tidak mungkin memberitahu Malik jika dia mulai bosan dengan acaranya, jika dia sangat merindukan anaknya, jika kakinya mulai kesemutan karena terlalu banyak berdiri. Dia tidak mungkin memberitahukan semua itu bukan, apalagi di hari penting ini.


Acara jamuan makan malam berakhir pukul 10 waktu negara A. Raut wajah Edel yang tadinya lelah langsung berubah ceria.


Akhirnya selesai sudah. gumamnya dalam hati.


Begitu sampai di kamar, Edel langsung menuju tempat tidur anaknya, pangeran Zyan yang telah tertidur pulas.


Hari ini dia hanya beberapa kali saja melihatnya. Dia begitu merindukannya tapi sayang sekali pangeran kecilnya sudah terlelap.


"Honey, mau mandi duluan atau mau mandi bersama?" tanya Malik menggoda istrinya yang terlihat murung.


"Kamu duluan saja, aku masih ingin melihatnya," jawab Edel yang terus memandang wajah pangeran kecilnya.


Malik menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Terimakasih telah menemaniku dan berada di sampingku," bisik Malik. mencium pundak Edel.


Edel mengelus puncak kepala suaminya, "Tentu saja aku akan berada di sampingmu, aku istrimu."


Malik terkekeh mendengarnya. Malik mengangkat badan Edel ala bridal style membuat istrinya terkejut dan langsung mengalungkan tangannya di leher Malik.


"Hei, kenapa menggendongku?" tanyanya heran.


"Aku akan memandikanmu. Kamu pasti sangat lelah," jawab Malik mencium bibir istrinya.


"Aku janji hanya membantumu mandi, tidak lebih," terangnya. Dia tidak mungkin memintanya saat istrinya terlihat begitu lelah.


Malik menepati janjinya hanya membantu Edel menggosok dan membasuh badannya. Kini Edel merasa badannya sangat segar, tetapi tetap saja lelahnya belum hilang.


Malik membaringkan istrinya di tempat tidur dan menyelimutinya.


"Terimakasih," ucap Edel membelai pipi Malik.


Mereka dengan cepat tertidur karena kelelahan.


**


Sudah seminggu sejak Malik resmi menjadi putra mahkota negara A. Malik tidak kesulitan atau mengeluh dengan tugas yang dia emban karena Malik sudah menggantikan tugas kakaknya sejak mendiang pangeran Fatih kecelakaan.


Hari ini Malik berjanji membawa Edel jalan-jalan karena selain weekend, hari ini juga adalah hari pertama Malik bisa beristirahat tidak melaksanakan tugasnya setelah beberapa bulan terakhir berkelut dengan jadwalnya yang sangat padat ditambah dengan kematian mendiang kakaknya juga acara penobatannya yang di percepat, sangat menguras emosi dan tenaga.


Edel menautkan lengannya ke lengan malik yang juga menggendong baby Zyan menyusuri jalan di taman pusat kota.


Para masyarakat yang sedang berjalan-jalan pun antusias menghampiri mereka. Walaupun hanya sekedar menyapa pangeran mahkota mereka yang baru.


"Aku kira aku bisa terbebas dari kamera," ujar Edel terkekeh ketika melihat banyak yang mengabadikannya di ponsel mereka.


"Maaf," ucap Malik.


"Tidak perlu meminta maaf," ujar Edel terkekeh.


Malik menurunkan baby Zyan yang sudah mulai bisa berjalan walaupun masih seperti robot dan mengawasinya dari tempat dia menggelar alas duduk.


Para pengawal? tentu saja ada. Mereka tetap ikut demi mengikuti protokol keamanan putra mahkota negaranya.


Edel tersenyum bahagia melihat baby Zyan yang sedang bermain dengan ayahnya, Malik.


Edel bersyukur dengan semua hal yang telah Tuhan beri untuknya. Dari pertemuannya dengan Malik dan mulai berhubungan dengannya. Ya siapa yang akan menyangka jika dia bisa berjodoh dengan seorang pangeran. Bahkan sekarang menjadi seorang Putri mahkota karena kejadian memilukan yang menyebabkan kakak iparnya tiada.


Dia bersyukur keluarga Malik tidak menyalahkannya atas kejadian tersebut. Dia bersyukur mereka dapat melalui semuanya dengan tetap bergandeng tangan.


Baby Zyan setengah berlari menjauh dari ayahnya dan tanpa sengaja menabrak seorang wanita hingga dirinya terjatuh. Membuyarkan lamunan panjang Edel.


Malik berlari kearah anaknya dan dengan cepat menggendongnya.


"Maaf," ucap wanita itu dengan takut.


"Tidak apa-apa. Harusnya kami yang meminta maaf karena anakku belum bisa berjalan dengan benar," ucap Malik.


Baby Zyan tertawa terbahak, dia tak terluka sama sekali. Dia terus berceloteh pada Malik.


Wanita tadi mengingatkannya dengan seseorang yang menurutnya telah dieksekusi.


Andai waktu itu dia tidak salah faham dengan yang terjadi pada anaknya tentu hal memilukan yang menimpa keluarga kerajaan tidak akan pernah terjadi.


"Terkadang aku lupa akan keberadaan orang jahat dan kasar di dunia ini. Ya, mereka memang selalu ada agar kita tidak lengah," gumamnya pada Malik.


*** tamat ***


Terimakasih untukmu para readrs yang telah mampir membaca karya recehku dari awal. Terimakasih juga untuk semua like, komen, hadiah, vote, dan bahkan koin untuk author receh ini.🙏


Stay safe everyone. 🥰


Ini dia rekomendasi karya keren dari author