He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 137



Edel mendampingi Malik kemana pun dia bergerak, berharap pesta segera berakhir.


"Yang Mulia, saya ke toilet sebentar," bisik Edel pada suaminya dan dibalas anggukan olehnya.


Edel berjalan ke arah toilet perempuan dengan didampingi beberapa pengawal.


"Miiitaaa ... ," panggilnya sedikit teriak kegirangan begitu membukakan pintu toilet, melihat wanita yang sedang mencuci tangannya di wastafel.


Wanita yang dipanggilannya langsung berbalik dan setengah berlari kearahnya. Mereka berpelukan sedikit menghentakkan kaki mereka bahagia karena bisa bertemu kembali.


Edel langsung mengedarkan pandangannya begitu sadar apa yang sedang dia lakukan.


"Ah, syukurlah hanya kita berdua di sini," ujarnya.


"Aku senang sekali, akhirnya bisa bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu kawan atau aku harus memanggilmu Yang Mulia Putri Edelweiss?" ujar Mita.


"Alhamdulillah aku baik, kau bisa memanggilku apapun yang kau mau kawan. Tadi aku melihatmu sedang mengobrol, ingin rasanya langsung berlari ke arahmu tapi Malik menyuruhku menunggu hingga acara selesai," terang Edel, dia tak menanyakan kabar temannya karena dia tahu Mita sangat sehat hingga bisa melakukan tugasnya di negara A.


"Kau melihatku?!" ulang Mita.


"Tentu saja, makanya aku langsung mengikutimu begitu tau kamu berjalan ke arah toilet," ungkapnya.


"Oh, aku begitu terharu," canda Mita tersenyum memegang dadanya. "apa kita akan terus mengobrol di sini?".


"Tunggulah sebentar lagi, aku masih ingin mengobrol banyak denganmu."


"Kenapa tidak mengobrol di luar saja!".


"Aku harus mendampingi Malik," jawabnya merengek.


"Ya ampun, aku di sapa oleh Yang Mulia Putri negara ini," ujar Mita sedikit berteriak tertawa kecil.


"Tertawalah sepuasmu!" jawab Edel kecut.


"Hahaha ... , kau lucu sekali tuan putri sampai air mataku keluar," ujar Mita menyeka air mata di sudut matanya.


"Kenapa kamu tidak bilang jika mau ke sini?" tanya Edel.


"Aku tak perlu bilang, suamimu pasti sudah tau kami ke sini," jawabnya sambil mengoleskan lipstik di bibirnya.


"Malik tidak bercerita jika kamu akan datang ke sini," mengingat-ingat apa Malik pernah bercerita soal Mita.


Mungkin dia ingin memberi kejutan untukku. pikirnya.


"Oh ya, kamu menginap di mana?" tanya Edel lagi.


"Hotel dulu kita pernah menginap, kau ingat saat Malik pertama kali mengantarkanmu pulang," Edel tersenyum mengingat kejadian dulu.


Mita tahu kenapa Edel menanyakan di mana dia menginap, itu mengisyaratkan Edel akan menemuinya.


Dia tak banyak berubah. batin Mita senang.


"Bagaimana kabar ponakanku?" tanya Mita membungkuk mencondongkan badannya di hadapan perut Edel.


"Alhamdulillah baik aunty," jawab Edel dengan suara anak kecil yang manja.


"Sobat kecil, jagalah mommy mu baik-baik jika dia ingin menghilang atau mengajakmu berjalan jauh ingatkan dia jika dia bukan gadis lagi dan harus menjagamu," Mita teringat kejadian dulu, Edel terkadang menghilang entah kemana ketika dia mulai suntuk atau mengajaknya berjalan kaki beberapa kilometer.


Edel menarik nafas berat, "Aku malah merindukannya, sejak menikah dengan Malik jangankan untuk menghilang, untuk berjalan kaki keluar istana aja tidak boleh dan sejak menjadi istrinya aku jadi tahu kalau lebih enak ketika kita berjalan sendiri atau bersama teman dibanding berjalan ditemani oleh para pengawal. Rasanya seperti orang-orang membawa pisau menunggu saat yang tepat untuk menikammu, ketakutan tanpa alasan!".


"Apa Malik tidak mencarimu, kita mengobrol dari tadi di sini," tanya Mita mengingatkan. sejujurnya Mita tak nyaman mengobrol di toilet, sudah beberapa wanita masuk dan melihatnya mengobrol dengan istri pangeran Malik. Mereka berlama-lama mencuci tangan mencuri dengar apa yang mereka obrolkan.


