He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 129



Seorang gadis duduk di sebuah halaman cafe di bawah pohon. Gadis itu nampak cantik dengan kacamata hitamnya tidak memperdulikan sekelompok laki-laki tak jauh dari mejanya sedang memandangnya.


"Azmy," panggil seorang wanita paruh baya yang menghampirinya dan duduk di kursi hadapan.


Azmy memandangnya lekat dibalik kacamatanya lalu menghembuskan nafas berat.


"Maaf aku terlambat, aku sedikit ada urusan tadi," ujar wanita paruh baya itu.


Azmy mengangguk, "Tak apa, silahkan pesan dulu."


Seorang waiters menuliskan pesanannya.


"Bagaimana kabarmu?" tanyanya memandang Azmy yang tak melepas kacamatanya seakan dia menyembunyikan sesuatu darinya.


"Alhamdulillah baik," jawabnya singkat dengan tersenyum, bukan senyuman hangat yang biasa dia berikan tapi senyuman dingin dan sinis dia berikan pada wanita paruh baya di hadapannya.


Tidak berapa lama, waiters menyajikan minuman yang dia pesan dan cheesecake.


"Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya wanita paruh baya itu lembut menyadari Azmy terus memandangnya.


Azmy mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja. Wanita dihadapannya kaget melihat foto tersebut.


"Kau, dari mana kamu dapat foto ini?" tanya wanita paruh baya itu masih dengan nada lembut menyembunyikan keterkejutannya.


"Pentingkah?".


"Tak kusangka masih ada fotoku dirumah kalian," ucapnya tersenyum sedikit menitikan air mata yang dia seka dengan jarinya.


"Terimakasih beberapa minggu ini telah mendengarkanku bercerita, sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi," ujar Azmy tegas.


"Apa aku membuat kesalahan padamu?" tanyanya hati-hati tanpa memandangnya.


Azmy menyunggingkan bibirnya. "Apa aku harus mengingatkan kembali apa yang anda lakukan padaku?".


**flashback on**


Sehari setelah pemakaman Putri Grizelle,


Shahmeer semalaman tidak bisa tidur teringat apa yang telah ibunya lakukan dan membayangkan apa yang akan ibunya lakukan pada Edel. Sulit menerima kenyataan jika ibunya berubah menjadi monster yang mengerikan yang dapat melakukan apapun.


"Aku harus bercerita padanya tapi bagaimana jika dia histeris kembali ketika mengetahui semuanya?" gumam Shahmeer mengacak rambutnya.


"Aku harus melindunginya. Mereka tidak bersalah, mereka sungguh tidak bersalah. Ya Tuhan ... ," ujarnya menangis dalam diam.


*


*


"Datanglah sejam lagi dari sekarang. bawalah beberapa orang perawat untuk berjaga-jaga jika sesuatu yang kita takutkan terjadi," titah Shahmeer pada seseorang di telepon lalu mengakhiri panggilannya.


"Ada apa kakak memanggilku?" tanya Azmy yang datang menghampiri Shahmeer yang sedang duduk di taman rumahnya.


"Duduklah," titah Shahmeer.


"Bagaimana keadaanmu pagi ini?" tanyanya memastikan adiknya dalam keadaan baik.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Ada apa?" tanyanya balik.


"Bukalah," Shahmeer memberikan amplop cokelat yang sudah kusam pada Azmy. Adiknya menerimanya dengan kebingungan lalu membukanya dan mengambil beberapa lembar foto.


"Ini Mrs. Shopia, benar kan dia pengasuhku. Buktinya ada fotonya bersamaku padamu, Kakak menemukan foto ini dimana?" tanyanya antusias melihat seorang anak kecil yang digendong Mrs. Shopia.


"Lihatlah semuanya," pintanya.


Azmy melihat lembaran foto yang lain, nampak sebuah foto keluarga dengan Azmy dan Shahmeer yang masih remaja di dalamnya juga ayahnya Mr. Zephyr dan seorang anak laki-laki bertubuh tinggi memakai kacamata juga Mrs. Shopia.


"Kakak ... ," panggilnya.


Shahmeer mengangguk pelan, "Itu foto keluarga kita yang terakhir ketika semuanya masih lengkap dengan kak Adelard ketika masih ada," terang Shahmeer.


