
Mereka membelah jalanan pusat kota malam itu menggunakan Rolls Royce Wraith. Malik mengemudikan rolls royce nya sendiri, dia hanya ingin berdua saja dengan Edel malam itu.
"Kita mau kemana?" tanya Edel.
"Ke villa ku," jawab Malik singkat.
"Apa? ngapain?! katanya mau ngajak makan di luar," kata Edel ketus.
"Iya, di luar istana tepatnya di villa ku," jawab Malik.
"Kenapa ga di restoran aja, kenapa harus di villa?" tanyanya lagi, jantung Edel berdetak lebih cepat membayangkan mereka hanya berdua di villa.
"Di sana sudah ada teman-teman ku, kita akan pesta barbeque," jawabnya.
"Apa di sana ada perempuan selain aku?" tanya Edel.
"Mereka membawa pasangannya," sahut Malik.
"Apa kamu berpikir kita hanya akan berdua di villa dan kamu takut aku menerkammu?" tanya Malik tersenyum melirik raut wajah Edel yang sedikit panik.
"Tidak, aku tidak berpikir seperti itu!" ketus Edel.
"Aku tidak akan mengundang teman-teman ku jika sudah menikahimu, berhubung kita belum menikah jadi aku mengundang mereka sekalian mengenalkan mu pada mereka," jawab Malik.
"Ok," sahut Edel singkat.
Mereka melewati gerbang masuk. Para penjaga membungkuk hormat ketika mobil Malik melewati mereka.
Jarak antara pintu gerbang dan villa sekitar satu kilometer. Malik memarkirkan mobilnya, di sana sudah ada mobil mewah berjejer dari berbagai merk terkenal.
"Ayo," ajak Malik keluar dan membukakan pintu buat Edel.
"Terima kasih Yang Mulia," ucap Edel tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya karena gugup.
"Jangan kamu gigit bibirmu apalagi di depan teman-temanku, dan jangan terlalu sering tersenyum pada mereka," titah Malik.
"Kenapa?" tanya Edel.
"Kamu terlihat sangat menggoda ketika menggigit bibirmu, dan kamu sangat cantik sekali jika tersenyum. Aku tidak mau bersaing dengan temanku," ungkap Malik membuat wajah Edel merona lagi.
"My Prince kamu semakin pintar merayu," ujar Edel tersenyum.
"Merayu kekasih sendiri apa salahnya, iya kan," sahut Malik memegang tangan Edel.
Mereka berjalan berpegangan tangan memasuki villa.
"Kenapa gelap?" tanya Edel ketika memasuki villa.
"Bukankah katamu teman-temanmu sudah ada di sini?" tanyanya lagi mengeratkan pegangan pada Malik.
"Entahlah, tadi mereka bilang sudah sampai."
"Kamu takut?" tanya Malik menggenggam tangan Edel di lengannya dan kemudian merangkulnya.
Tiba-tiba lampu menyala terang dan ... ,
"Selamat datang Mrs. Malik Ibrahim ... ," seru teman-teman Malik kompak.
Edel melongo terkejut dengan kejutan yang di berikan teman-teman Malik padanya.
"Kamu senang?" tanya Malik.
"Kamu tahu kejutan ini?".
"Tentu saja," kata Malik. Edel hanya tersenyum mendengarnya.
Seperti anak kecil. pikirnya.
"Apa kalian akan berangkulan terus di sana?" tanya Deo.
"Tolong di ingat ada yang masih single di sini!" lanjutnya menunjuk dirinya sendiri.
Edel sadar dengan apa yang Deo katakan, Malik sedang merangkulnya.
"Ayo," ajaknya.
"Kamu mungkin sudah bertemu dengan kami lewat video call tapi ini pertama kalinya kita bertemu langsung. Tak ada salahnya jika kita berkenalan lagi," ujar Deo.
"Aku Deo Ettan Xiever. Jika kamu punya teman yang sama cantiknya denganmu, bisa kamu kenalkan aku padanya," ujar Deo.
"Hai, Ronald witton dan ini pacarku Queenzha Schwarz," sapa Ronald.
"Apa kamu menyelesaikan mastermu di Oxford University jurusan English Language and Literatur?".
"Yes, I'm." jawab Queenzha.
"Apa kamu Edelweiss?" tanyanya.
"Ya," jawab Edel tersenyum.
"Hy, lange nicht gesehen (long time no see)," sapa Queenzha.
"Ich habe deinen Kontakt verloren und kann dich nicht erreichen (aku kehilangan kontakmu jadi tak bisa menghubungi mu)," ungkapnya memeluk Edel.
"Ich bin froh dich wieder zu sehen. Was machst du hier? (aku senang bertemu denganmu lagi. sedang apa kamu di sini?)," tanya Edel karena dia tahu Queenzha bukan berkewarganegaraan Negara A tapi dari Jerman.
