
Mita melihat Edel sangat bersemangat hari ini. Wajahnya tampak berseri lebih dari biasanya.
"Apa ada yang terjadi yang gue ga tau?" tanya Mita heran.
"Kenapa emang?" Edel malah heran dengan pertanyaan temannya.
"Lo berasa beda gimana gitu, Lo kadang senyum-senyum sendiri dari tadi," kata Mita.
"Ga da apa-apa, pagi-pagi harus semangat aja. Senyum pagi kan bagus bisa jadi doa biar hari ini semuanya lancar," kilah Edel.
"Hhmmm ...," lirik Mita.
"Kenapa? ga da apa-apa beneran," jawab Edel.
Mereka sampai di perusahaan keluarga edel.
"Bu Edel. Maaf, ini ada kiriman buat Ibu," kata asistennya menunjukkan buket bunga.
"Dari siapa?" tanya Edel karena hari ini bukan hari perayaan atau semacamnya.
"Ada kartunya di dalam," asistennya menunjukkan letak kartunya pada mereka.
"Waaaw, masih pagi udah buket bunga mawar," Mita tersenyum sekaligus penasaran siapa yang mengirimi bosnya buket mawar.
"Makasi ya," kata Edel sambil membawa buketnya masuk ke ruangannya, menaruhnya di meja kerjanya.
Mita yang dari tadi penasaran mengikuti Edel masuk ke ruangannya.
"Coba cepet buka kartunya, gue penasaran siapa yang mengirimi Lo buket bunga sepagi ini," kata Mita, sebenernya jam sembilan tidak bisa disebut terlalu pagi.
Mita berdiri di samping Edel, memperhatikannya membuka kartu ucapannya.
"*Te**rima kasih sudah menghubungiku pagi ini*"
M.I.
"Nah Lo, sapa tuh M.I,?" Mita melirik Edel.
"Pagi ini brarti tadi pagi!" kata Mita sedikit berteriak.
"Apaan sih Lo," kilah Edel melihat lirikan temannya.
"Ciee, tuan putri udah mulai main rahasia-rahasiaan ma gue," sindir Mita senang.
tok ... tok ....
"Maaf Bu. Mita, saya mau mengingatkan sepuluh menit lagi rapat dimulai," kata asistennya.
"Ya baik, terima kasih Alice," kata Mita penuh wibawa.
"Gue lupa hari ini kita ada rapat pagi. Gue siap-siap dulu ya, berkasnya gue taro di mana ya," gumamnya setengah berlari masuk ruangannya.
Edel memandang kartu ucapannya. Wajahnya mulai merona lagi membaca kalimat di kartu. Lalu mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan,
"*M**akasi* **buketnya**" .
Tulisnya tapi sebelum mengklik kirim dia menghapusnya kembali dan berpikir.
"Aku telpon aja ya," gumamnya.
tutt ... tuutttt ..., hanya terdengar nada tunggu.
"Apa dia sibuk?" gumamnya lagi.
"Ya, assalamu'alaikum," sapa suara di seberang telepon.
"Wa'alaikumsalam, ehmmm ... makasi buketnya, padahal kamu jauh tapi bisa kirim buket. Terima kasih," ucap Edel tersenyum.
"Kamu suka?" tanya suara di seberang telepon.
"Ya, terima kasih," jawabnya.
"Maaf ga bisa lama, aku harus siap-siap buat meeting pagi, assalamu'alaikum," pamit Edel senang.
"Wa'alaikumsalam. Semoga harimu menyenangkan," pamitnya.
"Ya, terima kasih," jawab Edel lalu menutup teleponnya.
"Bu. Edelweiss, Anda sudah ditunggu di ruang meeting!" seru Mita.
***
"Assalamualaikum, pagi yang cerah," Malik menyapa Mr. Husein tersenyum.
"Wa'alaikumsalam," sahut Mr husein membungkuk hormat.
Mr. Husein tersenyum melihat pangeran Malik lebih cerah dan bersemangat lebih dari biasanya.
"Mr. Husein boleh aku minta tolong?" pinta Malik.
Mr. Husein mengangguk tersenyum.
"Bisakah anda mengirimkan buket bunga ke perusahaan ini." Malik menyerahkan kartu nama Edel yang dia dapat dari Mita.
"Tentu," Mr. Husein mengambil kartu namanya dan pergi setelah membungkuk hormat pada pangeran Malik.
Cuaca hari ini sangat cerah di istana Negara A, Malik menyapa beberapa pelayan dan saudaranya yang berpapasan dengannya. Dia melihat tukang kebun sedang merapihkan tanaman di taman yang dia lewati di koridor ketika menuju ke tempat makan outdoor.
"Kenapa Anda mau sarapan di sini, bukankah di sini agak jauh dari ruangan Anda?" tanyanya pada Ibunya.
