
Beberapa jam sebelum kejadian,
Wanita paruh baya menutup mulutnya lalu berjalan mundur beberapa langkah setelah melihat di monitor seorang pria muda tengah berdiri depan pintu nya dan terus menerus menekan bel agar dibukakan pintu.
Wanita itu menitikan air mata, dia tak percaya dengan yang dilihatnya. Dia berjalan ke arah pintu dengan perasaan yang tak menentu antara senang bisa melihatnya juga takut dengan yang akan terjadi.
Pelan tapi pasti wanita itu membukakan pintunya, dia memandang pria bertubuh tinggi di depannya dengan rasa rindu yang membuncah. Ingin rasanya dia langsung memeluknya erat, melepaskan rindu yang sepuluh tahun lebih dia pendam.
"Untuk apa kau datang menemui adikku?" tanya pria tinggi dengan suara yang membuat siapapun akan langsung bergetar takut.
Pertanyaan tadi membuyarkan pandangannya. "Bagaimana kabarmu nak'?" tanyanya dengan lembut.
"Ch ... , Apa kau mengenalku?" tanyanya tersenyum sinis.
Wanita itu hanya terdiam mendengar perkataan yang menguris kalbunya.
"Silahkan masuk, sebaiknya kita bicara di dalam," pinta wanita paruh baya itu setelah melihat tetangga sampingnya baru datang hendak masuk dan sempat melihat mereka yang bersitegang.
"Kita mengobrol di cafe bawah," ujar laki-laki bertubuh tinggi atletis dan meninggalkan wanita tadi yang masih memandangnya dari pintu.
Wanita paruh baya itu menarik nafas berat dan mengikuti si laki-laki muda masuk ke dalam lift menuju ke cafe bawah.
*
*
"Jangan temui adikku lagi, sudah cukup kamu membuatnya menderita selama ini. Jangan menambah penderitaannya!" ucap laki-laki tadi tegas.
"Menderita ... , aku membuatnya menderita?" ledeknya. "tanya padanya, apa dia menderita atau sedih selama beberapa Minggu ini saat bersamaku. Dia justru merasa senang mengobrol denganku".
"Ch, apa tujuanmu mendekati adikku?!".
"Tujuan?, apa salah jika seorang ibu menemui anaknya?" tanyanya.
"Anak?! tak malu kah kau mengakui dia anakmu setelah dengan teganya kau meninggalkan kami selama ini?!" tegasnya penuh amarah, "dan sekarang tiba-tiba kau datang berkata seperti itu, bukankah kau sendiri yang mengaku padanya sebagai baby sitter nya bukan ibunya!", cecarnya.
"Shahmeer!" wanita tadi menaikan nada bicaranya.
Shahmeer memandang dengan tajam wanita di depannya dengan wajah penuh amarah walaupun hatinya sangat sakit ketika melihatnya, teringat kembali kejadian lalu.
"Ch, Kau tahu setelah kau pergi Azmy masuk rumah sakit dan mendapat perawatan berbulan-bulan, bahkan sampai sekarang kejadian itu menyisakan trauma baginya. Jauhi dia, Jangan kau menemuinya lagi itu lebih baik buatnya!".
"Trauma, apa maksudmu?".
"Apa kau tak penasaran kenapa Azmy tidak mengenalimu sebagai ibunya?, itu karena kamu membuat luka yang sangat dalam hingga otaknya mengubur dalam-dalam tentang semua kejadian yang berhubungan denganmu!".
"Kau berbohong?!"
"Buat apa aku berbohong, bukankah kau sudah mendekatinya beberapa Minggu ini? harusnya kau tahu jika dia sedang dalam masa pemulihan dan sedang dalam pengawasan psikologi," suara Shahmeer yang dingin membuat wanita tadi membeku.
"Aku tahu, tapi itu tidak ada sangkut pautnya denganku, itu karena dia ditinggalkan oleh si pangeran demi wanita Mvrahan itu!" jawabnya tegas.
"Apa?. Ch ... , Aku pikir kau telah berubah menjadi lebih baik, tapi ku rasa aku salah lagi menilaimu. Tak kusangka sifatmu masih sama seperti ketika kau meninggalkan kami, kau sungguh tak tahu malu?!".
"Ibu?. Jika itu kamu lebih baik kami tidak punya ibu!" sahutnya.
