He'S A Prince

He'S A Prince
Tempat Wisata Bali



"Aku senang bisa menonton pertunjukan denganmu," bisik Malik yang membuat Edel tertegun sekejap dan menatap Malik lalu tersenyum mengiyakan.


Penonton hampir memenuhi semua tempat, mereka sangat antusias menyaksikan pertunjukan tari tradisional Bali. Banyak yang mengabadikannya. Mita juga tak ketinggalan, ia siap dengan kamera yang selalu dibawanya selama di Bali.


Diawali dengan menyaksikan pertunjukan Barong, menceritakan tentang perseteruan pada kebajikan yang disimbolkan dengan barong dan kejahatan yang dilukiskan dengan sosok rangda.


"Tarian ini seperti yang dari China, barongsai," ujar Malik.


"Enak saja, tentu saja bukan!" kata mereka kompak.


"Tarian ini asli Bali," kelakar Mita penuh keyakinan.


"Tari ini sudah turun temurun jauh sebelum agama Hindu masuk Indonesia," Edel menjelaskan tarian sesuai dengan buku yang ia dapat dari panitia pertunjukkan.


Penonton amat riuh dan bertepuk tangan keras ketika tarian Barong selesai dan dilanjutkan dengan tari Kecak.


Inilah tarian yang ditunggu-tunggu oleh para penonton. Tarian ciptaan Wayan Limbak dan Walter Spies ini sangatlah unik jumlah penari bisa mencapai puluhan orang bahkan lebih, menceritakan tentang epic Ramayana.


"Kenapa mereka selalu teriak 'cak, cak'?" Malik penasaran


"Bacalah bukunya!" kata Edel ketus.


Malik terus menerus bertanya mengganggunya menonton dan tidak mau membaca buku yang diberikan panitia. Namun, sepertinya Malik lebih senang mengganggu Edel, dia terus bertanya walau pun Edel sudah marah-marah.


"Kau mau ikut menari ke bawah," ajaknya melihat Edel yang cemberut.


"Engak! kamu aja sendiri. Sana!" seru Edel kesal.


Malik berdiri menuruni tangga, dia ikut menari bersama penari wayangnya. Tidak hanya Malik beberapa turis lain pun ada yang ikut menari.


"Dia berani sekali," gumam Edel melihat Malik menari mengikuti penari yang lain.


Malik berlari ke arah Edel dan menarik tangannya, sedikit memaksanya untuk ikut menari.


Walaupun awalnya kesal tapi lama kelamaan dia mengikuti tariannya. Mita pun turun memotret memvideokan mereka yang asik menari, tertawa melihat Malik seperti robot ketika menari.


Mereka kembali ke tempat duduknya.


"Terima kasih telah mengajakku," ucap Edel dibalas senyuman yang sangat manis oleh Malik.


Malik memegang tangan kiri Edel. menepuk-nepuknya dan menciumnya. Edel tersenyum wajahnya merona malu merasa sedang dilihat banyak orang, padahal orang-orang lebih tertarik melihat tarian dari pada melihat mereka, hahahaha....


"Ayo kita cari restoran," kata Edel yang merasa lapar setelah ikut serta menari.


"Kita cari yang deket kerajinan perak aja biar sekalian," kata Mita tak sabar.


Desa Celuk merupakan sentra pengrajin emas dan perak yang terkenal, banyak wisatawan berburu kerajinan tersebut di sini. Harganya juga dari puluhan ribu hingga jutaan bahkan ada yang mencapai ratusan juta tentunya tergantung tingkat kerumitan dan design.


Mereka berangkat ke tempat pengrajin emas dan perak. Sepanjang jalan berjejer artshop, hampir semua memajang dan menjual kerajinan emas dan perak.


"Turun sini aja kita jalan," ujar Mita, dia sangat menyukai dan banyak mengoleksi kerajinan dari perak.


"Aku mau beli buat Ibuku," lanjutnya.


Edel setuju dengan usul Mita, mereka bergegas keluar dari mobil travel. Mereka berjalan bergandengan memasuki satu toko ke toko yang lain. Malik setia mengikuti para gadis yang berjalan di depannya.


Malik menggunakan topi jenis dad hat dan kacamata Louis Vuitton agar tidak terlalu banyak yang mengenalinya. Dia biasa di kerumuni banyak wanita dari yang muda hingga tua, tapi gadis yang dicintainya tidak terbiasa dengan itu semua. Dia berusaha melindunginya dengan caranya.


Melihat para gadis sibuk memilih kerajinan yang akan dijadikan oleh-oleh mereka membuat Malik tertarik ikut melihat berbagai macam kerajinan perak dan emas mulai dari cincin, gelang, anting, kalung, liontin dan Bros juga ada, patung-patung, dan bentuk-bentuk lain yang sangat memukau.