"Pagi ini cerah, Ibu tidak mau melewatkannya. Bukankah di sini indah bisa melihat bermacam bunga yang sedang mekar. Itu akan menambah selera makan kita dan bisa membuat kita semakin bersemangat menjalani semua aktivitas kita," sahut Ibunya.
"Anda benar, Ibu," puji Malik.
drrrtttt ... drrrttt ... ponsel Malik bergetar, ponselnya selalu dalam mode getar kalau sedang bersama keluarganya atau dalam acara resmi.
Malik melihat ponselnya dan nama Edel tertera di sana. Malik tersenyum lalu meminta izin pada orangtuanya.
"Permisi, saya mau ...," menunjukan ponselnya yang bergetar.
Ibunya mengangguk tersenyum. Malik berjalan agak menjauh dari mereka
"Ya, assalamu'alaikum," sapa Malik.
" ... "
Kurang dari lima menit Pangeran Malik mengobrol di telepon lalu bergabung lagi dengan orangtuanya untuk sarapan dan di sana sudah ada saudaranya untuk sarapan juga.
Setelah sarapan mereka sedikit mengobrol tentang berbagai macam hal, mulai dari bisnis, politik, hingga masalah yang sedang dihadapi atau pun masalah-masalah yang mungkin akan terjadi dan berdiskusi menghadapi masalah tersebut jika terjadi di kemudian hari.
Malik pamit kepada kedua orangtuanya untuk melanjutkan jadwal yang sudah di tetapkan hari ini.
"Terimakasih, Mr. Husein," ucap Malik ketika melihat Mr. husein.
Mr. Husein membungkuk tersenyum, dia tahu ucapan itu untuk buket bunganya.
***
Mereka makan siang di restoran seafood terkenal di Jakarta. hari ini ada meeting dengan klien di restoran tersebut.
"Kamu sudah siapkan semua berkasnya?" tanya Edel.
"Tentu, sudah saya siapkan semuanya sesuai instruksi anda," kata Mita.
Mereka sangat menjunjung tinggi profesionalisme kerja. Mereka memang berteman tapi saat bekerja mereka adalah partner kerja sebagai CEO dan sekretaris nya. Apalagi di depan banyak orang yang mengenali mereka.
"Mereka sudah datang," kata Mita memberi kode dengan mata pada Edel.
Mereka pun berdiri menyambut kliennya.
"Halo Mr. Edward," sapa Edel.
"Ya, Mrs. Edel," balik menyapa.
"Maaf, bisakah mulai meetingnya sekarang. Saya masih ada beberapa urusan yang mendesak," pinta Mr. Edward sambil melihat arlogi klasiknya.
"Tentu, Mr. Edward," kata Mita.
Mereka pun memulai meetingnya dan berakhir satu setengah jam kemudian.
"Senang berbisnis dengan anda Mrs. Edel," kata Mr. Edward.
"Terimakasih," jawab Edel.
"Silahkan lanjutkan makan siangnya, saya benar-benar harus pergi sekarang. Sayang sekali saya tidak bisa menemani kalian makan siang," gumam Mr. Edward kecewa.
Mita dan Edel tersenyum dan bersalaman.
Mereka pun melanjutkan makan siangnya. Untungnya Mr. Edward memberitahu meeting nya di majukan sebelum mereka memesan makanan. Jadi mereka tidak harus makan makanan yang sudah dingin.
"Lo yang pilih, samain aja," kata Edel.
"Ok," kata Mita membulak-balikan daftar menu.
"Kita pesan gurame asam manis dan cumi saos lada hitam," katanya kepada pelayan.
Mereka menunggu sambil asik memainkan ponsel masing-masing.
"Oh ya gue lupa mau nanya, buket tadi pagi si pangeran yang kirim kan?" tanya Mita.
Edel hanya tersenyum.
"Wuuuiiihhh dah mulai naik tahapannya," lanjutnya.
"Maksudnya?" kata Edel kurang mengerti.
"Ya tahap pendekatannya, naik tahap ke tahap kirim bunga," ujar Mita.
"Menurut Lo nih ya, boleh ga sih gue hubungan gini ma dia?" tanya Edel kaku.
"Hubungan gini gimana, ya Lo boleh hubungan sama siapapun yang Lo suka dan dia juga suka sama Lo. Ga akan ada yang larang selama hubungan Lo ga berlebihan masih tau batasannya," kata Mita tegas.
"Maksud batasan Lo tuh yang kaya gimana?" tanya Edel
"Ya batasan, ga boleh berlebihan ga boleh posesif, begitu," jelas Mita.
"Ah, lagian baru nyampe ke kirim bunga. Klien juga banyak yang kirim bunga ma gue, ya kan," kilah Edel.
"Ya, positif aja. jangan baper duluan pokonya," saran Mita.
Edel memikirkan apa yang dikatakan Mita itu benar, kalau dia baper duluan terus nanti kalau sikap manis Malik ternyata tidak sesuai dengan yang dia pikirkan nanti dia juga yang repot menata hati.