He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 119



Keheningan dini hari saat semua orang masih terlelap dalam tidur mereka dan berlayar dalam lautan mimpi dikejutkan oleh teriakan dan isakan tangis seorang wanita dari dalam kamar mandi.


Edelweiss berteriak lalu menangis di dalam kamar mandi membuat suaminya terkejut bangun dan berlari menuju ke arahnya.


"Honey, kau baik-baik saja?" teriaknya seraya membuka pintu kamar mandi yang tidak dikuncinya.


Edel melihat kearah Malik dengan tangan menutup mulut dan air mata yang membasahi pipinya. Dia menyerahkan sebuah benda pada suaminya tanpa berkata apapun.


Malik mengambil benda tersebut dengan pikiran yang bingung.


"Apa ini?" dia melihatnya pada layar tertulis positif 3+.


Malik menatap Edel meminta penjelasan lebih darinya tapi istrinya hanya mengangguk tersenyum dengan air mata yang masih mengalir. Dia menarik istrinya kedalam pelukannya, mereka berpelukan dalam keheningan seakan keheningan pun ikut merayakan apa yang sedang mereka rasakan.


Hari itu sebelum bertemu Kate di cafe, dia membeli beberapa tespek karena dia sadar jika sudah telat beberapa Minggu dari menstruasi bulanannya, hanya saja dia tak berani mengetesnya takut hasilnya tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Seminggu kemudian barulah dia memantapkan diri untuk mengetesnya, air mata haru pun tak terbendung keluar dari sudut matanya.


Penantian beberapa bulan ini akhirnya telah datang, Allah memberikan anugrah tak tak terkira padanya. Edelweiss tengah hamil beberapa Minggu melihat dari hasil tesnya yang menunjukan angka 3+.


Kabar bahagia kehamilan sang menantu telah sampai ke Baginda Sultan dan Ibunda Ratu, mereka pun turut merasakan kebahagiaan yang tengah menyelimuti anak dan mantunya itu.


"Kami akan memeriksakannya hari ini, jadi aku akan menemaninya pagi ini ke dokter sebelum menemani Yang Mulia Baginda kunjungan ke daerah pesisir selatan," Malik meminta izin kepada ayahnya pagi itu di ruang kerjanya.


"Baiklah, selamat anakku kau akan menjadi seorang ayah. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan untukmu dan istrimu," ucapnya mendoakan sang anak.


"Ingat, tolong jaga perasaan pangeran Fatih yang belum kunjung dikaruniai keturunan," nasehatnya.


"Iya, Ayah," sahut Malik. dia mencium tangan ayahnya lalu pamit untuk mengantar istrinya ke dokter.


***


kabar bahagia pangeran Malik yang akan segera mempunyai keturunan telah tersebar di dalam Istana dengan cepat walaupun mereka berusaha menutupinya.


Putri Grizelle tengah berdiam diri duduk di kursi sebuah gazebo taman memandang air danau yang tengah berkilauan memantulkan sinar matahari pagi.


"Apa yang membuatmu berdiam di sini my princess?" tanya pangeran Fatih lalu menemani istrinya duduk di sampingnya.


"Air danau begitu indah pagi ini," ucapnya.


"Air yang tenang dan indah pun bisa membuatmu tenggelam jika kau tidak berhati-hati," ucap pangeran Fatih menggenggam tangan istrinya penuh kasih.


Putri Grizelle tersenyum mengerti dengan yang suaminya katakan, dia menyandarkan kepalanya ke bahu pangeran Fatih.


"Maafkan aku," dua kata itu yang terlontar dari mulutnya, dia menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya.


"Yakinlah Allah Yang Maha pemberi rezeki," ucapnya tegas.


Pangeran Fatih semakin mengeratkan rangkulannya, dia sangat faham apa yang tengah dirasakan istrinya sekarang.


Dikaruniai keturunan adalah dambaan setiap pasangan yang telah menikah tak terkecuali Pangeran Fatih dan putri Grizelle tentu juga mendambakannya apalagi dengan status Pangeran Fatih sebagai Putra Mahkota kerajaan Negara A, pasti bukan hanya Ia tapi juga seluruh rakyat negara A menginginkan keturunan dari sang Putra Mahkota mereka.


Bukan karena kesehatan mereka yang menjadi alasan belum mendapat keturunan, karena kesehatan mereka selalu di cek dan hasilnya pun mereka sangatlah sehat, tapi Tuhanlah yang belum berkenan memberikan anugrah keturunan padanya.


***


Pangeran Malik dan Edel telah berada di ruang tunggu dokter Obstetri & Ginekologi di rumah sakit yang biasa menjadi tempat rujukan dari keluarga kerajaan. Mereka ikut mengantre seperti pasien yang lain walaupun bisa saja ia mendapat perlakuan khusus karena termasuk Royal Family.


Mereka mendapat nomor antrean pertama karena Malik membuat janji dari jam lima subuh dengan dokter kandungannya.


Sebelumnya Edel telah diminta untuk melakukan beberapa tes yang dibutuhkan.


