He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 52



"Assalamualaikum," ucap Edel melihat ayah dan bundanya masih di ruang tengah belum masuk ke kamar mereka.


"Aku kira ayah sama bunda dah istirahat," menghampiri mereka mencium tangan dan pipinya. Lalu duduk bersama mereka.


"Ko malem banget pulangnya? emang lagi banyak banget ya kerjaannya?" tanya Mrs. Soe.


"Engak ko Bun, tadi jalan dulu sama Mita lalu nganterin dia pulang," sahut Edel.


"Sudah makan?" tanya Mr. Soe melihat wajah anaknya yang lelah.


"Udah," jawabnya.


"Ya udah istirahatlah ini udah malam. Kami pun sebentar lagi masuk," titah Mrs. Soe.


"Aku ke kamar dulu ya," ujarnya pamit meninggalkan kedua orangtuanya di ruang tengah.


Sebelum menaiki tangga, Edel masih menyempatkan diri masuk ke ruang makan lalu ke dapur melihat isi lemari pendingin.


Bunda buat makanan banyak banget?. pikirnya.


"Mungkin besok ada arisan bareng temannya," gumam Edel menutup pintu lemari pendingin.


"Ah.. aku lelah sekali," keluhnya merebahkan tubuh di tempat tidur.


Dia bangun mengambil ponselnya lalu merebahkan diri lagi sambil memeriksa beberapa notifikasi.


"Dia tidak menghubungiku dari siang, mungkin sibuk," gumamnya.


Edel pun memejamkan matanya tertidur pulas karena seharian dia merasa jenuh dan lelah.


**


"Non, lagi ngapain?" tanya simbok melihat Edel memegang gelas.


"Minum," sahut Edel singkat menuangkan air panas lalu dingin ke gelasnya.


"Hari ini ada arisan ya, banyak banget cake di kulkas," kata Edel, simbok hanya tersenyum karena diamanati tidak boleh kasih tahu Edel ada Malik menginap.


"Sayang kamu udah di sini?" tanya Mrs Soe melihat anaknya di dapur.


"Bunda kira masih di kamar?" lanjutnya.


"Assalamualaikum bunda, nih ngambil minum," sapanya.


"Aku ke atas lagi," pamit Edel.


"Ok," sahut Mrs. Soe melihat anaknya melangkah pergi.


Belum juga membuka pintu kamarnya. Suara pintu terbuka dari kamar samping Edel yang biasa di tempati Mita. Dia melirik siapa yang keluar dari kamar itu padahal setahunya tidak ada tamu yang menginap.


Ditunggu tapi tak kunjung keluar. Mungkin bi Inah mau beresin kamar. pikirnya. Akhirnya dia meneruskan langkahnya ke kamar, tapi ...


"My flower"


Edel menghentikan langkahnya dan cepat berbalik mendengar suara yang tak asing lagi baginya.


"Malik," kata Edel kaget melihat Malik berada di rumahnya sepagi ini. Tersadar melihat pakaian nya dia langsung masuk ke kamarnya.


Malik tersenyum melihat Edel memakai lingerie dilengkapi peignoir putih selutut.


Gadis yang mempesona. gumamnya dalam hati


Sementara Malik menikmati pemandangan indah walau sekejap, Edel terdiam di balik pintunya. Jantungnya berdetak kencang lebih dari biasanya, wajahnya memerah.


Kenapa Malik ada di sini? apa aku merindukannya hingga berhalusinasi melihatnya sepagi ini di rumah ku?. pikirnya.


"Mungkin yang tadi Darren, tapi kenapa dia ada di sini, apa sudah jadwalnya pulang?" gumamnya.


"Sebaiknya aku memastikan siapa yang barusan kutemui, lebih baik ganti pakaian dulu sebelum keluar," lanjutnya, cepat mengambil pakaian ganti dari lemarinya dan masuk ke kamar mandi.


Edel keluar kamarnya tapi tak ada satu pun orang di luar kamarnya. dia memeriksa kamar adiknya, kamarnya gelap dan bisa dipastikan dia belum pulang atau kamarnya kosong tanpa pemilik. Dia juga memeriksa kamar samping yang biasa di tempati Mita, kamarnya tampak rapi tapi tidak ada siapapun di dalam.


"Mungkin benar aku yang berhalusinasi," gumamnya, lalu kembali masuk ke kamarnya.


Dia memeriksa ponselnya, tidak ada satu pun pesan dari Malik. Sesibuk itukah? pikirnya.


Setengah tujuh dia sudah berpakaian rapi bersiap berangkat ke kantor.


"Bunda, bagus ga aku pakai yang ini?" tanya Edel.


Mrs. Soe yang sedang menyiapkan sarapan melirik anaknya.


"Bagus, kamu cantik pakai apapun sayang," puji Mrs. Soe tersenyum.


"Bun, makanannya banyak banget, emang ada siapa? ada tamu ya?" tanya Edel kemudian teringat kejadian tadi.


"Apa Darren pulang?" tanyanya penasaran.


