
"Apa kau sakit?" Edel langsung bertanya tanpa menjawab salam ketika suaminya masuk ke kamar mereka.
"Tidak. Honey, jawablah salamku dahulu sebelum bertanya. Barusan aku memberi salam tapi tidak dijawab olehmu," kritik Malik.
"Ah, iya maaf. Wa'alaikumsalam."
Malik mendekati istrinya yang sedang duduk menimang anak mereka.
"Tidurkah anak Daddy?"
"Belum, dia baru bangun. Mungkin tahu daddynya pulang."
"Biar Daddy gendong," Malik sudah mengulurkan tangan bersiap menggendong.
"Mandilah dulu!" titah Edel.
Malik telah selesai membersihkan diri saat melihat baby boy sudah terlelap berada dalam boxnya.
"Kenapa dia tak menunggu daddynya selesai dulu. Kenapa dia mudah sekali tertidur, tak tahukah jika daddynya sangat merindukannya dan ingin menggendongnya," ucap Malik mendengus kesal.
Edel terkekeh melihat tingkah Malik.
"Dia masih baby, Malik. Dia juga tahu jika rasa rindu mommynya pada daddynya lebih besar daripada rasa rindu daddynya padanya, makanya dia mengerti dan cepat tertidur karena ingin memberi banyak waktu pada mommynya," ujar Edel yang merona ketika menyadari apa yang telah dia katakan.
"Jadi penasaran sebesar apa rindu mommy pada Daddy?" Malik terkekeh mendekati Edel yang duduk di kursi dekat box baby boy.
Edel merentangkan tangannya kehadapan Malik yang disambutnya dengan senyuman. Dia tahu apa yang sedang suaminya pikirkan walaupun dia belum bercerita tentang keresahannya tapi Edel tahu rumor yang sedang hangat beredar menguras sebagian pikirannya.
Malik memeluk istrinya yang terduduk dan mencium pucuk kepalanya lalu menciumi bahunya dan lehernya yang membuat Edel bergidik geli.
"Aku sangat merindukanmu bahkan saat sekarang sedang memelukmu pun rinduku bertambah."
"Gombalanmu ga pernah berubah, aku tetap menyukainya," Edel tertawa kecil.
Bagi Malik memeluk Edel bukan hanya melepaskan kerinduannya saja tapi juga dengan memeluknya bisa menentramkan pikirannya yang sedang kalut.
**
Edel merasakan sebuah lengan melingkar di perutnya dan sesuatu yang hangat berhembus di wajahnya. Edel membuka matanya pelan dan menemukan wajah tampan Malik di depannya.
Edel mengamati wajah yang sudah setahun lebih ini menghiasi benaknya. Hidungnya yang mancung, sepasang alis yang tebal seperti ulat bulu saja dan bulu mata yang lumayan lentik bahkan mungkin lebih lentik daripada punyanya. Tatapannya turun ke rahang tegas milik Malik yang membuatnya semakin gagah dan bibirnya yang selalu sangat menggodanya.
Jari Edel bermain di wajah Malik, dia menelusuri setiap inci wajahnya membuat siempunya merasa geli dan menggeliat.
"Honey, segitu rindunyakah kamu padaku?" Malik yang masih memejamkan matanya tersenyum menggoda istrinya yang masih memainkan jarinya di bibirnya.
Edel tidak menjawab pertanyaan Malik, tangannya kemudian beralih memeluknya dan semakin mengeratkan pelukannya. Wajahnya dia tenggelamkan ke dada bidang suaminya yang merengkuhnya.
"Kukira kamu mengajakku lagi," Malik masih menggodanya.
"Tidurlah, ini masih tengah malam. Kita masih mempunyai tiga jam untuk tidur sebelum baby boy yang membangunkan kita," ujar Edel, sebenarnya dia merasa sedikit lelah setelah aktifitasnya seharian, memenuhi tugasnya sebagai istri seorang pangeran dengan jadwal tugas negaranya, memenuhi tugasnya sebagai seorang ibu dan juga sebagai seorang istri. Kegiatan olahraga malam yang menguras tenaganya.
"Honey, aku akan menjemputnya pukul 10. Aku harus bertemu beberapa petinggi militer sebelumnya," Edel mengangguk sambil memasangkan dasi pada kemeja Malik.
"Tumben anak Daddy masih tertidur jam segini, biasanya dia sudah bangun dan mengantarkanku berangkat kerja."
Malik teringat semalam ketika Edel menyuruhnya cepat tidur tapi saat dia terlelap baby boy menangis membangunkannya dan hanya mau tidur ketika Malik yang menimangnya.
"Malik, apa kamu ada jadwal setelah kita menghadiri acara?".
