
Dalam temaram lampu kamar, pria muda dengan tubuh kekar berjambang tipis mengeluarkan sebuah foto lama yang terselip dalam saku dompetnya, raut wajahnya terlihat sendu melihat foto tersebut.
Foto seorang gadis menggunakan masker sedang duduk di antara lemari buku sebuah perpustakaan. Foto tersebut tampak dari kejauhan seakan diambil secara ilegal oleh pria itu.
Pria tadi hanya terdiam memandangi foto yang dia pegang.
Delapan tahun sudah Ia memendam perasaan cintanya pada gadis dalam foto tersebut. Walaupun dalam delapan tahun itu Ia beberapa kali berganti pasangan dan sekarang pun sedang berhubungan dengan seorang wanita, tapi tempat gadis dalam foto itu tak pernah tergantikan. Dia mempunyai tempat sendiri dalam ruang hatinya.
"Apa aku harus merelakanmu atau memperjuangkanmu?" gumamnya.
***
Jumat malam, Malik telah berada di lobi kantor menjemput kekasihnya yang sedang bekerja lembur. Sebelumnya dia telah menanyakan keberadaannya lewat telepon dan kekasihnya memberitahu bahwa dia akan bekerja lembur menyelesaikan beberapa dokumen.
Satpam kantor Edel sudah tahu jika Malik adalah kekasihnya dan mempersilahkan dia untuk langsung naik ke kantor.
tok ... tok ... , suara ketokan pintu terdengar.
"Ya, masuk," Malik tersenyum mendengar suara yang sangat dia rindukan.
Malik membukakan pintu, "Assalamualaikum," salamnya melihat Edel sedang fokus depan laptopnya, Mita fokus dengan tabnya juga Alice mengetik sesuatu di laptopnya. Malik juga melihat tumpukan dokumen dan lembaran-lembaran yang menurutnya berserakan di meja.
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka berbarengan tanpa melihat siapa yang masuk.
"Apa pekerjaan kalian masih banyak?" tanyanya menghampiri mereka yang duduk di sofa.
"Ya, lumayan," sahut Edel tanpa melihat Malik, dia ingin cepat selesai dengan pekerjaannya agar bisa pulang dengan kekasihnya.
Malik meminta Edel bergeser agar ia bisa duduk di sebelahnya dan menemaninya bekerja.
"Kau sendiri ke sini, mana Mr. Husein dan pengawalmu?" tanya Edel tanpa melihat kekasihnya.
"Aku diantar sampai depan oleh utusan kedutaan. Mr. Husein tidak ikut, beliau sedang sibuk dan pengawalku ada di depan pintumu bergabung dengan yang lain."
"Yang Mulia Pangeran, bolehkah aku berfoto denganmu," pinta Alice.
Malik memandang Edel menunggu persetujuannya, dia merasa tidak enak jika kekasihnya belum mengiyakan.
"Foto aja, aku ga akan cemburu. Alice udah menikah dan punya anak kembar yang sangat menggemaskan," ungkapnya.
"Jadi kalo gw yang minta foto Lo bakalan cemburu?" cetus Mita melirik teman sekaligus atasannya.
"Oh, Lo juga mau foto?, foto aja ga apa-apa," Mita tersenyum mendengar Edel yang berubah menjadi ketus.
Malik merangkul bahu Edel tapi di tepis olehnya. "Kau membuatku gemas," ujar Malik mencubit hidung edel.
"Kau sudah makan?, aku lapar," bisik Malik yang membuat Edel memelotinya sambil menutup telinganya geli.
"Kau belum makan?!, biar aku pesankan. Apa kalian mau makan juga?" tanyanya pada yang lain. "kita pesan pizza aja kali ya," Edel langsung memesan tanpa menunggu jawaban dari yang ditanyanya.
Pukul setengah sebelas mereka baru selesai dengan semua dokumennya. Mita dan Alice berpamitan pulang, mereka akan pulang bersama menggunakan mobil Alice.
"Ayo," ajak Edel mengaitkan tangannya di lengan Malik. "aku merindukanmu."
Malik tersenyum mendengar perkataan Edel, dia mengusap tangan Edel yang dikaitkan di lengannya.
Sesuai rencana, Jumat pagi mereka pergi ke Bandung melihat beberapa tempat yang akan mereka gunakan untuk pernikahan nanti.
"Hari ini harus sudah dapat!" kata Mr. Soe tegas. Dia tak mau membuang waktu karena waktu pernikahan semakin mepet dan calon mantunya tidak bisa berlama-lama di Indonesia.
Mereka tiba di Bandung pukul 9 dan langsung melihat beberapa gedung dan ballroom untuk pernikahan. Malik hanya mengikuti menemani ayah mertuanya, dia tahu jika Mr. Soe menginginkan yang terbaik untuk putri satu-satunya karena adiknya kan laki-laki.
