He'S A Prince

He'S A Prince
Tunggulah..



"Itulah mengapa aku menyukaimu. Kalau itu gadis lain mungkin mereka akan memintaku mengantar mereka duluan menggunakan beribu alasan agar aku mengantar mereka. Tapi kau malah menolak ku," lirih Malik.


"Benarkah aku menolakmu?" Ia melirik malik mencoba mengingatnya tapi sia-sia.


Malik menatap manik mata Edel, tangannya memegang bahunya mensejajarkan pandangannya, tangannya menyingkirkan helaian rambut Edel dari pelipisnya yang terkena angin.


"Tidak butuh alasan untuk menyukaimu. Aku menyukaimu karena aku menyukaimu, itu yang aku rasakan," ungkap Malik.


Edel menunduk tidak kuasa melihat raut wajah Malik, jantungnya kian menderu seperti gemuruh ombak menghantam karang. Untung di tepi pantai kalau tidak mungkin Malik akan mendengar detak jantung Edel yang tidak beraturan.


Malik mengalihkan perhatiannya ke laut, rasanya dia ingin merengkuh wanita yang berada di sampingnya.


Cukup lama mereka hanya melihat Kilauan ombak, menenangkan diri masing-masing.


"Sudah lebih dari jam sepuluh," melihat jam tangan Rolex nya. Mengambil ponsel di kantong celananya.


"Temanmu mengirimiku," lanjutnya memperlihatkan pesan Mita.


"jangan terlalu malam!!!"


Edel tersenyum melihat pesan temannya, dia merasa temannya lebih galak dari bunda.


"Bolehkah setengah jam lagi kita bersama? aku akan mengantarmu nanti," pintanya memelas. Edel hanya mengangguk, ia merasa ingin lebih lama dengan pria di sampingnya.


"Kau tahu, fotoku mengantarmu tersebar di media online tapi langsung ditangani pejabat negara dan diturunkan. Temanku sempat bertanya tentangmu, aku hanya memberinya senyuman. Mungkin dia mengerti, dia tahu aturan negaraku seperti apa," terangnya.


"Aku tidak bisa *mengshare hubunganku di media sosial seperti orang lain, tidak bisa mengupload* fotoku sembarang, aku juga tidak akan bisa memberitahu dunia ketika aku jatuh cinta padamu. Hanya sebagian kecil orang yang boleh tahu tapi aku bisa memberitahu semuanya ketika aku telah resmi bertunangan dengan calon istriku nanti dan setelah pernyataan resmi dikeluarkan oleh negaraku," lanjutnya melihat Edel yang masih menatap laut.


"Ketika kamu menerimaku berarti kamu juga harus menerima semua aturan yang mengikatku. Aku tidak akan memaksamu menerimaku, aku ingin kamu berpikir jernih mempertimbangkanku dengan semua aturan yang akan mengikatmu begitu kamu menerimaku. Aku takut kamu merasa terjebak jika menerimaku tanpa tahu apa yang mengikatku, aku ingin kamu bahagia tanpa merasa tertekan. Namun, inilah aku ...," lanjutnya.


Edel memegang tangan Malik dan tanpa sadar memeluknya.


"Tunggulah," hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Perasaan hangat mengalir di tubuh muda mereka. Edel melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap wajah Malik.


"Aku akan mengantarmu ke kamar," ujar Malik berusaha menjauhkan hal yang tidak diinginkan yang telah merasuki tubuhnya. Tubuh mudanya sungguh menginginkan lebih dari sekedar pelukan tapi mereka sadar akan batasannya.


"Ya," jawab Edel singkat.


Mereka berjalan bergandengan. Menikmati semilir angin yang menerpa wajah mereka. Langit tampak lebih cerah setelah Malik mengungkapkan semua perasaannya dan ketakutannya.


"Ini hampir jam sebelas, apa temanmu akan mengomeliku karena telat mengantarmu?" canda Malik menghilangkan rasa gugupnya.


"Mungkin," Edel tersenyum, "dia malah bisa lebih menakutkan dari itu," lanjutnya tertawa.


"Aku tidak melihat Mr. Husein, aku kira dia akan terus bersamamu kemana pun kamu pergi."


"Dia beristirahat di kamarnya. Dia pernah muda, jadi dia mengerti," sahut Malik tertawa.


