
"Yang Mulia," ucap Mr. Husein.
"Tak apa, aku memang harus memberitahu Shahmeer soal ini. Dia tetap anaknya," terang Malik pada Mr. Husein.
"Aku akan menemuinya sore nanti. Tolong rahasiakan ini dari istriku, aku tidak ingin dia tahu masalah eksekusi."
"Baiklah, Yang Mulia. Saya akan mengatur jadwal untuk anda sore nanti," sahut Mr. Husein lalu membungkuk dan keluar dari ruangan Malik.
Malik mengambil ponselnya dan lama hanya menatap layarnya yang semula terang kembali gelap.
"Haruskah aku bilang padanya, bagaimana caranya?" gumamnya, mengetuk-ngetuk ponselnya ke kaca jendela.
Beberapa kali dia menghidupkan ponselnya dan hanya menatapnya.
"Aku harus memberitahunya!" kata Malik tegas.
Dia berdiri di dekat jendela dan mencoba menghubungi Shahmeer.
"Kemana dia?" tanyanya. Hanya terdengar nada tunggu.
Malik terus mencoba menghubungi temannya namun tetap saja hanya nada tunggu yang terdengar.
"Ya masuk," ucap Malik ketika mendengar suara ketukan pintu.
Mr. Husein masuk mengingatkan Malik jika dia telah ditunggu oleh para tetua istana untuk mengikuti serangkaian acara sebelum hari H besok lusa.
***
Malik meminta izin untuk keluar kepada ayahnya untuk menemui Shahmeer setelah acara yang harus dia ikuti bersama para tetua selesai.
Shahmeer sempat menghubunginya dan diterima oleh Mr. Husein karena dia sedang mengikuti serangkaian acara tetua istana.
Mr. Husein telah menyewa tempat khusus di sebuah restoran ternama di pusat kota agar tuannya dapat leluasa berbincang dengan temannya.
Masih memakai pakaian yang sama ketika dia menemui Mr. Witton, Shahmeer duduk menunggu Malik di dalam ruang VVIP tersebut. Ketika tadi Malik menghubunginya, dia memang sedang bersama Mr. Witton dan langsung pergi ke restoran tempat janji temunya bersama Malik.
Cukup lama dia menunggu temannya, Shahmeer bisa masuk ke ruang VVIP karena Mr. Husein sudah membooking tempatnya terlebih dahulu.
"Aku tahu dia sibuk, tapi membuatku menunggu lama seperti ini!" dengusnya lirih.
Shahmeer mengeluarkan ponselnya dan berselancar di dunia Maya namun pikirannya melayang jauh ke masalah yang tadi dia bincangkan dengan Mr. Witton.
Dia masih tidak mengerti bagaimana cara ibunya bisa melenggang dengan mudahnya keluar dari penjara. Ingin sekali dia berpikir itu hanya gurauan Mr. Witton tapi hati dan pikirannya tidak bisa untuk tidak mempercayainya perkataan dari ayah temannya tersebut.
Shahmeer percaya, seperti di film-film kalau mafia sekelas Mr. Witton dan juga yang mengurus ibunya bisa berbuat apa saja yang bahkan diluar logika sekalipun.
Suara decit pintu membangunkannya dari lamunan panjangnya.
"Ah, maaf aku sangat terlambat," ucap Malik begitu masuk ke dalam ruangan VVIP dan melihat temannya sudah menunggunya.
"Tak masalah," jawab Shahmeer berusaha tersenyum.
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya.
"Alhamdulillah baik," jawab Malik tersenyum.
"Syukurlah," ucap Shahmeer tersenyum bahagia.
"Ada apa kamu mau bertemu denganku di sini?" lanjutnya.
Bagi Shahmeer ini sangatlah berbeda dari kebiasaan Malik temannya. biasanya jika ada yang ingin dia obrolkan, mereka akan bertemu di kafe tempat mereka biasa berkumpul atau Malik akan datang ke rumahnya, tapi kali ini Malik ingin menemuinya dan berbincang dengannya di tempat khusus tentu ada sesuatu masalah besar yang ingin dia utarakan padanya.
"Sudah pesan, aku lapar sekali," ucap Malik mengambil daftar menu.
"Ada apa?" tanya Shahmeer lagi.
"Ayo kita makan dulu, aku lapar tadi aku melewatkan makan siangku karena harus menyelesaikan semua pekerjaanku."
Selesai makan, pelayan di sana segera membereskan meja di hadapan mereka dan menggantinya dengan menyajikan teh hangat dan beberapa cake dan macaron juga dessert yang lainnya.
