He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 138



Edel sudah berada di kamar yang Mita tempati, malam ini dia akan tidur bersama temannya dan tentu saja sudah mendapatkan izin dari Malik.


Mereka mengenang masa-masa dulu saat Edel masih menjadi CEO, mereka berdua selalu menempati kamar yang sama.


"Ih, Lo cengengesan sendiri dari tadi," canda Mita, dia tahu Edel sedang dalam mood yang bagus.


"Gue inget dulu, waktu gue selalu pesan satu kamar sama Lo nyampe ada orang yang bilang kita penyuka sesama jenis. Dulu kalo ngedenger itu gue sedikit emosi tapi sekarang saat nginget itu, gue malah pengen ketawa," ujar Edel, menertawakan perkataannya.


"Ya, gue juga inget itu. Pernah saat gue lagi lelah gue suka mikir, 'apa gue nikah kecepetan ya?'," ujarnya.


"Hus ga boleh bilang gitu!".


"Gue bilang kan kalo lelah banget. Tenang aja gue bersyukur banget gue udah nikah sekarang apalagi dapet Malik, bersyukur banget bukan karena dia seorang pangeran dari keluarga terpandang yang hartanya ga kan habis tujuh turunan tapi karena dia bisa ngertiin gue apalagi dengan sifat gue yang terkadang nyebelin, iya kan," terang Edel tersenyum membayangkan wajah suaminya.


"Iya Lo emang terkadang nyebelin banget apalagi kalo udah uring-uringan ga jelas cuma karena liat foto Malik ma cewek lain," ungkap Mita tanpa menyadari apa yang dikatakan.


"Bukannya gue uring-uringannya juga jelas alasannya," jawab Edel ketus.


Mita terbahak mendengar jawaban Edel, dia sadar apa yang telah dia katakan.


"Gue kira Lo ga denger," ujarnya masih tertawa.


Edel melempar bantal ke arah Mita yang langsung dapat dia tangkap. "Kapan kita bisa kaya gini lagi."


Edel hanya mengedikan bahunya, andai mereka masih tinggal satu kota tentu mereka akan rutin bertemu tapi kenyataannya lain bukan berbeda kota lagi namun kini mereka tinggal di negara yang berbeda.


"Oh ya, boleh gue nanya sesuatu sama Lo?" tanya Mita terlihat mulai serius dari nada bicaranya.


"Suara Lo serius amat, mau nanya apaan sih?" Edel balik bertanya.


"Gue penasaran sama berita soal kecelakaan kakaknya Malik itu, ada kabar yang bilang kalo hari itu harusnya Lo yang berangkat?" tanya Mita.


Deg. Edel memandang Mita lekat, lalu menunduk dan mengangguk.


"Ya, berita itu bener," lirih Edel.


"kejadiannya kaya gimana sih?" selidik Mita.


"Kunjungan ke perpustakaan itu memang tugas gue cuma pagi itu dokter nyuruh gue buat bedrest kalo pun ada tugas kunjungan sebaiknya jarak yang deket aja ga jauh, makanya gue sama Putri Grizelle tukeran dan kebetulan juga pangeran Fatih ada tugas juga Deket daerah Dy katanya sekalian mereka liburan."


"Tapi berita resminya ... ," Mita tidak melanjutkan perkataannya.


"Pihak istana sepertinya nyoba lindungin gue, makanya mereka bilang rencana itu sudah diatur ulang dari pas awal gue hamil. Tahu ga sih Lo, gue ngerasa mereka nyembunyiin sesuatu yang penting dari gue seakan gue ga boleh tau hal itu," terang Edel menatap manik mata Mita.


Mita mencoba mencerna apa yang temannya katakan.


"Ya, gue ngerti maksud mereka ngeluarin pernyataan kaya gitu. Mungkin mereka takut jika para wartawan menulis berita yang bisa nyudutin Lo jika mereka tau kenyataan yang sebenarnya, Wartawan zaman sekarang terkadang lebih mengerikan," kata Mita bijak.


"Gue denger dari nyokap Lo katanya Lo ngedrop pas kejadian?" selidiknya lagi.


"Tentu aja gue langsung shock pas gue tau kejadian itu, gue ngerasa gue yang salah gue ngerasa harus gue yang kecelakaan bukan mereka. Gue malu banget pas ketemu keluarganya putri Grizelle," ungkap Edel.


"Tapi sekarang Lo baik-baik aja kan?" tanya Mita.


