He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 172



"Anakmu datang berkunjung."


Wanita itu tak terkejut saat pria berbadan tegap menatapnya dengan tatapan tak biasa.


"Oh," jawab wanita itu dengan tenang.


"Dia beberapa kali meminta untuk mengunjungimu," pria tadi menatap wanita di depannya, menelisik raut wajahnya.


"Aku meminta penjaga menolak semua orang yang ingin mengunjungimu kecuali pengacara dan aku," lanjutnya masih menatap wanita tadi dengan raut wajah dingin membuat ruangan tempat mereka berada menjadi dingin menusuk.


Mrs. Shopia mendengarkan sambil membaca buku yang masih dipegangnya. Seakan dia tak peduli lagi dengan yang dibicarakan oleh pria itu.


"Maaf jika aku terlalu lamban, membuatmu harus menunggu lama, bersabarlah sampai besok," ucapnya lagi. semburat senyum terukir di wajah dinginnya.


"Beristirahatlah, aku harus mengurus beberapa hal lagi," lanjutnya lalu mengecup kening Mrs. Shopia dan berlalu pergi.


Mrs. Shopia mengangkat wajahnya melihat kepergian pria tadi.


"Kenapa dia tiba-tiba datang dan bersikeras ingin menemuiku, mengunjungiku. Apa aku harus menemuinya. Sebenarnya apa alasan dia ingin menemuiku, padahal dulu dia sendiri yang bilang tidak akan menemuiku lagi," lirihnya.


**


"Bagaimana?" tanya Mr. Witton.


Shahmeer hanya menggelengkan kepalanya. Mr. Witton tersenyum seakan dia sudah tahu jika pasti akan ada penolakan dari kunjungannya.


"Bagaimana dengan anda, Apa sudah tahu rencana yang disusun oleh pria itu?" Shahmeer balik bertanya.


"Diego Marcus, dia selalu bermain bersih. Tapi menurut orangku, mereka sedang menyusun rencana untuk pembebasan Mrs. Shopia."


"Apa?! pembebasan, Itu tak mungkin!" sergah Shahmeer, rahangnya terlihat mengeras menahan kesal.


Shahmeer memang anak kandungnya, tapi dia tidak bisa memaafkan apa yang telah dilakukan oleh ibunya. Walaupun Tuhan Maha pemaaf tapi setidaknya dia harus mendapat hukuman yang setimpal dengan semua yang telah dia lakukan.


"Di dunia kami tidak ada yang tidak mungkin," tukas Mr. Witton penuh percaya diri.


"Aku akan menyuruh orangku untuk terus mengawasi mereka. Marcus telah menyusup terlalu dalam di sini," tegas Mr. Witton yang tidak rela jika seseorang melangkahinya di negara atau di wilayahnya sendiri.


"Jangan beritahu Malik perihal rencana mereka. Ini baru sekadar rumor dan aku tidak mau membahayakan keselamatan siapapun di sini," titah Mr. Witton.


Shahmeer termenung mendengarkan semua yang Mr. Witton katakan. Kepalanya sakit memikirkan bagaimana bisa ibunya dibebaskan, bagaimana cara mereka membebaskannya.


"Jangan terlalu dipikirkan tentang pembebasan ibumu, Itu hal yang sangat mudah. Aku hanya harus tahu kapan waktu pembebasan dan cara mereka membebaskannya." Mr. Witton terkekeh melihat Shahmeer yang lama termenung.


"Aku akan menemuinya lagi." Kini Shahmeer semakin penasaran dengan rencana Mrs. Shopia dan kekasihnya. Dia tidak ingin hanya diam saja melihat semua yang akan mereka lakukan.


"Lalu apa rencana anda dengan acara penobatan Malik?" Shahmeer mencoba mengorek sejauh mana pengamanan untuk Edel, wanita yang masih menjadi pujaan hatinya.


"Aku sudah berbicara dengan Pangeran Malik. Mereka menambah penjagaan untuknya, namun kau tahu sendiri bagaimana mereka. Aku akan mengirim orangku menjaganya tanpa sepengetahuan Pangeran Malik," jelas Mr. Witton.