"Sejujurnya aku bingung harus memulainya dari mana," ucap Malik kemudian.
"Ada apa?" tanya Shahmeer mengernyitkan kedua alisnya.
"Aku benar-benar minta maaf, namun hukum tetaplah harus berlaku," kata Malik memandang lekat mata temannya.
Shahmeer kembali menghela nafasnya. "Ada apa, bicaralah."
"Hukuman eksekusi ibumu dimajukan menjadi besok malam, aku pun baru mengetahuinya tadi pagi. Para tetua istana yang memintanya dan telah disetujui oleh ayahku," ucap Malik.
Deg, seperti mendengar petir di siang bolong, badan Shahmeer langsung kaku, lidahnya terasa kelu, dia terus memandang Malik tanpa bisa berkata satu kata pun.
"Maafkan aku. Aku sudah meminta agar ibumu hanya mendapatkan hukuman penjara seumur hidup tapi para tetua bersikeras menuntut untuk mengeksekusinya. Menurut mereka itu adalah hukuman setimpal yang harusnya sudah diputuskan sejak lama."
"Maafkan aku," ucapnya lagi.
Malik tahu apa yang sedang Shahmeer rasakan sekarang. Walaupun mereka sudah lama tidak bersama dan walaupun Shahmeer berkata jika dia sangat membenci ibunya Mrs. Shopia, tetap saja pertalian darah tidak akan pernah hilang, perasaan seorang anak pada ibunya tidak akan pernah hilang.
"Terimakasih sudah memberitahuku," ucap Shahmeer dengan lirih hampir tak terdengar.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Malik yang melihat wajah temannya memucat.
"Aku tidak mungkin baik-baik saja. Rasanya seperti sesuatu direngut begitu saja dari dalam hatiku. Rasanya seperti ada sesuatu yang hilang," jawabnya mengusap wajahnya yang sudah sedikit basah oleh air mata yang mengalir.
"Maafkan aku," ucap Malik lagi, seharusnya dia tidak bertanya tentang keadaannya, tentu saja saat ini dia tidak baik-baik saja.
Malik bangun dari tempat duduknya dan berpindah ke tempat duduk di samping temannya. Dia menepuk-nepuk punggung Shahmeer yang sedang menangis tersedu.
"Maaf, harusnya aku tidak menangis di depanmu, harusnya aku bisa lebih menahan emosiku," ucap Shahmeer yang masih menangis.
"Tidak masalah, menangis lah jika itu bisa membuatmu sedikit merasa lebih baik. Aku akan menemanimu," ucap Malik.
Shahmeer tertawa diantara isakannya. Mereka sudah bersahabat sejak mereka kecil, sudah mengenal sifat masing-masing sejak lama, tapi menangis rasanya ini sangat memalukan pikir Shahmeer.
"Ah memalukan sekali," ucapnya pada Malik.
"Ya memang memalukan jadi cepatlah selesaikan tangismu!" seru Malik terkekeh.
"Aku juga ingin, tapi air matanya keluar begitu saja!" kelak Shahmeer.
Mereka berdua tertawa bersama, menertawakan apa yang sedang mereka lakukan seperti sepasang kekasih yang sedang saling menghibur ketika berduka.
"Terima kasih telah memberitahuku," ucap Shahmeer kemudian setelah tangisnya mereda.
"Aku pikir, aku berkewajiban memberitahumu. Aku juga sama terkejutnya denganmu saat tahu kabar ini," jawab Malik.
"Apa kamu akan menemui ibumu, aku bisa membantumu," lanjutnya. Malik merasa berkewajiban membantu temannya menemui ibunya untuk yang terakhir kalinya sebelum hukuman eksekusi itu dilakukan.
"Ya, aku ingin menemuinya. Mungkin besok, sebenarnya beberapa hari ini aku berusaha menemuinya tapi dia menolak kunjunganku," kata Shahmeer terkekeh.
"Aku akan membantumu menemuinya. Mr. Husein yang akan mengurusnya," ujar Malik membuat Shahmeer terkekeh, ya pasti mereka akan selalu melibatkan Mr. Husein dalam setiap keadaan agar lebih mudah.
"Eksekusi ini akan diberitakan pada hari penobatan ku jadi berita ini hanya sebagian orang yang mengetahuinya." kata Malik dibalas anggukan oleh Shahmeer.
*****
Selamat malam para readers, jangan lupa like, komen dan hadiah buat author ya juga vote dengan ⭐⭐⭐⭐⭐.
Stay safe everyone.
Satu lagi novel bagus yang author rekomendasikan buatmu, yang pengen tahu rahasia dari mantan ayo kepoin novelnya.