He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 170



H-3


Pukul 10 pagi, Shahmeer sudah bersiap diri hendak mengunjungi ibunya di lapas. Dengan memakai baju kasual agar terlihat lebih santai berbincang dengan ibunya.


Perjalanan ke lapas tidak membutuhkan waktu lama walaupun terdapat gangguan di jalan, seperti tiba-tiba ada seorang kakek-kakek yang menghentikannya untuk sekedar meminta tumpangan ke depan jalan dan bahkan sampai ada yang menghentikannya hanya untuk sekedar menanyakan jalan. Sangat tidak masuk akal memang namun Shahmeer berusaha tidak memperdulikannya.


Begitu sampai di lapas tempat penahanan Mrs. Shopia Khurram atau Shopia Felix Beltran, Shahmeer langsung menuju tempat pendaftaran kunjungan.


"Pa, saya mau mengunjungi Mrs. Shopia Felix Beltran. Saya sudah mendaftar kemarin," kata Shahmeer mengingatkan kembali petugas lapas.


Petugas lapas itu memeriksa jadwal kunjungan di PC di depannya.


"Maaf, tapi Mrs. Shopia menolak semua kunjungan," ucapnya.


"Tapi saya sudah membuat jadwal kunjungan kemarin," ujar Shahmeer.


"Maaf, tapi dia menolak kunjungan anda tuan. Kami tidak bisa berbuat apapun kalau dia menolaknya," kata petugas lapas, tegas.


Kenapa dia menolak ku?. gerutu Shahmeer dalam hati.


"Pak, bisakah anda berbicara lagi dengannya dan berkata Saya, Shahmeer Zephyr ingin mengunjunginya?" Shahmeer mencoba merayu dengan petugas lapas itu.


"Pak, saya anaknya," ucap Shahmeer akhirnya, meyakinkan petugas agar bisa menemui Mrs. Shopia.


Petugas lapas tercengang menatap Shahmeer. Dia tidak percaya jika Shahmeer adalah anaknya. karena selama ini Mrs. Shopia hanya dikunjungi oleh satu orang saja yang mengaku sebagai suaminya.


Petugas lapas memandang lekat Shahmeer, mulai memperhatikan wajah dan keseluruhan badan Shahmeer, membandingkannya dengan suami Mrs. Shopia yang selalu datang mengunjunginya dua atau tiga hari sekali, lalu mengernyitkan dahinya.


Selain tinggi badan, Shahmeer sangatlah berbeda dengan suami Mrs. Shopia.


"Maaf tuan. Kalau mau anda bisa datang besok, mungkin besok Mrs. Shopia mau menerima kunjungan anda," ucapnya masih tidak percaya jika Shahmeer adalah anaknya.


Shahmeer keluar dari lapas dan duduk di taman depan lapas di bawah pohon.


"Kenapa dia tidak mau menemuiku. Apa dia sudah tahu tentang rencana ku?!" gerutunya lirih.


"Malas sekali jika besok harus ke sini lagi!" ungkapnya mendengus kesal.


Shahmeer mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, dan mengetikkan sesuatu.


Aku belum bisa menemuinya, dia menolak kunjunganku. Akan ku coba lagi besok.


Setelah mengirim pesannya dia berjalan ke arah mobil di parkiran dan kembali ke pusat kota.


***


Walaupun hari penobatan atau pengangkatan Malik menjadi pangeran mahkota hanya beberapa hari lagi, namun Malik tetap menjalankan tugasnya seperti biasa namun tentu dengan menambah pengawalan.


Hari ini Edel berkesempatan mendampingi suaminya meresmikan Kereta cepat baru dengan rute baru dari pusat kota menuju daerah pesisir Qo. Daerah pesisir Qo adalah salah satu daerah pariwisata terkenal di negara A.


Jarak antara pusat kota dan pesisir Qo yang biasa di tempuh dengan kendaraan mobil atau umum menghabiskan waktu 7 sampai 8 jam kini bisa menggunakan kereta cepat dengan hanya menghabiskan waktu dua jam saja. Ini akan sangat menguntungkan menambah wisatawan berkunjung ke sana. Menaikan perekonomian di sana.


"Kau bersemangat sekali hari ini," ujar Malik melihat istrinya dengan senyuman yang selalu menghiasi wajah cantiknya.


"Tentu saja, aku suka sekali naik kereta. Ini membuatku mengingat dulu," ujarnya tersenyum.


Malik memegang tangan Edel dan menepuknya lembut lalu mencium punggung tangan istrinya.


"Bukankah kata teman sekolahmu dulu jika kamu ke stasiun berarti lagi bad mood," tanya Malik mengingat perkataan teman Edel dulu ketika mereka bertemu di Citywalk Bandung.


