He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 34



"Tiketnya udah gue pesen ya, gue kirim ke email Lo," kata Mita.


"Thank you," ucap Edel.


"Jangan lupa laporan yang harus di kirim lusa ke Alice. Takutnya dia lupa," titah edel, memeriksa tiket yang Mita kirim di ponselnya.


"Oh iya, ini novel yang Lo tanyain kemarin. Buat apaan Lo bawa novel?" tanya Mita menyodorkan novelnya.


"Buat bacaan di pesawat, pasti bosan gue sendirian 17 jam lebih," rengek Edel mengambil novel yang disodorkan Mita dan memasukannya ke dalam totebagnya.


"Gue sih mau-mau aja ikut nemenin Lo, apa lagi buat jalan-jalan bukan buat kerja. Cuma masalahnya kerjaan Lo siapa yang ngehandle," ujar Mita, Edel cemberut mendengar perkataan Mita.


"Lo beneran sendiri aja ke bandaranya, mau gue antar ga?" tanyanya.


"Gue bawa mobil aja, lagian jadwalnya tengah malem. Kasian Lo kalau harus nganter gue, besok kan Lo harus pagi-pagi ke kantor terus ke Semarang lagi siangnya," sahut Edel.


"Iya sih ya. Besok padet banget jadwal gue, pa Ariq udah pergi kemarin ke Negara A. Kerjaan kantor di handle asisten pribadinya pa Ariq selama gue di Semarang, kasian dia ngehandle kerjaan beberapa orang. kenapa pada bentrok jadwalnya!" keluh Mita sedikit berteriak.


"Maafin gue ya, gue malah ngurus urusan pribadi dan kalian sibuk ngerjain kerjaan gue," merasa bersalah.


"Ga masalah, nyante aja toh kita dibayar buat kerja dan jangan lupa bonusnya gedean biar tambah semangat kita ngerjainnya," canda Mita.


"Bonusnya tar gue bawain salju Alpen!" seru Edel.


"Apaan, nguap di jalan!" cetus Mita memainkan bolpoin nya.


tok ... tok ... tok ...,


"Ya, masuk," jawab Edel melirik ke arah pintu, Alice masuk membawa tumpukan map berisi laporan.


"Taro di sini, Lice," kata Mita menepuk meja di depannya.


"Rajin bener Lo bawa laporan, penuh deh ni meja ma kertas," keluhnya lagi.


"Bu, dokumen yang dari Semarang sudah saya email ke Ibu. Orangnya nunggu," kata Alice.


"Ok, nanti aku langsung email dia aja. Makasi ya, Lice," ucap Mita.


"Baik, Bu. Saya permisi," pamit Alice meninggalkan ruangan Edel.


"Ade gue dah nyampe," kata Edel melihat pesan yang dikirim adiknya dan memperlihatkannya pada Mita.


"Jerman ma Swiss kan tetanggaan Del, Deket lah ga kaya dari sini ke sono," gumam Mita sambil memeriksa laporan yang di bawa Alice tadi.


"Udah jam tujuh lagi aja," keluh Mita.


"Lo berangkat jam berapa?" lanjutnya.


"Jam delapanan, gue ga mau terlalu lama nunggu di sana. Apalagi sendiri," keluh Edel.


"Awas Lo ketinggalan. Gue pesenin makan ya, setidaknya Lo harus makan dulu," kata Mita mengambil ponselnya dan memesan makanan.


Setengah jam kemudian mereka makan malam di kantor bertiga dengan Alice.


"Bu, jangan lupa bawa oleh-oleh ya," pinta Alice.


"Oleh-oleh apa, salju Alpen?"tanya Mita tertawa, dia mengulang perkataan edel membuat Alice sedikit cemberut.


Jam delapan, Mita pulang dengan Alice dan Edel berangkat ke bandara sendirian.


Butuh waktu hampir tiga jam dari Jakarta ke Bandara Soekarno Hatta. Dia menggunakan Emirate dengan jadwal keberangkatan pukul 00.45 WIB, dini hari.


"Ngantuk banget," gumam Edel meminum minumannya.


Dia melihat ponselnya, ada pesan dari Malik.


"Honey, hati-hati di jalan. See you"


Edel menghela nafas melihat pesannya dan memasukkan kembali ponselnya kedalam kantong duster coatnya tanpa membalas pesannya.


"Ya, ada apa," sahut Edel.