"Kau tahu setelah kau meninggalkan kami, selama berbulan-bulan Azmy tidak berbicara pada siapapun hingga akhirnya kami mendatangkan psikolog dari negara lain untuk mengurusnya di rumah bersama nenekku karena aku harus menyelesaikan studiku," lanjutnya.
"Setahun kemudian dia baru mengenaliku sebagai kakaknya. Aku berusaha menjaga kondisinya tetap stabil dan aku sangat senang karena sejak saat itu dia kembali normal seperti gadis kebanyakan hingga suatu saat dia merasa terpukul dengan kenyataan jika orang yang dia harapkan lebih memilih orang lain, saat itu aku sadar jika traumanya masih membekas dan kambuh kembali. Kondisinya perlahan memburuk hingga harus ditangani lagi oleh psikolog. Dan saat dia bercerita tentangmu aku merasa ada yang aneh lalu mencari tahu jika kamulah temannya yang dia ceritakan selama ini padaku. Ku mohon jauhilah kami, jangan pernah kembali lagi. Itu jika kau benar-benar menyayanginya," pintanya.
"Aku akan tetap menemuinya, kau tidak bisa melarang seorang ibu menemui anaknya. Aku telah merencanakan suatu kejutan yang akan membuatnya senang. Ku yakin kau juga akan senang dengan rencanaku ini," jawabnya membujuk.
"Rencana? Hal gila apa lagi yang kau rencanakan?!" tanya Shahmeer mengernyitkan alis.
"Kau akan tahu sebentar lagi," ujarnya tersenyum penuh kemenangan.
"Aku telah menyewa seseorang untuk membereskan wanita Mvrahan yang telah merebut kekasihnya. Tenang saja mereka tidak akan bisa melacak kita walaupun dia seorang pangeran atau raja sekalipun!" ucapnya yakin.
"Apa, kau ... , apa yang kau lakukan pada Edel ?!" tanyanya, sorot matanya penuh amarah memandang wanita di depannya.
Wanita paruh baya itu tidak mengerti kenapa Shahmeer terlihat sangat marah. Shahmeer tiba-tiba berdiri,
"Tak akan ku biarkan kau menyentuh Edel walau sehelai rambutnya sekali pun," mencengkram baju wanita di hadapannya.
drrttt.. drrttt... ponsel wanita paruh baya tadi bergetar di atas meja. Dia melihat di layar siapa yang menghubunginya lalu tersenyum walaupun kerahnya masih dalam cengkraman Shahmeer.
Dia menerima panggilannya lalu tersenyum puas dan menyimpan kembali ponselnya.
"Kau ingin tahu apa yang kulakukan padanya, tunggulah sebentar lagi akan tahu," wanita itu menyeringai menunjuk tv yang ada di dalam cafe.
Shahmeer melepaskan cengkeramannya dan berbalik ke arah tv yang sedang dalam liputan khusus mengenai kecelakaan di daerah Dy yang melibatkan anggota kerajaan.
"Eternal flower," gumam Shahmeer tak mengalihkan pandangannya dari tv.
Si pembawa berita menyatakan jika mereka belum tahu siapa yang terlibat dalam kecelakaan tersebut yang menewaskan beberapa pengawal dan anggota keluarga kerajaan.
"Ternyata sia-sia saja aku meluangkan waktu berhargaku untuk menemuimu. Kau menang wanita j4lang tak tahu malu, tak akan ku biarkan adikku terseret karena perbuatanmu. Ingat, jauhi adikku atau kau benar-benar akan berurusan denganku. Ya kau memang ibu kandungku, Tapi siapa yang mau mempunyai seorang ibu yang kejam sepertimu!"
"Kau tahu, sekarang aku sedikit faham kenapa kami tidak bisa memiliki orang yang kami cintai dan harapkan. Mungkin inilah karma atas kesalahanmu yang harus kami tanggung. Kesalahanmu karena meninggalkan suami dan anak-anak mu!" ujarnya.
"Apa maksudmu?!".
"Wanita yang dipilih pangeran adalah gadis yang ku cintai. Ya dia adalah cinta pertamaku!" ucapnya berlalu meninggalkan wanita paruh baya tadi yang terdiam mendengar semua penuturan anaknya.
Shahmeer bergegas ke luar dan menelepon teman-temannya memastikan siapa anggota kerajaan yang terlibat dalam kecelakaan.
*****
Maaf kalau kurang menegangkan, banyak typo juga kalimat yang rancu 🙏.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