He'S A Prince

He'S A Prince
Pesan Untukmu



Banyak yang mereka obrolkan, meloncat dari satu hal ke hal yang lain. Hingga tak terasa mereka telah sampai di Bandara Soekarno Hatta.


Mereka tiba di terminal 3 dan sudah ada yang menunggu mereka di sana.


"Assalamu'alaikum, Tante," sapa Mita pada bundanya Edel.


"Wa'alaikumsalam, cantik," sahut Mrs. Soe.


"Kaya anak kecil deh dijemput-jemput," gerutu Edel memeluk bundanya.


"Bagi bunda kan kamu masih anak-anak sayangku," jawab Mrs. Soe hangat.


Mita tertawa mendengar kata Mrs. Soe.


"Tuh, Mita aja setuju sama bunda. Iya kan cantik?" kata Mrs. Soe tersenyum.


"Iya, Tante. Hahahaha ...," jawab Mita tertawa.


"Ayo ke musholla dulu, udah magrib nih," ajak Mrs. Soe.


Mereka pun solat di mushola bandara, kemudian pergi ke parkiran mobil.


"Ya udah Lo sama bunda aja, biar gw yang bawa mobil," kata Mita.


"Ga pa-pa ya cantik kamu bawa mobil atau gini aja kamu bareng kita, tuh mobil biarin aja tar bunda panggil sopir buat ngambil," Mrs. Soe tersenyum melirik Edel.


"Ya mending gitu aja, Lo bareng kita aja ayo cepetan laper nih," bujuk Edel.


"Oklah, gue juga dah lapar takutnya tar gue pingsan pas bawa mobil. Bisa berabe yee kan," kata Mita penuh canda.


"Ayo makan di rumah, bunda dah siapin banyak makanan," ajak Mrs. Soe.


Mereka pun berangkat bersama menuju kediaman keluarga Soe.


Seperti biasa jalanan Jakarta sesak apalagi ini jam setengah delapan waktunya pulang kantor dan waktunya orang mencari makan malam.


Edel menyalakan ponselnya dan seketika notifikasi bermunculan seperti sebuah peluru yang ditembakkan berkali-kali. Setelah melihatnya dia memasukkan kembali ponselnya ke tas tangan putih lalu dia masukkan ke totebag dari Malik.


Mrs. Soe melihatnya tersenyum.


"Kenapa ga dilihat mungkin ada pesan penting hingga banyak sekali notif yang masuk?" tanya Mrs. Soe.


"Nanti aja, Bun. Paling itu email kerjaan, Edel cape pengen istirahat dulu ga mau liat kerjaan," keluh Edel.


Sebenarnya Edel ga mau jika bundanya melihat pesan dari Malik karena tadi sekilas Edel melihat nama Malik di notifikasinya. Dia belum mau berbagi soal Malik dengan bundanya.


Mrs. Soe tidak bertanya lagi, dia tahu putrinya seperti apa.


Mita pun menghidupkan ponselnya lagi, dia juga dapat notifikasi tapi tidak seperti Edel yang diserbu notifikasi hanya beberapa pesan yang masuk dan salah satunya dari Malik.


"Assalamu'alaikum, apa kalian sudah sampai? ponsel Edel masih tidak aktif. terimakasih."


"Kayanya ada yang nyari Lo. Coba Lo periksa pesan Lo," kata mita melirik Edel sambil mengedipkan matanya.


Edel duduk di bangku belakang supir sedangkan Mita duduk di samping supir di depan Mrs. Soe.


Edel mengerti kedipan temannya padanya.


"Ok, tar aku liat," katanya.


Hampir pukul sembilan mereka tiba di kediaman keluarga Soe. Mereka langsung masuk menyerbu ruang makan karena memang sudah sangat kelaparan. Bahkan Mr. Soe yang sedang menunggu mereka di ruang depan pun tidak terlihat.


Mereka berdua langsung mengambil piring dan mengisinya dengan banyak makanan.


"Ayah menunggu kalian pulang, tapi kalian bahkan tidak melihatku menyambut kalian datang," kata Mr. Soe menghampiri Edel dan Mita yang sedang mengisi makanan banyak-banyak ke piring mereka masing-masing.


"Maaf ayah kami kelaparan," kata Edel menyuapkan makanan ke mulutnya.


Mita melihat Mr. Soe dan tersenyum,


"Mari makan, Om," ajak Mita.


"Makanlah yang banyak," kata Mr. Soe.


Mrs. Soe datang membawa bingkisan dari Mr. Ommar dan menghampiri suaminya.


"Dari Hamzah, dia mengirimkan kue kesukaanmu," kata Mr. Soe membuka bingkisannya dan memperlihatkan isinya ke suaminya.


"Eittsss ... buat besok aja, ga boleh makan terlalu banyak. Kamu baru sembuh. Ini udah malem," larang Mrs. Soe menutup kembali bingkisannya dan menyuruh pelayan memasukan ke lemari pendingin.


Mr. Soe tertawa melihat tingkah istrinya.