"Memang kenapa, honey?" Malik balik bertanya.
"Jawab dulu pertanyaanku!" seru Edel mengambil jam tangan Malik.
"Sepertinya ada sampai sore sekitar jam empat," jawab Malik.
"Cuma sampai jam empat kan?" ucap Edel menegaskan.
"Iya, memangnya ada apa?".
"Ok as you wish, honey."
Sudah lama Edel dan Malik tidak mempunyai quality time berdua, tidak hanya karena Edel yang baru melahirkan tapi juga karena jadwal Malik yang semakin banyak karena Ia juga harus menggantikan tugas-tugas kakaknya.
**
Malik berada di ruangannya setelah bertemu dengan para petinggi militer Negara A. Dia harus melihat beberapa dokumen dan menandatanganinya ketika Mr. Husein masuk untuk berbicara dengannya.
"Yang Mulia, besok persidangan akan di laksanakan pukul 11. Apakah anda akan datang ikut menyaksikannya, jadwalnya bertepatan dengan jadwal menerima kunjungan diplomasi negara Jepang."
"Apakah pertemuan dengan kaisar Jepang bisa di majukan jadi pagi hari?".
Malik ingin sekali ikut menyaksikan jalannya persidangan kasus kakaknya.
"Akan saya usahakan, Yang Mulia," sahut Mr. Husein lalu memberi hormat pamit.
Malik melihat jam yang melingkar di tangannya. Hari ini dia akan menghadiri acara pernikahan kerabat kerajaan Negara A bersama istrinya, Edel.
Malik mengambil ponsel dan mengubungi istrinya.
"Assalamu'alaikum, honey. Kau sudah siap? aku akan menjemputmu sekarang." ujar Malik beranjak dari tempat duduknya.
Malik terpesona melihat Edel menggunakan gaun berwarna dusty.
"Apa gaun ini tidak cocok dibangun olehku?" Edel sedikit bingung karena Malik menatapnya tajam.
"Kamu sangat cantik sekali. Apa sebaiknya kita batalkan acara hari ini?".
"Kenapa?" tanya Edel bingung dengan sikap Malik yang tidak mau mengalihkan pandangannya darinya.
"Kau terlihat menggoda sekali," wajah Edel langsung merona mendengarnya.
"Ayo nanti kita terlambat datang!" ajak Edel ketus mengalihkan perasaannya yang malu,
"Berhentilah menatapku seperti itu," bisik Edel, dia sangat malu karena banyak pengawal di sana. Dia merasa mereka terus menatapnya padahal tidak sama sekali.
Malik membukakan pintu mobil untuk Edel sambil tersenyum, senang sekali melihat wajah Edel yang merona membuatnya gemas.
Hanya beberapa kata yang keluar dari mulut mereka sepanjang perjalanan menuju tempat acara. Mereka terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing, Malik yang memikirkan tentang kencannya nanti sore bersama istrinya dan Edel yang memikirkan baby boy takut dia terbangun merengek mencarinya, begitulah seorang ibu hampir selalu memikirkan anaknya di manapun dia berada.
Setibanya di tempat acara seperti biasa mereka disambut oleh banyak wartawan yang berjubel ingin mengambil gambar mereka.
Malik berdiri berdampingan bersama Edel dengan tangan Malik yang melingkar di pinggang istrinya. Mereka melambaikan tangan pada wartawan dan tersenyum, lalu melangkah masuk ke dalam gedung tempat acara perayaan dilaksanakan dengan pengawalan yang lumayan ketat.
Malik mengobrol dengan beberapa tetua istana yang datang dan Edel bergabung dengan Putri Syahara dan Putri Imelda sepupu mereka.
"Bagaimana kabar anda Yang Mulia?" tanya Mr. Fahar, salah satu tetua istana.
"Alhamdulillah baik, bagaimana dengan anda. Maaf saya tidak menengok anda ketika anda dirawat di rumah sakit," ucap Malik.
"Alhamdulillah, semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan untukmu, Yang Mulia. Itu yang kami harapkan. Tidak apa Yang Mulia, terimakasih atas perhatian anda."
Malik asik mengobrol dengannya dan yang lain.
"Aku merindukan baby Zyan," ujar Putri Imelda pada Edel.
Baby Zayn adalah panggilan untuk baby boy dari saudara-saudara nya. Zayn Nalendra Ibrahim adalah nama lengkap baby boy, Nalendra diambil dari bahasa Sansekerta mempunyai arti yang sama dengan Malik yang berarti Raja atau penguasa.
*****
Maaf, semalam terlalu mengantuk hingga tak sengaja ke enter 😂.
Terimakasih sudah berkunjung membaca. 🥰
Stay safe everyone. 🙏🤍