He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 133



"Kakak, tidak bisakah aku berangkatnya nanti saja bersamamu?" rengek Azmy.


"Ayah sedang sakit dan membutuhkan anaknya di sampingnya. Aku masih harus menyelesaikan beberapa dokumen lagi untuk kepindahan kita dan aku juga harus menyelesaikan beberapa urusanku di sini," kelakarnya tanpa memandang adiknya yang sedang duduk di sebelahnya.


Azmy terdiam cemberut mendengar ayah mereka dijadikan alasan agar dia berangkat lebih awal. Shahmeer mengerti jika Azmy merasa keberatan dengan keputusannya, bagaimana pun Azmy tumbuh dengannya di negara A sedang ayahnya jangankan menengok mereka menghubungi mereka pun bisa dihitung jari dalam sebulan.


"Tersenyumlah, jangan cemberut seperti itu. Aku akan segera menyusul mu jika semuanya telah selesai," bujuknya.


Azmy hanya memandang ke luar jendela melihat keramaian lalu lintas saat itu menuju ke arah Bandara internasional Negara A. Hari ini dia akan meninggalkan Negara A, tempat dia dibesarkan menjadi seperti sekarang ini. Ingin rasanya dia menolak keputusan kakaknya untuk pindah dan tinggal bersama ayahnya, tapi mungkin inilah keputusan terbaik bagi mereka selain bisa berkumpul dengan ayahnya dia juga bisa jauh dan perlahan melupakan pangeran pujaannya.


Jangan mengeluh, inilah yang terbaik. gumamnya dalam hati.


Shahmeer mengantar adiknya hingga ke lobby terminal keberangkatan. Azmy di temani oleh kepala asisten keluarga dan seorang pembantu yang sudah cukup lama mengabdi pada keluarganya.


"Hubungi aku jika sudah sampai, kau akan di jemput oleh supir ayah," ujar Shahmeer mengingatkan.


"Baiklah," lirihnya.


"Jangan cemberut. Tersenyumlah ... ," memencet hidung Azmy hingga adiknya semakin memonyongkan bibirnya.


Shahmeer berdiri melihat kepala asisten mereka mulai melakukan prosedur keberangkatannya. Dia berbalik berjalan keluar dari Bandara.


Shahmeer menyetir mobilnya sendiri karena supir tadi yaitu kepala asisten mereka ikut pindah menemani Azmy.


"Hallo, bisakah kita bertemu sekarang," tanya Shahmeer pada seseorang di seberang telepon.


" ... ,"


"Ok, kita akan bertemu di rumah ayahmu," pintanya lalu memutuskan hubungan teleponnya.


*


*


"Maafkan hamba pangeran," ujar Mr. Husein menunduk.


"Ini bukan kesalahanmu, anda tidak harus meminta maaf seperti itu Mr. Husein," ujar Malik duduk di ruang kerjanya. "Tolong tinggalkan aku sendiri."


"Baiklah Yang Mulia. Saya permisi, assalamu'alaikum," pamitnya membungkuk hormat lalu keluar dari ruang kerja Malik.


Malik memijit pelipisnya, ingin sekali dia tidak mempercayai apa yang barusan didengarnya dari Mr. Husein. Malik memejamkan matanya dan keluarlah sedikit air mata dari sudut matanya.


Mr. Husein telah melaporkan hasil penyelidikan dalang dibalik kasus kecelakaan yang menewaskan Putri Grizelle, tentu dengan bantuan dari tim khusus penyidik kerajaan dan ayahnya Ronald.


"Sebenarnya apa alasan dia mengincar nyawa Edel!" gumamnya.


drrrttt.. drrrttt... ponsel Malik bergetar dimeja kerjanya.


Malik berdiri melangkah mendekati meja dan mengambil ponselnya.


"Ya," ujarnya.


" ... ."


"Baiklah, aku akan ke sana sekarang," jawab Malik.


Entah siapa yang menghubungi Malik, dia terlihat tergesa-gesa keluar dari ruangannya dan menghampiri Mr. Husein.


"Aku akan keluar sebentar, tidak usah mengawalku. Aku akan berangkat sendiri dan jangan beritahu istriku, aku takut dia mengkhawatirkan ku," titahnya dijawab bungkukan oleh Mr. Husein.


Kurang dari sejam Malik telah berada di depan gerbang sebuah rumah megah, dia membukakan kaca mobilnya dan penjaga membungkuk padanya lalu membukakan gerbang untuknya.


Dia tergesa-gesa keluar dari mobil, setengah berlari masuk kedalam rumah dan menghampiri beberapa orang laki-laki yang sedang duduk berkumpul di sofa ruang tamu.


Malik menuju seorang laki-laki dan mencengkeram kerah laki-laki tersebut, mengangkatnya lalu ...


Bruuuuggggghh ... Brughhh,


Malik beberapa kali memukul laki-laki itu hingga dia tersungkur di sofa. laki-laki tadi tidak melawan, dia terlihat pasrah dengan pukulan yang dilayangkan Malik tadi.


Wajah Malik memerah menahan amarah yang memuncak.