"Gue baik, semua orang ngebujuk gue bilang sama gue jika itu bukan salah gue. Perasaan bersalah itu masih ada cuma sekarang gue baik-baik aja, mereka bilang ga usah dipikirkan itu sudah takdir mereka," ujar Edel, matanya mulai berkaca-kaca.


Mita memegang tangan Edel dan mengusapnya. "Ya, itu memang bukan salah Lo, itu semua takdir yang telah Allah tetapkan. Ingat kematian itu pasti apapun penyebabnya itu adalah takdir Allah," kata Mita menasehati temannya agar lebih kuat lagi.


"Ya, gue hanya tau dia seorang cewek sampe sana doang," jawab Edel.


"Lo ga penasaran ga nanya ke Malik gitu alasan dia ngelakuin hal mengerikan kaya gitu?" Mita benar-benar ingin memuaskan rasa penasaran yang selama ini dia pendam.


"Lo kepo amat!" seru Edel.


"Gue ga kepo cuma penasaran mumpung ada Lo yang bisa di bilang salah satu tokoh utamanya," ujarnya.


"Entahlah, gue ga tau. Malik juga ga pernah dan mungkin ga mau ngasih tau rinci, apapun soal pelakunya sama gue. Gue malah ngira dia dan semua orang di istana yang tau cerita realnya nyembunyiin sesuatu dari gue, seakan itu bahaya kalo gue tau," terang Edel.


"Nyembunyiin, nyembunyiin apa maksud Lo?".


"Itu dia yang gue ga tau, gue ga tau mereka nyembunyiin apa dari gue," jawab Edel ketus.


"Ah Lo mah, gue jadi nambah penasaran nih. Terus gimana keadaan kakak ipar Lo sekarang, yang benernya kali aja keadaan dia juga di manipulasi dari media," Mita mengambil bantal untuk dijadikan tumpuan tangannya.


"Yang gue tau dia masih koma. Malik bilang keadaannya masih sama tidak jauh berbeda dari sebelum kami menengoknya kemarin. Soal manipulasi ko gue jadi ngeri sendiri ya, maksud gue mungkin ini bukanlah kali pertama mereka memanipulasi kejadian yang berkaitan sama gue. Ih ngeri ya," kata Edel bergidik.


"Penguasa memang kaya gitu kayanya macam di film-film," ujar Mita.


Buat apa mereka banyak memanipulasi. pikir Edel.


"Lo beneran ga masalah tidur di sini sama gue?" tanya Mita kemudian.


"Tenang aja, ga masalah ko Malik juga ngizinin lagian ga mungkin gue pindah kamar di jam segini," ujar Edel menunjukan jam di ponselnya.


Waktu terasa berjalan begitu cepat saat kau merasa bahagia bercengkrama dengan orang yang kamu inginkan. Mita melihat waktu sudah menunjukan pukul satu malam.


"Tidur yu. Kasian ponakan gue di ajak begadang. Maaf ya kawan ... ," ucap Mita mengelus perut Edel lembut.


Edel tersenyum dengan tingkah temannya, dia senang malam ini bisa bercerita banyak dengan Mita, mengeluarkan semua unek-unek yang dia pendam selama ini. Walaupun tidak mendapat jawaban tentang apa yang disembunyikan pihak istana tapi setidaknya dia sudah mengeluarkannya menceritakannya pada Mita, sahabatnya. Perasaannya sedikit lega.


"Ayo tidur, bisa diomelin gue ma Malik besok jika tau gue ngajak bininya yang lagi hamil begadang pe subuh!" canda Mita.


"Malik ga akan omelin Lo, tenang aja."


"Sebenernya bukan cuma itu maksud gue nyuruh Lo cepet tidur. Emang Lo ga ada rencana buat ngajakin gue jalan-jalan keliling-keliling gitu besok?" tanyanya.


"Oh jadi Lo mau jalan-jalan nih ceritanya?" Edel tertawa.


"Iyalah, ngapain juga gue sekalian ngambil cuti kemarin, ngabisin waktu di sini lama-lama kalau bukan buat jalan-jalan."


"Beneran Lo ngambil cuti?" mata Edel mendadak berbinar.


"Iya, kan gue mau jalan-jalan ditemenin Lo. Lo ga sibuk kan besok?" tanya Mita ragu.


"Tentu aja gue sibuk, sibuk nemenin Lo jalan-jalan," Edel tertawa terbahak melihat temannya mengernyitkan dahi nya.


*****


Terimakasih sudah membaca, mohon maaf jika up nya tidak bisa setiap hari dan diusahakan untuk up 2 hari atau 3 hari sekali.🙏


Stay safe everyone, happy weekend. 🥰🤍