He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 175



"Aku tahu. Marcus membuatnya menjadi mirip dengan ibumu dan menjadikan dia tersangka menggantikan ibumu."


Membuat mirip, menggantikan, kata itu membuat kepala Shahmeer sedikit berdenyut sakit. Dia masih belum sepenuhnya bisa mencerna apa yang dikatakan oleh ayah temannya itu.


Shahmeer memijat pelipisnya pelan. "Maksud Anda dia menyuruh wanita lain melakukan operasi plastik mirip ibuku dan menukarnya, menggantikan ibuku di hukum?"


Mr. Witton mengangguk pelan, "Ya."


"Ah ... hahahaha ....," Shahmeer tertawa menertawakan apa yang dia pikirkan. "Anda pasti sedang bercanda."


"Benarkah?" kata Shahmeer pada akhirnya.


Shahmeer mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan Mrs. Shopia. Memang benar ada yang berbeda dengan Ibunya, dia hanya berbicara ketika menjawab pertanyaan tentang kabarnya saja itu pun hanya satu kata, dia lebih sering menunduk.


Tatapannya sangat berbeda dengan tatapan seorang ibu yang melihat anaknya, tatapan nya adalah tatapan seseorang yang terkejut melihat orang lain yang tidak pernah dia sangka akan berada di hadapannya, seperti tatapan orang asing.


"Kita harus mencegahnya keluar dari negara ini!" seru Shahmeer berdiri hendak pergi.


"Percuma saja kita menyusulnya sekarang. Sudah aku katakan, mereka sudah pergi meninggalkan negara ini. Biarkan saja!" sergah Mr. Witton.


"Bagaimana dengan acara besok lusa?" Shahmeer nampak khawatir, tetapi bukan mengkhawatirkan acara suksesi, dia mengkhawatirkan wanita pujaannya, Edel.


"Aku akan ikut menjaganya."


**


"Yang Mulia, apa kita tidak berlebihan membiarkannya bertindak seperti itu. Dia adalah terdakwa yang menyebabkan Pangeran Fatih dan istrinya meninggal," ucap Mr. Husein.


Malik tersenyum getir ke arah Mr. Husein. "Aku tahu, Mr. Husein. Aku tahu ...."


Malik memejamkan matanya menahan rasa yang menyeruak hendak keluar.


"Apa mereka sudah pergi?" tanyanya lagi.


"Sudah, Yang Mulia. Sekitar satu jam yang lalu. Yang Mulia ...." Mr. Husein memandang Malik.


"Aku tahu apa yang Anda pikirkan dan mau Anda katakan. Aku sudah mencari tahu tentang wanita pengganti itu. Itu adalah kesepakatan antara wanita itu dengan Diego Marcus, aku tidak bisa melakukan apapun dan kalau pun bisa, aku tidak mau membahayakan nyawa keluargaku," terang Malik lirih.


Inilah pertama kalinya Malik membuat kesepakatan yang sangat besar yang bertentangan dengan prinsipnya sendiri. Dia bersepakat dengan Diego Marcus untuk membantunya membebaskan Mrs. Shopia, dalang di balik kecelakaan yang menewaskan kakaknya sendiri.


Bukan tanpa sebab dia berani melakukan kesepakatan tersebut, karena taruhannya adalah nyawa Edel, istrinya. Marcus berpendapat jika Edel adalah orang yang telah membuat kekasihnya mendekam dipenjara setahun lamanya.


Mereka akhirnya bersepakat merencanakan penggantian Mrs. Shopia dengan seorang wanita yang telah marcus siapkan.


Mereka bahkan menyiapkan segalanya dengan sangat detail dari mulai sidik jari, pupil mata dan semua yang bisa mengidentifikasinya. Sehingga akan sulit membedakan keduanya kecuali orang yang sangat dekat dengan Mrs. Shopia yang bisa mengetahuinya.


"Yang Mulia, Mr. Witton telah mengetahui jika Marcus telah menukar Mrs. Shopia."


"Apa dia mengetahui jika kita membantunya?" tanya Malik.


"Tidak, dia hanya mengetahui Mrs. Shopia telah dibawa keluar oleh Diego Marcus dan meninggalkan negara ini."


"Ini adalah rahasia kita Mr. Husein. Sebaiknya kita tidak usah membahasnya lagi. Aku ingin Anda mengawasi langsung acara eksekusi nanti malam. Pastikan semua berjalan lancar. Jangan sampai ada celah orang meragukan wanita pengganti itu."


"Baik, Yang Mulia," ucap Mr. Husein yang telah merasa pangerannya berubah.


