He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 117



Malik meminta Putri Syahara menggantikan dirinya dan Edel ke pertandingan pekan olahraga karena Ia ingin berduaan dengan istrinya di rumah.


Walaupun bukan Pangeran Malik yang datang, pihak penyelenggara menyambut tamu istimewa dengan antusias. Mereka yakin Pangeran Malik mereka sedang berhalangan atau melakukan kegiatan yang lebih penting dari itu sehingga digantikan oleh Putri Syahara yang datang bersama suaminya Mr. Fredrik dan anak semata wayangnya Pangeran kecil Ammar.


Mereka berada di lapangan berbincang dengan pihak penyelenggara setelah selesai menonton.


Mr. Fredrik asik berbincang dengan Mr. Howard ketua panitia penyelenggara dan putri Syahara bermain lempar bola dengan pangeran Ammar yang ditemani beberapa panitia perempuan.


"Assalamu'alaikum, Halo Yang Mulia Putri Syahara. Apa kabar," sapa seorang gadis yang menghampirinya mengambilkan bola yang di lempar pangeran Ammar.


"Wa'alaikumsalam, oh ... , hai," jawab Putri Syahara tertegun sepersekian detik melihat Azmy yang menyapanya.


Mereka berdua berbincang sambil menemani pangeran Ammar bermain dengan pengasuhnya.


"Saya tidak menyangka anda yang ke sini untuk menghadiri acaranya, saya sangat senang dapat melihat anda," ujar Azmy membuka pembicaraan. Putri Syahara hanya tersenyum mendengarkan.


"Aku kira Yang Mulia Pangeran Malik lah yang akan datang menghadirinya," lanjutnya to the point.


"Iya, Pangeran Malik sedang berhalangan hadir jadi ku gantikan," jawabnya singkat.


"Apa dia sedang menemani Baginda, maaf aku menanyakan ini pada anda," ucapnya.


"Tidak, dia sedang menemani Putri Edelweiss, istrinya," jawab Putri Syahara dengan penekanan. dia tak habis pikir jika Azmy berani sekali menanyakan adiknya yang sudah menikah padanya.


"Apa Istri pangeran sedang hamil?" tanyanya. di balas senyuman tipis dari Syahara.


"Oh maaf, ku kira dia sedang hamil, biasanya seorang wanita jika bermanja ingin selalu ditemani suami ketika dia hamil," menekankan pada kata manja seolah dia ingin menghasut putri Syahara jika Edel benar-benar seorang yang manja.


Putri Syahara hanya tersenyum mendengar ocehan Azmy. Ya ampun, jika saja bukan di tempat umum dengan banyaknya kamera yang sedang memvideo, ingin rasanya aku mencubit bibirnya yang kurang ajar, gerutu putri Syahara dalam hati.


"Kasian Pangeran Malik jika istrinya selalu ingin bersama hingga dia harus membatalkan jadwalnya yang telah diatur hanya untuk menemaninya," ujarnya lagi.


"Tak ada salahnya jika mereka saling bermanja dengan pasangannya apalagi mereka suami istri yang masih bisa di bilang pengantin baru. Justru menurutku Edel bukan seorang yang manja dan pangeran kami begitu beruntung mendapatkan istri sepertinya, dia partner yang bagus dalam segala hal. Bahkan Baginda dan Ibunda Ratu pun sangat bangga dengannya," Putri Syahara tertawa kecil.


"Ya, Anda benar. Tentu saja," ucapnya dengan hati yang dongkol karena Putri Syahara tidak meladeninya dan membela Edelweiss.


Putri Syahara melirik Mr. Fredrick memberi kode agar dia memanggilnya tapi selalu gagal, membuatnya kesal.


"Kamu bersama siapa ke sini?" tanya putri Syahara.


"Sendiri," sahutnya tersenyum.


Untunglah asistennya datang memberitahu jika mereka harus segera berangkat dari sana untuk jadwal berikutnya.


Akhirnya, batin Syahara senang.


"Kami harus berangkat sekarang. Assalamu'alaikum," pamitnya langsung pergi mendekati anaknya yang sedang bermain.


"Wa'alaikumsalam," sahutnya mempersilahkan, Apa dia mencoba menghindari ku, pikir Azmy.


.


.


Syahara mencubit suaminya Mr. Fredrik ketika mereka sudah di dalam mobil.


"Awww, kenapa?" tanyanya heran merasa tak melakukan kesalahan apapun.


"Kenapa tadi kamu tidak menghampiriku dan mengajakku pergi?" ketusnya.


"Kapan?!" semakin bingung dengan pertanyaan yang diajukan Putri Syahara.


"Saat aku bersama Azmy, syukurlah Mrs. Denia segera mengabari jadwal berikutnya. Aku sungguh tak suka gadis itu, dia masih saja berusaha menanyakan adikku padahal pangeran Malik sudah menikah," kata Putri Syahara berbicara dalam satu nafas.


