
"Pokoknya kalian harus datang ke pestaku, aku dah siapin semuanya tenang aja," titah Deo.
"Jangan lupa bawa pasangan masing-masing," lanjutnya mengingatkan.
"Prince, kamu juga harus datang. Tidak ada kata tidak, aku sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari jangan kaya tahun kemarin janji datang eh malah ga datang!" gerutu Deo.
"Kamu masih ingat aja soal tahun lalu, mau gimana lagi dulu acaranya dadakan ga bisa ku tolak urusan istana. Kali ini aku pastikan datang kalau ga ada urusan yang urgent," terang Malik.
"Jangan lupa bawa gadis cantikmu itu. Biar kita bisa lebih akrab lagi," suruh Ronald.
"Gadis cantik, maksudmu dia," tanya Malik sambil menyodorkan foto Edel dalam ponselnya pada teman-teman nya.
"Tentu, aku bahkan sudah izin sama orangtuanya langsung buat bawa anaknya," kata Malik bangga.
"Wuuuiiihhh dah bawa-bawa orangtua, bentar lagi berarti," goda Deo.
"gadis yang perfek," sahut Ronald masih memandang foto Edel di ponsel Malik.
"Doain aja," kata Malik tersenyum.
"Shahmeer mana ya, biasanya dia yang paling ontime."
Beberapa lama mereka mengobrol akhirnya pesanan makanan mereka datang.
"Kalian udah pesankan makanan buatku kan?" tanya Shahmeer lalu duduk di sebelah Malik.
"Tentu," ucap Ronald menyodorkan makanan pesanan Shahmeer.
"Ko tumben telat?" tanya Deo.
"Biasa abis nemenin Rachel," jawab Shahmeer.
"Rachel?" tanya Ronald.
"Dia ikut ga ke Singapore?" tanya Deo.
"Entahlah, aku udah bilang cuma katanya gimana nanti," kata Shahmeer lemas.
"Cari lagi aja bro," sahut Ronald.
"Ga semangat banget bro hari ini?"tanya Deo lagi.
"Cuma sedikit cape aja, aku ga ngerti perempuan kalau udah jalan ga da capenya. Coba kalian bayangin hampir semua toko dia datengin di tiap lantai tapi yang dibeli cuma beberapa. Mau ngeluh salah ga ngeluh cape!" keluh Shahmeer.
"Itu belum seberapa, aku pernah nemenin Edel jalan dari gerbang masuk tempat cendramata di Bali nyampe ujung mungkin bisa lima atau enam kilometer, belum nunggu dia ma temennya milih-milih di tiap toko," timpal Malik ga mau kalah mengingat kembali kenangan saat di Bali.
"Padahal waktu itu kita belum pacaran, aku sih ga cape nah Mr. Husein kan dia ga muda lagi," katanya lagi.
"Kalian pernah liburan ke Bali, kapan?" tanya Ronald penasaran.
"Mungkin lima atau enam bulan yang lalu, aku lupa," jawab Malik.
"Mr. Husein ikut, keren," seru Ronald, dia tahu jika Mr. Husein ikut berarti keluarganya sudah memberi restu.
Malik hanya tersenyum, jika mereka tahu saat ke Bali dia tidak meminta izin keluarganya pasti akan berpikir yang enggak-enggak apalagi Mr. Husein yang menyediakan semua fasilitasnya saat itu.
"Hai, assalamualaikum," sapa Azmy tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka kompak.
"Boleh gabung?" tanyanya lagi.
"Tentu, duduklah," kata Shahmeer.
"Dari mana, ko bisa ada di sini?" tanya Shahmeer lagi.
"Habis nganter temen, lalu liat kakak jadi ya aku samperin aja. Lagian aku juga belum makan," jawabnya sambil melirik Malik yang sedang makan.
Shahmeer memanggil waiters dan memesankan makanan untuk adiknya.
"Jadi kamu mau ngajak siapa nanti?" tanya Deo pada Ronald.
"Itu dia yang bingung, ngajak Clara, latifha atau Queenzha atau aku cari yang baru aja kali ya," jawab Ronald enteng.
"Siapa Queenzha?" tanya Malik.
"Baru denger nama itu," lanjutnya.
"Baru ketemu Minggu lalu," jawabnya.
"Oh baru lagi!" seru Malik.
"Iyalah, kamu sih di telepon katanya ga bisa."
"Kapan?" tanya Malik.
"Senin kemarin, saat kamu menghadiri acara ulang tahun Yang MUlia Pangeran Hassanudin," kata Deo.
"Eternal flower ke sini?" tanya Shahmeer dijawab anggukan oleh Malik.
"Kapan, trus ikut ke acara keluargamu. Bukankah itu acara khusus keluarga inti aja," lanjutnya.
"Ya, kami bertemu di Swiss saat ada acara kunjungan kerja ayahku dan aku menemaninya. Ibuku juga ikut," kata Malik mengambil jeda.
