He'S A Prince

He'S A Prince
Orang Asing Bagiku



"Ciee yang pagi-pagi ditelepon," ujar Mita menggoda temannya.


Edel berbalik tertegun, dia tidak menyadari keberadaan temannya mungkin karena dia terlalu sibuk dengan perasaannya.


"Ayo berangkat," ajak Edel, mengalihkan pembicaraan.


Mita tersenyum melihat Edel salah tingkah. Baru kali ini dia melihat Edel gugup saat berhubungan dengan laki-laki.


"Come on!" seru Mita mengambil kopernya.


Mereka turun ke lobi dan menunggu taksi yang telah dipesan Mita.


"Del, kayanya nih yee si Pangeran ngebet ma Lo," gumam Mita.


"Lo emang ga da rasa atau tertarik gitu ma dia?" lanjutnya.


Edel mengedikan bahu, menggelengkan kepalanya.


"Dia Pangeran negara ini lho Del, dia perfek banget lho," kata Mita tambah penasaran.


"Masa sih?" kata Edel tertawa.


"Tuh Lo mah dikasih tau malah gitu jawabnya!" cetus Mita.


"Udah ayo ga usah bahas itu, mana sih taksinya ko lama," ujar Edel ga sabar.


Beberapa saat kemudian taksi tiba dan keduanya pergi ke rumah Mr. Ommar yang berada di salah satu kawasan elite Negara A.


Setelah sampai di tujuan, mereka memasuki rumah megah bergaya klasik sangat nyaman dan teduh untuk ditinggali.


Edel dan Mita diantar oleh pelayan menemui Mrs. Ommar yang sedang berada di ruang keluarga mereka.


Ruangan itu sangat luas untuk ukuran ruang keluarga, dengan beberapa set sofa dan tv berukuran besar, dilengkapi home theater.


"Halo My flower, duduklah," sambut Mrs. Ommar memeluk Edel dan memberi salam ke Mita.


"Sudah sarapankah?" lanjutnya.


"Sudah, Tante," jawab edel.


Mereka senang mendapat sambutan yang hangat dari Mrs. Ommar. Mereka duduk di tempat yang ditunjukkan Mrs. Ommar.


"Tunggulah di sini sebentar," kata Mrs. Ommar.


Mereka tidak menjawab hanya mengangguk tersenyum. Setelah kepergian Mrs. Ommar mereka terdiam tidak mengobrol seperti biasanya.


Beberapa menit kemudian Mrs. Ommar datang menghampiri mereka dengan seorang pelayan membawa sebuah bingkisan.


"Sayangku My flower, tante titip ini ya buat bunda. Ini ada kue kesukaannya khusus tante pesen buat dia," ungkap Mrs. Ommar.


"Sebenarnya tante semalaman ga nyenyak tidur, ada yang tante ingin tahu lebih," katanya tiba-tiba sambil melihat ke arah Mita.


Mereka berdua saling pandang.


"Kalau tante mau ngobrol dengannya, saya akan berjalan-jalan di taman tante. Boleh?" kata Mita cepat, mengerti lirikan Mrs. ommar kepadanya.


Mrs. ommar mengangguk, Mita melirik Edel tersenyum. Mita pikir toh nanti juga dia akan tahu apa yang mereka obrolkan.


Setelah Mita pergi, Mrs. ommar melihat manik mata Edel dan mulai bertanya.


"Sayangku, apa benar kamu ada hubungan dengan Pangeran Malik, setahu tante ini pertama kalinya kamu datang ke negara ini," tanya Mrs. Ommar serius.


"Engak, Tante. Aku baru bertemu dengannya tadi malam. Aku juga baru tahu dia karena om Ommar menyapanya menyebut namanya," sahut Edel.


Mrs. ommar tersenyum, dia tahu gadis di hadapannya tidak suka berbohong.


"Apa kamu suka dengannya?" tanyanya lagi.


"Tidak, Tante. Aku baru mengenalnya, dia orang asing bagiku," jawab Edel tegas.


"Kalau seandainya dia suka dan memintamu menjadi pasangannya, apa kamu mau?" kata Mrs. Ommar.


"Entahlah Tan. Aku belum tau, aku tidak berpikir ke sana. Lagian kami hanya kenal sekilas aja," pungkas Edel.


"Tan, jangan bilang bunda ya soal Pangeran itu. Takutnya bunda baper lagi, bisa berabe nanti," pinta Edel.


"Tante tau ko, tante juga tau gimana bunda kamu dan yang jelas Tante kan pernah muda juga," Mrs. Ommar tertawa.


Edel tersenyum dan senang mengobrol dengan Mrs. Ommar, beliau seorang wanita yang tidak hanya cantik tapi juga cerdas, ramah kepada siapapun, wanita yang sangat anggun.