Akhirnya mereka menetapkan dan membooking tempat di salah satu hotel bintang 6 kawasan Bandung daerah Gatot Subroto, lalu shalat Jumat di mesjid kawasan hotel. Sedangkan Edel dan Mrs. Soe berkeliling berburu kuliner di mall yang masih satu kawasan dengan hotel.
Banyak orang yang ingin berfoto dengan Edel, karena sejak pengumuman itu kehidupan Edel menjadi topik hangat yang viral dan disiarkan hampir tiap hari di seluruh stasiun televisi dan media sosial.
***
"Selamat datang di rumah kami," ujar Mrs. Soe pada calon mantunya saat tiba di sebuah villa daerah lembang.
"Hhhaaahh ... , di sini lumayan dingin," ujar Malik menggosok telapak tangannya dan meniupnya.
"Pakailah jaketmu!" titah Edel. "kau mau keluar berkeliling atau ayo keluar mencari jajanan," menarik lengan Malik agar mengikutinya keluar.
"Sebentar aku ambil jaket dulu, aku kedinginan," ujarnya berlari menaiki tangga, meninggalkan Edel berdiri di depan pintu masuk.
Para pengawal sudah bersiap mengikuti mereka kemanapun mereka pergi tapi malik menyuruh mereka untuk tidak mengawalnya, dia ingin berjalan berdua dengan kekasihnya.
"Malik, apa kamu bisa naik motor?" tanya Edel yang di jawab anggukan. " kalau begitu kita pakai motor saja biar cepat."
"Pakai motor siapa, bukankah kita ke sini pakai mobil," kata Malik.
"Ada ko di garasi, biasa di pake mang usep jika mau ke pasar nganter bi Tini," jawabnya. "Ayo."
Edel menarik tangan Malik agar dia mengikutinya ke samping rumah.
"pak ... , pak Usep ... ," yang di panggil tak kunjung nyahut.
"Ada apa non, pa Usep lagi ke depan sebentar. Non butuh sesuatu?" tanya bi Tini.
"Bi, kunci motor di mana?, aku mau berkeliling sebentar pake motor biar cepet," ujarnya, padahal Edel sudah merencanakan sebelumnya jika ia ingin berboncengan dengan kekasihnya. 😂😂
"Biasanya ngengantung di garasi non, ayo bibi ambilin," kata bi Tini berjalan ke arah garasi.
"Makasi bi, bilang sama pak Usep motornya aku pake ya juga kalau bunda sama ayah nyari, bilang aja aku lagi keliling ma Malik pake motor."
"Baik non," sahutnya lalu kembali ke dapur menyiapkan makan malam.
"Ini motornya?" tanya Malik yang heran melihat motor yang ditunjukan Edel ternyata motor matic.
"Kenapa? ku kira di negaramu juga ada kali motor matic kaya gini!" ketus Edel.
"Iya memang ada, hanya ku kira kita akan pake motor yang lain."
"Udah pake yang ada aja, ayo," Edel menyerahkan helm pada Malik.
"Ini punya siapa?" tanyanya, Edel mungkin ingin melupakan dia yang seorang pangeran. yang tidak biasa memakai barang orang lain apalagi ini helm.
"Punya Darren, pakai aja bersih ko," titahnya yang mulai geram melihat raut wajah Malik antara bingung ingin nolak tapi takut Edel marah jika dia menolaknya. Akhirnya dia mengalah dan memakai helmnya.
"Biar aku yang bawa, lama banget mikirnya" ujar Edel karena Malik hanya mematung melihat motor di depannya.
"Aku aja," sahutnya kemudian menaiki motor dan menyuruh Edel cepat naik.
"Pegangan biar ga jatuh," menarik tangan Edel dan melingkarkan ya di pinggangnya.
"Aku ga akan jatuh selama kamu bisa mengendarai motornya dengan benar!".
"Jadi kita mau kemana?" tanyanya yang masih belum juga menyalakan motor.
"Udah jalan aja nanti aku kasih tahu jalannya," ujar Edel yang sudah geram dengan kekasihnya.
Mereka menaiki motor melewati banyak penjual tanaman dari mulai tanaman hias hingga pohon buah-buahan di daerah cihideng menuju ke arah terminal ledeng depan pintu atas UPI Bandung.
"Kita mau kemana?" kata Malik sedikit berteriak setelah melewati pintu utama UPI.
"Jalan aja, nanti aku kasih tahu jalannya!" ujar Edel, rasanya hangat memeluk Malik dari belakang dan sesekali Malik memegang tangan Edel.
"Pegang setirnya, sebentar lagi aku mau nikah, aku ga mau nikah di rumah sakit," candanya membuat Malik tertawa, ingin sekali dia mencubit pipi Edel karena gemas.
*****
Terima kasih sudah membaca 🥰🥰, jangan lupa like dan komen juga jadikan novelku salah satu bacaan favoritmu ❤️.
kasih rate juga ya ⭐⭐⭐⭐⭐ 😉🙏
Tetap sehat semuanya ... .