"Swiss, bukankah Putri Zeera juga di sana?" tanya Azmy.
"Iya, kami ada acara keluarga di sana dengan keluarga Edel juga dan pulangnya sekalian aja dia ku ajak ke sini."
"Dua keluarga sudah bertemu. Jadi dia udah masuk istana?" tanya Ronald.
"Wanita yang luar biasa," pujinya karena dia tahu Malik juga keluarganya, tidak mudah membawa seseorang masuk kedalam acara keluarga kerajaan apalagi ini acara khusus yang hanya dihadiri keluarga inti saja.
"Ya begitulah, dia menginap semalam lalu kami ke acara perayaan Pangeran Hassanudin setelah itu aku antar pulang," terang malik.
"Nganter pulang nya jauh ya," ledek Deo.
"Tak apa, biar ada alasan numpang tidur," sahut Malik.
Azmy ingat saat dia menghubungi Malik dan suara perempuan yang menjawab teleponnya. Sekarang dia tahu Edel lah yang menjawab teleponnya. Rasanya sakit menguris kalbu.
"Kamu tidur bareng dia?" tanya Ronald semakin penasaran dengan kehidupan percintaan Pangeran negeri nya.
Malik hanya tersenyum pada Ronald dan itu membuat teman-teman nya berfantasi tentang malam yang Malik dan Edel habis kan.
"Yang bener, kamu dah tidur bareng?" tanya Deo lagi ga percaya karena dia pikir ada Mr. Husein jadi tidak mungkin itu terjadi. Tapi tidak di jawab oleh Malik.
"Waahhh-waahhh berarti sebentar lagi ada pengumuman resmi dari istana," celetuk Shahmeer melirik adiknya.
"Ya, doakan saja secepatnya," kata Malik penuh harap.
"Yang Mulia, ada yang menempel di pipimu," kata Azmy, tangannya mengambil sesuatu dari wajah Malik dan otomatis Malik menghindar dari tangan Azmy.
'Cekrek' sebuah kamera tersembunyi di sudut ruang menangkap foto mereka yang sedang bersama.
"Maaf," ucap Azmy.
"Ya, tak apa," kata Malik mulai canggung dengan sikap Azmy
Mereka terdiam beberapa lama. Tak satupun dari mereka yang berbicara, seakan suhu ruangan mulai terasa dingin.
"Sehebat apa sih gadis itu?" tanya Ronald mencairkan suasana yang canggung.
"Edel, dia gadis yang penuh kejutan. Semakin kamu mengenalnya semakin kamu terkejut dengan semua kepribadiannya. Bahkan aku tidak harus menjelaskan tentangnya pada keluargaku. Mereka menerimanya," kata Malik bangga.
"Benarkah?" tanya mereka penasaran.
"Ya, kalau kalian sempat melihat berita di media online saat kami pulang dari Swiss di bandara kalian akan sedikit mengerti," ujar Malik.
"Ya aku sempat melihatnya dia berjalan dengan Ibunda Ratu. wajah beliau begitu hangat padanya, tapi sayang wajah gadis itu disamarkan," sahut Deo.
"Mungkin karena dia seorang CEO diusia mudanya. Makanya bisa langsung diterima," celetuk Azmy, membuat yang lain kaget dengan omongannya. Mereka melihat sisi lain dari seorang Azmy Zephyr. Shahmeer memandang adik kesayangannya, tidak percaya dia bisa melontarkan kalimat seperti itu
"Dia berbeda dengan kebanyakan gadis konglomerat lain. Pernahkah kalian makan makanan bento dari restoran sederhana?" tanya Malik tersenyum mengingat Edel.
"Kami makan itu saat makan siang di kantornya, harganya pun sangat murah Rp.32.000," terang Malik.
"Pangeran kita makan makanan biasa?" tanya Shahmeer.
"Kirain dia yang masakin makananmu!" ujar Azmy sedikit ketus.
"Sarapannya memang dia yang masak, masakannya enak banget," puji Malik membela kekasihnya di depan Azmy.
"Masa sih, kamu ga berbohong kan?" tanya Deo.
"Bohong? buat apa. Toh memang dia bisa memasak dan masakannya pun enak-enak," mengingat bagaimana rasa masakan Edel, semakin dia merindukannya.
"Kita bisa buktikan nanti saat kamu ajak dia berkumpul. biar dia yang memasak," ujar Shahmeer.
"Ok, bisa diatur," jawab Malik enteng.
"Andai aku yang bertemu dengannya duluan, pasti dia akan lebih memilihku," ucap Ronald penuh percaya diri.
"Hahahaha.. dia akan tetap memilihku!" ucap Malik.
"Kalau sudah berjodoh tidak akan bisa di pisahkan kecuali oleh takdir Allah," tegas Malik.
"Pangeran kita sudah mulai dewasa dalam hal wanita," ujar Deo tersenyum.
*****
Teman, jangan lupa like dan coment nya ya. juga favorit kan ❤️ novelku. Terimakasih sudah membaca. 🥰