
"Arrgghh aku lupa!" teriak Edel tiba-tiba.
"Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Malik cemas.
"Aku lupa ini SLI, bye ...," pamit Edel mengakhiri panggilannya.
Malik tidak mengerti kenapa Edel menutup teleponnya tiba-tiba, dia sangat cemas hingga memutuskan menghubunginya kembali.
"Halo," jawab Edel.
"Kenapa teleponnya dimatikan?" tanya Malik penasaran, dia takut membuat kesalahan lagi yang dia tidak sadari.
"Oh, aku lupa kita beda negara. Nanti tagihan teleponku membengkak," kilah Edel.
Malik tertawa mendengar alasan Edel, dia sangat lega ternyata hanya karena tagihan dan dia tidak membuat kesalahan.
"Biar aku yang menghubungimu nanti," titah Malik.
"Aku ada acara dan sudah terlambat, nanti aku hubungi lagi. Aku merindukanmu," pamit Malik.
"Iya," jawab Edel singkat yang membuat Malik tersenyum mendengarnya.
"Assalamu'alaikum," pamitnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Edel lalu mengakhiri telepon dengan sopan.
Mereka sudah seperti sepasang kekasih, walaupun Edel belum memberikan jawaban pastinya. Namun, Malik percaya Edel pun punya perasaan yang sama dengannya.
**
Edel mencium wangi cake dan langsung turun mencari bundanya.
"Bunda ... Bun ...," panggil Edel setengah berteriak.
"Apa sayang, ko teriak-teriak," tanya Mrs. Soe.
"Katanya mau ditemenin bikin cake nya, ko udah selese lagi?!" ketus Edel.
"Ya, abisnya kamu lama banget. Tadi bunda nyamperin ke kamar, manggil-manggil tapi ga dijawab," kata Mrs. Soe tersenyum.
"Masa, emang bunda ke kamar aku, kapan?" tanya Edel.
"Tadi, bunda masuk kamar pun kayana kamu ga nyadar saking serunya telponan sama si dia," sindir Mrs. Soe.
"Ah bunda becanda kali, kalau bunda masuk kamar pasti aku tau," kilah Edel.
"Hhmmm ... anak muda. Kalau udah telponan apalagi sama pujaan hati, orang manggil di dekatnya pun ga akan tahu," ujar Mrs. Soe mendelik.
"Ih ... bundaaa ...," kata Edel wajahnya memerah malu.
"Kalau gitu bunda sekarang panggil kamu apa ya. Kalau princess, kamu kan memang princess bunda. Apa Mrs. Malik Ibrahim aja ya?" kata Mrs. Soe menggoda anak gadisnya.
"Ih ... bunda, panggil kaya biasa aja. Malu tau!" jawab Edel, tetapi hatinya senang mendengar bundanya memanggilnya seperti itu.
Edel duduk di kursi dekat bundanya yang sedang memotong sayuran untuk memasak makan malam.
"Bunda," panggil Edel sambil memainkan wortel.
"Bunda dulu kenapa terima ayah jadi suami bunda?" tanyanya penasaran.
"Ehm, karena sudah takdir Allah bunda berjodoh dengan ayahmu," sahut Mrs. Soe tersenyum melihat anaknya tidak puas dengan jawabannya.
"Maksud Edel, kenapa bunda terima lamaran ayah?" tanyanya lagi.
"Ya, karena hati bunda percaya Allah takdirkan ayahmu buat jadi suami bunda," jawabnya.
"Ah, aku ga ngerti!" ujar Edel.
"Berdoalah nanti kamu pasti dapat jawaban dan mengerti perkataan bunda," nasihat Mrs. Soe.
"Bunda, kalau nanti aku sama Malik ...," Edel tidak melanjutkan kalimatnya dan terlihat berpikir.
"Kenapa kalau kamu sama Malik, apa yang anak bunda takutkan?" tanyanya.
"Nanti aku jauh sama bunda," sahut Edel.
"Bukannya dulu waktu kuliah juga kamu tinggal sendiri jauh dari bunda, ga ada yang perlu ditakutkan. Berdoalah agar Allah ngasih yang terbaik buatmu," memandang anak gadisnya yang melamun.
"Hei, bunda pikir Malik anak yang baik, buktinya dia meminta izin dulu pada kami saat akan berlibur denganmu ya walaupun kamu ga tahu. Dia menghormati kami sebagai orangtuamu," sahut Mrs. Soe.
"Iya, Bunda," jawabnya singkat.
