He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 115



Sudah hampir tiga bulan Malik dan Edel menikah. Mereka semakin disibukan dengan berbagai urusan negara, namun Edel tidak mengeluh karena dia bahagia bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai kalangan dan belajar tidak hanya tentang berbagai urusan negara tapi juga belajar tentang hidup.


Tentang bagaimana seorang anak kecil bisa tersenyum sangat bahagia hanya karena bertemu dengannya padahal dia sendiri sedang melawan penyakit yang mematikan. Tentang bagaimana seorang pengawal rela kehujanan untuk melindungi tuannya agar tidak kena hujan.


Hari ini Malik dan Edel menghadiri sebuah event musik tahunan di negaranya. Banyak yang menunggu kehadiran pasangan muda itu karena tahun ini sang pangeran membawa sang istri untuk pertama kalinya.


"Tahun sebelumnya kamu menghadiri event ini dengan siapa?" tanya Edel penasaran, mereka sedang dalam perjalanan ke tempat tujuan.


"Tahun kemarin ... , kenapa memangnya?" Malik bertanya balik.


"Hanya ingin tahu."


"Dengan Azmy. Dia kebetulan mendapat undangan untuk datang, jadi kami datang bersama ke sana," terang Malik.


"Dia berkecimpung dalam musik juga kah?"


"Entahlah, aku tak begitu tahu tentang itu," kelaknya dengan raut wajah berusaha datar.


"Aku pikir yang diundang ke acara ini kalau bukan seorang publik figure pasti seorang yang berkecimpung dalam dunia musik. Jadi, Azmy termasuk yang mana?" tanyanya lagi.


"Aku ga tau honey, kenapa kamu bertanya terus tentangnya padaku," kata Malik mencubit hidung Edel.


"Beberapa hari yang lalu dia menghubungiku, dia berkata jika sebelumnya kamu selalu datang atau menghadiri event apapun dengannya," cetus Edel.


"Honey, aku menghadiri dengannya karena dia diundang, dia bilang tidak mempunyai teman untuk menemaninya jadi dia berinisiatif berangkat bersamaku," kelak Malik.


"Kalau saja dulu aku sudah bersamamu tentu aku akan mengajakmu menghadiri semua undangan," Edel nampak berpikir jika Malik memang selalu mengajaknya pergi ke setiap acara sejak mereka berhubungan dulu.


"Apa dia selalu menghubungimu, kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanyanya.


"Ya, terkadang. Buat apa aku bercerita hal yang tak penting padamu, kamu mempunyai banyak sekali urusan dan aku pikir aku hanya akan bercerita jika hal itu penting untuk diceritakan. Aku hanya ingin tahu saja apa kamu dulu yang selalu mengajaknya atau hanya kebetulan saja kalian bersama," terang Edel, Malik senang mendengar suara Edel yang terdengar cemburu.


Mr. Husein yang berada di samping driver mengawal mereka tersenyum mendengar perdebatan tuannya. Dia tahu bagaimana pangerannya sejak kecil, dia tahu jika pangerannya sangat menyayangi istrinya.


Mereka turun dari mobil, semua wartawan langsung mengambil gambar mereka. Malik tampil sempurna dengan setelan berwarna hitam berdasi kupu-kupu terlihat sangat formal, Edel juga tak kalah memukau dengan gaun hitam Lace dengan sepasang anting mutiara floral hoop drop dari Erdem dan memegang clutch hitam Jimmy cho.


Malik merangkul pinggang Edel membuat semua orang iri melihatnya, mereka berjalan menebar senyum menuju Royal box untuk menikmati kencan mewah mereka melupakan apa yang mereka perdebatkan tadi di perjalanan.


***


Weekend ini adalah yang paling ditunggu oleh Edel. Dia akan berkumpul dengan teman-temannya setelah sekian lama, teman baru tapi sudah seperti keluarga baginya. Mereka bertemu, berteman karena pasangan mereka bersahabat. Mereka akan bertemu di villa milik keluarga Xiever.


Kali ini hanya ada dia dan Kate karena Queenzha sudah kembali ke Jerman untuk pekerjaannya dan studinya.


"Ini pertama kalinya kita berkumpul kembali setelah anda menikah," ujar Kate terdengar sangat formal.


"Ayolah Kate, bicaralah seperti biasa padaku. Kau membuatku merasa seperti orang lain," keluh Edel.


