
Deo memandang tubuh Kate, lingerie putih yang dipakainya menampakan lekukan tubuh nya, Deo menyunggingkan senyuman dalam tidurnya, "Perjanjian, siapa yang peduli dengan perjanjian?!" gumamnya tersenyum.
Selesai mandi dan berpakaian, Kate membangunkan Deo agar segera bersiap untuk sarapan yang terlambat.
"Ayo bangun, jangan lelet! orangtua kita sudah nunggu di bawah dari tadi!" seru Kate menarik selimut yang menutupi tubuh Deo lalu berusaha melipatnya.
Deo yang sedari tadi memang hanya berpura-pura tidur agar bisa melihat tubuh Kate sehabis mandi hanya tersenyum menuruti semua perintah istrinya.
Ya, pernikahan mereka memang sebatas perjanjian bisnis dua perusahaan besar tapi pernikahan tetaplah pernikahan yang sangat sakral di mata Deo. Dia akan berusaha yang terbaik untuk pernikahannya walaupun dihatinya hanya ada Letisya, dia akan memperlakukan Kate selayaknya seorang istri.
***
Keluarga besar Ettan Xiever dan keluarga besar Urdha berada di bawah untuk sarapan begitu pula dengan Mr dan Mrs. Soe juga Mr. dan Mrs. Ommar.
Para sahabat Deo dan pasangannya berada dalam satu meja makan. Ronald tak berani menatap Edel, dia masih merasa canggung dengan kejadian semalam yang membuatnya di cecar oleh Malik. Berbeda dengan Shahmeer yang selalu mencuri pandang melihat Edel.
Malik tidak menceritakan padanya jika dalang di balik kejadian semalam adalah teman-temannya, dia takut membuat Edel canggung jika berhadapan dengan mereka.
"Kau akan langsung pulang ke Jerman?" tanya Edel terkejut.
"Ya, aku terlalu lama meninggalkan pekerjaanku juga kuliahku," jawabnya. "Tenang saja aku akan berada di sampingmu saat kau menikah nanti," ujarnya membuat Edel merona.
"Ehhhmmm, Aku akan merindukanmu," ucapnya melihat wajah temannya. "apa kau akan pulang bersama Ronald?".
Ronald yang mendengar namanya disebut oleh Edel merasa salah tingkah. "te-tentu saja aku akan mengantarnya," jawabnya cepat lalu merangkul kekasihnya.
Malik tersenyum mendengar suara Ronald yang canggung saat berbicara dengan kekasihnya, Hanya badannya saja yang besar dan berotot tapi menjadi ciut jika berhadapan dengan Malik.
Mereka tengah asik sarapan dan mengobrol ketika sepasang pengantin baru datang menghampiri mereka.
Semua yang berada di sana melihat ke arah Deo yang selalu mengandeng Kate kemana pun dia pergi. Keduanya sukses menjadi sepasang pengantin baru yang membuat semua orang terkesima melihat kemesraan mereka.
Deo dan Kate duduk diantara orangtua mereka.
"Kate, sudah di buka hadiah dari mama?" tanya Mrs. Xiever
"Sudah Bu," sahutnya tersenyum sangat manis membuat Deo mulai tertarik lebih dengan istrinya.
"Dipakai ga semalam?" tanyanya penasaran yang dibalas Kate dengan senyuman.
"Memang mama ngasih apa?" tanya Deo yang mendengarkan percakapan mereka.
"Mau tau aja urusan perempuan," jawab Mrs. Xiever tertawa kecil.
Ga mungkin aku pake lingerie yang model begitu. batin kate teringat hadiah dari mama mertuanya.
"Ingat, tak usah menunda. Kami semua ingin cepat mendapatkan cucu," cetus Mr. Urdha.
"Ya, Anda benar. Apalagi Deo anak lelaki satu-satunya di keluarga kami," timpal Mr. Ettan Xiever.
Gimana mo hamil, nyentuh dikit aja udah kaya ngebangunin singa yang tidur kelaparan. batin Deo terkekeh.
"Tentu, kami ga akan menundanya. Doakan saja," ujarnya melirik Kate yang fokus makan. Kate malas mendengarkan jika berhubungan soal anak.
Selesai acara sarapan bersama, Deo dan Kate bergabung dengan teman-temannya. Mereka harus menampakan kemesraan pengantin baru agar teman-teman Deo tidak curiga jika pernikahan mereka hanya sebatas perjanjian.
