
Waktu menunjukan pukul 03.00 WIB saat resepsi pernikahan mereka selesai. Keluarga dan kerabat dipersilahkan istirahat dikamar yang telah disediakan sebelum makan malam bersama nanti malam, begitu pun dengan sepasang pengantin baru Malik dan Edel mereka beristirahat di kamar yang telah dipersiapkan sebelumnya.
"Honey, lihatlah hujan turun," ujar Malik melihat dari jendela kamar mereka.
Edel mendekati Malik yang masih menggunakan pakaian pernikahan mereka.
"Mba, coba saya ambil foto dulu sebelum dilepas pakaiannya," pinta sang fotografer.
Di kamarnya sekarang memang tidak hanya ada mereka berdua tapi beberapa MUA, desainer pakaian mereka untuk membantu melepas semua pakaian dan aksesoris yang menempel di badan mereka dan para fotografer yang ditunjuk.
Mereka pun mengambil foto sesuai arahan dari sang fotografer. Edel tak bisa menolaknya karena Malik menyetujui semua arahan dan menambahkan beberapa ide yang menurut Edel sedikit berani dan gila dalam pengambilan gambar, Tak apalah lagian ini adalah moment sekali seumur hidup. pikir Edel.
Selesai acara pemotretan dadakan, Edel melepas siger yang melekat di kepalanya. Edel langsung menggerakkan kepalanya ketika siger dengan berat hampir dua kilo gram yang telah berada diatas kepalanya selama 8 jam lebih dilepas, rasanya lega sekali.
Malik telah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan pakaian santai ketika Edel masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, saat dia selesai dan keluar kamar mandi hanya ada Malik di sana yang berselonjoran di sofa tengah asik memainkan ponselnya.
Edel menarik nafas panjang dan mengeluarkan nafasnya lewat mulut mencoba menenangkan hatinya yang gugup sejak tadi.
"Honey, kau pasti kecapean. Duduklah akan ku ambilkan minum," ujarnya berdiri hendak mengambil minum.
"Biar aku ambil sendiri aja," sahutnya setengah berlari mengambil minum.
Malik memperhatikan Edel yang setengah berlari dan tersenyum. Mungkin dia malu, pikirnya.
Edel mencoba membangunkan Malik yang tertidur di sofa sejak tadi. "Malik ... Malik bangun."
Malik tersentak dibangunkan istrinya, "Maaf aku ketiduran," ujarnya mengumpulkan semua kesadarannya.
"Tak apa, aku tau kamu pasti kecapean. Aku membangunkanmu karena sebentar lagi adzan magrib, setidaknya kamu tidak terlalu pusing ketika nanti shalat," terang Edel memberikan air putih hangat pada suaminya.
"Terimakasih, duduklah" Malik menunjuk tempat duduk di sebelahnya setelah mengambil air minum yang diberikan Edel.
Belum sempat duduk, adzan magrib terdengar berkumandang dari tv yang menyala. Kamar mereka kedap suara jadi suara dari luar tak akan mungkin terdengar.
Mereka pun shalat berjamaah berdua untuk pertama kalinya.
"Ayo," Malik mengulurkan tangan pada Edel yang selesai ber-make up flawless tapi tetap terlihat sangat cantik.
Mereka berjalan bergandengan menuju tempat makan malam di adakan di restoran hotel yang telah di booking untuk acara mereka.
Keluarga besar keduanya telah menunggu mereka di sana. Terdengar canda tawa dari keluarga dan kerabat mereka di sana sedang berbincang, mereka melihat ke arah pasangan pengantin baru itu saat memasuki restoran.
"Malu sekali ditatap seperti itu," gerutu Edel lirih. Malik memegang tangan Edel yang melingkar di lengannya untuk menambah kekuatan pada istrinya.
Pengantin baru itu duduk satu meja dengan orangtua mereka. Mereka mulai makan malam bersama keluarga besarnya. Edel mengambilkan makanan dan melayani Malik seperti yang bundanya lakukan setiap akan makan. Ibunda Ratu tersenyum melihat Edel melakukannya, Ia sangat bersyukur dengannya.
"Kami akan pulang malam ini karena kami harus memenuhi tugas kami di sana, saya haraf Mr. dan Mrs. Soe memakluminya. kami ingin berlama-lama di sini hanya saja, kewajiban kami menunggu," kata Baginda Sultan pada orangtua Edel.
"Tentu kami sangat memaklumi kewajiban anda di sana Yang Mulia," sahut Mr. Soe.
"Bagaimana rencana honeymoon kalian?" tanya Ibunda Ratu.