Setelah mengobrol hampir lima belas menit. Edel mengirim pesan pada Mita menyuruhnya untuk datang.


"Taman Tante sangat indah, tak kalah sama taman Butchart," puji Mita pada Mrs. Ommar begitu dia datang.


"Benarkah? kalau begitu tante harus kasih bonus pada tukang kebun Tante," kata Mrs. Ommar tersenyum pada Mita.


Mita tertawa mendengarnya.


"Maaf, Tante. Semalam memang urgent harus balik duluan, aku juga dah kirim pesan ma Edel cuma dia nya panik jadi pesanku tak terlihat," tutur Mita melirik Edel.


"Ya lain kali jangan kirim pesan langsung ngomong aja," kilah Edel.


"Ok, siap boss," kata Mita tegas.


Mereka banyak mengobrol, banyak tertawa. Senang rasanya bercerita dengan Mrs. Ommar. Waktu pun berlalu begitu saja dan sudah memasuki waktu duhur.


"Udah Adzan, ayo solat dulu," titah Mrs. Ommar.


"Baik, Tante." ucap Edel dan Mita berbarengan.


Mereka pun solat berjamaah. Setelah selesai solat mereka makan siang di rumah Mrs. Ommar.


"Ayo makan, lupakan dulu diet nya," kata Mrs. Ommar.


"Wah, makanannya banyak sekali tante," kata Edel.


"Pasti enak-enak," tambah Mita.


"Ayo, silahkan." kata Mrs. Ommar.


Mereka makan dengan lahap karena makanannya sangat nikmat, tidak kalah dengan makanan di restoran bintang lima.


"Alhamdulillah, kenyang banget. Makasi tante makanannya," ucap Mita.


"Nanti kalau kesini lagi, boleh kami ke rumah tante lagi," pinta Mita.


"Tentu sayang, datanglah kesini. Tante akan tunggu kalian main lagi ke sini," jawab Mrs. Ommar.


"Terimakasih, Tante," jawab Edel.


Pukul setengah dua mereka pamit dan langsung pergi ke bandara diantar oleh supir keluarga Ommar.


Hampir satu jam perjalanan mereka dari rumah Mr. ommar ke bandara. Setelah sampai mereka langsung masuk karena mereka akan terbang pukul setengah empat.


"Kayanya aku mau ke toilet dulu," kata Edel.


"Ok, aku juga mau," jawab Mita.


Setelah dari toilet mereka menuju ke tempat bagasi karena Mita sudah menyelesaikan cek in mereka secara online. Berhubung masih ada waktu 40 menit sebelum naik, sebelum masuk ke gate mereka melihat pernak pernik asli Negara A.


drrrtttt ... dddrrrrrttt ... ponsel Edel bergetar.


Edel mengeluarkan ponselnya dari tas tangan.


"Siapa?" tanya Mita melirik Edel.


"Malik, angkat jangan. Ga usah kayanya ya," kata Edel.


"Terserah, kalau ga merasa itu penting ga usah diangkat. Biarin aja," timpal Mita.


Edel berpikir sebentar lalu memutuskan menerima panggilannya.


"Assalamualaikum," Edel mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam" kata Malik di sebrang telepon.


"Kamu di mana, gate berapa? bisakah keluar sebentar," pinta Malik.


"Aku lagi di ruang tunggu, sebentar lagi juga masuk," kata Edel.


"Sudah ya, nanti telepon lagi," jawab Edel mengakhiri panggilan dari Malik. Dia memandang Mita.


"Masuk yu, aku berasa dikejar-kejar ini. Ga enak banget rasanya," keluh Edel.


Mita mengerti bagaimana perasaan Edel. Edel seorang yang mudah mengungkapkan perasaannya kalau dia suka ya suka begitupun sebaliknya.


"Ok," kata Mita.


Mereka pun berbalik dan masuk lounge yang telah disediakan.


Waktu rasanya berjalan lambat bagi Edel. Dia ingin secepatnya naik pesawat dan sampai di Indonesia. Edel masuk lounge VIP tapi rasanya duduk pun tidak nyaman, dia merasa gugup.


Mita menyodorkan teh hijau kepadanya.


"Minumlah, ga usah terlalu dipikirkan," ucap Mita yang melihat temannya terlalu banyak bergerak di ruangan yang nyaman.


Namun, dia lupa kalau yang menghubunginya adalah Pangeran Negara A yang mempunyai wewenang lebih bahkan di bandara sekalipun.


"Assalamu'alaikum," kata seorang pria yang berdiri di hadapannya.


Mereka mendongakkan kepala mereka, melihat siapa yang berbicara dan tertegun.