"Tidak, ini penerbangan pertamaku ke Eropa. Apa ini juga pertama buatmu?" tanyanya membuka percakapan. Edel hanya menjawabnya dengan senyuman.


Pria itu terus bercerita dan bertanya tentang banyak hal pada Edel. Betapa leganya dia ketika mendengar announcement.


Edel tertidur selama perjalanan. Dia harus transit di Dubai selama tiga jam yang dimanfaatkannya untuk shalat subuh, sarapan dan meregangkan badan berkeliling melihat souvernir di Bandara. Melanjutkan penerbangannya lagi pukul delapan lebih tiga puluh menit waktu Dubai dan tiba di Bandara Internasional Geneve Cointrin pukul satu lebih lima belas siang waktu setempat.


Edel merasa seperti penjelajah waktu karena perbedaan waktu Jakarta lebih cepat lima jam dibanding Swiss.


Dia bergegas mengambil bagasi dan mengambil tiket kereta dekat pintu keluar di tempat pengambilan bagasi dan melanjutkan perjalanannya dengan kereta ke stasiun Gare Cornavin yang hanya membutuhkan waktu lima menit. Dia sudah beberapa kali berlibur ke negara Swiss jadi perjalanannya tidak terlalu membuatnya bingung.


Keluar dari stasiun Gare Cornavin, dia melihat sang adik menunggunya. Senang rasanya melihat adiknya yang jarang sekali bertemu karena aktivitas masing-masing.


"Hai, tumben mau jemput!" ujar Edel menghampiri adiknya.


"Ditinggal nih, cepet masuk!" jawabnya ketus.


"Ketus amat!" seru Edel memeluk adik kesayangannya.


Dari sana mereka menuju ke restoran untuk bertemu dengan orangtua mereka yang telah menunggunya.


"Assalamu'alaikum," sapa Edel begitu melihat bundanya sedang mengobrol dengan Mrs. Ommar.


"Hai sayang, pasti lelah banget ya," sahut Mrs. Soe.


"Ya, begitulah," kata Edel lemah memeluk dan mencium pipi bundanya.


"Apa kabar Tante?" sapa Edel menghampiri Mrs. Ommar juga memeluk dan mencium pipi kanan kirinya.


"Gimana perjalananmu, melelahkan ya?" tanya Mrs. Ommar.


"Sedikit Tante," jawab Edel tersenyum.


"Beristirahatlah dulu," titah Mrs. Soe dan menyuruh Darren mengantarkan kakaknya ke rumah untuk beristirahat.


"Mana ayah?" tanya Edel melihat sekeliling tidak menemukan sosoknya.


"Sedang jalan-jalan dengan Om Hamzah," sahut Mrs. Soe.


"Om Ommar dateng?" tanya Edel lagi.


"Tentu dia dateng, kalau engak nanti Tante buat perhitungan sebulan," tertawa sambil melirik kode pada Mrs. Soe disambut tawa yang tidak dimengerti Edel.


"Cepatlah, kak!" seru Darren adiknya. mereka pulang beristirahat.


Edel memeriksa ponselnya sebelum tertidur. ada beberapa pesan masuk dari Malik,


"Hari ini menemani ayahku, jangan lupa pakai jaket. udaranya cukup dingin"


Keesokan harinya, pagi-pagi waktu setempat mereka sudah disibukkan dengan persiapan pembukaan restoran. Restorannya menyajikan makanan khas Indonesia karena Mrs. Soe maupun Mrs. Ommar adalah orang Indonesia.


Pembukaan dimulai pukul sepuluh waktu setempat. Begitu banyak pengunjung hingga tak terasa sudah menjelang sore dan makanan yang disajikan sudah habis.


"Ah, aku lelah sekali," gumam Edel mendekati bundanya yang sedang membersihkan meja.


"Biar aku yang bersihkan," lanjutnya.


Edel dan Darren juga Emily anaknya Mrs. Ommar membersihkan meja-meja dan kursi. Darren menyemprotkan air ke arah Emilly.


"Ih jail banget!" geram Emilly memukul lengan Darren. Emilly seusia Darren dan kuliah di Prancis.


Mereka tertawa melihat kejahilannya Darren. Edel pun tak luput dari semprotan Darren, akhirnya mereka bertiga berkejaran saling menyemprotkan air seperti anak kecil.


Pintu restoran terbuka, masuklah beberapa orang. Tapi tidak disadari oleh mereka bertiga yang sedang berperang air. Edel berlari dan menyemprotkan air ke arah Darren, tetapi ....