He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 33



"Kamu pacaran dengan perempuan lain, siapa?" tanya seorang pria yang baru datang.


Mereka terkejut berbalik ke arah pria tadi.


"Kamu campakkan adikku?!" geram Shahmeer.


"Sorry bro, kayanya kamu salah paham. Aku ga pernah campakan adikmu," ujar Malik tenang.


Shahmeer menjatuhkan tasnya menghampiri Malik, teman-temannya menghalangi shahmeer.


"Lepas!" teriak Shahmeer meronta.


"Tenang bro, dengarkan dulu penjelasannya," kata Deo berusaha memisahkan.


"Biar aku jelaskan dulu, aku ga pernah pacaran dengan adikmu. Aku hanya menganggapnya adik karena dia adikmu. Kamu pasti tau siapa perempuan yang selalu aku suka sejak kita kuliah dulu," ungkap Malik.


"Jangan banyak alasan! kamu permainkan adikku?!" kata Shahmeer murka, mukanya memerah kesal.


"Aku tidak pernah mempermainkan adikmu!" teriak Malik tegas.


Mereka berusaha melerai namun sia-sia. Tinju Shahmeer mendarat di wajah Malik dan dia berusaha melawannya meninju balik karena merasa tidak bersalah.


Kini mereka duduk berdua di pinggiran ring tinju. Malik mengompres wajahnya dengan handuk dingin, begitu pun Shahmeer. Wajah mereka lebam.


"Sorry bro, aku tidak pernah pacaran dengan adikmu. Aku tidak pernah mempermainkan nya," tegas Malik melirik Shahmeer.


"Bukankah kalian dekat dan berita artikel yang menyebutkan kalian pacaran itu ...," sergah Shahmeer.


"Aku tidak pernah bilang kalau aku punya pacar, bukankah dalam wawancara terakhir kali pun aku bilang kalau aku single," ungkap Malik.


"Terus maksudmu selalu membawa adikku menghadiri acara atau pun perayaan atau ketika liburan?" tanya Shahmeer masih geram, menyudutkan Malik.


"Aku tidak membawanya, dia bilang kalau dia juga diundang ke acara atau perayaan yang aku hadiri. Dia tidak punya teman menemaninya, jadi kami berangkat bersama dan pulangnya, ya aku antar. Dia kan adikmu dan dia juga perempuan masa aku biarkan dia pulang sendiri. Soal liburan, bukankah dia ikut denganmu karena kamu mengajaknya ketika kita liburan bersama," jelas Malik.


Shahmeer berpikir sejenak. Mungkin benar apa yang dikatakan Malik, hanya salah paham. batin Shahmeer. Tapi rupanya pikirannya sedang tidak sejalan dengan hatinya, dia tetap merasa Malik telah mempermainkan adiknya.


"Terus perempuan yang kamu maksud sejak kuliah itu apakah dia 'Eternal flowers'?!" tanyanya ketus.


"Itu sudah lama sekali!" lanjutnya geram.


"Kamu masih ingat kita kena semprotan air ketika lewat di tempat tinggalnya?" Malik malah balik bertanya dan tersenyum.


"Iya, apa hubungannya dengan perempuan yang sedang kau pacari sekarang!" tanyanya sewot semakin penasaran dengan perkataan temannya.


"Aku menemukannya, gadis yang membuat kita basah kuyup dan juga gadis yang memberikanku payungnya," ujar Malik bangga.


"Maksudmu, kamu pacaran dengan Eternal flower?" potong Shahmeer cepat dan di balas dengan senyuman.


"Ya, aku tidak sengaja bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Saat itu aku ga tau dia gadis yang sama dengan gadis yang membuatku basah kuyup. Baru belakang ini aku tahu dari Mr. Husein," ungkap Malik.


"Lalu kamu pacari dia setelah tau dia Eternal flower dan mencampakkan adikku?" sergah Shahmeer masih kesal pada Malik.


"Sudah berapa kali ku bilang, aku tidak pernah mencampakkan adikmu karena kami tidak pernah pacaran! ini hanya salah paham!" kata Malik mulai meninggikan suaranya.


"Dan aku juga menyukainya bukan karena dia Eternal flower. Aku tau dia gadis yang sama setelah beberapa Minggu aku mendekatinya, aku menyukainya karena aku menyukainya. Dia gadis yang berbeda dari gadis lain juga berbeda dengan yang semua orang katakan dulu," lanjutnya geram.


"Sorry bro telah membuat wajahmu lebam, sebaiknya aku pulang duluan dan aku belum bisa terima kamu mencampakkan adikku!" terang Shahmeer meninggalkan Malik.


"Aku tidak pernah pacaran dengan adikmu!" teriak Malik geram.


Shahmeer tidak mendengarkan dan terus berlalu meninggalkan malik yang masih mengompres wajahnya dengan handuk.


"Eternal flower, nama yang unik," gumam Malik tersenyum membayangkan wajah kekasihnya.


Malik pulang dengan mengendap-endap, memakai topi dan kacamata seperti pencuri saja.


"Jangan bilang ayah atau ibuku atau siapapun tentang kejadian ini," pinta Malik pada Mr. Husein dan di balas anggukan setuju.


"Saya akan mengambil es untuk mengompres wajah anda, tunggulah di kamar Yang Mulia," kata Mr. Husein membungkuk pergi.


Malik duduk di sofa kamarnya, dia memeriksa ponselnya.


"Bukankah kamu bilang mau mengirimiku video mu?, sudah pulang?"


Malik berpikir sejenak lalu mengetikkan pesan,


"Maaf, aku lupa tidak mengambil video nya. nanti kalau ada waktu, aku akan membawamu langsung untuk melihatku berlatih"


Setelah mengirim pesan dia meletakkan ponselnya di meja karena Mr. Husein datang membawakan es untuk kompres wajahnya yang masih lebam.


"Mr. Husein, apa artikel tentangku dengan Azmi di perpustakaan masih ada di media sosial?" tanya Malik.


"Artikel dari semua media sudah saya blok hanya saja banyak yang memposting foto anda di media sosial pribadi mereka," ujar Mr. Husein meletakkan es ke dalam handuk.


"Apa anda tahu kalau ayahku sudah mengatur ulang jadwalnya?" tanya Malik kembali.


"Iya, Yang Mulia. Baginda ada kunjungan ke Jerman sehari sebelum acara orangtua nona Edel, dan berencana mengunjungi yayng Mulia Putri Zeera di Swiss," sahut Mr. Husein memberikan kompres pada Malik.


"Aku lupa kakakku ada di Swiss, terima kasih Mr. Husein. Aku ingin beristirahat," ucap Malik.


Mr. Husein membungkuk pamit membawa sisa kompresan. Malik masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum beristirahat.


Malam itu mereka hanya beberapa kali saling mengirim pesan. Mereka sangat lelah, sama-sama melewati hari yang cukup menguras emosi.