"Kenapa ada Mrs. Shopia di foto keluarga kita?" Azmy mencoba mencerna semuanya, kepalanya sedikit berdenyut.


"Dia ... , dia adalah ibu kita dan namanya bukan Shopia tapi Aleena Khurram," ujar Shahmeer lirih.


"Kakak pasti salah, bukankah katamu ada beberapa orang di dunia yang wajahnya terlihat sama?" tanya Azmy ragu.


"Kakak pasti salah!" Azmy mulai menaikan suaranya. "Kalau dia ibu kita tak mungkin aku melupakan wajahnya, tak mungkin dia mengaku-ngaku sebagai pengasuhku."


"Azmy dengarkan aku," tegas Shahmeer mencoba berbicara lembut. Dia memandang adiknya terdiam cukup lama dan mulai bernafas teratur barulah dia melanjutkan perkataannya.


"Aku akan menceritakan semuanya, jadi dengarkanlah baik-baik. Setelah aku bercerita, itu terserah padamu mau mengikutiku atau tidak. Itu akan menjadi pilihanmu dan aku akan selalu mendukung apapun pilihanmu," kata Shahmeer penuh penekanan.


Shahmeer mulai menceritakan tentang bagaimana hubungan kakaknya dengan anak seorang Yakuza dahulu dan tidak mendapat restu dari seluruh keluarga sehingga dia nekad membawa lari pacarnya tersebut sampai akhirnya nyawanya pun dikorbankan.


"Selama beberapa bulan semua nampak baik-baik saja tapi kemudian wanita itu mulai terlihat sering pulang malam dalam keadaan mabuk dan sering keluar untuk berpesta dengan seorang laki-laki, begitulah yang nenek ceritakan padaku. Mungkin dia merasa tertekan karena kepergian anak kesayangannya. Aku yang sedang kuliah saat itu tidak terlalu menganggapnya serius, aku pikir nenek hanya mengarang cerita agar aku pulang dan meneruskan studiku di sini," terangnya.


"Tapi kemudian, suatu pagi aku dihubungi oleh nenek. Dia memberitahuku jika kamu sakit keras dan masuk rumah sakit, aku pun masih tak menghiraukannya. Seminggu kemudian nenek menceritakan kejadian sesungguhnya jika kamu mengalami trauma berat setelah melihat wanita itu bermesraan di kamarnya dengan laki-laki lain dan pergi meninggalkan kita," lanjutnya.


Shahmeer pun menceritakan kenapa adiknya tidak mengenali wajah ibunya karena dia berusaha mengubur kenangan yang menyakitkan yang pernah dilihatnya hingga menyebabkannya trauma berkepanjangan.


Azmy sedikit terhuyung, dia merasakan kepalanya sakit dan potongan kilasan kejadian muncul di kepalanya. Namun wajah dalam kilasan tersenyum terlihat samar.


"Kau baik-baik saja?" tanya Shahmeer yang melihat Azmy memegang kepalanya dan mencengkeram bibir kursi kuat.


"Kepalaku sakit, tapi lanjutkan lah ceritamu sampai selesai," pintanya.


"Ayo aku antar ke kamarmu, sebaiknya kamu beristirahat saja," ajak Shahmeer mulai mengangkat tubuh adiknya.


"Tidak, ceritakanlah semuanya kak."


Shahmeer berjongkok di hadapan adiknya yang sedang duduk. Dia mulai menceritakan kembali tentang tujuan ibu mereka datang ke negara A yaitu untuk membantunya membalas Edelweiss yang menurutnya telah mengambil pangeran Malik dari anaknya.


"Azmy, dari awal pun Pangeran Malik memang tidak ada perasaan apapun padamu. Dia mencoba menolongku untuk menjagamu ketika aku tidak ada, maafkan aku ... ," nasehatnya.


Shahmeer juga terpaksa menceritakan jika ibunyalah dalang dibalik kejadian kecelakaan yang melibatkan anggota keluarga kerajaan.


"Azmy, aku rasa kita harus memutuskan semuanya dengannya untuk kebaikan semua orang. Mungkin inilah karma yang harus kita tanggung dengan melepaskan orang yang kita sayang untuk orang lain. Ikutlah denganku ke Eropa, kita masih punya ayah yang menyayangi kita. Memang dia terlihat mengabaikan kita tapi dia sebenarnya sangat menyayangi kita," pintanya masih berjongkok, tangannya memegang tangan adiknya.


