He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 154



Persidangan dimulai pukul 10 pagi waktu negara A. Hakim agung memasuki ruangan sidang dan semua yang hadir diminta berdiri sebagai penghormatan untuknya.


Hakim agung memulai sidangnya. Mrs. Shopia dipersilakan duduk di kursi terdakwa di depan hakim yang biasa dipakai terdakwa atau saksi ketika bersaksi di pengadilan.


Edel melihat dia berdiri dan mulai berjalan ke kursi pesakitan, dia sempat mengedarkan pandangan ke arah kursi pengunjung sidang. Edel melihat sekilas Mrs. Shopia menyunggingkan senyum sekilas pada seseorang yang berada di kursi pengunjung persidangan.


Mungkinkah dia tersenyum karena melihat Shahmeer hadir di persidangannya, tapi senyuman itu bukanlah senyuman seorang ibu pada anak yang dirindukannya. Senyuman itu seperti pada seseorang yang ..., gumam Edel dalam hati.


Mrs. Shopia dan para peserta persidangan terlihat menyimak putusan yang mulai dibacakan oleh hakim Abdul Latief, Fahira Adnan dan Ushaim Piero secara bergantian.


"... Berdasarkan fakta-fakta persidangan, perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa Shopia Felix Beltran dinilai telah memenuhi unsur-unsur dalam dakwaan pasal 000 XXX FG pasal 123 ayat 1 ke 1 XXX. Yakni, menganjurkan pembunuhan berencana. Hal tersebut diperkuat oleh keterangan 8 saksi dan alat bukti lainnya yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU)."


"Pencabutan berita acara pemeriksaan tidak beralasan. BAP yang ditandatangani oleh terdakwa dan penasehat hukum saat proses penyidikan telah melekat sebagai alat bukti yang sah," kata hakim.


" ... Majelis hakim yang mengadili perkara ini menyatakan. Satu, terdakwa Shopia Felix Beltran menganjurkan pembunuhan berencana. Dua, Menjatuhkan Pidana Mati dan dengan perintah sementara terdakwa ditahan. Tiga, ... ,"


Terdengar para pengunjung persidangan berucap syukur hingga hakim agung harus memukul palunya agar suasana tenang kembali untuk melanjutkan mendengar putusan sidang.


Usai membacakan putusan, majelis hakim tidak memberikan kesempatan bagi Shopia Felix Beltran dan tim kuasa hukumnya untuk berpikir selama 7 hari dalam menanggapi vonis tersebut. Menerima, melakukan upaya hukum balik atau banding, atau melakukan pengajuan grasi pada Baginda Sultan dikarenakan terdakwa tidak hanya terjerat kasus pembunuhan di negara A saja namun dia juga terlibat beberapa kasus pembunuhan dan dalam incaran FBI.


Deo tersenyum menepuk tangan Shahmeer yang duduk di sampingnya. Dia ingin menguatkan temannya atas putusan hakim yang menjatuhkan hukuman mati pada ibunya. Shahmeer tersenyum lemah pada Deo. Dia mengerti bagaimanapun Mrs. Shopia tetaplah ibu kandungnya, sedikitnya pasti hatinya mencelos mendengar putusan tersebut.


Ronald pun memandang Shahmeer dan menganggukan kepalanya menguatkan temannya dan dibalas anggukan oleh Shahmeer yang menghela nafas berat.


Ingin rasanya Edel berbalik ke belakang menguatkan Shahmeer, tapi rasanya dia tidak akan berani menatapnya. Rasa bersalah masih membayanginya. Edel merangkul tangan Malik dan menepuk lengannya untuk menguatkan dirinya sendiri.


Malik tersenyum pada Edel. Lega rasanya, akhirnya persidangan kasus pembunuhan kakaknya telah mendapat putusan hakim dan terdakwa dijatuhi hukuman mati. Malik sadar jika rasa senangnya mungkin tidak pernah bisa sempurna karena terdakwa Shopia Felix Beltran atau Shopia Khurram adalah ibu kandung dari sahabatnya sendiri, Shahmeer Zephyr.


Semetara itu di rumah sakit pusat kota negara A, Baginda Sultan dan istrinya memasuki kamar khusus keluarga kerajaan dengan menggunakan baju steril yang telah disediakan pihak rumah sakit.


Ibunda Ratu langsung mendekati anak sulungnya yang sedang terbaring, dilihatnya kabel dan selang terhubung dengan badan Pangeran Fatih yang membantunya untuk bertahan bertahan hidup dan diharapkan segera pulih.


Sang Ibunda membersihkan kulit lengan pangeran Fatih, menyekanya dengan handuk basah yang telah disediakan oleh perawat setelah ia memintanya tadi.