"Mendekati, maksudmu dia menyukai pangeran Malik?" tanyanya terkejut.


"Ya ampun kamu baru tahu jika Azmy menyukai Malik!" serunya.


***


Lama dia menghubungi tapi hanya kotak suara yang menjawab. Shahmeer menutup matanya menghembuskan nafas sembarang.


drrrttt ... , drrrrttt ... ,


Ponsel Shahmeer berbunyi, dilihatnya lalu tersenyum dan menerima telepon tersebut.


"Assalamu'alaikum," salam wanita diseberang telepon.


"Wa'alaikumsalam, lagi dimana?" tanyanya.


"Aku di rumah, ada apa Kakak menghubungiku?. Maaf aku baru melihatnya," ujar Azmy.


"Tadi dokter menghubungiku, memberitahu jika kamu melewatkan jadwal konsultasimu lagi," terangnya berusaha agar tetap tenang.


"Oh, hari ini temanku mengajakku melihat pertandingan pekan olahraga. Aku sedikit bosan jadi menerima ajakannya dan aku baru saja sampai rumah," kelaknya.


Shahmeer berusaha tenang walaupun pikirannya tak tenang mendengar Azmy beberapa kali melewatkan jadwal konsulnya, dia takut jika sakit traumanya kambuh lagi dan membuat keadaannya menjadi labil.


"Kakak bisa buatkan kembali janji temunya besok, aku akan pergi besok," rayunya.


"Baiklah, akan aku buatkan janji temu untukmu. Baik-baiklah di sana, diamlah di rumah jika urusanmu tak terlalu penting. beristirahatlah ... , aku mungkin akan pulang dalam beberapa hari," ucapnya membuat Azmy tertegun.


"Aku sudah besar kak, kalau kakak ada libur beristirahatlah jangan paksakan pulang ke sini. Kakak harus jaga kesehatan, aku tak mau nanti kakak kecapean hanya karena selalu mengkhawatirkan ku," ujarnya merajuk.


"Iya, baiklah, kamu beristirahat lah, assalamu'alaikum," pamit Shahmeer.


"Wa'alaikumsalam," sahutnya menutup teleponnya.


Azmy memandangi ponselnya, "Maafkan aku tapi aku harus mendapatkan pangeran kembali."


Sementara Shahmeer di tempat lain menerima beberapa foto yang dari pesuruhnya. Dia mengirim beberapa orang untuk melindungi dan memantau kegiatan adiknya tanpa sepengetahuannya.


Shahmeer mengusap wajahnya dengan satu tangannya mencoba menyingkirkan pikiran negatif tentang adiknya, mencoba percaya dengan yang adiknya katakan tadi di telepon.


"Sampai kapan kamu akan mengejarnya, sekarang dia sudah menikah," gumamnya lirih.


Dia sungguh tak menyangka jika adiknya terobsesi dengan temannya pangeran Malik. Ya obsesi, itulah yang dikatakan dokter spesialis yang sedang menangani adiknya. Trauma akan masa lalu yang melihat ibunya berselingkuh dan meninggalkan ayah serta anak-anaknya membuatnya tak bisa menerima jika orang yang diharapkan menjadi pendampingnya memilih wanita lain. Dia bahkan telah berani menyakiti dirinya sendiri dengan menyiramkan air kopi panas pada wajahnya sendiri.


Shahmeer mengambil kembali ponsel yang telah dia letakan di meja kerjanya dan menghubungi seseorang.


"Assalamu'alaikum, Ayah. Bisakah aku yang menangani pembangunan resort di Thailand," ujarnya.


"Kenapa tiba-tiba, bukankah dulu kau yang menolaknya," sergah ayahnya.


"Aku berubah pikiran, aku ingin ikut menangani resort itu. Aku sudah membaca semua berkasnya dan aku pikir sekarang aku sanggup menanganinya," mencoba meyakinkan ayahnya.


"Apa ada alasan lain?" tanya ayahnya mencoba mengorek alasan sesungguhnya.


"Tidak ada," ucapnya tegas.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan, akan aku atur agar kau yang menggantikan Mr. Carlos menangani resort itu, ingat kerjakan sebaik mungkin jangan kecewakan aku," tegasnya.


"Baik ayah. Terimakasih," ucapnya lalu menutup teleponnya.


Setidaknya Thailand dan negara A tidak terlalu jauh hingga aku bisa lebih sering lagi menjenguknya. batin Shahmeer yang masih mengkhawatirkan adiknya.


Shahmeer kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda dan membereskan semuanya secepatnya agar dia juga bisa secepatnya dipindahkan ke Thailand.


*****


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


stay safe everyone ... . 🥰