He'S A Prince

He'S A Prince
Nona Harus Bekerja Sama



Mereka melewati pintu cek-in dan masuk ke jalur khusus yang tidak pernah Edel lewati. Mereka keluar dan berada di apron.


"Kamu mau bawa aku kemana?" Edel mengulang pertanyaannya melihat jet di depannya.


"Ayo," menunjuk dengan gerakan kepala ke arah jet.


Edel terdiam terpaku melihat Malik.


"Ayo cepat, jangan berdiri di sana," kata Mita menggandeng tangan Edel yang masih terpaku.


"Ini pesawat siapa?" tanyanya.


"Tuh," Mita menunjuk Malik dengan mulutnya.


Tanpa bicara Edel mengikuti mereka masuk ke dalam jet pribadi Malik, interior di dalam nya sangat mewah mulai dari kamar tidur utama, ruang santai dengan tv LCD besar dan rak yang dipenuhi buku-buku, ruang makan, ruangan untuk meeting.


Mereka duduk di ruangan meeting yang cukup untuk delapan orang.


"Kamu ga bilang bawa pesawat pribadi ke sini?" celetuk Edel.


"Kamu ga pernah nanya?" jawabnya singkat.


"Aku kesini bawa pesawat pribadi karena acaranya ngedadak, ga ada dijadwal ku," lanjutnya.


"Tau gitu ga akan aku booking tiket, kan sayang ga kepake," gerutu Edel.


"Udahlah lagian kita juga yang terlambat makanya ga kepake," ungkap Mita.


"Maaf ya tapi aku lapar, ruang makan di mana ya. Katanya di sini ada ruang makannya," tanya Mita.


Mita meninggalkan mereka berdua. Bukan hanya untuk makan aja sih, cuma ngasih waktu buat mereka ngobrol berdua aja dan biar tidak merasa menjadi nyamuk.


Selepas Mita pergi, Malik menyenderkan kepalanya ke bahu Edel.


"Biarkan aku tidur sebentar," ucapnya memejamkan mata.


Edel menarik nafas panjang dan menghembuskannya mencoba menenangkan hatinya yang berdebar kencang.


**


Mr. Husein mendatangi Mita di ruang makan.


"Maaf, boleh saya duduk," kata Mr. Husein.


"Tentu," jawab Mita. Ko dia ngedeketin gue, haruskah gue pergi?. batinnya.


"Maaf jika saya lancang, saya hanya mau berbicara sebentar dengan nona," ujar Mr. Husein.


"Nona pasti sudah tau siapa yang sedang mendekati teman nona. Saya hanya mau nona ikut bekerja sama," lanjutnya menarik nafas.


Bekerjasama? ko berasa dia mau interogasi gue ya. Apa dia mau minta bantuan gue agar Edel jauhi Malik? pikir Mita.


"Iya, kenapa?" tanya Mita yang masih merasa setengah ketakutan di dekati pria paruh baya itu saat dia sedang sendiri.


"Saya tahu nona banyak mengambil gambar dan video, sebenarnya saya tidak punya hak jika nona mempublikasikan apa yang nona ambil (foto & video), tetapi sebaiknya foto atau video yang berhubungan dengan Pangeran Malik tidak nona publikasikan untuk menjaga nama teman nona juga," kata Mr. husein mencoba memberi saran.


"Ya tentu, ga masalah," jawab Mita cepat.


"Terima kasih nona mau memahami maksud kami," ucap Mr. Husein.


Mita mengangguk, dia ingat tentang aturan yang di ceritakan Edel. Aturan yang mengikat Pangeran Malik hingga tak bisa bebas seperti orang lain.


"Saya senang melihat Pangeran kami memilih calon istrinya sendiri dan memilih teman nona. Semoga mereka berjodoh," ujar Mr. Husein, entah kenapa Mita melihat kilatan rasa haru bercampur sedih di raut wajahnya.


"Terima kasih, saya permisi nona," pamit Mr. Husein membungkuk. Beliau sungguh seorang yang sopan pikir Mita.


Mita melanjutkan makannya dan berpikir apa Edel sanggup jika berhubungan dengan orang yang terikat beribu aturan. Ya itu sudah menjadi pilihannya dan dia pasti sudah siap dengan semua resiko atas pilihannya tersebut pikir Mita.


**


Malik masih tertidur di bahu Edel, dia mengambil ponsel di sebelahnya.


"Mumpung tidur, foto-foto ah ...," gumamnya memotretnya tanpa menyadari Malik tersenyum mendengar gumamnya.


Edel mengambil beberapa foto dengan kamera ponselnya. Setelah selesai dia melihat hasil jepretannya yang membuat dia tertawa kecil.


"Ya ampun, dia lucu banget kalau lagi tidur," gumamnya.


"Hanya lucu?!" tanya Malik singkat tapi membuat Edel sontak menyembunyikan ponselnya.


Malik masih memejamkan matanya, tapi jantung Edel semakin berdebar kencang.


Malik mengangkat kepalanya dari bahu Edel dan memandang ke arah gadis di sampingnya.


"Ga usah malu, aku senang kamu mengambil foto kita. Ayo kita berfoto lagi, rasanya ga adil jika kamu mengambil foto ketika aku tidur," mengambil ponsel yang Edel sembunyikan di samping dia duduk.


"Ayo," menyerahkan ponselnya karena sudah terkunci dan dia tidak tahu password ponsel Edel.


"Maaf," ucapnya lalu mengambil lagi foto mereka.


"Senyumlah," Malik mendekatkan dirinya dengan Edel. Edel berusaha tersenyum walaupun jantungnya tidak karuan.


Mereka mengambil beberapa foto dengan pose yang berbeda.


"Coba aku lihat," pinta Malik.


"Lihat senyummu seperti terpaksa."


"Kamu membuat jantungku berdebar kencang," kata Edel malu-malu.


"Hahahaha ..., gemas sekali," Malik mengacak sedikit rambut Edel.


Mita datang memberitahukan sebentar lagi landing. Lalu pergi lagi ke ruang santai menyadari tabnya tertinggal di sana.


"Terimakasih liburannya," ucap Edel menangkupkan kedua tangannya.


"Terima kasih telah menjadi bagian dari hariku. Aku akan merindukanmu," ungkap Malik penuh kepastian dibalas senyuman oleh Edel.


"Pikirkanlah matang-matang, bicarakan dengan kedua orangtuamu tapi jangan terlalu lama," lanjutnya.