"Ah aku lupa," jawab Edel bergegas keluar.


Edel menarik pintu bersamaan dengan pengawal perempuannya juga mendorong pintu hendak masuk.


"Yang Mulia, anda baik-baik saja?" tanyanya karena hampir setengah jam Edel berada di kamar mandi.


"Ya aku baik-baik saja, aku bertemu temanku jadi kami mengobrol," terangnya dan tersadar jika dia tidak harus memberikan alasan rinci apa yang dia lakukan pada pengawalnya.


"Ah, maaf," ucap Edel singkat.


"Oh, pantas saja lama ternyata kalian sudah bertemu," Malik melihat Mita yang berjalan di belakang Edel.


"Assalamu'alaikum, apa kabar Yang Mulia. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan dan kebahagiaan untukmu," Mita memberi salam, membungkuk hormat.


"Aisshh ... kau formal sekali, tumben," bisik Edel ingin tertawa melihat temannya menyapa Malik.


"Ingat protokol!" sergah Mita berbisik.


"Baiklah, nanti aku kabari jika acara ini sudah selesai," kata Edel pamit lalu berjalan mendampingi Malik lagi, Malik menganggukkan kepalanya pamit pada Mita.


"Aku masih belum percaya kau meninggalkanku dan menjadi putri negara ini, kawan. Aku merindukanmu," gumam Mita lirih.


Satu jam kemudian, Malik pamit kepada Mr. Alex untuk meninggalkan acara terlebih dahulu. Edel begitu senang Malik mengerti jika dia mulai bosan dengan suasana pesta perayaan yang dihadirinya. Bukan bosan!, hanya ingin cepat meninggalkan acara agar bisa menemui temannya.


"Mit, kamu di mana?" tanya Edel.


"Aku masih di acara, ini belum selesai. Aku tidak bisa meninggalkan acara sebelum selesai sepertimu," jawab Mita di seberang telepon.


"Buatlah alasan agar kamu bisa pulang lebih awal!" ketus Edel yang mulai tidak sabar.


"Tunggulah setengah jam lagi, aku masih ada urusan, bye!" Mita menutup teleponnya.


"Halo Mita ... , dia menutup teleponnya. Apa dia tidak rindu padaku?!" rengek Edel.


"Dia ke acara untuk bekerja, honey. Bukan hanya untuk bersenang-senang, aku akan menemanimu menunggunya di hotel tempat dia menginap," bujuk Malik.


"Baiklah," mengerucutkan bibirnya.


Malik tersenyum melihat istrinya cemberut, sejak hamil emosi Edel tidak bisa diprediksi, emosinya cepat berubah dari bahagia ke cemberut.


Mereka menunggu di kamar yang Malik pesankan khusus.


"Kenapa kamu memesan kamar, memangnya mau menginap ya?" tanya Edel ketus.


"Memangnya kamu mau menunggu di lobi?" tanya Malik tersenyum.


"Kita kan bisa menunggu di kamarnya, tinggal meminta pihak hotel membuka pintunya."


"Lebih baik memesan saja, honey. Lagian malam ini kita akan menginap di sini saja jadi kamu bisa mengobrol bebas dengan temanmu. Honey, aku tidak mungkin meninggalkanmu pulang sendiri ke istana dan kamu sendirian di sini. Itu tidak bagus jika tercium pihak istana apalagi media," terang Malik.


"Yah, kau benar," lirih Edel.


"Terimakasih," ucapnya memeluk Malik.


"Hanya Terimakasih?" tanya Malik mengernyitkan dahi.


"Ehm ... ?".


"Honey, Bolehkah ... . Ya sekalian memanfaatkan waktu biar tidak terlalu bosan menunggu temanmu datang," rayu Malik, tangannya sudah berada di punggung Edel, hendak membuka resleting gaun yang dia kenakan.


"Aku lelah, sepertinya aku akan tidur sebentar," cepat melepaskan pelukannya, Edel tahu maksud Malik namun dia merasa badannya lelah.


"Baiklah," jawab Malik cemberut.


cup, Edel mengecup bibir Malik sekilas, "Jangan kesal, aku sedikit lelah hari ini."


Malik mengangguk, mencoba bersabar tidak mendapatkan apa yang dia inginkan malam itu.


Edel tersenyum dalam tidurnya, "Dia lucu sekali jika meminta seperti tadi."


*****


Terimakasih sudah mampir membaca. 🙏


Stay safe everyone. 🥰❤️