Mita sedang memilih bros-bros kecil yang sangat indah desainnya. Edel sedang melihat-lihat gelang dengan berbagai desain dan ukuran.


Malik melihat gelangnya meliuk-liuk membentuk rangkaian bunga, ada juga gelang bracelet perak dengan banyak ukiran. Malik mengambil satu gelang platinum dan memakaikannya pada tangan Edel.


"Cantik," menggoyangkannya ke kiri dan kanan, lalu melepasnya lagi dan mengganti dengan gelang yang lain. Edel menaikkan sebelah alisnya melihat Malik.


"Aku ambil ini," katanya pada karyawan toko menunjuk gelang yang dipakai Edel dan tidak melepaskannya lagi.


"Aku tidak bisa menerimanya," kata Edel melepas gelangnya dan memberikannya pada Malik.


"Tolong bungkus yang cantik," Malik memberikan gelangnya pada karyawan toko dan membayarnya. Dia menyimpannya di kantongnya.


"Ini bagus ga?" kata Mita menunjukkan Bros pada Edel.


"Bagus, cocok untuk kerudung Ibumu atau di kebaya beliau," ujar Edel.


Mita memilih beberapa Bros lagi untuk Ibunya. Ibunya mengoleksi banyak Bros, Edel membeli gelang dan Bros juga untuk Bundanya.


Mereka menenteng banyak paper bag dan menaruhnya di mobil travel yang mengikuti mereka. Mr. Husein hanya tersenyum melihat belanjaan mereka, dia tahu belanjaan itu dibeli mereka sendiri bukan dari Malik. Tak terasa waktu berlalu begitu saja.


Setelah puas berjalan dan melihat kerajinan emas dan perak mereka mengunjungi Bali zoo.


Bali zoo merupakan tempat konservasi satwa liar yang memiliki koleksi hewan tropis yang eksotis dan beberapa hewan-hewan langka.


Karena Mr. Husein yang membeli tiket, Edel dan Mita pun dibelikan tiket wisatawan internasional.


"Ayo kita minum dulu, aku agak haus," ajak Malik, dia ingin istirahat sebentar. Dia agak lelah setelah mengikuti para gadis berjalan memasuki hampir semua toko kerajinan sepanjang jalan desa Celuk.


Mereka memasuki WANA Restouran lounge Bar yang berada sebelah kiri pintu gerbang masuk. Mereka duduk dekat jendela kaca yang besar.


"Bukankah kita bawa air mineral," kata Edel mengeluarkan botol air mineralnya dari Tote bag nya


"Istirahatlah dulu sebentar saja," bujuk Malik.


"Kasian beliau sudah tidak muda lagi mengikuti kalian berjalan dari satu toko ke toko lain," menunjuk dengan matanya ke arah Mr. Husein yang sedang duduk tak jauh dari meja mereka yang di balas dengan anggukan.


"Aaarrgghh," teriak Malik kaget melihat seekor singa melewatinya, dia tersedak minuman yang sedang diminumnya dan sedikit tumpah di meja.


Edel dan Mita sontak tertawa berbarengan.


"Kau lucu sekali, kamu takut singa? tenang saja dia ga akan menerkammu terhalang jendela," Edel mengetuk-ngetuk jendela kaca di sampingnya.


"Aku hanya kaget saja, aku kira tidak akan ada binatang yang lewat," kilah Malik masih sedikit batuk-batuk karena tersedak.


Mereka berjalan ke arah elephant ride start poin. Mereka mengendarai gajah, tentu saja mereka hanya duduk manis di belakang menikmati keindahan hutan buatan dari atas punggung gajah.


Setelah puas melihat keindahan hutan mereka memasuki zoovenirs di dekat klinik hewan. Bangunan itu lebih mirip rumah Hanoi dengan beratapkan alang-alang.


Para gadis sepertinya sama sekali tidak merasakan cape ataupun lelah. Mereka sangat bersemangat berkeliling. Setelah puas berkeliling, mereka berjalan ke pintu keluar di Elephant Views Restouran.


"Sekarang kita kemana?" tanya Mita bersemangat sambil melihat foto-foto yang telah diambilnya.


Edel mencari tempat wisata dekat bandara di Mbah Google.


"Ada pantai Kuta, kita bisa liat sunset di sana, terus, pasar seni kalau mau beli oleh-oleh lagi. terus Upside Down World Bali buat foto-foto, jadi kemana?" tanyanya menscroll layar ponselnya.


"Upside Down World aja abis itu baru ke Kuta, kita ngambil penerbangan malem aja kalau ga keburu besok pagi. gimana?" bujuk Mita.


"Ok, kamu mau ikut. Kamu ga harus pulang buru-buru kan?" tanya Edel berharap bisa lebih lama dengannya.