Kate tertawa, "Baiklah Yang Mulia."


"Kate."


"Iya, hahaha ... , aku merindukanmu," ujarnya lalu memeluk Edel dengan erat.


"Aku juga merindukanmu, aku beberapa kali ingin bertemu denganmu hanya saja jadwalku sedikit padat," ujarnya.


"Sayang hanya kita berdua, Queenzha sedang menyelesaikan studinya. Oh ya bagaimana kehidupan istana apa seperti fairy tale?" Kate tertawa kecil.


"Kau, apa masih bolak-balik?".


"Ya, sampai kemarin pernikahanmu karena sekarang aku akan menemani suamiku di sini. Sekarang aku hanya tinggal di rumah, bekerja kalau ada yang memesan khusus padaku," Kate terlihat sangat bahagia lebih dari sebelumnya dan inilah pertama kalinya Edel mendengar Kate memanggil Deo dengan sebutan 'suamiku'.


"Ah, aku iri padamu," ujar Edel.


"Apa yang membuatmu iri, Honey?" suara Malik membuat Edel terkejut, dia tak menyangka jika Malik berada di dekatnya.


"Ku kira kau mengobrol dengan yang lain di sana."


"Ya, aku ke sini memberitahumu makanan sudah siap," Malik mengajak Edel dan Kate agar cepat bergabung dengan yang lain di halaman.


Hari ini para lelaki yang mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk memasak.


Entah kenapa Edel merasa Kate semakin mesra dengan Deo, tidak seperti biasanya yang selalu ketus ketika mereka mengobrol bahkan Kate sempat mengelus pipi Deo.


"Yang Mulia, kapan kau akan memberi kita ponakan," canda Ronald.


"Itu pertanyaan yang sulit ku jawab, doakan saja" jawab Edel.


"Kenapa, apa kalian belum melakukannya?" tanya Shahmeer to the point.


Malik memandang Edel, "Ya sulit ku jawab, karena aku kan ga tau kapan Allah akan memberi kita keturunan. Iya kan," memandang suaminya, meminta dukungan Malik.


"Ya, kau benar honey," ucap Malik mencium puncak kepala Edel.


"Tenang saja, kami akan memberimu ponakan secepatnya. Tunggulah 7 bulan lagi kau akan melihatnya," kata Deo merangkul Kate.


"Benarkah?" tanya Edel terkejut. "Selamat kate, kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi."


Kate tertawa kecil, wajahnya merona. "Aku tadi ingin memberitahumu tapi Pangeran Malik datang, jadi aku lupa," ujar Kate.


"Selamat ya, akhirnya ... ," Edel memeluk Kate yang duduk di sampingnya.


"Sebenarnya kami mengundang kalian ke sini ingin memberitahu jika sebentar lagi akan ada Deo junior atau Kate junior," ucap Deo.


"Selamat ya kawan," ucap Malik berdiri menjabat tangan deo, Mereka bergantian mengucapkan selamat pada Kate dan Deo.


"Hei, tolong jangan terlalu memperlihatkan kemesraan kalian. Kasian teman kita, dia sekarang seorang jomblo," ucapan Ronald membuat Malik tersentak.


Malik memegang tangan istrinya, "Kamu putus dengan Rachel, kapan?!" tanya Malik penasaran dengan suara tenang.


"Sekitar tiga minggu yang lalu, aku mendapatinya sedang bermesraan di apartemenku. Saat itu aku baru pulang dari Newyork menemani ayahku dan ya ... , mungkin dia tak menyangka aku akan pulang cepat," ungkapnya. "tenang saja, aku baik-baik saja. Aku bersyukur bisa terlepas dari dia," ujarnya lagi melirik Edel yang tertunduk.


"Aku bersyukur kamu putus dengannya. Sudah ku katakan aku pernah melihatnya beberapa kali di club' bersama pria lain, tapi kamu tak percaya padaku." gerutu Ronald.


"Bukan tak percaya, aku hanya sedang menunggu timing yang tepat."


Edel mengangkat kepalanya memandang Shahmeer yang sedang berbicara. Shahmeer memandang balik Edel membuatnya mengernyitkan alis. Malik semakin mengenggam tangan Edel seakan dia takut ditinggalkan istrinya.


*****


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


stay safe everyone ... . 🥰