**
"Bu, untuk meeting lanjutan dengan Ommarcorp jadwalnya sama dengan pembukaan restoran Mrs. Soe di Swiss," kata Alice memperlihatkan pesan dari perusahaan Ommarcorp
Edel berpikir sebentar, memijat di antara dua alisnya. Kalau aku ke Negara A, mungkin akan bisa bertemu dengan Malik tapi kasian bunda tidak ada yang menemani.
"Tolong panggil Pa Ariq kesini!" titah Edel pada Alice kemudian. Dia berjalan keluar ruangan Edel dan masuk ke ruangan di samping ruangan Mita.
Terdengar bunyi ketukan pintu.
"Ya, masuk," kata Edel.
"Anda memanggil saya, Bu?" tanya seorang pria yang baru saja masuk.
"Ya," jawabnya singkat.
Edel berjalan ke sofa yang ada di ruangannya. dan mempersilahkan pria tersebut duduk.
"Pa Ariq, tolong gantikan saya meeting dengan perusahaan Ommarcorp di Negara A ya," pinta Edel menyerahkan dokumen.
"Jadwalnya tiga Minggu lagi 'kan?" tanya pa Ariq menerima dokumen dan membuka melihatnya.
"Bu, apa laporan keuangan yang dari Kalimantan sudah ibu terima?, tadi saya cek email belum ada dan pas saya tanya, mereka bilang sudah di kirim ke email Ibu Mita. Maaf saya tidak menjelaskan detail kepada mereka," kata pa Ariq.
"Iya, tadi Mita memberitahu katanya sudah masuk ke dia. Tak apa, nanti Pa Ariq minta Mita kirim ke bapa aja," titah Edel.
"Baik Bu, saya permisi," pamit Pa Ariq meninggalkan ruangan Edel.
Edel melihat jam tangannya lalu menyandarkan kepala di sofa dan memejamkan matanya.
"Hei, malah tidur!" seru Mita membangunkan Edel.
"Ah, ko Lo ada di sini bukannya Lo bilang balik jam tigaan?" tanya Edel bingung.
"Ini udah setengah empat," jawabnya enteng.
"Apa?" kaget melihat jam di tangan Mita.
"Astaghfirullah, aku ketiduran!" seru Edel bangun dengan cepat menyambar gagang teleponnya.
"Alice, laporan dari Pa Triantyo sudah masuk?" tanya Edel.
Alice masuk memberikan laporannya dan bingung sendiri melihat bos nya yang sedang fokus memeriksa dokumen yang menumpuk.
"Kenapa?" kata Alice berbisik, melirik Mita bertanya padanya dan di jawab dengan isyarat matanya terpejam, tapi sepertinya Alice mengerti karena begitu melihatnya langsung membulatkan bibirnya O.
Setelah mereka tinggal berdua Mita duduk di kursi depan meja Edel.
"Eh, serius Lo nyuruh Pa Ariq gantiin Lo meeting dengan Ommarcorp?" tanya Mita penasaran.
"Bukannya itu kesempatan Lo buat ketemu Pangeran Malik Lo ya?" lanjutnya menatap Edel menunggu jawaban.
"Ya," jawab Edel singkat.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Jadwalnya kan bentrok sama pembukaan restoran bunda yang di Swiss, ga mungkin gie ga dateng di acara bunda," ujar Edel.
"Bunda pasti ngerti ko kalau Lo milih ketemu Malik," sahut Mita.
"Engak ah, lagian kan dia bukan siapa-siapa nya gue juga," jawabnya enteng.
"Bukannya dia udah nyatain cinta sama Lo terus udah minta izin pula ma orangtua Lo dan tiap hari Lo kirim pesan ke dia, itu artinya Lo berhubungan dengan dia," kata Mita.
"Gue belum jawab, artinya ya kita belum ada apa-apa," ujar Edel.
"Astaghfirullah, gue kira Lo dah jawab cintanya!" seru Mita sedikit gusar dengan sikap sahabatnya.
"Belum, gue belum berani ngomong," kata Edel.
"Sini biar gue aja yang ngomong ma dia!" kata Mita gregetan.
"Lo kenapa?" tanya Edel bingung melihat sikap Mita.
"Gue greget sama Lo!" seru Mita.
Edel tertawa melihat tingkat sahabatnya. Gue juga mau ngomong cuma gue bingung ngomongnya gimana, gue nunggu dia nanya lagi tapi ga nanya-nanya. batin Edel.
*******
Hei kawan, terimakasih sudah membaca novel pertamaku. Jangan lupa likenya ya biar author tetap melek. 😎❤️