Di mata Edel dan Queenzha, Deo seorang yang sangat romantis. Dia selalu merangkul pinggang Kate ketika berjalan, selalu memandang mesra istrinya dan terkadang membelai lembut rambutnya.
"Eeehhhhmmmm, sweet banget," ujar Kate dan Queenzha berangkulan.
"Kalian akan bulan madu kemana?" tanya Queenzha menatap iri Kate yang selalu dalam rangkulan Deo.
"Kami belum menentukannya, lagian lusa aku harus bekerja ada proyek yang tak bisa aku tinggal," jawab Kate.
"Tak peduli dimana pun, itu akan menjadi bulan madu kita," ujar Deo membelai lembut pipi Kate yang merona karena ucapannya.
"Aku bisa lebih romantis dari dia," bisik Malik di telinga Edel membuatnya bergidik geli. Edel mencubit paha Malik yang terus tersenyum menggodanya.
Ronald dan Shahmeer yang melihat sikap Deo merasa temannya sedang sakit, tidak mungkin Deo bisa seromantis itu dengan Kate karena dengan Letisya aja dulu dia tidak seromantis seperti yang dia tunjukan sekarang. Mereka masih tak percaya dengan pernikahan temannya.
"Bagaimana dengan persiapan pernikahanmu pangeran?" tanya Deo. "Apa kau sepertiku, tahu beres?".
"Jangan samakan aku denganmu, aku ikut ambil bagian mempersiapkan semuanya. Kemarin saja aku baru lihat tempat buat acara nanti," jawabnya bangga.
Shahmeer merasa dadanya sesak mendengar Malik bercerita tentang persiapan pernikahannya.
"Bagaimana dengan malam pengantinmu, sukses?"
"Apa kau meragukan kemampuanku, hahaha... ?" jawab Deo
Aku tahu kau tidak mungkin melakukannya. pikir Ronald.
***
Setelah Dzuhur Malik mengajak Edel berjalan-jalan di Istambul. Mr. dan Mrs. Soe terbang ke Eropa bersama Mr. dan Mrs. Soe menengok Darren dan Emilly.
"Kau mau mengajakku kemana?".
"Ayo ikut saja, aku ada janji bertemu teman lama. Aku ingin kamu ikut denganku menemuinya," ujar Malik menggenggam tangan Edel.
Mereka berjalan dari tempat parkir ke sebuah kafe di Karyağdukit eyub Istambul, Pierre Loti.
"Ayo masuk, kau sudah pernah ke sini?" tanya Malik melirik Edel menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaannya.
"Kau pernah ke sini, dengan siapa?" Edel bertanya balik.
Malik tersenyum mendengar pertanyaan kekasihnya, dia merasakan perubahan dalam diri Edel menjadi sedikit lebih pencemburu dari biasanya dan Ia menyukainya.
"Kau akan tahu sebentar lagi dengan siapa aku suka ke sini," tersenyum merangkul pinggang Edel.
kafe di atas bukit ini menyajikan pemandangan jembatan Golden Horn dari ketinggian.
Malik mengajak Edel duduk di tepi, "Duduklah, kau pasti lelah setelah berjalan," menarik kursi mempersilahkan kekasihnya duduk.
"Indah sekali, terimakasih sudah mengajakku ke sini," ucap Edel melirik Malik dan kembali menikmati pemandangan dari atas bukit, Jembatan Golden Horn seperti lukisan hidup di depan mata.
"Teh di sini sangat nikmat, kau mau mencobanya?" Malik memesankan makanan buat mereka berdua tanpa menunggu temannya datang.
Tak lama kemudian seorang laki-laki bertubuh tinggi, berparas tampan dengan jambang tipisnya dan senyuman yang khas menghampiri mereka.
"Assalamualaikum, Prince Malik," sapanya.
"Wa'alaikumsalam," Malik berdiri menyambut temannya, mereka berpelukan layaknya teman yang sudah lama tidak bertemu.
Edel melihat siapa yang datang. wajahnya seperti tak asing buatnya, rasanya dia pernah melihatnya tapi lupa dimana. dan setelah berapa lama mengingatnya dia menutup mulutnya terkejut.
"Keenan," nama itu yang keluar dari mulut Edel melihat lelaki yang masih berdiri dan mengobrol dengan Malik.
"Halo Edelweiss, bagaimana kabarmu?" lelaki itu menyapa balik setelah mendengar namanya disebut Edel.
Malik melihat mereka berdua, "Apa kalian saling mengenal?" tanya Malik ragu.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