"Apa selama ini kau tahu dia melakukan hal itu pada keluargaku?!" Bentaknya.


"Lepaskan," bentak Malik pada laki-laki yang masih memegangnya.


"Aku akan melepaskan mu setelah kau berjanji tidak memukulnya lagi!" jawab laki-laki tadi.


"Apa salah keluargaku pada nya?!" Malik berteriak lagi berusaha melepaskan diri. Tapi usahanya sia-sia, tenaga dua laki-laki tadi lebih besar darinya.


"Lepaskan aku," bentaknya.


"Ronald!".


"Aku akan melepaskan mu, tapi tenangkan dirimu dulu kawan!" jawab Ronald tegas.


"Tenang, bagaimana aku bisa tenang. Kau tahu apa yang telah dilakukan ibunya pada keluargaku!" teriak Malik.


"Kami tahu pangeran, tapi tenangkan dirimu dulu!" seru ayah Ronald. "Jika tidak, maafkan aku jika aku harus mengirimmu kembali ke istana."


Malik terdiam menutup matanya, menghela nafas. Rahangnya mengeras menahan amarah yang hendak keluar.


Ronald dan ayahnya mendudukkan Malik di sofa hadapan tidak berdekatan dengan Shahmeer yang sudah kembali duduk tegak namun dengan kepala menunduk. Terlihat lebam di pipi kirinya dan sudut bibirnya sedikit berdarah.


"Ceritakanlah," titah Ronald pada Shahmeer.


"Kami akan berada di sini menemani kalian," ujar Mr. Witton, ayahnya Ronald.


Shahmeer kemudian menceritakan semua yang dia ketahui pada Malik sama seperti yang telah dia ceritakan pada Ronald dan Deo ketika terakhir kali mereka bertemu.


"Sampai sekarang aku pun tidak tahu apa alasannya mengincar Edel," ujar Shahmeer, Hatinya hancur mengingat bagaimana ibunya atau Mrs. Shopia tertawa membanggakan apa yang dia perbuat.


Malik memandang Shahmeer lekat. Mereka telah berteman sejak kecil, dia tahu bagaimana sifat Shahmeer temannya, dia tidak mungkin membohonginya. Malik juga tahu tentang perasaan Shahmeer kepada ibunya yang tega meninggalkannya dengan Azmy, dia tahu jika Shahmeer sangat membenci ibunya hingga dia selalu menyebutnya dengan 'Wanita itu' tidak menyebutnya 'ibuku'.


"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf telah membuat kalian kehilangan anggota keluarga karena ulah wanita itu," ucap Shahmeer lirih.


"Tidak usah merasa bersalah. Kau dan adikmu sama sekali tidak bersalah, dialah yang mencari masalah dan bersalah penuh atas kematian kakak ipar ku!" ucap Malik, marahnya mulai mereda setelah mendengar semua penuturan Shahmeer.


"Aku tidak akan meminta izin padamu untuk menghukumnya. Dia akan dihukum seberat-beratnya oleh negaraku," lanjutnya.


Shahmeer lama terdiam kemudian mengangkat kepalanya memandang Malik yang duduk di seberangnya.


"Aku tahu jika permintaanku ini sangat memalukan dan tidak tahu diri, tapi aku akan tetap meminta sesuatu padamu," ujarnya.


"Tolong, samarkanlah wajah wanita itu dan aku juga mohon padamu untuk mengenalkannya dengan identitasnya yang sekarang yaitu Shopia Felix Beltran bukan sebagai Shopia Khurram," pintanya.


"Apa karena Azmy?" tanya Malik, Shahmeer mengangguk lemah.


Malik menghela nafas berat. Dia tidak menyangka jika Shahmeer meminta hal yang sangat bodoh hanya untuk melindungi adiknya.


"Aku mungkin akan bisa memenuhi permintaan bodohmu itu, tapi kau tahu sendiri jika bukan hanya media nasional saja yang akan menyiarkannya tapi media di seluruh dunia pasti akan mengulik semua tentang wanita itu. Aku akan membantumu menutupi identitasnya di negaraku tapi kalau sudah berhubungan dengan media luar aku tidak mau mengambil tanggung jawab jika identitas nya bocor."


Shahmeer terdiam, dia tahu serapat mungkin mereka menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga. Mungkin itulah karma yang akan dia hadapi di kemudian hari.


"Aku telah memberi perintah penangkapan wanita itu hari ini juga," ucap Malik.


"Terimakasih Mr. Witton telah membantu kami menyelesaikan kasus ini, sepertinya tidak ada lagi yang harus aku bicarakan di sini. Aku pamit," ujar Malik, dia berdiri lalu keluar meninggalkan mereka bertiga.


Shahmeer memandang Malik pergi meninggalkan mereka dengan raut wajah yang penuh dengan kekecewaan.


Maafkan aku kawan, andai sebelumnya aku tahu tentu akan ku korbankan apapun bahkan nyawaku sekalipun untuk melindungimu dan keluargamu. gumamnya dalam hati.


*****


Terimakasih telah mampir membaca. Maaf jarang update karena benar-benar sedang sibuk dengan real life. 🙏


Stay safe everyone.🤗🥰🥰