"Ga apa sesekali nyiapin banyak," kata Mrs. Soe tersenyum.


"Tolong bantu bunda nyiapin mejanya," pinta Mrs. Soe.


"Bi, ko banyak banget piringnya? emang ada yang mau datang ya?" tanya Edel pada bi Inah yang membantunya menyiapkan peralatan makan. Tapi bi Inah hanya tersenyum.


Ko brasa ada yang aneh. Pikirnya.


Setelah selesai menyiapkan, mereka membantu mrs. Soe menata makanan di mejanya.


"Banyak banget Bun makanannya. Yakin ini bakalan habis?" tanyanya lagi.


"Santai aja sayang, bunda panggil dulu ayahmu."


Edel yang sudah siap sarapan duduk di tempatnya hanya mengangguk pada Mrs. Soe.


"Sayang, kamu pindah ke sebelah duduknya," titah Mrs. Soe.


"Kenapa, bukankah aku selalu duduk di sini?!" ujar Edel.


"Pindahlah," suruh Mrs. Soe.


"Ehm, baiklah," kata Edel tidak mengerti dengan sikap bundanya pagi itu


Mrs. Soe keluar memanggil Mr. Soe juga Malik untuk sarapan.


Malik melihat Edel sedang duduk tertunduk diam menunggu mereka. Dia pun duduk di sebelahnya di hadapannya Mr. Soe dan Mrs. Soe duduk di seberang Edel.


"Jangan lupa berdoa dulu sebelum makan," kata Mrs. Soe selalu mengingatkan keluarganya sebelum mereka makan.


Edel mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya dia, Malik yang duduk di sampingnya.


"Malik, kamu beneran di sini?" tanya Edel kaget lalu memandang ayah dan bundanya.


"Apa hanya aku yang tidak tahu Malik ada di sini?" tanyanya pada orangtuanya.


"Aku yang meminta tidak memberitahumu," ujar Malik tersenyum.


"Berarti yang memanggilku tadi pagi ... kamu!" kata Edel sambil memegang dadanya.


"Iya tadi aku memanggilmu, tapi kamu langsung masuk ke kamar," jawab Malik.


"Tapi aku tadi keluar lagi dan tidak melihatmu?" ujar Edel.


"Oh ... aku ke taman belakang melihat ikan dan mengobrol dengan ayah," sahut Malik.


Mrs. Soe melihat anaknya dan calon mantunya mulai berdebat di meja makan,


"Ayo makan dulu, nanti makanannya keburu dingin. Nanti setelah makan baru dilanjut ngobrolnya."


"Bunda ko ga bilang ada Malik datang, ayah juga?!" tanya Edel tidak menggubris perkataan bundanya. Mrs. Soe memandang tajam anaknya.


"Baiklah, maaf," lanjutnya menyadari kesalahannya.


Mrs. Soe menyiapkan makan untuk suaminya, lalu mengisi piringnya sendiri.


"Sayang, siapkan dong punya Pangeran Malik," titah Mrs. Soe membuat Malik tersenyum penuh kemenangan.


"Ya," jawabnya singkat lalu menyiapkan makanan untuk Malik dan menyiapkan untuknya sendiri.


"Silahkan dimakan, makan yang banyak," ujar Mr. Soe sepertinya hatinya sudah mulai luluh dengan calon mantunya.


"Ayo pangeran, maaf lho sarapannya sangat sederhana," ujar Mrs. Soe.


"Ini sangat istimewa bunda. Terima kasih ayah," sahut Malik.


Edel melirik Malik yang memanggil orangtuanya bunda dan ayah sebagaimana dia memanggil mereka.


"Ehmm, kenapa?" tanya Malik sadar dari tadi Edel mencuri pandang padanya. Edel menggelengkan kepalanya tersenyum.


Mereka makan dengan khidmat tanpa berbicara.


"Terima kasih makanannya bunda, ayah. Sangat lezat," ucap Malik selesai makan.


"Kamu memang pandai memuji," ujar Mrs. Soe senang.


"Mari kita duduk di ruang tengah," ajak Mr. Soe.


Malik mengikuti Mr. Soe ke ruang tengah. Mrs. Soe dan Edel pun turut mengikuti mereka membawakan makanan puding dan makanan penutup lainnya.


"Sayang, kamu sebaiknya bersiap sekarang," ujar Mr. Soe pada Edel. Dia melihat jam tangannya.


"Astaghfirullah, udah setengah delapan. maaf aku harus berangkat sekarang," ucap Edel pada mereka.


"Berangkat kemana?" tanya Mrs. Soe melihat anak gadisnya hendak melangkah pergi.


"Aku ... aku kan harus ke kantor," sahut Edel.


"Duduklah dulu," titah Mr. Soe. Edel menghampiri bundanya dan duduk di sebelahnya.


"Bersiaplah, hari ini ikut Pangeran Malik ke Negara A. kami pun akan ikut denganmu," kata Mr. Soe memandang anaknya.