"Makanlah dengan anak-anak, aku pikir kamu juga belum makan malam 'kan?" titah Mr. Soe.


Mrs. Soe duduk di samping suaminya mengambil piring dan mengisinya dengan makanan.


Mereka makan dengan Hidmat, hanya terdengar suara pelan dari peralatan makan.


"Alhamdulillah, kenyang," kata Mita.


"Makasi makanannya, Tante Om," lanjutnya.


"Sama-sama cantik, udah malem menginap lah di sini," kata Mrs. Soe.


"Baik, Tante," kata Mita langsung menjawab tanpa berpikir dulu karena dia merasa lelah sekali.


Keluarga Soe sudah menganggap Mita lebih dari sekadar teman kecil anaknya. Dia sudah seperti keluarga sendiri.


"Sudahlah ayah, besok lagi tanya nya. Kasian mereka, biarkan mereka istirahat dulu," Mrs. Soe mengusap lengan suaminya.


"Ayo cepat bersihkan badan kalian, pasti ga nyaman, lengket," titah Mrs. Soe tegas tapi penuh kehangatan.


Mr. Soe tersenyum mendengar suara istrinya. Mereka tersenyum, ya Mr. Soe memang seorang yang gagah diusianya tapi beliau tidak suka membantah perkataan istrinya. Baginya perkataan istrinya adalah sebuah aturan yang harus dilakukan kalau mau melihat bunga bermekaran besok hari.


"Bunda, Ayah, kami naik dulu ya," gumam Edel mencium ayah bundanya.


"Selamat istirahat, Om Tante," kata Mita pamit.


Mereka naik ke lantai atas,


"Gue duluan ya, kebelet nih," gumam Mita setengah lari masuk ke kamar yang biasa dia tempati di samping kamar edel.


"Oke," lirih Edel.


Dia pun masuk ke kamarnya dan duduk di sofa yang membelakangi jendela kamarnya.


Membuka totebag yang diberi Malik, mengambil tas tangan putih mengeluarkan ponsel lalu memeriksa puluhan notifikasi yang masuk.


Malik mengirim banyak pesan dan tujuh panggilan tak terjawab darinya. Edel membuka pesannya.


"Sudah sampai?"


D****ua panggilan tak terjawab


"Aku menelepon mu tapi masih tidak aktif,"


Tiga panggilan tak terjawab


"Aku mengirim pesan pada temanmu tapi sepertinya sama denganmu ponselnya juga tidak aktif,"


"...."


"......"


"..….."


"...…."


"......"


"Akhirnya pesanku terkirim tapi kenapa kamu tidak membalas pesanku?"


"Apa kamu langsung ke kantor bekerja,"


"Sudah makankah?"


"Jangan lupa makan,"


D****ua panggilan tak terjawab


"Beristirahatlah, kamu pasti cape menempuh perjalanan jauh,"


"Selamat beristirahat My flower,"


Edel menyenderkan kepalanya ke kursi. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang dan pipinya memerah panas membaca pesan terakhir Malik.


"Sebaiknya aku mandi dulu," gumam Edel meletakkan ponselnya di meja nakas.


**


Setelah kepergian Edel, Malik pun meninggalkan bandara.


"Mr. Husein, bagaimana perasaanmu saat bertemu pertama kali dengan istrimu?" tanya Malik tiba-tiba.


Mr. Abdul Husein tertegun mendengar pertanyaan yang tidak pernah dia sangka dari Pangeran Malik, dengan cepat dia menguasai diri dan tersenyum.


"Seperti semilir angin menerpa wajahmu, sangat sejuk," jawab Mr. Husein tersenyum.


Malik terdiam mendengar jawaban Mr. Husein, dia mengerti maksud jawaban Mr. Husein.


"Maaf, apa Pangeran sudah merasakannya?" Mr. Husein balik bertanya.


Dia hanya tersenyum malu.


"Aku ingin istirahat, rasanya badanku sedikit lelah. Bolehkah sisa jadwalku untuk hari ini di undur atau dibatalkan?" pintanya.


"Ya, Pangeran," jawab Mr. Husein membungkuk hormat.


Mobil mereka telah melewati pusat kota, menembus jalanan di jam sibuk.


Setelah solat magrib berjamaah, Malik kembali ke kamarnya.


Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan. Dia melihat jam lalu menelpon hanya ada suara yang memberi tahu ponselnya diluar jangkauan. Menunggu setelah sepuluh menit beberapa kali mengirimi lagi pesan lalu menelpon.


Malik berjalan bolak-balik, duduk, berdiri menghentakkan kaki. Membuang nafas berat setelah melihat ponselnya.


Ini sudah lewat isya kenapa belum diaktifkan, harusnya dia sudah sampai. batin Malik.


Malik mengambil tabletnya memeriksa jadwal keberangkatan di negaranya dan kedatangan di bandara di Indonesia. Takut perkiraannya salah.


Mereka sudah sampai sebelum magrib. batin Malik.


Dia menatap ponselnya lama mengaburkan pikirannya entah kemana sampai terkaget ketika ponselnya berbunyi.