"Ich bin hier im Urlaub und habe Ronald kennengelernt. Er lud mich ein, mit seinen Freunden abzuhängen. Ich hätte nie gedacht, dass ich dich treffen würde, ich bin so glücklich. (aku sedang berlibur di sini dan bertemu Ronald. Dia mengajakku untuk hang out bersama teman-temannya. Saya tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu saya sangat senang.)," ungkapnya tertawa.
"Ich bin so froh, dass du jetzt bei ihm bist (Saya sangat senang bahwa Anda bersamanya sekarang)," lanjutnya melirik Malik.
"Ya, aku juga tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi," ujar Edel tersenyum.
Malik dan teman-teman nya terkejut Edel dan Queenzha saling mengenal di tambah mereka mengobrol dalam bahasa yang tidak mereka mengerti.
"Apa kalian saling kenal?" tanya Malik beberapa saat kemudian.
"Ya, dia temanku ketika aku menyelesaikan master di Oxford. Kami memang berbeda jurusan tapi kami satu apartemen," jelas Edel pada Malik.
"Ayo kita mulai, aku sudah kelaparan dari tadi," rengek Deo
"Ayo kita mulai," sahut Malik merangkul Edel.
Mereka ke luar halaman di dekat gazebo belakang villa. Sudah tersedia peralatan dan bahan untuk membuat barbeque.
"Duduklah, biar kami yang membuatnya," titah Malik.
Malik dan teman-teman nya mulai membuat barbeque, sedangkan Edel dan Queenzha menyiapkan piring dan alat makan lain juga mereka membuat salad.
"Apa kamu sudah lama mengenal mereka?" tanya Queenzha pada Edel.
"Aku hanya sekadar tahu mereka teman dekat Malik, kami hanya beberapa kali menyapa saat Malik video call denganku. Aku bahkan baru bertemu secara langsung dengan mereka malam ini," terang Edel.
"Oh, apa kamu sedang berhubungan dengan Ronald?" tanya Edel.
"Belum, kami baru beberapakali bertemu dan kemarin dia mengajakku ikut berkumpul dengan temannya. Dia pernah bilang jika temannya adalah Pangeran negeri ini dan tak kusangka jika itu benar," jawabnya.
"Apa kamu mengenal Malik?" tanya Edel.
"Tentu saja, semua orang tahu pangeran Negara A berkuliah di Oxford," katanya.
"Benarkah?, sebelumnya aku malah ga tahu jika Malik adalah seorang pangeran," ungkap Edel.
"Are you sure?" kata Queenzha kaget dibalas senyuman oleh Edel.
Queenzha tahu seperti apa Edel ketika mereka berkuliah dulu. Edel seorang yang tekun fokus ketika belajar, dia tidak pernah berpacaran atau sangat dekat dengan laki-laki. Banyak yang mendekatinya tapi selalu dia tolak makanya semua mahasiswa yang kenal dengannya menyebutnya Eternal flower.
"Kenapa Shahmeer belum datang juga?" gerutu Ronald pada teman-teman nya.
"Biasalah mungkin nunggu Rachel memilih baju lagi," sahut Deo.
"Kalau aku jadi Shahmeer sudah aku putuskan Rachel, aku ga akan sanggup jika menunggu terlalu lama mereka berdandan," ketus Ronald.
"Kamu akan bersedia menunggunya jika kamu jatuh cinta pada wanita itu?" sahut Malik.
"Apa pacarmu juga seperti itu pangeran?" tanya Deo.
"Tidak, Edel sangat simple bukan seorang yang senang berdandan," sahut Malik bangga.
"Ya, aku melihatnya. Dia sangat cantik natural," ujar Ronald menatap Edel.
"Hei, kamu memandang Queenzha atau memandang pacarku?!" tanya Malik ketus.
"Tenang aja Pangeran, aku ga akan menikungmu," ujar Ronald tersenyum pada Malik yang mulai terlihat cemburu.
Deo membawa barbeque ke meja dan ditata oleh Queenzha dan Edel di atas meja. Setelah semua siap mereka duduk berkumpul.
"Sorry bro aku terlambat," ucap pria yang baru datang dengan dua orang gadis mengikutinya.
Mereka memandang pria yang berbicara barusan. Pria keturunan Pakistan itu sangat gagah di tambah jambang tipis yang dia pelihara menambah ketampanannya, gadis di sampingnya bak model berbadan ramping tingginya hampir melebihi si pria karena menggunakan Hells delapan cm. dan gadis itu.. Edel mengenal wajahnya, dia cantik menggunakan dress berlengan berwarna emerald, dia ... .