He'S A Prince

He'S A Prince
Harus Balik



"Ok, kamu mau ikut. Kamu ga harus pulang buru-buru kan?" tanya Edel berharap bisa lebih lama dengannya.


"Aku bisa pulang nanti malam."


"Coba cek dulu penerbangannya, takutnya kamu ga bisa pulang!" ucap Edel khawatir.


"Bisa ko, santai aja," jawab Malik tenang.


Setelah Malik berbicara dengan Mr. Husein, mereka berangkat ke Upside Down World yang berada di kota Denpasar. Namun, karena jalanan sedikit padat mereka mengurungkan niatnya ke sana dan beralih ke pantai Kuta melihat sunset.


Mereka tiba di pantai pukul setengah lima sore. Langsung berhamburan keluar mobil berburu pantai.


"Nanti kalau kesini lagi kita surfing, main jet ski pokonya main Aer," seru Edel.


Mita mengangguk, rasanya dua hari berlibur ke Bali tidaklah cukup menikmati semua wisata pulau itu. Hanya sebagian kecil saja tempat wisata yang bisa mereka kunjungi. Tak puas rasanya kalau ke Bali tidak bermain wisata air, tetapi apa boleh buat waktu mereka sangat terbatas.


Mereka seperti anak kecil berlarian ke bibir pantai menerjang ombak.


"Gadis yang unik," ucap Malik.


Malik duduk di tepi pantai memperhatikan mereka. Mengingat kembali saat mereka bersama tadi malam.


"Malik cepatlah kemari!" seru Edel menendang air ke arah Mita.


"Terima kasih sudah menemani hariku," gumaman yang tak terdengar siapapun, dia tersenyum melihat Edel menerjang ombak.


Tahu dirinya diperhatikan, Edel lari menghampiri Malik menarik tangannya agar mau bermain air bersama mereka.


"Ayolah jangan diam aja di sini," Edel berjalan mundur sambil melihat Malik yang berjalan di hadapannya, lalu dia berbalik hendak berlari tapi malah terjatuh keseleo.


Mita yang sedang memvideokan mereka sontak tertawa melihat Edel terjatuh. Edel langsung bersembunyi di balik kedua telapak tangannya. Wajahnya memerah menahan malu terjatuh di hadapan laki-laki yang sedang memenuhi pikirannya.


Malik berlari menghampirinya langsung menggendong ala bridal style lalu setengah berlari kearah ombak yang datang menerjangnya, terjatuh bersama.


"Aku akan selalu melindungimu," ucap Malik berjongkok depan Edel.


"Terima kasih," jawab Edel tersenyum, mereka tertawa bersama ketika air laut menghantam tubuh mereka membuatnya basah.


"Jangan lama-lama saling pandang tar yang ketiga setan lho!" ujar Mita masih memegang kameranya.


"Iya, Lo setannya!" seru Edel tertawa.


Mr. Husein memberikan jaket pada Malik dan menyampirkan nya ke bahu Edel yang basah kuyup.


Mereka duduk di pinggir pantai menikmati langit yang berubah warna menjadi merah lembayung. Sungguh indah ciptaan-Mu.


Mereka cek in di hotel terdekat hanya untuk membersihkan diri karena Malik tidak mau menggunakan kamar mandi umum.


"Del, apa besok pagi aja ya kita balik Semarang?" tanya Mita memasukkan mukenanya ke dalam koper.


Edel berpikir sejenak dan menggelengkan kepalanya.


"Kita ga mungkin pulang besok, Lo lupa besok meeting dengan pa Hartono!" kata Edel.


"Coba Lo cek penerbangan malam ini apa ada yang kosong sebelum tengah malem?" tanpa melihat lawan bicara.


Edel memeriksa jadwal penerbangan.


"Penerbangan domestik kan ya?" tanya Edel mengetik di ponselnya. Biasanya Mita yang melakukan semuanya, dia hanya tahu berangkat saja.


"Ada jam delapan empat lima itu yang terakhir, ada lagi besok penerbangan pertama jam sepuluhan tepatnya sepuluh dua puluh menit," jawab Edel memperlihatkan jadwal di ponselnya pada temannya.


"Gue udah pesan tiketnya dan kita harus udah berangkat sekarang juga!" mereka sibuk membereskan semuanya.


"Ga kan sempat makan dulu, kita makan setelah landing aja!" seru Mita.


"Laper gue ilang!" jawab Edel.


Mereka keluar kamar dan berpapasan dengan Malik yang tadinya mau mengajaknya makan malam sebelum berangkat.


"Gue harus balik sekarang, besok ada meeting pagi. Penerbangannya kurang dari sejam lagi!" seru Edel tanpa berpikir dulu yang membuat Malik mengernyitkan sebelah alisnya mendengar ucapannya.


"Ok, kita berangkat sekarang," Malik mengambil tas Edel dan menghubungi Mr. Husein.


Ketika sampai di lobi, Mr. Husein sudah menunggu mereka.


"Sudah siap?" tanya Malik di jawab anggukan hormat.


Mereka hanya membutuhkan lima belas menit sampai bandara.


"Oh, Alhamdulillah sampai juga. Ayo!" kata Mita mengambil koper dan travel bag nya.


"Cepat lima menit lagi," seru Mita berlari ke arah pintu cek-in.


Seorang petugas yang berjaga menanyakan tujuan mereka.


"Saya sudah cek-in tadi online," kata Edel terengah-engah setelah berlari menunjukkan tiket elektronik mereka.


"Maaf mba, pesawat tujuan mba sudah take off dua menit yang lalu," kata petugas tersebut ramah.


"Apa?!" kata Edel kaget.


"Tapi bukannya masih ada waktu lima menit lagi?!" seru Mita.


"Lima menit ketika kamu turun dari mobil," berlari kesini membutuhkan waktu lebih dari lima menit," ujar Malik menunjukkan jam tangannya dengan raut muka yang tenang.


"Ko kamu bisa senyum saat aku ketinggalan pesawat!" ketus Edel cemberut melihat Malik tersenyum.


Mita mengobrol dengan Mr. Husein dan terlihat mengangguk setuju, entah apa yang mereka obrolkan, entah apa yang disetujui Mita.


"Ayo," Malik menarik tangan Edel.


"Mau kemana?" tanya Edel mengikuti langkah Malik yang masih memegang tangannya.


Mereka melewati pintu cek-in dan masuk ke jalur khusus yang tidak pernah Edel lewati. Mereka keluar dan berada di apron.