
Pangeran Fatih pun meninggalkan mereka keluar hotel dengan rombongannya termasuk pangeran Malik. Sedangkan sultan sudah pulang terlebih dahulu sebelum acara selesai.
Tak berapa lama kemudian, terlihat Pangeran Malik kembali menghampiri mereka, "Mr. Ommar, saya mau meminta izin mengantarkannya pulang."
Edel menghela nafas panjang mendengar suara itu, kesal.
"Prince Malik." Mrs. Ommar merangkul, melirik Edel meminta persetujuannya.
"Saya bisa pulang sendiri ko, Om, Tante," lirih Edel berharap pria muda itu segera pergi
Malik tersenyum, "Ini sudah terlalu malam, saya akan mengantarnya pulang," Sambil melihat jam tangan Patek Philippe nya.
"Ya, om pikir akan lebih tenang bagi kami klo kamu diantar Prince Malik My flower," ungkap Mr. Ommar. Mrs. Ommar pun mengangguk setuju dengan suaminya.
Malik tersenyum senang mendengar persetujuan mereka, melihat Edel menunggu jawaban.
"Baiklah," lirih Edel.
Mrs. Ommar pun menyerahkan Edel pada Malik.
"Baik-baik ya sayang," ucapnya pada Edel.
"Assalamualaikum, Om Tante," lirih edel.
"Wa'alaikumsalam, Sayangku," jawab Mrs. Ommar tersenyum.
"Kami titip Edel, jaga dia baik-baik," titah Mr. Ommar.
"Baik Mr. and Mrs. Ommar, assalamu'alaikum," pamit Malik.
"Jangan lupa besok pagi, kami menunggumu," kata Mrs. Ommar mengingatkan.
Malik memegang tangan Edel berjalan keluar hotel.
Pikiran Edel sedikit kalut memikirkan alasan teman baiknya meninggalkan nya begitu saja tanpa memberitahunya.
Mereka mendekati mobil Ferrari kuning dengan seri Berlinetta. Malik membukakan pintu untuk Edel sedikit merangkul bahu Edel
"Terimakasih," ucap Edel.
Malik tersenyum mendengarnya lalu menutup pintu, memutar masuk pintu kemudi.
Sepanjang jalan Malik tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Edel melihat keluar jendela masih dengan pikiran yang kalut memikirkan temannya.
Untuk kecepatan mobil sport seperti yang sedang dinaikinya, Malik menjalankan mobilnya sangat-sangatlah lambat. Dia ingin sedikit berlama-lama bersama Edel.
"Jadi namamu Edel bukan My flower?" tanya Malik memecah kesunyian.
"Ya," singkat. Edel masih melihat keluar jendela
Malik melirik Edel, berpikir keras mencari cara dan topik pembicaraan agar Edel mau melihatnya atau setidaknya dia tidak murung lagi.
"Apa wajahku sebegitu jeleknya hingga kau tidak mau melihatku?" goda Malik.
"Maaf," ucapnya, Edel beralih melihat kedepan, sedikit cemberut.
Malik tersenyum, "Kamu cantik tapi lebih cantik ketika tersenyum," goda Malik.
Wajahnya merona dan jantungnya berdegup kencang mendengar pujian dari pria yang baru dikenalnya. Edel melirik Malik kesal, kesal karena bisa-bisanya dia bercanda saat ini.
"Kamu tetap cantik walaupun cemberut begitu," Malik semakin menggoda Edel. Dia melirik Edel tersenyum senang penuh kemenangan.
Edel menarik nafas panjang berusaha menenangkan diri.
"Mau minum?" Edel terdiam.
Malik sedikit kesal, "Apa kamu mau beli sesuatu?" tanyanya lagi, "di depan ada minimarket 24 jam," lanjutnya. Edel tidak menjawab.
"Aku tau restoran 24 jam sekitar sini," terang Malik, "makanan di sana enak, mau ke sana? lanjut Malik berharap Edel mau berbicara dengannya.
"Tidak," jawabnya singkat.
"Terima kasih," lanjut Edel lirih.
"Langit malam ini cerah, berhentilah cemberut seperti itu," kata Malik tiba-tiba.
"Maaf," ucapnya.
Malik menarik nafas panjang, masih berusaha mencari cara membujuknya.
"Di depan ada sebuah taman dekat sungai, mau mencari udara segar?" tanya Malik.
"Antarkan aku ke hotel saja," pinta Edel.
Rasanya Edel ingin berlari menjauh dari pria di sampingnya, kesal dengan semua pertanyaannya.
Akhirnya mereka tiba di hotel SI tempat Edel menginap. Malik menghentikan mobilnya, dua penjaga membukakan pintu untuk Edel juga Malik.
"Terimakasih," ucap Malik menyerahkan mobilnya untuk diparkirkan oleh penjaga tadi.
Malik segera menghampiri Edel yang sudah keluar dan berjalan ke arah pintu masuk hotel.
"Tunggu," sedikit berlari, "aku akan mengantarmu sampai pintu," ucap Malik mendekati Edel.
Edel hanya melirik mendelik tajam kearah Malik.
"Aku sudah berjanji pada Mr juga Mrs. Ommar akan menjagamu dan mengantarmu," tegas Malik.
Edel hanya terdiam mendengar ucapan Malik. Mereka masuk kedalam lift, Edel menekan no.18.
Hanya ada mereka berdua di dalam lift. Mereka menunggu, terdiam dengan pikiran masing-masing.
Edel berharap cepat sampai sedang Malik berharap liftnya rusak hingga dia bisa berduaan lebih lama dengan gadis di sampingnya itu.
Pintu lift terbuka, mereka keluar, tetapi tiba-tiba Edel berhenti dan berbalik.
"Tidak apa sampai sini saja, terima kasih telah mengantarku," ujar Edel sedikit membungkuk hormat.
"Aku akan mengantarmu sampai ke depan pintu kamar," jawab Malik.
"Tidak perlu," tolaknya.
"Aku harus menepati janjiku pada Mr. dan Mrs. Ommar," tegas.
Edel menarik nafas, berbalik melanjutkan langkahnya.
Edel berhenti di depan kamar 1809
"Sudah sampai, terimakasih," ucapnya.
"Baiklah. Masuklah," kata Malik.
"Aku akan pergi setelah melihatmu masuk," gumam Malik.
Edel pun berbalik membuka pintu dan masuk.
"Assalamu'alaikum," ucap Edel menutup pintu.
"Wa'alaikumsalam," sahut Malik berbalik dan pergi dengan penuh senyuman.