"Ya, aku percaya anda dapat menjaganya lebih baik. Terimakasih," ucapnya.


"Hahaha ... , sikapmu sangat manis berbanding terbalik dengan badan dan raut wajahmu," kelakar Mr. Witton.


**


Acara suksesi pengangkatan Putra Mahkota sudah dipersiapkan sejak seminggu yang lalu. Ini akan menjadi sebuah pesta pertama setelah berduka ditinggal sang putra mahkota terdahulu, Pangeran Fatih.


Semua persiapan dilaksanakan secara matang dan detail walaupun waktu pelaksanaan persiapan sangatlah singkat.


Mr. dan Mrs. Soe pun sudah tiba di Negara A. mereka tidak menginap di istana tapi di kediaman Mr. Ommar.


"Kenapa bunda ga menginap di sini saja, tidak rindukah bunda sama aku?" kata Edel merengek pada Mrs. Soe.


"Tentu saja kami rindu, tapi kami sudah janji sama Tante Ommar mau jalan-jalan dulu. Besok baru kami akan ke sana," jawab Mrs. Soe.


"Kali ini kami akan lama di sini," ungkap Mr. Soe.


"Benarkah?" wajah Edel langsung berubah berbinar.


"Tentu saja, kami akan sekalian berlibur di sini," ucap Mr. Soe.


"Sayang, apa kamu tidak ada kegiatan. Bukankah lusa acaranya?" tanya Mrs. Soe yang heran kenapa anaknya bisa leluasa mendatangi mereka yang sedang berkuliner di restoran pusat kota.


"Aku sudah minta izin Malik dan dia mengizinkan ku menemui kalian di sini. Kenapa kalian tidak mau ke istana saja!" kata Edel ketus.


"Aku tidak bisa membawa baby boy keluar," ucapnya lagi.


"Aku merindukan cucuku," timpal Mr. Soe.


"Makanya ayo ke istana denganku," rengek Edel.


"Kami akan ke sana besok dengan Darren, dia mungkin akan sampai nanti malam."


"Baiklah," sahut Edel.


Mereka lama berbincang melepas rindu hingga tidak menyadari waktu telah berlalu begitu saja.


"Aku harus segera pulang," ujar Edel begitu melihat jam di ponselnya.


"Baiklah, hati-hati sayang. Besok kami akan ke sana," jawab Mrs. Soe.


"Apa kalian tidak mau mengantarkan aku pulang?" tanya Edel dengan raut memelas.


"Tidak, kami akan melanjutkan jalan-jalan. Aku sudah ada janji dengan Tante Ommar, dia akan datang sekitar satu jam lagi," kilahnya.


"Baiklah, aku pulang sendiri kalau begitu." Dengan malas berdiri dari tempat dia duduk, mencium pipi ayah dan bundanya.


"Hati-hati sayang," ucap Mr. Soe pada putrinya.


Edel mengangguk, lalu berjalan keluar didampingi Mrs. Harold dan beberapa pengawal yang memang disediakan istana untuk menjaganya.


Semua orang membungkuk hormat ketika Edel berjalan melewatinya. Ada desir aneh melihat mereka membungkuk hormat padanya. Perasaan sedih yang tidak bisa dijelaskan.


Di perjalananya menuju istana, Edel terus melihat keluar jendela mobil. Melihat bagaimana sekumpulan anak gadis di sebuah kafe mengobrol dan tertawa lepas bersama, melihat sekumpulan keluarga bersama menikmati sore hari di restoran terbuka, melihat beberapa pasangan muda mengobrol di terminal bayangan menunggu kendaraan umum yang akan membawa mereka ke tempat tujuannya.


Edel merindukannya, merindukan masa-masa ketika dia dengan bebasnya dapat berjalan kemanapun yang dia inginkan.


"Aku merindukanmu, kawan," ucapnya.


*****


Hai semua, Maaf baru bisa up. Negara flu batuk lagi menyerang dari hari Minggu. Semoga semua readers tetap sehat dan bahagia.


Oh iya, nih novel keren yang menemani author selama sakit. Ceritanya sangat bagus.