Baginda Sultan duduk di sofa kamar perawatan menonton jalannya persidangan yang disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi milik kerajaan negara A.


Mendengar putusan hakim, Baginda Sultan meneteskan air matanya. Dia bersyukur akhirnya kasus pembunuhan anaknya mendapat keadilan dan terdakwa dijatuhi hukuman mati.


"Anakku ... ," ucapnya, air mata yang sudah tak terbendung akhirnya mengalir di sudut matanya juga.


" ... selain itu, majelis hakim juga pasti mempertimbangkan keadaan yang memberatkan Shopia Beltran dalam putusannya. Apalagi perbuatannya menimbulkan duka yang mendalam tidak hanya bagi keluarga korban tapi juga masyarakat negara A karena korbannya seorang Putra Mahkota negara A," tutur tamu acara pada pewarta di tv.


"Saya setuju, terdakwa juga meresahkan masyarakat negara A dan malah tidak mengakui perbuatannya. Kita bisa lihat Shopia ini tidak sedikitpun diwajahnya menunjukan rasa bersalah, tidak berperikemanusiaan saya bilang," timpal tamu acara yang lain.


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara alarm dari peralatan medis yang tersambung pada tubuh pangeran Fatih.


Ibunda Ratu keluar dari kamar khusus, dia tidak mampu melihat anaknya menderita seperti tadi.


Terlihat di layar monitor jika pangeran Fatih terkena serangan jantung lagi. dokter Keanu, dokter utama yang menangani pangeran Fatih langsung memberikan penangan darurat, resusitasi jantung paru (RJP) dan Defribilasi atau alat kejut jantung agar dapat kembali berdetak. Namun sayang semua usaha para dokter kali ini sia-sia.


dokter Keanu melakukan pemeriksaan lanjutan Untuk mendiagnosis dan memastikan kondisi pangeran Fatih, dokter dapat melakukan beberapa tes penunjang, seperti, Pemeriksaan listrik jantung (EKG), Elektroensefalografi (EEG), untuk mengukur aktivitas listrik pada otak pangeran Fatih, namun aktivitas gelombang atau listrik otaknya tidak lagi terdeteksi. Tes pencitraan, seperti angiografi, CT scan, MRI, dan USG Doppler, untuk mengetahui kondisi otak dan mendeteksi aliran darah ke otak.


dokter Keanu menggelengkan kepalanya pelan pada rekan dokternya.


"Yang Mulia," dokter utama yang menangani pangeran Fatih berada di kamar perawatan khusus pangeran Fatih.


"Ya, aku tahu," jawabnya singkat. Baginda Sultan yang melihat seluruh usaha dokter untuk menolong anaknya sudah bisa menebak apa yang dokter Keanu akan katakan.


Baginda Sultan memanggil istrinya untuk duduk bersamanya di sampingnya.


dokter Keanu memberitahu Baginda Sultan jika otak pangeran Fatih sudah tidak bisa merespon apapun lagi. Berbeda dengan seminggu yang lalu masih ada respon aliran listrik di jantungnya hingga ia bisa bernafas kembali.


"Yang Mulia ...," dokter Keanu, dokter utama pangeran Fatih menjeda kalimatnya, rasanya berat jika harus menjelaskan dua kali mengenai kondisi sang pasien yang sudah tidak sanggup dia sembuhkan.


"Kami sudah memutuskan ...," timpal Baginda Sultan tegas berpegangan tangan dengan istrinya.


"Beri kami waktu dua jam, agar semua keluarga kami berkumpul untuk melepaskannya," lanjutnya. Ibunda memandang Baginda Sultan penuh tanya.


"Yang Mulia." dokter Keanu tidak percaya dengan yang dia dengar sekarang. Lalu dia tersenyum, senyuman itu mengartikan rasa harunya melihat seorang ayah yang berbesar hati menerima kepergian anaknya setelah perjuangannya yang sangat lama menantikan anaknya sadar kembali.


Berbeda dengan Mr. Khalid, dia memandang Baginda Sultan dengan tatapan penuh kesedihan.


"Keputusanku bukanlah karena aku menyerah akan anakku. Aku sangat menyayanginya. Aku tak mau dia menderita lagi karena keegoisanku yang belum mau berpisah dengannya." Baginda Sultan menghela nafas pelan berusaha menyingkirkan keegoisannya.


"Mungkin inilah sesuatu yang dia tunggu, putusan persidangannya."


"Tolong panggil anak-anakku kemari, tapi rahasiakan kondisinya sekarang terutama pada pihak tetua istana dan media."


Mr. Khalid membungkuk hormat dan segera menghubungi Mr. Husein.


*****


Terimakasih telah mampir membaca. 🥰🙏


Stay safe everyone.❤️


Happy weekend.