Mr. Husein pamit pada Malik, dia akan segera bergegas ke tempat eksekusi akan dilaksanakan. Melihat waktu yang sudah senja, pasti wanita itu sudah akan dibawa oleh petugas lapas ke tempat eksekusi.


Malik menghela nafas di kursinya, dia menatap kosong ke arah jendela memikirkan semua yang telah dia lakukan beberapa hari ini.


Rumor tentang para tetua yang menginginkan eksekusi Mrs. Shopia di percepat sudah Malik dengar beberapa Minggu terakhir. Juga tentang rencana Diego Marcus yang akan mengeluarkan Mrs. Shopia sebelum hari pengangkatan dirinya sudah dia dengar dari orang kepercayaan Mr. Husein.


Malik tidak menyangka jika eksekusinya telah disetujui ayahnya.


Malik memberi kabar kepada Shahmeer tentang eksekusi itu agar dia tahu jika ibunya telah keluar penjara tanpa harus dia berkata jujur. Malik percaya seorang anak akan langsung mengenali ibunya walaupun dia membencinya.


Wajah boleh sama, tetapi perasaan seorang anak kepada ibunya tentu akan bisa membedakannya. Itulah yang diyakini Malik ketika memberitahu Shahmeer dan meminta Mr. Husein untuk membantunya bertemu dengan Mrs. Shopia dan tanpa dia tahu, Shahmeer mengetahuinya dari Mr. Witton.


**


Seorang Pangerang diharuskan mempunyai rasa empati yang tinggi, namun juga diharuskan menjadi seorang aktor yang handal dalam menutupi perasaan gundah, gugup, sedih, kecewa yang sedang dia rasakan jika rasa itu menyangkut masalah pribadinya.


Malik tersenyum saat melihat istrinya yang sedang bercengkrama dengan keluarganya. Melepas rindu yang selama ini terpendam karena lama tidak berjumpa.


"Assalamu'alaikum," ucap Malik memberi salam dan bersalaman dengan Mr. Soe dan Mrs. Soe.


"Bagaimana kabarmu, Yang Mulia?" tanya Mr. Soe penuh hormat.


"Alhamdulillah baik, ayah. Bagaimana dengan Anda?"


"Alhamdulillah, baik," jawab Mr. Soe menelisik wajah menantunya yang terlihat lelah.


Malik berbincang sedikit dengan Mr. Soe sebelum dia pamit dan menghampiri istrinya.


"Honey, bisakah tolong aku menyiapkan bajuku," pintanya.


"Baiklah." Edel menurut langkah suaminya berjalan keluar ruangan menuju ke kamar mereka.


"Honey, aku akan pulang agak larut. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan," kata Malik.


Edel melihat jam yang bertengger cantik di dinding kamarnya. Sudah waktu makan malam, tetapi sepertinya suaminya tidak akan sempat untuk makan malam bersamanya malam ini.


"Apa kamu tidak akan makan malam bersama kami dahulu?" tanyanya.


"Aku akan makan malam di ruanganku saja nanti," jawabnya dari dalam kamar mandi.


Edel segera menyiapkan pakaian Malik dan menyimpannya di sofa dekat rak jam tangan milik Malik.


Dia mengambil beberapa buku dan membacanya sambil menunggu Malik keluar dari kamar mandi.


Matanya menatap buku yang sedang dipegangnya, tetapi pikirannya masih dipenuhi oleh perkataan Mrs. Harold tadi siang yang memberitahunya jika pelaku yang menewaskan kakak iparnya akan dieksekusi malam ini.


Haruskah aku menanyakannya. Bagaimana caranya aku bertanya?. pikir Edel.


"Honey, bisa tolong ambilkan handuk kecil. Aku lupa mengambilnya," pinta Malik dari dalam kamar mandi.


"Honey ...," panggilnya lagi.


"Honey ...." Tidak ada sahutan terdengar. Malik segera mengambil bathrobenya dan memakainya, dia lalu keluar dari kamar mandi.


Malik melihat Edel sedang asik membaca. "Honey, aku kira kamu di kamar."


"Honey ...." Malik mendekati Edel yang sedang membaca. Dia berdiri di samping istrinya untuk waktu yang lama.


Malik melihat halaman yang dibaca Edel tidak berganti, dia membaca sambil melamun.


"Apa yang sedang kamu lamunkan, honey?" tanya Malik, merangkul Edel dari belakang.


*****


Author akan memberimu rekomendasi novel yang sangat bagus setiap kali author up.


Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Pernikahan Kedua, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=1676533&\_language\=id&\_app\_id\=1