"Assalamu'alaikum," Mita mendongak melihat mereka langsung berdiri siap mengomelinya.


"Aku menunggumu dari tadi, ini udah jam berapa? bundamu telepon tapi ga diangkat, aku tau kalian lagi senang-senang tapi masa nyampe ponsel aja kalian matikan!" Mita terus berbicara dalam satu nafas.


"Bunda telpon?!" seru Edel kaget mengambil ponsel di tas tangannya dan mendapati ponselnya mati, "ponselku mati lupa ga changer," tersenyum malu melihat Mita.


"Dia beberapa kali nelpon aku, aku bilang kamu lagi keluar pesen makan terus lagi Aer, inget lho bunda itu tajam insting nya," dengan nada kesal.


"Iya maaf, besok pagi aku telpon lagian ni udah malem pasti udah tidur," lirih. Dia lupa Malik masih bersama mereka.


"Apa aku yang harus menghubungi bundamu dan meminta maaf?" ujar Malik merasa bersalah.


"Ga usah biar aku aja, ini dah malem sebaiknya kamu istirahat kalau engak entar Mr. Husein mencarimu," jawab Edel.


"Baiklah, selamat malam. Maaf mengantarnya terlalu malam," pamit Malik.


"Gue maafin, tapi ga da lain kali!" seru Mita tapi dibalas dengan senyuman oleh Malik.


"Assalamu'alaikum," pamitnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Edel dan Mita berbarengan.


Setelah membersihkan badan dia menghampiri Mita yang masih memeriksa dokumen.


"Mit, maafin gue ya. Gue ngerasa gue keterlaluan sama Lo. Lo masih kerja padahal kita lagi liburan, cuma gue yang senang-seneng," merajuk.


"Kalau dipikir-pikir emang Lo keterlaluan sama gur, cuma Lo pasti akan lakuin hal yang sama juga nanti," ujar Mita.


"Lo tadi ngapain aja nyampe balik ampir tengah malem," tanya Mita penasaran.


"Ehhmmm ... tadi Malik bilang dia suka sama gue," tangannya memegang kedua pipinya merona ketika memberi tahu Mita. dia menceritakan semua yang mereka obrolkan, dia juga memberi tahu Mita tentang aturan yang mengikatnya.


"Jadi gue harus gimana?" gumamnya memelas.


"Turuti aja apa kata hati Lo, tapi ya pertimbangkan juga aturan yang akan ngiket Lo, jangan sampe sekarang Lo nerima setelah dijalani Lo nya ga nerima atau ga nurut sama aturan mereka. Kalau Lo berhubungan ma Malik Lo harus nerima dia semuanya, keluarganya, semua aturannya bahkan Lo juga harus nerima fansnya dia," kata Mita mencoba memberi nasehat.


Edel mengangguk dalam diam. Dia menghembuskan nafas dalam-dalam. Apapun yang terjadi itu pilihannya dan dia harus terima semua konsekuensi nya.


"Apa menurut Lo orangtua gue akan setuju kalau gue sama Malik?" tanyanya.


"Kalau ayah Lo mungkin setuju aja selama itu buat Lo bahagia dan Malik juga bisa buat Lo bahagia, tapi kalau bunda mungkin dia akan lebih mempertimbangkannya. Lo anak perempuan mereka satu-satunya karena Ade Lo kan laki, mungkin seorang ibu ga kan tega anaknya dikekang dengan setumpuk aturan. Ya maksudnya kan aturan keluarga Malik dengan keluarga Lo sangat berbeda. Jadi mungkin itu yang akan dipikirkan bunda Lo. Coba aja nanti Lo cerita pelan-pelan ma bunda, pasti bunda Lo ngerti," jelas Mita.


"Makasi ya, nanti gue coba nasehat Lo," Edel bersyukur punya teman seperti Mita. Dia lebih bijaksana dari penampilannya, dia juga yang menghandle semua pekerjaannya ketika Edel kewalahan. Dia tidak mengeluh, hanya mengomel sampai dua jam dan Edel harus setia mendengar semua omelannya.


Malam itu dia tidak bisa tertidur pulas karena suara Malik selalu terngiang di telinganya. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja apapun pilihannya kelak.