"Selamat Yang Mulia, Janin anda telah berusia 7 Minggu," ucap dokter kandungan tersenyum dan memperlihatkan hasil USG di monitor PC.


"Lihatlah, ini janin anda kira-kira berukuran sebesar blueberry. ini tangan dan kakinya yang sudah mulai terbentuk, diusia ini sel-sel otaknya sedang berkembang dengan pesat," lanjutnya sambil menunjuk-nunjuk layar PC dengan bolpoinnya.


Malik dan Edel mendengarkan semua yang dikatakan dokter mereka juga memperhatikan layar PC dan sangat terpana dengan ciptaan Allah, makhluk yang masih sebesar blueberry itu hidup dalam rahimnya.


Dokter mengerti bagaimana perasaan Edel saat ini, dia pun tersenyum. "Yang mulia, anda tak perlu mengkhawatirkan janin anda karena ia sangat sehat. Anda hanya harus banyak makan makanan yang bergizi dan beristirahat yang cukup, saya akan meresepkan vitamin dan obat mual karena biasanya diusia kandungan trimester pertama akan ada morning sickness."


Edel mengangguk tanpa menoleh pada dokter tersebut, ia masih tidak percaya dengan yang dilihatnya di monitor, janin itu ada dalam rahimnya dan itu nyata.


"Baiklah dokter, terimakasih banyak," ucap Edel.


"Terimakasih," ucap Malik.


Dokter itu hanya tersenyum mengangguk membungkuk hormat pada mereka.


Malik dan Edel pulang dari rumah sakit dengan senyuman bahagia. Tak henti-hentinya Edel bercerita bagaimana dia sangat terpana sekaligus tak percaya sekarang telah ada makhluk kecil yang sedang tumbuh berkembang dalam rahimnya.


Malik mendengarkan dengan setia karena dia pun merasakan hal yang sama seperti yang Edel rasa.


"Honey, apa kau mau mulai membeli perlengkapan bayi kita sekarang?" tanyanya antusias.


"Tidak, nanti saja. Kalau di tempatku biasanya mulai membeli perlengkapan di usia trimester ke tiga atau di usia sekitar 7 bulanan," terang Edel.


"Kenapa?" penasaran.


"Entahlah, itu yang pernah ku dengar dari beberapa teman dan saudaraku," jawabnya.


"Bolehkah aku menghubungi bunda sekarang, aku belum memberitahunya dan tak sabar ingin memberitahu kabar ini," pinta Edel.


"Ok, teleponlah," jawab malik memberi izin sambil fokus menyetir.


Mereka hanya berdua di dalam mobil tanpa di dampingi Mr. Husein. Sedangkan para pengawal berada dalam mobil terpisah dengannya, berada di depan dan belakang mobil yang mereka tumpangi.


Tak lama Edel menunggu Mrs. Soe mengangkat telepon darinya,


"Assalamu'alaikum, Bunda," salam Edel dengan nada yang bahagia.


"Wa'alaikumsalam, bagaimana kabarmu nak'. tumben telepon jam segini," tanya Mrs. Soe karena biasanya Edel menghubunginya di sore hari waktu negara A atau setelah jam isya di Indonesia.


"Bunda, Aku baru pulang dari rumah sakit," ujar Edel.


"Kamu sakit, sakit apa?!" tanya Mrs. Soe khawatir dengan keadaan anak perempuannya yang jauh darinya.


"Tidak, aku tidak sakit. Aku baru pulang dari dokter kandungan," ujarnya lagi.


"Lalu bagaimana hasilnya?" tanyanya tak sabar.


"Alhamdulillah aku hamil, sekarang usia kandunganku 7 bulan dan ... ," pembicaraannya terhenti karena Mrs. Soe.


"Apa 7 bulan?!" ujar Mrs. Soe sedikit berteriak.


Edel menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga karena suara bundanya yang keras.


"Maaf bunda, maksudku 7 Minggu dan dokter bilang ukurannya masih kecil baru sebesar blueberry," meralat perkataan sebelumnya.


"Kau membuat kaget bunda sayang. Alhamdulillah, akhirnya bunda ikut senang. jangan lupa makan dan perbanyaklah istirahat jangan terlalu kecapean, kalau kamu mual mintalah dibuatkan air jahe atau air lemon, jangan lupa minum susu khusus ibu hamil itu baik untuk perkembangan janin," papar Mrs. Soe.


"Baik bunda. Bunda nanti aku telepon lagi ya ini masih di jalan," ujarnya.


"Iya, sayang."


"Assalamu'alaikum," pamit Edel.


"wa'alaikumsalam," sahut Mrs. Soe mengakhiri panggilannya.


Edel merasa sedikit pusing, mungkin karena dia melakukan telepon di dalam mobil dan dia hanya makan sedikit ketika sarapan pagi tadi pikirnya.


*****


Maaf karena baru update, karena kebetulan lagi sibuk dengan real life ku. 🙏


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


stay safe everyone ... . 🥰