Edel melirik Malik dan tersenyum. "Ya, sebagian memang benar tapi bukan karena itu saja. Aku senang naik kereta dan berada di stasiun melihat orang selalu tersenyum bergurau dengan teman-temannya berlalu lalang menaiki kereta, itu membuatku tersenyum dan mengubah moodku menjadi lebih baik."


Mereka telah sampai di stasiun kereta api pusat kota. Ini pertama kalinya Edel menginjakan kaki di stasiun kereta di negara A. Selama ini dia selalu masuk dan keluar mobil saja selama melaksanakan tugasnya. Makanya saat Malik mengajaknya mendampinginya mengunjungi pereian kereta cepat, dia langsung saja menyetujuinya tanpa berpikir lama.


Malik dan Edel disambut langsung oleh direktur utama perkeretaapian di negara A dan yang akan terus mendampingi Malik hingga acara selesai nanti.


Edel berubah menjadi seperti anak kecil yang terus mengikuti Malik kemanapun dia melangkah seakan takut tertinggal.


Setelah acara gunting pita, Malik dan Edel mencoba menaiki kereka cepat yang akan membawa mereka ke pesisir Qo.


Lama Edel terdiam hanya melihat keluar jendela, bukan karena dia sedang marah pada suaminya tapi karena Edel sedang menikmati pemandangan yang dilewati kereta cepat tersebut walaupun hanya sekilas saja.


perkebunan dan hamparan persawahan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang akan menggunakan kereta cepat tujuan daerah pesisir Qo. Kemudian berganti dengan pohon-pohon Pinus yang menjulang tinggi.


"Aku dikalahkan oleh kereta ini," ucap Malik lirih.


"Maksudnya?" tanya Edel melirik Malik dan kembali menatap ke luar jendela


"Kau lebih memilih memandang ke luar jendela dari pada melihatku yang berada di sampingmu," terangnya.


Edel terkekeh mendengar Malik merajuk. "Aku tidak mau melewatkan pemandangannya. Di luar indah sekali, sayang untuk dilewatkan. Aku bisa memandangmu semalaman penuh tapi melihat pemandangan ini yang hanya sekilas saja rasanya sayang dilewatkan begitu saja."


"Nikmatilah, Honey. Aku ingin kamu tidak melupakan kenangan ini dan menjadikannya kenangan yang selalu ada di ingatanmu," ucap Malik mesra.


Malik dan Edel berada di kursi penumpang hanya berdua saja. Mr. Husein dan para pengawal yang lain berada di kursi yang lain.


"Honey, kapan kamu pertama kali naik kereta?" tanya Malik penasaran karena jujur saja Malik pertama kali menaiki kereta saat dia sudah lulus dari high school itu pun karena mendampingi ayahnya melaksanakan tugas kerajaan.


"Saat SD dulu."


"SD?" mengernyitkan alisnya tidak mengerti.


"Oh, Elementary School. Aku naik kereta dari Bandung ke Jakarta bersama bunda dan Darren, saat itu bunda sengaja membawa kami naik kereta karena Darren bercerita jika temannya selalu di ajak naik kereta oleh orangtua mereka," ungkap Edel.


"Sejak itu aku menyukai kereta dan selalu ingin mengulang menaiki kereta."


"Malik, nanti kalau baby boy sudah agak besar, aku ingin mengajaknya juga menaiki kereta api," ujar Edel.


"Tentu, kita harus mengajaknya dan mengenalkannya padanya. Aku yakin dia juga akan sepertimu senang menaiki kereta," kata Malik.


"Honey, kapan terakhir kali kamu menaiki kereta?" Malik bertanya dengan sangat hati-hati.


Edel tampak berpikir, "Mungkin saat kuliah dulu."


Malik menelan salivanya, "Kuliah, kamu sering naik kereta dulu?"


"Tidak sering hanya beberapa kali. Terkadang juga aku hanya duduk-duduk di stasiun melihat orang berlalu-lalang," terangnya tanpa maksud apapun.


"Apa?!, ah maksudku kenapa kamu hanya duduk di stasiun?"


Ini kesempatan Malik untuk mencaritahu apakah Edel mengingat Shahmeer atau tidak.


"Terkadang aku bosan hanya berada di apartemen. Aku kesana untuk memperbaiki moodku," jawab Edel.


"Apakah ada kenangan atau kejadian yang lucu saat kamu di stasiun," tanya Malik.


"Ya, aku pernah bertemu dengan seseorang di sana," Edel melirik Malik dengan senyumnya.


*****


Hai hai hai, Selamat hari libur.


Bagi kalian yang silent readers, kasih like, komen dan rate dong buat author. kasih hadiah juga biar author lebih semangat lagi up nya. 🥰


Stay safe everyone. 🤗