"Kami belum mendiskusikannya, apalagi acara resepsi di negara kita hanya dua Minggu dari sekarang, jadi kami akan berada di sana paling lambat seminggu sebelum acara," sahut Malik.
Edel melirik Malik. Apa?! padahal aku ingin berlibur dulu dua Minggu ini. batin Edel.
***
"Malik, kenapa kamu tidak memberitahuku jika akan kembali lebih awal ke Negaramu?" tanya Edel cemberut.
"Pengantin baru kita akhirnya datang juga," teriak Ronald berdiri menyambut Malik dan Edel.
"Ku kira kalian ga akan datang, lagian kami akan mengerti walaupun kalian ga datang. Ini kan malam pertama kalian," ujar Deo melirik Ronald dan Mike, dia telah dikasih tau kejadian sewaktu di Turki.
"Selamat kawan, Maaf aku ga bisa hadir tepat waktu," ucap Shahmeer beralasan, sebenarnya Shahmeer telah berada di Bandung dari jam sepuluh pagi, dia mengurungkan niatnya datang ke pernikahan temannya karena harus menata hatinya terlebih dahulu saat melihat Malik mencium Edel di hadapan umum lewat ponselnya.
"Tak masalah, aku senang kau datang ke sini saat ini," jawab Malik memeluknya.
Maaf sobat, jika kau terluka. Edel istriku sekarang. batin Malik.
Shahmeer merasa canggung ketika berjabat tangan dengan Edel memberinya selamat. Edel memberinya senyuman ketika melihat ada guratan sedih di mata Shahmeer.
"Jadi ... kalian honeymoon kemana?, Kau kan tidak disibukan lagi dengan pekerjaan sepertiku," tanya Kate mengingat dia belum honeymoon padahal pernikahannya sudah memasuki dua bulan.
"Mungkin kami akan jalan-jalan di Indonesia aja yang dekat, karena Malik bilang kita harus sudah berada di Negaranya seminggu sebelum resepsi," kata Edel cemberut.
Malik tersenyum melihat Edel cemberut. Dia tahu jika istrinya ingin lebih lama berada di Indonesia sebelum mengikutinya ke negara A.
Mereka asik mengobrol saat menyadari sudah jam 10 malam.
"Maaf kawan, aku tak bisa lebih lama lagi menemani kalian," ucap Malik melihat wajah Edel sudah lelah dan mengantuk.
"Tenang saja kami mengerti," ucap teman-temannya.
Malik dan Edel pun pamit lalu menuju ke hotel yang masih satu kawasan dengan restoran tempat mereka berkumpul barusan.
Sesampainya di kamar, Edel langsung masuk kamar mandi membersihkan diri dan berganti pakaian dengan dress tidurnya. Dia melupakan pesan Putri Zeera yang menyuruhnya memakai pakaian yang dia kasih pada malam sebelum pernikahan yang masih tersimpan dalam totebagnya.
"Sudah?, sekarang giliran ku membersihkan diri," ujar Malik tersenyum melihat istrinya.
Edel membalas senyuman Malik. Dia langsung merebahkan badan di tempat tidur rasanya matanya sudah tidak kuat untuk terbuka dan langsung tertidur pulas.
Malik terdiam saat keluar kamar mandi mendapati istrinya meninggalkan nya tidur duluan, lalu mendekatinya untuk menyelimuti badan edel.
"Dia pasti lelah sekali sampai meninggalkanku tidur di malam pertama kita," gumamnya.
Dia pun ikut berbaring, melihat wajah Edel yang sudah menjadi istrinya sekarang, mencium keningnya lalu menariknya kedalam pelukannya.
Pukul tiga dini hari Edel terbangun karena perutnya yang sedikit kram. Dia kaget ketika melihat seorang pria sedang memeluknya dan tanpa disadari dia berteriak.
"Aaarrrrrkkkhhhhh ... ," langsung terbangun dan sedikit menjauh dari lelaki di hadapannya.
lelaki itu pun terbangun, "Kenapa kau berteriak, honey." Malik ikut duduk dan berhadapan dengan Edel.
"Ah, maafkan aku. Aku lupa, maafkan aku," Edel menyingkapkan selimut yang menutupinya lalu setengah berlari ke kamar mandi.
Malik yang melihatnya tersenyum," Kau lucu sekali," lirihnya. "kenapa kau berlari ke kamar mandi?" tanyanya.
"Perutku sedikit kram," teriak Edel dari dalam kamar mandi.
Malik mulai khawatir dia takut terjadi apa-apa dengan istrinya dan hendak menyusulnya namun matanya tertuju pada noda merah darah di atas sprei tempat tidur mereka. Dia mengingat semalam jika mereka hanya tidur dan tidak melakukan apapun.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