**flashback off**


"Maksudmu?" Mrs. Shopia mengernyitkan dahinya.


"Jujur saja, aku tidak terlalu terkejut ketika tahu anda adalah ibu kandungku. Mungkin karena aku lupa dengan wajah ibu kandungku hingga saat tahu pun aku tidak merasa anda adalah ibuku. Aku tetap merasa anda adalah Mrs. Shopia teman baruku," ujarnya membuat Mrs. Shopia tersenyum.


"Kakak telah menceritakan semuanya, tentang bagaimana Anda berselingkuh dari ayahku dan tega meninggalkan kami anak-anakmu," lanjutnya dingin.


"Maafkan ibu nak'," mencoba meraih tangan Azmy yang sedang memegang gagang cangkir kopinya tapi dia tepis.


"Maaf?, kata maaf memang sangat mudah diucapkan, tapi memaafkanmu ... ?!." ujarnya. "nyonya, aku sudah terbiasa tanpa seorang ibu. Jadi aku tidak membutuhkanmu kembali menjadi ibuku."


"Aku bisa menjadi temanmu, bukankah kita berteman?" ucapnya.


"Tentu kita berteman, kita berteman sebelum aku tahu anda adalah ibu kandungku, kita berteman sebelum aku tahu andalah yang membuatku menderita trauma mengerikan ini, kita berteman sebelum aku tahu andalah yang membuatku harus bolak-balik ke psikolog karena mentalku yang tidak stabil, kita berteman sebelum aku tahu andalah penyebab kematian Putri mahkota negara ini!" ujarnya lirih tapi penuh penekanan.


"Bukan aku penyebab dia meninggal. Andai hari itu wanita murahan itu yang berada di sana tentu dia tak akan meninggal, dialah yang menyebabkan wanita tak bersalah itu meninggal!".


"Siapa wanita murahan yang anda maksud?! kenapa anda begitu marah padanya?" tanyanya tegas.


"Aku membantumu membalasnya. Dia yang telah merebut pangeran Malik darimu!" ujar Mrs. Shopia.


"Apa?!, semula aku tak percaya dengan yang kakakku katakan, tapi begitu mendengar dari mulut anda. Mungkin salahku juga telah bercerita padamu tentang sakit hatiku, tak ku sangka aku bercerita pada orang yang salah."


"Terimakasih, karena beberapa Minggu ini menjadi temanku, mendengarkan semua keluhan ku. Aku sangat menghargainya tapi menghilangkan nyawa orang lain, itu sungguh kejam. Tak pernah sedikitpun dalam benakku untuk membalas semuanya dengan menghilangkan nyawa seperti yang anda lakukan. Anda benar-benar seperti binatang buas yang tidak punya hati!" ujar Azmy dingin.


"Aku membalasnya untukmu, dia meninggalkanmu demi wanita murahan itu?!".


"Meninggalkanku?, lalu bagaimana denganmu?! apa anda tidak sadar jika anda pun meninggalkan ayahku, berselingkuh dari ayahku!. Sekarang anda membalasnya karena meninggalkanku?!. Andalah yang meninggalkanku bukan dia!!, Andalah wanita murahan itu!!!" Azmy berusaha menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh karena kesal.


"Aku akan pergi dari negara ini, Jangan mencoba mencariku karena aku sungguh tidak memerlukan seorang ibu yang rela mengambil nyawa orang lain hanya untuk bersenang-senang. Mungkin inilah karma yang harus aku tanggung dengan tidak memiliki orang yang kucintai karena kesalahanmu telah meninggalkan ayahku!" ujar Azmy lirih.


"Aku sungguh berterimakasih anda telah melahirkanku," ucapnya, dia berdiri membungkuk hormat lalu melangkah meninggalkan wanita paruh baya itu sendirian.


Wanita itu diam termangu mendengar semua perkataan anak gadisnya. Lalu tertawa terbahak-bahak sesaat kemudian dia menangis tersedu hingga semua orang di sekelilingnya menatapnya ngeri.


*****


Terimakasih telah membaca. 🥰🙏


Stay safe everyone. ❤️